Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Pria gila



Di tempat lain, tepatnya dipedalaman kota Daegu, tampak terdengar suara ringisan seorang wanita dari sebuah gedung tua. Lolongan dan teriakan minta tolong memenuhi gedung tersebut.


"Ti-tidak Jio, jangan melakukan itu."


Plak, sebuah tamparan keras langsung membungkam mulut wanita itu, suaranya tercekat bergantian dengan cairan bening yang terus bercucuran dari kedua kelopak matanya.


"Berhentilah berteriak jika kau tak ingin aku membunuhmu!" seru Jio mencengkram kuat dagu Della sebelum kemudian ia menarik rambut wanita itu dengan kasar lalu menghempaskannya ke dinding hingga semburan darah segar keluar dari pelipisnya.


"Katakan padaku jika kau sudah menyerah, aku akan berhenti menyiksamu dan membunuhmu sekarang juga." serunya. Della menggeleng, "Ti-tidak, Jio maafkan aku."


"Memaafkanmu? Cihhh."


"Jiooo." Air mata Della semakin membanjiri wajahnya bercambur dengan darah segar yang tak berhenti mengalir dari pelipisnya tatkala Jio melayangkan tendangan keras tepat mengenai perutnya.


"Kau telah membuat kesalahan besar!! Kenapa kau datang di saat aku sedang memuaskan kekasihku? Kau datang dan mengatakan padanya jika kau tunanganku! Kau benar-benar tak mengindahkan peringatanku."


"Aku cemburu, aku mencintaimu Jio. Aku tak terima kau menghianatiku dan bercinta dengan wanita itu di hadapanku! Kau melukaiku Jio."


"Aku tak perduli dengan perasaanmu. Kau harus tahu satu hal, aku sangat terpaksa bertunangan denganmu. Aku melakukan itu agar hubungan gelapku dengan Bibimu tak diketahui oleh pamanmu."


"Siapa yang kau maksud?!"


"Nyonya Tomson, istri dari tuan Tomson Margara."


"Bibi Belinda."


"Siapa lagi? Hahaha." Suara gelak tawa Jio langsung menggema memenuhi seisi ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya bulan itu.


"Ah lupakan soal itu. Kau harus menerina hukumanmu karena kesalahan yang telah kau perbuat. Kau muncul di saat yang tidak tepat sayang, gara-gara kau Alenaa memutuskan hubunganya denganku, dan gara-gara kau juga wanitaku kembali ke dalam pelukan bajingan itu."


"Kau yang bajingan!"


"Apa yang baru saja kau katakan hm? Bajingan? Nyalimu sangat besar sekali."


"Aghttt. Jioo." Della menahan tangan Jio yang kembali mencengkram rambutnya. "Lepaskan aku pria keparat, tak seharusnya aku jatuh cinta dengan pria sepertimu."


"Aku tak perduli." seru Jio tersenyum miring, perlahan ia melepas cengkraman tangannya di rambut Della beralih memegang perut wanita itu.


"Hai bayi kecil. Kehadiranmu sungguh membuatku menderita, karena pengakuan ibumu di depan kekasihku, aku harus kehilangannya. Kehilangan sumber uangku."


"Jangan menyentuhnya." Della menghempas tangan Jio saat pria itu menekan perutnya.


"Dia anakku juga bukan? Kenapa kau melarangku menyentuhnya hm?" Jjo kembali mengusap perut Della yang sudah tampak membesar sebelum kemudian ia merema*nya dengan kuat hingga membuat Della meringis.


"Jio hentikan!!"


"Tak akan aku hentikan sebelum anak ini mati."


"Kau gila!"


"Yaa, aku memang sudah gila. Seharusnya kau menyadarinya sejak awal."


"Jioo. Hentikan kau menyakitiku."


"Diamlah bodoh!" seru Jio mendaratkan satu tamparan keras lagi di wajah Della hingga hidung dan sudut bibir wanita itu mengeluarkan setitik darah.


Jio beranjak dari duduknya, tatkala ponselnya berdering, "Alenaa?" Melihat nama wanita itu tertera di layar ponselnya, kedua sudut bibir Jio langsung mengembang lebar, buru-buru ia mengangkat panggilan teleponnya.


"Kau di mana?"


"Aku?"


"Yaa, kau di mana? Aku membutuhkanmu."


"Bukankah kau sudah meninggalkanku? Kau bahkan sudah mengumumkan hubunganmu dengan pria bajingan itu. Seharusnya kau sudah bahagia dengannya, dan tak membutuhkanku lagi."


"Aku membutuhkan tubuhmu. Kau di mana sekarang? Jangan membuatku gila."


"Hahahah." Jio tergelak, "Sudah kuduga kau akan kembali padaku, kau tak akan bisa pergi dariku."


"Kau dimana Jiooo?"


"Ssttt, tenanglah sayang. Aku berada di Daegu."


