
Dev masih terlihat kalang kabut, mencari Agya diseluruh toilet rumah sakit itu termaksud tempat parkir, namun tetap saja ia tidak menemukan istrinya di sana.
"Di mana sekertaris Kim? Apa dia belum kembali?" tanya Dev pada bodyguard yang sedari tadi mengekorinya.
"Belum tuan."
"Hah shittt." Dev mengumpat kesal seraya mengusap kasar wajahnya. Entah sudah berapa kali ia mengumpat dan mengutuki kebodohannya, menyesali apa yang sudah terjadi. Saat ini dirinya di selimuti ketakutan, takut Agya melarikan diri lagi darinya seperti yang sudah-sudah.
"Segera cek CCTV yang berada di depan ruang rawat papaku dan juga tempat parkir, aku ingin melihat kapan terakhir istriku keluar dari rumah sakit ini."
"Baik tuan. Saya akan memeriksanya sekarang." bodyguard tersebut berpamitan lalu melangkah meninggalkan Dev yang masih berdiri di tempat parkir.
Dev merogoh ponselnya, menghubungi sekertaris Kim untuk meminta nomor ponsel Agya pada pria itu, selama ini ia tidak menyimpan nomor ponsel Agya karena hubungannya dengan istrinya itu baru terlihat normal beberapa hari terakhir ini.
"Sekertaris Kim jawablah!!" dengus Dev saat sekertaris Kim tidak menjawab teleponnya. Pria itu terus melekukan panggilan telpon itu berulang kali sampai akhirnya sekertaris Kim mengangkatnya.
"Hallo, ada apa tuan?"
"Di mana istriku, Kim? Kenapa dia tidak ada di toilet?! Aku sudah memeriksa seluruh toilet di rumah sakit ini termaksud tempat parkir. Tapi aku tetap tidak menemukannya."
"Apa tuan sudah memeriksa CCTV? Tadi nona Agya berpamitan pada saya untuk pergi ke kamar mandi, nona Agya terlihat cemburu karena tuan memeluk nona Alenaa."
"Sudah kuduga. Kau di mana sekarang? Cepatlah kembali!!"
"Saya sedang dalam perjalan ke rumah sakit tuan."
"Kirimkan nomor ponsel Agya ke ponselku sekarang. Aku akan mencoba menghubunginya."
"Baik tuan." Sekertaris Kim menepikan mobilnya lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas dashboarnya. Mencari nama kotak Agya lalu mengirimkannya pada tuan mudanya itu.
"Segeralah kembali Kim, aku membutuhkan bantuanmu sekarang." ucap Dev mengkahiri sambungan telponnya.
Helaan napas berat tampak berembus dengan kasar melalui mulut sekertaris Kim. Kepalanya terasa pening karena kejadian yang terjadi hari ini, ditambah lagi dengan Alenaa yang tidak terima direndahkan oleh Nyonya Valerie di hadapan orang banyak dan mengatakan akan membalaskan dendamnya. Entah dendam seperti apa, ia tidak tahu. Tugasnya sebagai seorang sekertaris dari Dev sekaligus keluarga Wilantara semakin bertambah banyak, ia harus terus mengawaai geras gerik Alenaa mulai sekarang.
Sekertaris Kim kembali melajukan mobilnya setelah melacak keberadaan Agya melalui ponselnya, nyonya mudanya itu masih berada di rumah sakit, tapi kenapa Dev tidak menemukannya.
**
"Deva." Nyonya Valerie yang ikut mencari keberadaan Agya langsung menghampiri Dev yang masih berdiri di parkiran rumah sakit. Wajah wanita setengah baya itu tampak berseri-seri, namun tidak dengan Dev yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Ada apa Ma?" tanya Dev menolehkan kepalanya, lalu melangkah menghampiri mamanya dengan raut wajah senduh, ketakutan akan kehilangan Agya semakin menyelimutinya.
"Sayang, apa kau sangat mengkhawatirkan istrimu?" Nyonya Valerie mengusap wajah Dev seraya menerbitkan senyuman di bibirnya. Pandangannya terhadap Agya benar-benar berubah 180 derajat setelah mengetahui ternyata menantunya tersebut sangat baik dan berwibawa, juga berasal dari keluarga baik-baik.
