
Keesokan paginya, terlihat sekertaris Kim yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam. Ia terbangun lebih awal karena panggilan telpon dari Dev yang menyuruhnya untuk segera ke White House.
Usai memakai jam tangan dan earphone di telinganya, kini pandangan sekertaris Kim mengarah pada Della yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur. Bareface wanita itu membuatnya semakin terlihat cantik.
"Della." panggilnya mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur, tangannya bergerak mengusap lembut wajah wanitanya itu, dan berhenti pada bibir tipis berwarna merah milik Della. Rasanya ia ingin mengecup bibir tipis bak cerry itu, namun tak ia lakukan.
Merasa geli, Della langsung membuka bola matanya. Kini wajah tampan sekertaris Kim memenuhi pandangannya.
"Maaf mengganggu tidurmu." ucap sekertaris Kim mengulaskan senyuman hangat, "Aku harus ke kantor sekarang. Aku sudah menyiapkan makanan dan obat-obatmu di atas meja makan. Maaf, kali ini aku tak bisa menemanimu sarapan."
Della hanya mengangguk seraya membalas senyuman pria itu. Kepalanya terasa begitu beras akibat menangis semalaman.
"Bagaimana perasaanmu hm? Apa kau sudah merasa baik?" lagi Della hanya menjawab dengan anggukan, tatapan matanya masih belum berpindah dari wajah sekertaris Kim. Oh dari mana pria ini berasal? Kenapa hatinya begitu baik dan tulus bak malaikat.
"Baiklah. Aku berangkat sekarang, kau boleh tidur kembali." ujarnya mengusap puncak kepala Della lalu membenamkan kecupan hangat di sana.
Sedangkan Della, ia hanya memejamkan matanya, hatinya berdetak kencang menerima perlakuan manis itu dari kekasihnya.
"Tidurlah lebih awal, aku akan pulang terlambat malam ini."
***
Di tempat yang berbeda, tepatnya di White House. Atmosfer yang sama dirasakan oleh Agya. Wanita itu terlihat begitu pasrah, ia membiarkan Dev membantunya memakaikannya pakaian dan bahkan mendandaninya. Ah yang benar saja, Dev beralih profesi menjadi desaigner sekaligus MUA untuk Agya.
"Dev, jangan menciumnya!" gerutu Agya menatap tajam Dev yang hendak mencium intinya saat pria itu memakaikannya underwear.
Sedangkan Dev, ia hanya terkekeh geli dan melanjutkan aksinya.
"Hah. Kapan aku selesai berpakaian jika kau terus begini?" Agya memutar bola matanya, ia benar-benar memasrahkan tubuhnya.
"Diamlah, sebentar lagi akan selesai." ujar Dev, memakaikan rok wanitanya itu. Setelah itu ia beralih memasangkan pita berwarna hitam dileher Agya.
"Kau tau apa fungsi pita ini?" tanyanya mengecup lembut bahu Agya.
"Tidak."
"Ah payah." gerutu Dev. Sumpah demi apapun rasanya Agya ingin melarikan diri dari sana, ia tak sanggup meladeni embel-embel Dev yang begitu banyak.
"Aku sengaja memasang pita ini agar orang-orang langsung tertuju pada lehermu saat pertama kali melihatmu."
"Lalu?"
"Yaa mereka bisa langsung melihat tanda kepemilikanku yang sudah aku simpan dilehermu."
"Dev!" Mata Agya langsung memelotot tajam, ah memalukan sekali jika orang melihat bekas merah itu.
"Kenapa? Bukankah itu sangat bagus." Kekehnya, mengusap wajah kesal Agya.
"Jangan mengikat rambutku." seru Agya saat Dev hendak mengingat rambut wanuta itu.
"Kau mau menutupi bekas kepemilikanku?"
"Iyaa. Dev, kumohon jangan membuatku malu. Ini pertama kalinya aku ke Wilantara Group."
"Malu? Kau malu dengan bekas kepemilikanku?!" Tatapan mata Dev berubah menjadi kesal. Oh lihatlah, si pemarah yang keras kepala ini, hanya karena itu dia jadi seperti ini.
"Ah aku begitu malas bedebat." Lagi Agya kembali menghela napasnya. Ia benar-benar lelah menghadapi sikap posesif Dev. Ah tapi bukankah pria itu bersikap demikian karena dia begitu mencintainya?
Setelah berjam-jam, akhirnya Agya selesai bersiap begitu juga dengan Dev yang telah terlihat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam.
"Kita akan sarapan di Kantor." ucap Dev mengecup punggung tangan Agya. Berusaha meluluhkan hati wanitanya yang masih terlihat kesal.
