
Suasana hati Agya benar-benar berubah setelah wanita itu terbangun dari tidurnya. Dia yang semula membenci Dev kini menangis merengek ingin segera dipeluk suaminya. Hal itu membuat Tuan Darwin dan Tuan Andhito menggeleng-geleng kepala mereka.
"Sikap wanita memang sangat sulit ditebak."
Sedangkan nyonya Valerie, ia segera melangkah keluar untuk memanggil Dev. Akhirnya, Agya sendiri yang meminta kehadiran suaminya itu.
"Sayang." Terlihat Dev yang melangkah tergesah-gesah masuk ke dalan ruang rawat Agya dan segera menghampiri istrinya diikuti oleh nyonya Valerie di belakangnya. Seulas senyuman tampak merekah di bibir tipis Dev, ia sangat bahagia setelah mendengar Agya menginginkannya.
"Kau dari mana saja? Kenapa kau tak menemaniku tidur?" Celetukan Agya membuat Dev menggeleng-geleng kepalanya.
Oh apaa-apaan ini. Drama baru apa lagi yang dibuat oleh istrinya ini karena perubahan hormonnya.
"Peluk aku." Agya kembali berucap dengan wajah senduhnya, ia merentangkan kedua tangannya, meminta agar Dev segera memeluknya.
"Kau tak marah lagi padaku?" tanya Dev mendekap erat tubuh Agya seraya mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala istrinya itu.
"Tidak." Agya menggeleng pelan, "Dev, apa kita akan pulang hari ini?"
"Ya, jika kau merasa sudah baik. How do you feel now hm?"
"I am fine Dev." Agya melonggarkan pekukannya lalu menatap lekat kedua bola mata suaminya, "Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Ayo bawa aku pulang, aku merasa sangat bosan di sini."
"Sayang, apa kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya nyonya Inayah dan nyonya Valerie bersamaan, terlihat kekhawatiran yang masih melingkupi wajah keduanya.
"Aku sudah sangat baik Ma." Agya menjawab dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, kalau begitu Mami akan memanggilkan dokter Chyntia untuk memeriksamu sekali lagi, setelah itu kita sudah bisa pulang."
"Ah baiklah."
***
Beberapa saat kemudian, setelah melakukan pemeriksaan yang cukup intensif terhadap kandungan Agya, akhirnya wanita itu bisa pulang ke rumah. Namun tak semudah itu, Dev dan Agya diperintahkan untuk benar-benar menjaga calon bayi mereka dengan baik karena bukan hanya satu calon bayi yang akan mereka jaga melainkan dua calon bayi sekaligus. Yaa, Agya dan Dev dikaruniai baby twins sesuai keinginan Agya beberapa waktu lalu.
Perasaan haru dan bahagia menyelimuti keluarga Wilantara kini. Namun tidak dengan Dev, tak ada sedikitpun kebahagiaan di wajahnya, yang ada hanya perasaan cemas dan takut. Ia mengkhawatirkan tubuh Agya, tubuh mungil yang ia rasa tak mampu menampung dua bayi sekaligus selama 7 bulan ke depan, waktu yang tidaklah singkat.
"Dev." Agya menyandarkan kepalanya di bahu Dev seraya mengusap-usap dada bidang suaminya itu. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju White House. Diikuti oleh beberapa mobil bodyguard Dev yang salah satunya ditumpangi oleh nyonya Valerie, tuan Andhito, tuan Darwin dan juga Nyonya Inayah.
Perubahan sikap Dev terhadap Agya membuat wanita itu kebingungan, apa yang terjadi dengan Dev? Pria itu menjadi lebih pendiam dan begitu posesif, dia tak membiarkan Agya bergerak sekecil apapun bahkan untuk berjalanpun Dev tak mengizinkannya. Pria itu selalu menggendong tubuh mungil Agya saat wanita itu hendak berjalan sendiri.
Sama halnya seperti saat ini, dengan sigap Dev meraih tubuh Agya ke dalam gendongannya saat mereka tiba di White House.
"Kau tak boleh berjalan sendiri." seakan mengerti dengan kebingungan Agya, Dev hanya berujar demikian hingga membuat Agya mengangguk pelan seraya melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Sebelum kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, terlihat Bi Noam dan beberapa pelayan Dev yang sudah memenuhi teras rumah.
"Selamat datang tuan, nyonya." Bi Noam membungkukan badannya singkat begitu juga dengan para pelayan itu. Mereka menyambut kedatangan Nyonya muda mereka dengan penuh suka cita.
"Silahkan masuk tuan."
