
Suasana yang berada di depan ruang operasi terlihat begitu tegang, semua sibuk dengan pemikirannya masing masing, tak terkecuali Dev. Pria itu terus berjalan mondar mandir di depan pintu ruang operasi sembari mengigit-gigit jarinya, bibirnya bergetar, pun wajahnya yang dilingkupi kecemasan dan ketakutan yang begitu besar.
Sudah hampir satu jam operasi itu berlangsung, namun tak ada satupun tanda-tanda kehidupan, lampu berwarna merah masih menyala dengan begitu terangnya tanda jika operasi sedang berlangsung.
Sama halnya dengan di luar ruang operasi tersebut, suasan mencekam juga terjadi di dalam ruang operasi. Beberapa dokter sibuk membedah perut Agya, mengukir satu persatu kulit perut wanita itu.
"Kondisi pasien semakin melemah." ucap salah seorang perawat menatap layar monitor elektrokardiogram yang menunjukan grafik yang terputus-putus.
"Siapkan alat pacu jantung." dokter bedah tersebut menjawab dengan keringat yang bercucuran di dahinya, ia kembali melanjutkan aktifitasnya untuk menyelamatkan nyawa dua bayi yang dikandung pasiennya.
Eaakk.. Eakkk.
Terdengar suara tangisan bayi yang bersahut-sahutan, yang membuat Dev, Nyonya Inayah, Tuan Darwin, Della dan juga sekertaris Kim saling memandang satu sama lain. Pun cairan bening yang tiba-tiba mengalir dari kedua pelupuk mata Dev, suasan haru bercampur bahagia melingkupi mereka kini.
Tiiiithh....
Namun didetik berikutnya terdengar bunyi elektrokardiogram bersamaan dengan suara gaduh di ruang operasi.
"Dok, jantung pasien berhenti berdetak."
"Berikan alat pacu jantung." salah seorang dokter bedah segera meraih alat pacu jantung sedangkan dokter lainnya menjahit kulit perut Agya untuk menutupi luka wanita itu.
Eaakk...Eaakk
Suara tangisan bayi kembali menggema di ruang operasi dengan sangat keras, seolah merasakan sesuatu yang terjadi pada ibu mereka.
"Segera pindahkan kedua bayi itu ke ruang inkubator."
"Baik Dok." Dua orang perawat bergegas menyelimuti dua bayi itu dengan swaddle berwarna berbeda.
Kini tatapan Dev beralih pada dua perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi sembari menggendong bayi di tangan mereka. Dengan begitu tergesah-gesah ia menghampiri dua perawat tersebut diikuti oleh Nyonya Inayah dan tuan Darwin di belakangnya.
"Sus, bagaimana kondisi istriku?" tak ada pertanyaan lain yang ingin ditanyakan Dev setelah melihat dua bayinya terlahir selamat. Kecemasan dan ketakutannya bertumpu pada kondisi Agya.
"Sus!!" teriak Dev saat kedua perawat itu tak menjawabnya. Ia menggeleng kepalanya, diamnya kedua perawat itu telah menjawab semuanya. Agya telah tiada?
"Tidaaak." suara teriakan Dev semakin keras bersamaan dengan air matanya yang meluncur deras. Tanpa basa basi ia menorobos masuk ke dalam ruang operasi itu. Dan...
Tubuh Dev bergetar, kedua lututnya tak mampu menopang berat badannya lagi saat melihat dokter yang menempelkan alat pacu jantung di atas dada istrinya itu.
Tiiitthhh....
Grafik yang berada di layar monitor elektrokardiogram berubah lurus, dua dokter yang menangani Agya langsung mengangkat tangan mereka.
"Tuan, kita telah kalah."
"Tidak! Tidak mungkin. Lanjutkan dok, lanjutkan alat pacu itu!!" Dev terus bertitah, ia memeluk tubuh tak berdaya Agya, berusaha mendengar detak jantung istrinya tersebut, namun hasilnya nihil.
"Agyaaaaaa." teriaknya keras hingga menampakan urat dilehernya. "Kau tak boleh meninggalkanku sayang. Gyaa, bangunlah, anak kita sudah lahir, apa kau tak mau melihat mereka? Apa kau tak mau mendengar suara tangisan mereka? Sayang, bangunlah sayang." seru Dev menepuk-nepuk kedua pipi Agya, air matanya terus mengalir. Tidak, ia tak mau kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Tuan Dev."
"Biarkan aku memeluknya." Dev menepis tangan dokter yang mencoba menariknya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Agya yang terasa dingin karena tak dialiri darah lagi?
"Gyaa, sayang--bangunlah. Aku sangat mencintaimu, aku dan anak-anakmu sangat mencintaimu. Bagaimana kau bisa setegah ini meninggalkan kami sayang? Gyaaa, kami masih sangat membutuhkanmuu. Bangunlah sayangg." Dev kembali berteriak, ia tak terima dengan kondisi ini.
Mendengar suara teriakan Dev dari dalam ruang operasi, membuat Nyonya Inayah dan Della terisak. Keduanya ikut menangis sejadi-jadinya.
"Agyaaa." Della hendak berlari masuk ke dalam ruang operasi itu, namun sekertaris Kim mencegahnya dan langsung memeluk tubuh kekasihnya itu.
"Jehaa, Agya meninggal, dia meninggalkanku. Jehaa, Agya sahabat terbaikku, Jehaaa." isakan tangis Della semakin membludak, ia memukul-mukul dada bidang sekertaris Kim mencoba untuk meloloskan diri dari pelukan pria itu.
"Della, tak ada yang bisa kita lakukan."
"Aku ingin melihat Agyaa. Jehaaa, dia sahabatku, aku sangat menyayanginya. Ke-kenapa dia meninggalkanku Jehaa, kami baru saja bertemu setelah sekian lama."
"Sayang." Sekertaris Kim mengeratkan peukannya, bersamaan dengan cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
Sementara tuan Darwin, ia melampiaskan kesedihan dan amarahnya yang bercampur pada dinding yang ada di sisinya. Merasa gagal menjadi seorang ayah yang telah kehilangan dua putrinya karena direnggut penyakit yang sama.
Pun nyonya Inayah, ia memeluk salah satu bayi yang berada di dalam gendongannya dengan air mata yang terus bercucuran hingga membasahi wajah bayi perempuan itu.
Suasana yang seharusnya disambut dengan kebahagian kini berganti dengan kesedihan mendalam, air mata terus mengalir dari keluarga Agya yang mengantar kepulangan wanita itu.
.
.
Bersambung...
Kyara Adriana Wilantara
Kairen Adrian Wilantara