Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Terasa aneh



"Gyaaa." Suara teriakan seseorang yang tidak asing di telinga Agya mengurungkan niat wanita itu untuk melangkah masuk ke dalam apartemennya.


Agya menoleh, betapa terkejutnya ia saat melihat Della berdiri di tepi jalan dengan tangan yang melambai-lambai ke arahnya, "Se-sejak kapan Della di sana? Astaga, Apa dia melihat Dev tadi?" Wajah Agya berubah menjadi panik, buru-buru ia melangkahkan kakinya menghampiri Della. Pun Della yang juga menghampiri Agya dengan sedikit berlari.


"Gyaaa. I miss youuu." ucap Della, langsung memeluk tubuh Agya dengan sangat erat, benar-benar sangat merindukan sahabatnya itu.


"I miss you too." Agya melepas pelukannya seraya tersenyum hangat, namun tidak bisa dipungkiri jika wajahnya masih di selimuti kepanikan, panik sekaligus takut Della melihat keberadaan Dev di sana tadi, "Apa kau dari tadi di sini?" tanyanya.


"Tidak, aku baru saja datang. Tadinya aku mau ke kampus tapi aku begitu malas sekali bertemu kak Jio, jadi aku ke sini saja untuk menemuimu."


"Huh, syukurlah." ucap Agya mengembuskan napas legah bahkan wajahnya yang semula terlihat panik kini berubah drastis.


"Ada apa denganmu? Tumben sekali kau mendukungku untuk bolos kuliah."


"Kau bolos kuliah? Astaga Della, kenapa? Kalau kau bolos seperti ini, studymu bisa tertunda sepertiku." seru Agya.


"Gyaa sayang, sepertinya kau harus ke dokter THT sekarang." ujarnya menggandeng lengan sahabatnya itu


"Ha? Untuk apa?"


"Untuk memeriksa kandunganmu."


"Heh sembarangan, aku tidak hamil! Aku bahkan belum---." ucapan Agya terhenti. "Menikah?" sambungnya dalam hati.


"Eh sejak kapan dokter THT beralih profesi menjadi dokter kandungan?" tanya Agya serius.


"Nanti setelah kita transmigrasi ke Mars. Huh, Gyaa, tentu saja kita ke dokter THT untuk memeriksa telingamu. Pendengaranmu mulai rusak sekarang. Aku sudah menjelaskan alasanku tidak ke kampus, tapi kau malah bertanya ulang." celetuk Della seraya memutar kedua bola matanya.


"Memangnya apa alasanmu tidak ke kampus?"


Pertanyaan yang dilontarkan Agya barusan membuat Della melongo, "Gyaaa, ada apa denganmu? Aku sudah memberitahu alasanku tadi. Kau tidak sedang sakit kan? Ah, apa kau mulai stress berat karena hutangmu pada Mr.Dev? Apa kita harus ke dokter psikolog juga untuk memeriksa kesehatan mental dan otakmu? Kau terlihat tidak baik-baik saja sekarang." Della mendaratkan telapak tangannya di dahi Agya, memeriksa suhu sekaligus kondisi tubuh sahabatnya itu.


"Apaansih Del, aku masih sehat." celetuk Agya memukul tangan Della yang masih berada di dahinya.


"Benarkah? Tapi aku masih tidak yakin."


"Aku sangat sehat. Sudah jangan membahasnya lagi."


"Kau yakin? Syukurlah jika kau baik-baik saja. Oh iyaa, aku ingin memberitahumu sesuatu tapi aku sangat lapar sekali. Apa ada makanan yang bisa ku makanan di apartemenmu?" tanya Della memegang perutnya yang baru saja mengeluarkan suara serudukan.


"Adaa, aku membuat sup rumput laut."


"Sup rumput laut? Ahh benarkah? Akuu sangat suka sup rumput laut." Terlihat Della yang begitu kegirangan. "Eh, tapi kenapa kau tiba-tiba membuat sup rumput laut? Bukannya kau tidak suka dengan sup rumput laut?" Dahi Della tampak berkerut dalam, merasa aneh dengan sahabatnya itu.


Seketika Agya terdiam, mulutnya langsung terkatup rapat, bingung harus menjawab apa, tujuannya membuat sup rumput laut untuk sarapan Dev tadi, tapi pria itu tidak memakannya.


"Ehm, a-aku membuatnya untukmu. Aku tahu kau akan kemari jadi aku membuatkan makanan kesukaanmu itu." ucapannya, berharap Della mempercayainya.


"Benarkah?" tanya Della tidak percaya, menatap Agya dengan tatapan penuh selidik.


"Iyaa."


"Ah, baiklah. Kau memang sahabatku yang sangat baik hati. Ayoo kita masuk ke dalam anggap rumah sendiri." ujar Della menggandeng Agya seraya melangkahkan kakinya ke arah anak tangga yang ada di hadapannya


"Huh syukur Della percaya dengan alasanku."


***


"Ahh, aku sangat kenyang sekali. Terima kasih Gyaa, sup buatanmu sangat enak. Kau juga telah berhasil menambah lemak di perutku." ucap Della mengusap-usap perut buncitnya. Begitu sangat kenyang setelah menghabisakan dua mangkok sup rumput dalam hitungan menit.


"Minum dulu." Agya menyodorkan gelas berisi air di hadapnnya Della seraya mendaratkan tubuhnya di kursi, tepat di samping sahabatnya itu.