"Maa, aku belum menemukan istriku. Aku takut Ma, dia pernah meninggalkanku karena sikap keras kepalaku. Dan sekarang dia meninggalkanku juga karena salah paham padaku." ucap Dev mengeluarkan semua unek-unek yang membuat hatinya resah.
"Dia tidak meninggalkanmu sayang. Istrimu sedang berada di kantin rumah sakit sekarang, mami baru saja menemuinya."
Dev terhenyak, kedua bola matanya langsung berbinar, "Agya ada di kantin?" tanyanya memastikan kembali.
Nyonya Valerie mengangguk, "Temui dia nak, dia sedang menunggumu sekarang."
"Ehm, Dev akan menemuinya sekarang." ujarnya hendak berlalu dari sana namun terurungkan.
"Tentu saja tidak. Pergilah, dia akan semakin marah padamu jika kau terlambat menemui--." Belum selesai nyonya Valerie berbicara, Dev sudah berhambur pergi dari sana meninggalkan nyonya Valerie yang hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah anak bungsunya itu.
"Sebahagia itu? Kenapa aku tidak mencari tahu tentang Agya dari dulu?" gumamnya dalam hati. Terbesit penyesalan luar biasa di hatinya karena telah merendahkan Agya bahkan mengatainya jalan* padahal wanita pilihan anaknya itu adalah wanita baik-baik dibanding wanita pilihannya selama ini.
"Apa Daven juga memilih wanita yang baik? Ah, aku akan menemuinya besok." Kedua bola mata nyonya Valerie tampak berkaca-kaca, sungguh ia menyesali semua perpecahan yang terjadi dalam keluarganya. Hanya karena masalah karir dan jabatan, ia mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya.
.
***
Langkah kaki Dev terhenti saat dirinya mencapai pintu kantin rumah sakit, dilihatnya Agya yang tengah sibuk menyantap sandwich dengan begitu lahapnya hingga saus tomat dan mayones tampak berlumuran di bibirnya. Seulas senyuman terbit di bibir Dev bersamaan dengan kekhawatiran dan rasa panik yang perlahan memudar dari wajahnya.
"Gadis bodoh itu selalu saja meresahkan hatiku." Dev menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kemudian ia melangkah menghampiri istrinya itu.
"Kau di sini rupanya, aku sudah mencarimu kemana-mana." seloroh Dev mengacak-ngacak rambut Agya seraya mendaratkan tubuhnya di samping istrinya itu. Namun Agya tidak menghiraukannya, wanita itu sibuk mengunyah makannya seraya memandang lurus ke depan.
"Jangan mengangguku, aku sedang makan!" dengus Agya saat Dev tiba-tiba merengkuh pingangnya dan mengusap kasar bibirnya.
"Kau marah padaku?"
"Tidak." jawabnya acuh, "Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau harus membela dan memeluk wanita cantik itu?!"
"Siapa yang kau maksud? Alenaa?"
"Entahlah, aku tidak tahu namanya. Sudah jangan mengangguku." celetuk Agya menggeser tempat duduknya, menyisahkan jarak yang cukup jauh dengan Dev. Kali ini ia benar-benar marah terhadap suaminya itu dan tidak akan menegurnya.
Mulut pria itu selalu mengatakan jika dia sangat mencintanya, tapi berbeda dengan otak dan kelakuannya yang mengizinkan wanita lain untuk menyentuh dan memeluknya. Coba saja jika posisi itu berbalik, suaminya itu pasti akan kebakaran jengkot dan memarahinya habis-habisan.
"Jangan mendekatiku, aku sedang marah padamu." seru Agya menghunuskan tatapan tajamnya saat Dev hendak bergerak untuk menyentuh wajahnya.
Dev menghela napas, berusaha untuk tetap tenang dan mencegah agar emosinya tidak terpancing.
"Marah? Katakan padaku apa yang membuatmu marah seperti ini?" tanyanya dengan nada suara yang melunak.
"Hisss tidak peka sekali, padahal aku sudah menyebutkannya di awal." gerutu Agya dalam hati, kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti.
"Sayang, kau tidak menawarkan makanan padaku? Aku juga sangat lapar. Aku belum makan sejak semalam." ucapnya ikut menggeser tempat duduknya agar mendekat ke arah Agya.
.
.
.
.
.
Bersambung..