"Aku akan ke sana, temui aku di Howlen hotel."


"Datanglah, aku ingin menyelesaikan uruskanku terlebih dahulu."


"Terserah."


Juo memutuskan sambungan teleponnya, kedua sudut bibirnya masih merekah lebar, "Aku akan menyusun rencana baru untuk membuat Alenaa terikat padaku selamanya. Aku tak akan melepaskannya kali ini." batinya meletakan ponselnya ke dalam sakunya, sebelum kemudian ia kembali menatap Della yang tersungkur di lantai.


"Sayang, apa kau bisa menungguku di sini sebentar?" tanyanya mengusap kembut wajah wanita itu.


"Alenaa telah kembali padaku, dia memintaku untuk memuaskannya. Dia benar-benar candu dengan tubuhku? Bagaimana dengan dirimu hm?"


"Jangan menyentuhku." Lagi Della menepis tangan Jio yang berusaha menyeka air matanya.


"Atau kau juga menginginkan tubuhku? Bagaimana jika aku memuaskanmu terlebih dulu sebelum memuaskan Alenaa."


"Pria gila!"


"Tempat ini tak begitu buruk untuk bercinta, aku ingin membuat kenangan indah bersamamu, I will fuc* you so hard that you will never forget it." bisiknya lembut tepat di telinga Della. Seketika tubuh Della langsung meremang, napasnya tak beraturan. Kenapa ia mencintai pria gila seperti Jio? Bahkan ia mengandung anaknya sekarang.


"Kau siap?" tanpa menunggu persetujuan Della, Jio langsung merobek pakaian wanita itu hingga Della dapat merasakan udara dingin yang menusuk kulitnya.


"Jioo, lepaskan." Della mencoba memberontak namun ia benar-benar tak berdaya, dan kini ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan kasar Jio terhadap tubuhnya.


1 jam kemudian, Jio membenahi pakaiannya, ia melemparkan jaketnya di atas tubuh polos Della yang tengah terbaring lemah di lantai. Wanita itu tak bergeming, air matanya terus menetes. Ia merasa kotor dengan dirinya sendiri, tak ada cinta dalam hubungan mereka seperti sebelumnya. Jio benar-benar pria keparat.


"Aku akan kembali nanti pagi, tutupilah tubuhmu dengan jaket itu, besok aku akan membelikan pakaian baru untukmu." ujarnya, "Satu lagi, aku membatalkan hukumanmu karena Alenaa telah menerimaku kembali. Kali ini kau selamat sayang." Jio kembali menyeka air mata Della sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana meninggalkan Della seorang diri di gedung tua yang minim pencahayaan tersebut.


Jio benar-benar pria tak berperasaan seharunya Della tak pernah berhubungan dengannya dan menyerahkan tubuhnya dulu.


"Aagghttt." Della bangkit dari tidurnya, ia menyandarkan kepalanya di dinding. Hidupnya benar-benar hancur, jika saja ia mendengarkan peringatan sekertaris Kim di Mall kala itu, ia tak akan merasa merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Cintanya, harga diri dan kehormatannya benar-benar hilang, direnggut oleh pria tak bertanggung jawab seperti Jio. Dan anak ini..


Della mengusap kasar perutnya, apa sebaiknya ia mengugurkan saja bayinya, ia tak sanggup menghadapi dunia dengan kahadiran bayi itu, ia bahkan tak tahu bagaimana caranya bertahan hidup.


"Bagaimana jika kita mati berdua saja sayang? Aku tak tega membunuhmu, tapi aku tak memiliki pilihan lain." gumamnya menyeka air matanya, sebelum kemudian ia beranjak berdiri lalu memakai jaketnya dan berjalan di ke arah jendela ruangan itu, ruangan yang berada di lantai 4 gedung tua itu.


Della menghela napas panjang, sejenak ia menatap lantai dasar gedung itu yang dipenuhi semak belukar yang begitu tajam, sebelum kemudian ia memejamkan matanya dan melompat dari atas sana.


***


Keesokan paginya, Jio masih uring-uringan di atas ranjang bersama Alenaa di sampingnya. Kedua anak manusia itu baru saja menyelesaikan aktifitas panas mereka satu jam yang lalu.


"Jioo. Aku tahu kau masih marah padaku karena berita kemarin. Tapi kau harus tau satu hal." Alenaa menggeser tubuhnya, lalu memeluk pinggang Jio yang hanya terbalut selimut berwarna putih.


"Aku tak mencintai Dev lagi, aku hanya mencintaimu. Aku sengaja muncul di depan publik dan mengkonfirmasi hubunganku dengannya hanya untuk membalaskan dendamku. Apa kau percaya padaku?" tanya Alenaa menatap lekat wajah Jio yang tak menunjukan reaksi apapun.