"Terima kasih Bi." ucap Dev, lalu ia mengajak orang tuanya dan kedua orang tua Agya untuk masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang di rumah kita sayang." Dev berucap tepat di telinga Agya. "Aku sangat mencintaimu." sambungnya mengecup wajah wanitanya.
"Dev." kedua bola mata Agya dibuat berbinar tatkala melihat isi rumah Dev yang dipenuhi bunga mawar berwarna warni bahkan tanggapun takluput dari jemaan bunga mawar itu. Begitu juga dengan lilin yang berjejeran sepanjang anak tangga.
"Kau menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya Dev, tapi tidakkah ini sangat berlebihan?"
"Dev hanya ingin menyenangkanmu sayang." ujar Nyonya Inayah, ia juga begitu terpukau dengan dekorasi rumah menantunya itu.
"Yaa, aku membuatnya hanya untuk menyambut kedatanganmu dan---." ucapan Dev terhenti, hembusan napas berat terdengar berembus dari mulutnya. "Bayi-bayi kita." sambungnya merendahkan suaranya.
"Kau sangat romantis Dev. Dimana kau menemukan ide cemerlang ini?" puji nyonya Valerie, mengalihkan pembicaraan Dev. Sedari tadi ia memerhatikan perubahan sikap Dev. Pria itu masih belum terima dengan kehadiran dua bayinya.
"Ah benarkah? Bagaimana Agya sayang, Apa kau sangat bahagia?" Nyonya Valerie mengalihkan tatapannya ke arah Agya yang masih berada di dalam gendongan Dev.
"Ehm, a-aku sangat bahagia. Terima kasih sayang." ucap Agya, ia begitu terharu.
Dev mengangguk, raut wajahnya belum berubah, masih terselip kekhawatiran di sana.
"Ehm, Ma, Pa. Aku akan membawa Agya ke kamar. Dia masih memerlukan istrahat yang cukup. Mama dan Papa bisa menunggu di meja makan."
"Ah baiklah sayang. Pergilah ke kamar kalian, kami akan menunggu di sini."
"Baik Ma." ucap Dev, dengan segera ia menaiki anak tangga. Rasanya ia ingin segera tiba di kamar mereka untuk mengistrahatkan tubuh istrinya.
Setibanya di kamar, Agya kembali dibuat terpukau. Tak hanya ruang tamu dan tangga yang dipenuhi bunga, tetapi kamar mereka juga.
Tidak hanya itu, kini kedua manik mata Agya langsung berkaca-kaca tatkala melihat pigura besar yang membingkai foto pernikahan mereka. Pernikahan yang tak ia sangka akan berakhir manis seperti ini. Pernikahan yang mulanya hanya berlandaskan kebencian dan balas dendam, kini telah ditumbuhi cinta.
"Dev, kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Agya saat Dev merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Hm. Kau menyukainya?" tanya Dev sekali lagi, sebelum kemudian ia ikut bergabung ke atas ranjang lalu meraih tubuh Agya ke dalam dekapannya.
"Aku sangat menyukainya Dev."
"Syukurlah." Dev menjawab singkat, pikirannya masih dipenuhi akan kekhawatirannya pada tubuh Agya.
"Apa kau tak merasa mual?" tanyanya kemudian.
"Tidak."
"Apa kau ingin mandi sekarang? Aku akan memandikanmu jika mau."
"Dev, tak perlu berlebihan seperti ini. Aku akan mandi sendiri."
"Tidak, aku akan memandikanmu. Aku tak ingin kau kelelahan."
"Kelelahan?" Dahi Agya berkerut dalam, "Maksudmu kau tak ingin aku kelalahan karena mandi sendiri?"
Dev mengangguk, seketika Agya langsung terbahak. "Hahaha Dev. Apa yang terjadi dengan dirimu? Kau begitu posesif."
"Aku hanya tak ingin kau kenapa-kenapa sayang, aku tak mau kau kesakitan, aku juga tak mau dua bayi ini merepotkanmu."
"Astaga. Lalu apa maumu?"
"Aku akan membantumu dalam segala hal. Memandikanmu, menyuapimu, dan bahkan membantumu memakaikan pakaian---."
"Dev." Agya langsung menutup mulut Dev dengan tangannya. "Jangan macam-macam. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Apa aku tidak boleh melakukannya? Aku hanya ingin membantumu." wajah Dev berubah sendu, hingga membuat Agya tak tega. Mau tidak mau, ia menyetujui semua keinginan suaminya itu.
Dan mari kita lihat, sikap posesif apalagi yang akan ditunjukan oleh Dev terhadap tubuh Agya. Sepertinya ia begitu bermusuhan dengan dua bayi yang tengah dikandung istrinya itu.
.
.
.
.
.
Bersambung......