
"Thank you so much Mrs. Adrela. Kau sangat kompeten dalam mendandaniku." ucap Agya, membalas pujian Mrs. Adrela yang tak henti-henti memuji kecantikannya.
"Sama-sama nyonya Dev. Saya sangat senang bisa bertemu dan dipercayai untuk mendandani anda."
"Nona Agya, apa kau sudah---." Sekertaris Kim tak melajutkan ucapannya, pria itu tampak terkejut melihat kecantikan Agya. Wanita itu benar-benar terlihat seperti bidadari surga.
"Ehm. Nona kita berangkat sekarang." ucap sekertaris Kim measang raut wajah datarnya.
"Ah iyaa. Mrs. Adrela, kami permisi dulu, sekali lagi terima kasih." ucap Agya kembali berpamitan begitu juga dengan sekertaris Kim.
***
Kini Agya dan sekertaris Kim sudah berada di Balrom hotel. Hotel bintang 5 yang ada di kawasan Songpa-Gu, Seoul.
"Nona Agya, masuklah. Tuan Dev sudah menunggu nona di dalam." ucap sekertaris Kim saat dirinya dan Agya sudah sampai di kamar VVIP yang berada di lantai 253 hotel tersebut.
"Baiklah." Tanpa basa basi, Agya langsung mendorong pintu kamar itu, masuk ke dalam sana dengan langkah panjang. Namun langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti saat menyadari suasana kamar yang tampak gelap, tak ada sedikitpun cahaya kecuali cahaya redup bulan yang mengintip di balik awan.
"Dev." panggil Agya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia menyapu lehernya yang tiba-tiba merinding.
"Dev, aku tahu kau di sini. Keluarlah, jangan menakutiku."
"Kau takut." Agya telonjak, wanita itu segera memutar tubuhnya bersamaan dengan lampu kamar yang kembali menyala, dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat Dev berdiri di hadapannya dengan buket bunga mawar yang sangat besar di tangannya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam.
Pun Dev yang tatkala terkejutnya melihat wajah cantik istrinya kini.
"Sayang, you are so beautiful to night." ucap Dev, mulut pria itu masih menganga lebar. Sialan Agya sangat cantik, ia tak dapat mendeskripsikan kecantikan istrinya itu dengan kata-kata.
"Kau tak berbohong?" Dev menggeleng, ia memerhatikan Agya dari ujung kaki hingga ujung rambut, "Tentu saja tidak. Sayang, kau benar-benar sangat cantik." ucapnya melangkah mendekat.
Seketika wajah Agya langsung memerah bak kepiting rebus. Untuk pertama kalinya Dev memujinya seperti ini.
"Kau menyiapkan semua ini untukku?" Agya menerima buket bunga yang baru saja di sodorkan Dev, lalu dengan sedikit berjinjit ia berhasil mengecup bibir suami itu singkat.
"Terima kasih."
"Terima kasihnya nanti saja. Ayo ikut aku." Dev meraih tangan Agya, lalu membawa wanita itu ke sebuah ruangan.
"Dev apa ini?" kedua manik mata Agya langsung berbinar, hidungnya disambut aroma mawar yang bertaburan di atas lantai. Kini pandangan wanita itu tertuju pada sebuah meja yang sudah tertata rapi, dua gelas berisi red wine dan juga dua lilin kecil di tengahnya. Jangan lupa dengan hidangan makanan yang tak sedikit jumlahnya juga sudah tertata di sana.
"Silahkan duduk nyonya Deva Wilantara." ujar Dev menarik sebuah kursi untuk istrinya tersebut.
"Dev, kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Agya, ia benar-benar terkejut melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
"Sebuah pesta kecil untuk merayakan keberhasilan istriku."
Tuhan, apa dia benar-benar Dev? Dia menjelma menjadi malaikat baik.
"Sayang, duduklah."
"Eh, i-iyaa." Agya meletakan buket bunganya di atas sofa lalu melangkah menghampiri Dev. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, ia sungguh sangat terharu dengan perlakuan manis ini.
"Kau tak ingin menghadiahkan sesuatu untukku?" tanya Dev sesaat setelah dirinya ikut mendudukan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Agya.
"Mendekatlah."
Cup
"Sebuah kecupan hangat untuk malam yang dingin."
"Hanya sekali? Sungguh tidak sebanding." gerutu Dev, bibirnya mengerucut kini.
"Astaga suamiku, akan ku beri lagi nanti. Sekarang kita makanlah dulu, aku sudah sangat lapar."
"Ah, ya makanlah." Dev meraih sumpit lalu mengambilkan dua sushi dan juga daging salmon ke atas piring Agya.
