
Apartemen Hannam The Hill.
Sejak ditinggal Dev beberapa jam lalu, Agya tak sedikitpun meninggalkan sofa ruang tamu, bahkan beberapa kali ia merasa mual namun tetap saja ia tak beranjak pergi dari sana. Dan saat ini, wanita itu tak sengaja tertidur di atas sofa sambil memeluk bingkai foto pernikahannya.
"Dev...." Teriak Agya terbangun dari tidurnya, tubuhnya berkeringat. "A-aku hanya bermimpi." gumamnya mengatur napasnya yang saling memburuh, matanya terpejam singkat. Sungguh mimpi buruk yang menakutkan.
"Jam berapa sekarang?" Dengan segera Agya memeriksa ponsel, betapa terkejutnya dirinya saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul 16.05. Sudah lewat 5 menit dan Dev belum kembali, dan tak ada satupun media yang memberitakan penangkapan Tuan Alden.
"Tidak, Dev pasti baik-baik saja." gumamnya mencoba menghubungi Dev dengan tangan yang gemetar, dan sialnya nomor ponsel pria itu berada di luar jangkauan.
Agya beralih menghubungi sekertaris Kim, namun sama saja. Ponselnya tak dapat dihubungi.
"Mamii."
"Sayang, ada apa?" tanya Nyonya Valerie mengerutkan dahinya saat menerima panggilan telepon dari menantunya tersebut.
"Mamii, tolong selamatkan Dev." Agya terisak, sungguh ketakutan menyelimutinya kini.
"Sayang. Ada apa? Dev kenapa sayang, berbicaralah dengan benar."
"Mamii, a-aku tak tahu bagaimana aku menjelaskan pada mami. Aku takut Mamii, aku takut Dev kenapa-napa."
"Kau dimana sekarang sayang? Apa kau di White House?"
"A-aku di apartemen Dev."
"Mami akan kesana sekarang." ucap nyonya Valerie memutuskan sambungan telponnya.
*
Tak berselang lama, suara ketukan terdengar di pintu utama, buru-buru Agya membukanya. Wanita itu langsung histeris saat melihat nyonya Valerie yang berdiri di depan pintu bersama Tuan Andhito.
"Sayang." Nyonya Valerie meraih tubuh Agya dan memeluknya erat, mengusap dan mengecup puncak kepala menantunya.
"Sayang ada apa? Apa yang terjadi dengan Dev? Katakan!" seru tuan Andhito.
"Aku baik-baik saja." Dari arah lain terdengar suara yang begitu familiar di indera pendengaran Agya, nyonya Valerie dan juga Tuan Andhito, sontak ketiganya langsung menoleh.
"Dev."
"Aku baik-baik saja." ucap Dev lagi, menatap wajah Agya yang belum sepenuhnya percaya akan kehadirannya.
"Aku baik-baik saja sayang."
"Dev, ka-kau kembali." Sontak Agya langsung melepas pelukan nyonya Valerie lalu ia berlari ke arah Dev dan membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya itu.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka?" tanyanya memeriksa tubuh Dev dengan teliti.
"Siapa yang berani melukaiku hm?" Dev tersenyum seraya mengusap sisa-sisa air mata yang memenuhi wajah Agya.
"Kenapa kau mengganti pakaianmu?"
"Pakaian yang aku pakai tadi sudah kotor, jadi aku mengantinya."
"Bagaimana, apa kau berhasil? Apa rencanamu berhasil?" Dev menggeleng.
"Gagal? Lalu kenapa kau bisa kembali? Apa tuan Alden tidak.."
"Rencanaku sangat berhasil sayang. Aku berhasil menjebak tuan Alden, dan sekarang sekertaris Kim sedang memberinya hukuman."
"Benarkah? Kau berhasil. Dev, aku sangat bahagia." Agya menyeka air matannya sebelum kemudan ia kembali masuk ke dalam pelukan Dev. Pun Dev yang langsung menyambut tubuh istrinya itu dengan senyum yang merekah lebar.
"Rencana apa? Kenapa kau bisa menjebloskan tuan Alden ke penjara?" tanya tuan Andhito sesaat setelah menerima kabar dari asistennya jika saat ini media tengah di gemparkan dengan penangkapan Tuan Alden (Mr. Jack) atas kepemilikan senjata Ilegalnya.