"Terima kasih. Tapi perutku sudah tidak memiliki ruang kosong lagi." ucap Della memelaskan wajahnya, perutnya sudah dipenuhi sup rumput laut hingga ia tidak mampu lagi untuk meneguk air yang disodorkan oleh Agya.


"Del, kau baik-baik saja kan?" Sedari tadi Agya memerhatikan penampilan dan tingkah aneh Della, tidak biasanya sahabatnya itu makan selahap tadi bahkan sampai menyeruput kuah sup langsung dari mangkoknya, membiarkan kuah sup itu mengotori pipinya. Di mana Della yang selalu menjaga imagenya seperti yang dilakukannya selama ini?


"Tentu sajaa, I'm okay Gyaa. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu. Aneh sekali." celetuknya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


Della mengangguk, "Iyaa, aku ingin tidur. Aku merasa begitu mengantuk, mungkin karena terlalu kenyang."


"Baiklah. Kau istrahat saja di kamarku, aku mau mencuci piring dulu setelah itu aku akan menemanimu."


"Okey." ucap Della tersenyum lalu bangun dari duduknya, sebelum kemudian ia membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar


Agya.


*


"Gyaaaa." baru sepersekian detik Della masuk ke dalam kamar, tiba-tiba wanita itu berteriak hingga membuat Agya terkejut. Buru-buru ia beranjak menghampiri Della dengan sedikit berlari.


"Ada apa Del?" tanya Agya panik.


"Gya, kenapa ada underwear pria di kamarmu?"


"Ha? Di mana?" Agya terhenyak, menolehkan pandangannya mengikuti arah jari telunjuk Della. Dan benar saja underwear pria berwarna hitam tergeletak di atas kasur miliknya.


"A-apa itu underwear milik Dev? Ah sial." gumam Agya dalam hati, dengan segera ia meraih celana dala* tersebut dan langsung menyembunyikannya di belakangnya.


"Gyaa, kau tidak membawa pria masuk ke dalam kamarmu kan?!"


"Heh, te-tentu saja tidak."


"Lalu kenapa celana itu bisa berada di kamarmu?" tanya Della, tatapan matanya semakin terlihat penuh selidik.


"Ohh astaga, ini pasti ulah burung gagak itu semalam." ucapnya menepuk jidatnya. Berusaha mencari alasan dengan menyalahkan burung gagak.


"Burung gagak? Apa hubungannya burung gagak dengan underwear itu?"


"I-iyaa. Se-semalam ada burung gagak yang masuk ke dalam kamarku. Sepertinya burung gagak itu mencuri underwear ini dari jemuran orang lain dan membawanya ke sini." Mata Agya terpejam singkat, mencerna alasan tidak masuk akal yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Hah benarkah? Apa sudah sering seperti ini?" Della terlihat sedikit percaya.


Agya mengangguk cepat, "I-iyaa."


"Ah baiklah, sepertinya burung gagak itu sangat cerdas, dia tidak sembarang memilih underwear." ucap Della hendak merebahkan tubuhnya namun Agya langsung mencegahnya.


"Ehm, Della. Kamarku terlihat berantakan, aku belum sempat membersihkan dan merapikannya tadi. Bagaimana jika kau beristrahat di kamar tamu saja."


Della langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Menatap kondisi tempat tidur Agya yang begitu koyak dan berantakan. "Baiklah, aku akan beristirahat di kamar tamu. Oh iya Gyaa, kalau kak Jio datang kemari mencariku katakan jika aku tidak ada di sini. Aku tidak ingin bertemu dengannya."


"Iyaa. Beristrahatlah, aku akan menyusulmu setelah selesai membersihkan kamarku."


"Okey." ucap Della, melangkah keluar dari kamar Agya.


Sepeninggalan Della, Agya langsung menghembuskan napas legah. Demi apapun jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya setelah melihat bercak darah yang mengotori seprai putih yang belum sempat ia ganti tadi pagi, untung saja Della belum melihatnya. Ya, Agya meyakini jika Della belum melihat apapun dan berharap sahabatnya itu tidak mencurigainya.


"Ahhh Dev. Kenapa kau meninggalkan underwearmu di kamarku?" decak Agya, melempar underwear balenciag* milik Dev ke dalam keranjang pakaiannya. Sebelum kemudian ia menarik seprai yang dipenuhi noda darah di beberapa titik. Namun tiba-tiba Agya menjatuhkan tubuhnya ke lantai, memengangi dadanya yang terasa sesak, pun air matanya yang mulai menganak sungai. Kejadian semalam kembali memenuhi pikirannya, benar-benar menyesali kejadian itu. Kenapa dengan begitu mudahnya ia menyerahkan kesuciannya pada Dev? Dan lebih sakitnya lagi pria itu tidak mengingatnya bahkan menyuruhnya untuk melupakannya.


"A-aku sangat membencimu Dev, aku sangatt membencimuu." ucapnya mengusap wajahnya dengan kasar, menumpahkan air matanya yang sempat tertahan.


Beberapa saat kemudian, Agya menyeka air matanya dengan kasar seraya beranjak dari duduknya, melangkah menuju kamar mandi dengan langkah panjang. Ingin membersihkan tubuhnya dari noda yang ditabur oleh Dev. Rasanya ia ingin melarikan diri dari sana, ingin rehat sebentar dari kehidupan dunia yang menyakitkan. Lebih tepatnya, menghilang dari kehidupan Dev.


.


.


.


.


Bersambung...