"Terima kasih. Kau juga makanlah."
Dev hanya mengangguk, namun ia tak menyentuh makanannya. Pandangan matanya tak pernah melepaskan Agya sedetik saja, pun bibirnya yang terus mengembang lebar.
"Dev makanlah, dan berhenti menatapku." gerutu Agya, ia tak konsentrasi jika di tatapan oleh Dev seperti ini.
"Hanya dengan memandangi wajah cantikmu, aku sudah kenyang, sayang."
"Dev!" Agya meletakan sumpitnya, selera makannya langsung hilang.
"Aku sudah kenyang dengan gombalanmu." cicitnya menekuk wajahnya.
"Hahaha, bilang saja jika kau ingin aku menyuapimu." Dev mengambil alih sumpit dan juga piring Agya dari hadapan istrinya itu.
"Mendekatlah biar ku suapi." ujarnya, dan Agya langsung menurut seraya tersenyum lebar hingga menampakan giginya.
"Apa kau sudah merencanakan ini?" tanya Agya mengunyah makanan yang baru saja mendarat di mulutnya.
"Hm."
"Berarti kau membohongiku. Kau bilang kau akan lembur bekerja."
"Aku tidak berbohong, setelah ini aku akan lembur bekerja."
"Kau benar-benar belum menyelesaikan pekerjaanmu?" Agya kembali menerima suapan dari tangan Dev, eum potongan salmon yang benar-benar sangat lezat.
"Belum, hanya satu pekerjaan penting lagi yang perlu aku selesaikan."
"Oh." Agya mengangguk-angguk paham seraya menelan makannnya.
"Apa kita akan menghabiskan waktu di sini?"
"Tidak, setelah ini kita akan pulang ke rumah. Kau harus menemaniku bekerja."
"Baiklah, aku akan memanimu dengan senang hati."
"Dia masih tak mengerti dengan arah pembicaraanku." dengus Dev dalam hati.
Seusai makan, Dev langsung beranjak berdiri. Ia meraih sebuat remote dan menekan tombolnya, hingga sebuah lagu berjudul How Long Will I Love You - Ellie Goulding menggema dengan syahdunya memenuhi seisi ruangan. Lampu tamaran yang tidak terlalu terang menambah kesan romantis, pun aroma mawar yang semakin menyeruak.
"Mau berdansa?" tanya Dev mengulurkan tangannya di hadapan Agya.
Agya menggeleng, "Aku tak bisa berdansa."
"Kau belum mencobanya bukan."
Dev menarik tubuh Agya hingga wanita itu berdiri di hadapannya kini. Ia meraih tangan kanan wanita itu, mengecupnya singkat lalu meletakannya di pundaknya.
"Menarilah." ujar Dev, memeluk pinggang Agya seraya menarik tubuh wanita itu, hingga kini tubuh keduanya saling menempel, tak ada cela sedikitpun.
Dev mulai menggerakan kaki dan tubuhnya, menuntun Agya agar mengikuti gerakannya sesuai dengan alunan lagu itu.
"Dev aku---."
"Sssttt, kau bisa melakukannya." ucap Dev lembut, menyatukan hidungnya dan hidung Agya. Mata keduanya saling memandang satu sama lain, seolah sedang meyalurkan cinta mereka.
Perlahan Agya mulai mengikuti gerakan tubuh Dev, jantungnya berdetak tak karuan. Ia merasakan sesuatu lahir dari hatinya, entah perasaan apa ia tak tahu.
"Aku mencintaimu Agya." bisik Dev lembut, ia memutar tubuh istrinya itu lalu menangkapnya kembali.
"Apa kau belum mencintaiku juga?" Agya tak menjawab, bibirnya terasa kaku.
"Setelah aku melakukan semua ini, kau masih tidak mencintaiku?" Dev tiba-tiba menghentikan gerakannya, manik mata coklatnya menatap lekat manik mata milik Agya. Mencari sesuatu dalam manik mata itu namun tak ia temukan, seketika wajahnya berubah pias, pelukan di pinggang Agya perlahan merenggang.
"Aku tak bisa memaksamu lagi." ucapnya berlalu pergi dari sana.
"Dev." Agya berlari menghampiri Dev yang hendak keluar dari kamar, lalu memeluk tubuh pria itu dari belakang, mencegahnya agar tidak pergi.
"Aku mencintaimu Dev. Aku sangat mencintaimu." ucapnya pelan, membenamkan wajahnya di punggung Dev.
.
.
.
.
Bersambungg...
Akhirnyaaaaaaa ❤☺