"Aku hanya mengikuti rencana papaku. Papaku ingin mengambil alih Wilantara Group untuk itu aku harus tetap menjalin hubungan dengan Deva agar rencana papaku dapat berjalan dengan baik. Tapi sesungguhnya aku tak memiliki perasaan apapun lagi dengan Devaa, aku hanya ingin menghancurkan hubungannya dengan istrinya, sahabat kekasihmu." sindir Alenaa.


"Jangan membahasnya, aku akan memutuskan pertunanganku dengannya setelah kembali ke Seoul nanti."


"Kau janji?"


Jio mengangguk, lalu ia melempar sisa rokoknya ke atas lantai.


"Bagaimana dengan bayinya? Apa kau telah berhasil mengugurkannya? Aku tak suka kau memiliki anak dari wanita lain."


"Aku masih menyusun rencana untuk itu, tapi kau tenanglah, semalam aku sudah mebnerikan hukuman terhadapnya, aku yakin dia tak akan pernah menuntut banyak lagi padaku."


"Apa yang kau lakukan? Kau tidak membunuhnya kan Jio."


"Tentu saja tidak. Hanya sedikit hukuman." ucap Jio tersenyum miring.


"Sebentar lagi aku akan kembali ke Seoul. Oh satu lagi, di Seoul kita tak akan bisa bertemu seintens dulu. Aku takut Dev memergoki kita."


"Tenanglah, kita akan bertemu di luar kota seperti ini."


"Ehm, bukan ide yang buruk. Bolehkan aku meminta sekali lagi sebelum kita berpisah?"


"Tentu saja my queen." Jio menendang selimut yang menutupi tubuh polosnya hingga terjerambah di atas lantai sebelum kemudian ia kembali menyerang Alenaa.


*


"Tuan, nona Della tidak ada di tempatnya."


"Bagaimana bisa?" Jio beranjak dari duduknya dengan mata yang membola lebar.


"Kami telah mencarinya di sekitar gedung ini namun tak kami temukan."


"Shittt. Carilah dengan benar, dia tak mungkin kabur."


"Baik tuan."


"Aghhtt shitt." Jio menendang udara yanh ada di hadapannya. Tidak, Della tak boleh kabur darinya.


"Sayang, ada apa?" Alenaa yang baru saja keluar dari kamar mandi segera menghampiri Jio yang berdiri di dekat jendela.


"Della tak ada di gedung tua itu."


"Ha? Bagaimana bisa?"


"Aku tak tahu. Aku harus ke sana sekerang."


"Jyoo, bagaimana jika wanita itu melarikan diri dan melaporkanmu ke kantor polisi. Aku tak ingin kau di penjara."


"Hei, kenapa kau berpikir seperti ini hm? Dia tak mungkin melakukan hal itu, dia gadis penakut."


"Tapi--."


"Tunggu sebentar." Jio mengacungkan tangannya saat ponselnya kembali berdering.


"Ada apa?"


"Tuan, kami telah menemukan nona Della, tapi--."


"Apa? Berbicaralah yang benar!" cetus Jio.


"Kami menemukan jasad nona Della di semak belukar yang ada di pinggir kolam."


"Jasad? Apa maksudmu?"


"Nona Della telah meregang nyawa, mungkin semalam nona Della melompat dari lantai 4."


"Maksudmu meninggal dunia?" tanya Jio dengan bibir yang gemetar.


"I-iyaa tuan."


"Astaga." Jio menarik rambutnya, ia tak menduga Della akan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung itu, gedung dengan kondisi tanah yang sangat curam.


"Segera kuburkan jasadnya. Kuburlah di tempat yang tak dapat di jangkau oleh orang-orang."


"Tuan tak ingin ke sini untuk melihatnya?"


"Tidak!! Kuburkan sekarang!" teriak Jio, ia terlihat kelimpungan kini.


"Ba-baik tuan."


Tut.. tut.. tut..


"Sa-sayang, apa benar yang kau katakan barusan? Wanita itu meninggal dunia?" tanya Alenaa yang langsung dijawab anggukan oleh Jio.


"Bukankah ini kabar gembira, tak akan ada lagi yang menganggu kita."


"Bukan soal itu sayang. Bagaimana jika keluarganya mencarinya? dan menanyakan padaku. Aku harus menjawab apa?"


"Ah astaga, tunggu sebentar. Apa keluarganya tahu kau membawanya di sini?" Jio menggeleng, "Tak ada yang tahu."


"Bagus. Kau hanya terus berpura-pura tidak tahu mungkin, cukup mengatakan jika kau tak bertemu dengannya dua hari terkahir ini."


"Ide yang bagus. Kau sangat cerdas sekali."


"Yaa, aku memang cerdas." ucap Alenaa melipat kedua tangannya di atas dadanya seraya tersenyum miring. Wanita yang menjadi saingannya telah menyerah lebih dulu? Sungguh sangat lemah.


.


.


.


.


.


Bersambung..