"Aku akan menceritakan semuanya pada Papa."
***
Flashback On.
"Tuan Robert." Tuan Alden yang menyadari jika sura tembakan di tubuh Dev bukan berasal dari pistol keenam bodyguardnya segera menoleh ke belakangnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Robert Huen, kepala Marinir yang sangat disegani di kota Seoul.
"Aku datang untuk menolongmu." ucap tuan Robert tersenyum. Seketika Tuan Alden ikut tersenyum, guratan keterkejutannya perlahan menghilang dari wajahnya.
"Kau memang sahabat yang baik." Senyum di bibir tuan Alden semakin merekah lebar, dengan angkuhnya ia berjalan ke arah tuan Robert namun satu detik kemudian, terdengar suara tembakan yang bersahut-sahutan. Ia dan keenam bodyguardnya di lumpuhkan oleh tuan Robert dan beberapa pria bertopeng. Tembakan yang tepat mengenai kaki dan pahanya hingga membuatnya bertekuk lututp tepat di hadapan tuan Robert.
"Tangkap keenam bodyguard brengsek ini." ucap sekertasris Kim yang berdiri di belakang tuan Roberth.
"Baik tuan."
"Tuan Roberthhh." Tuan Alden mendesis, terlihat jelas guratan amarah di wajahnya. "Kau penghianat!! Aku pikir kau sahabatku."
"Aku hanya bersahabat dengan tuan Alden bukan Mr. Jack."
"Pria keparat!" cetus tuan Alden menggepalkan kedua tangannya, ia terlihat tak berdaya dengan dua peluru yang menancap di kaki dan juga pahanya, sial.
"Pria Keparat? Bukankah kaulah pria keparat itu tuan Alden yang terhormat." ucap seseorang melepas jaket kulit dan juga kantung berisi cairan darah segar yang ada di perutnya.
Deg.
Tuan Alden terhenyak, kedua matanya membola, sangat terkejut melihat Dev yang kembali terbangun. Pria itu tidak mati?
"Hm." jawab Dev singkat seraya tersenyum tipis, tak segan ia melempar kantung darah yang ada di tangannya ke hadapan tuan Alden.
Dan lagi, Tuan Alden dibuat terkejut sekaligus tertegun. Dev tidak ditembak sungguhan, dan darah yang mengalir dari perut pria itu hanyalah darah yang berasal dari kantung yang sengaja di letakan di perutnya. "Kalian menjebakku. Sialan kalian semua."
"Kau baru menyadarinya? Hahaha, Bagaimana tuan Alden, apa permainanku sangat luar biasa?"
"Brengsek!"
Dev tersenyum tipis, ia melangkah ke arah tuan Alden dengan kedua tangan yang bersedekap.
"Ternyata aku tak kala cerdasnya darimu, bahkan aku 10x lipat lebih cerdas." senyum tipis di bibir Dev semakin melebar, "Kau tahu tuan Alden, sudah sejak lama aku ingin melumpuhkanmu, namun aku selalu gagal tapi sekarang aku berhasil, I won tuan Alden."
"Cih, kau dan keluargamu akan ku lenyapkan."
"Hahaha, kau masih sempat berbicara kotor seperti ini di akhir-akhir hidupmu pria tua. Aku bisa saja melenyapkanmu sekarang jika aku mau, tapi aku tak ingin mengotori tangan suciku ini." ucap Dev tersenyum sinis.
"Ah apa kau tak ingin mengucapkan kata perpisahkan untuk istri dan juga putri kesayanganmu? Aku rasa kau harus melakukannya."
"Mereka tak akan membiarkanmu hidup dengan tenang jika kau melenyapkanku." seru tuan Alden, matanya tampak melotot tajam.
"Hahaha aku tahu. Tapi apa kau pikir aku akan membiarkan mereka melakukan itu? Tidak tuan Alden, mereka juga akan ikut denganmu. Tidakkah kau tahu jika putri kesayanganmu adalah seorang wanita jalan*, ah bahkan dia dan kekasihnya sedang menjadi buronan polisi atas kasus pembunuhan."
Deg, lagi tuan Alden dibuat terkejut akan kata-kata Dev. Alenaa, putri kesayangannya menjadi buronan?
"Tidak mungkin, Alenaa tak mungkin melakukan itu."
"Hahahaha." Dev terbahak dengan kerasnya. "Tak mungkin? Dia anak dari Alden Danendra, pembunuh kelas kakap. Dia tak jauh dari ayahnya, sama-sama pembunuh. Bagaimana tuan Robert?" Dev menoleh ke arah tuan Robert seraya tersenyum.
"Aku hanya tak menyangka jika sahabatku adalah seorang pria kotor. Dia membunuh saudaraku, Reagans Huen."
"Aku sangat turut berduka cita atas kematian Reagans Huen, tuan Robert Huen."
"Terima kasih tuan Dev. Aku pikir kita harus segera membawa Mr. Jack ini ke markas marinir, semua kasus yang melibatkannya akan ditangani di sana."
"Baik tuan Robert. Bawa dia sekarang." pinta Dev pada pengawalnya.
"Shitt, lepaskan aku." cetus tuan Alden memberontakan, namun pemberontakannya tak berarti sama sekali, tenaganya terlihat sangat kecil di mata dua bodyguard Dev yang bertubuh besar.
"Selamat menikmati hukumanmu tuan Alden. Aku sangat berharap, kau mati membusuk di sana." ucap Dev dengan senyum miringnya.
"Bajingan!" kata terakhir yang keluar dari mulut tuan Alden sebelum pria tua itu diringkus ke markas Marinir.
"Bawa senjata ilegal itu." pinta tuan Robert pada anak buahnya.
"Baik Komandan."
"Terima kasih tuan Robert, senang bekerja sama denganmu." ucap Dev menjabat tangan tuan Robert.
"Aku yang seharusnya berterima kasih tuan Dev, berkat bukti-bukti yang kau kumpulkan aku bisa menangkap orang yang membunuh saudaraku. Aku masih tak menyangka jika selama ini pembunuh itu adalah sahabatku sendiri. Tuan Alden, dia akan dijatuhi pasal berlapis, hukumannya akan jauh lebih berat dari perbuatannya selama ini." Tuan Robert menggertakan giginya, rahannya mengeras begitu juga dengan tangannya yang sudah menggepal keras.
"Aku senang kebusukan tuan Alden teruangkap, dia tak akan menjadi predator lagi dalam dunia bisnis."
"Kerja sama yang baik." ucap tuan Robert tersenyum, "Baiklah tuan Dev, aku akan membawa tuan Alden ke markas sekarang."
"Silahkan tuan." Dev mengangguk seraya memberikan jalan kepada tuan Robert beserta anak buahnya untuk pergi dari sana.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dev pada sekertaris Kim
"Jam 16.30 tuan."
"Shittt, aku terlambat 30 menit. Agya pasti mencemaskanku sekarang. Kau ikutlah bersama tuan Robert, aku mau menemui Agya dulu."
"Baik tuan."
"Jangan lupa untuk membawa bukti-bukti lain, aku akan ke markas maritim nanti malam. Hubungi semua media dan stasiun TV untuk memberitakan penangkapan tuan Alden."
"Baik tuan." ucap sekertaris Kim menganggukan kepalanya.
Tanpa basa basi lagi, Dev langsung berlalu pergi dari sana. Shitt, ia tak ingin Agya mencemaskannya. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Apa dia menangis? Apa dia berpikir jika Dev telah kalah? Ya sepertinya begitu. Dev dapat melihat istrinya itu sedang menangis di dalam pelukan maminya sekarang.
"Aku baik-baik saja." ucap Dev saat melihat papanya menanyakan keadaannya pada Agya yang tengah histeris.
"Dev." Dev mengalihkan pandangannya, ia dapat mendengar dengan jelas suara parau Agya, wanita itu tampak tak percaya dengan kehadirannya.
"Aku baik-baik saja sayang." ucap Dev meyakikan, setelah berucap demikian Agya langsung melepas pelukan Maminya dan berlari ke arahnya. Pun Dev yang langsung menyambut tubuh mungil istrinya tersebut ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat seraya mengecup puncak kepala Agya berkali-kali.
Flashback off.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hayoook, siapa yang sudah soudzon dengan tuan Robert?🤔