"Selamat pagi, tuan, nyonya." sapa sekertaris Kim yang sudah berdiri di samping mobil yang pintunya telah ia buka.
"Selamat pagi sekertaris Kim." Agya menjawab sapaan sekertaris Kim dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya.
Oh apa-apaan ini, apa Dev tak salah melihat?
"Jangan tersenyum padanya!" gerutu Dev, menarik lembut tangan Agya dan memasukannya ke dalam mobil.
Untung saja mood Agya secerah matahari, jadi ia tak harus melibatkan perasaannya ketika meladeni ucapan suaminya itu.
Perubahan sikap Dev membuat Agya terheran-heran. Sepanjang jalan, pria itu tak melepaskan gengaman tangannya dari tangan Agya. Tak hanya itu, ia terus mengecupnya tangan istrinya berkali-kali. Entah apa yang merasuki Dev pagi ini, selain posessif ia juga menjadi 10x lebih bucin.
Tak butuh waktu lama, Dev dan Agya tiba di Wilantara Group. Di sana tampak karyawan yang sudah berjejeran di lobby untuk menjambut Presidir baru dan juga istrinya. Banyak yang tak menyangkah akan melihat wajah istri Mr. Dev sedekat ini, wanita itu benar-benar sangat cantik dan anggun.
"Selamat datang nyonya Dev." sapa Teressa tersenyum.
"Terima kasih." Agya berucap seraya tersenyum. Senyum yang membuat para karyawan terpukau, terutama karyawan pria. Mereka tak berkedip sedikitpun dan terus menatap kecantikan istri Presidir tempat mereka bekerja itu.
Oh jangan lupa dengan tatapan tajam Dev yang mengintimidasi, yang membuat para pria itu langsung menundukan pandangan mereka.
"Nyonya Agya sangat cantik dan ramah, pantas saja tuan Dev menjadikannya istri."
"Dia benar-benar cantik dan anggun, pasti dia bukan orang sembarangan."
"Ah, betapa beruntungnya nyonya Agya bisa menikah dengan pria setampan Mr. Dev."
"Mereka sama-sama beruntung."
Para karyawan mulai saling berbisik, menatap bayangan Agya dan Dev yang baru saja hilang di balik pintu lift.
"Kembali bekerja." ujar Teressa. Menatap semua karyawannya dengan tatapan tajam. Hatinya juga mendadak gerah dan panas, padahal udara di sana begitu dingin.
*
"Dev, apa ini ruangan kerjamu?" Agya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ruangan yang begitu besar dan dipenuhi dengan rak berisi buku-buku yang tidak sedikit jumlahnya.
"Hm. Sebelumnya ini ruangan papaku. Aku baru menempatinya kemarin."
"Oh." Agya mengangguk-anggukan kepalanya, lalu ia mengambil salah satu buku, "Kau suka membaca ini?" tanyanya menoleh ke arah Dev."
"Tidak." Dev menjawab singkat lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. Pun Agya yang ikut menyusul suaminya itu dan duduk di sampingnya.
"Kau tak bekerja?"
"Sebentar akan ada meeting. Apa kau mau ikut ke ruang meeting?" tanyanya membelai wajah Agya.
"Ehm, tidak. Aku menunggu di sini saja."
"Baiklah. Teressa akan menemanimu di sini, jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja pada dia."
"Siapa Teressa?"
"Wanita yang menyambutmu tadi. Dia sekertaris papa."
"Oh. Dia sangat seksi dan cantik." gumam Agya, sekelebat wajah Teressa memenuhi ingatannya. Wanita yang memakai kemeja berwarna pink dan ketat. Oh apa Dev sering menjumpai wanita itu di sini?"
"Apa yang kau pikirkan sayang?" Dev kembali mengusap wajah Agya saat istrinya itu sibuk dengan lamunannya.
"Eh, tidak ada."
"Baiklah, waiters akan membawakan sarapan kita. Apa kau ingin menambah menu makanan kita?"
"Tidak." Agya menjawab singkat, pikirannya berkecamuk tak sejalan dengan hatinya. Ah, ia cemburu dengan Teressa. Wanita itu jauh lebih seksi dibanding dirinya.
"Dev. Apa aku terlihat gemuk?" tanyanya.
"Tidak. Kau sangat cantik sekali."
"Benarkah. Siapa yang lebih cantik, aku atau sekertaris papa?"
"Hahaha." Dev terbahak, oh jadi ini yang membuat Agya gelisah.
"Kenapa kau tertawa?!" celetuk Agya mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana bisa kau membandingkan dirimu dengan wanita itu hm? Kau jauh lebih cantik darinya." ujar Dev menangkup wajah Agya lalu mengecup bibir kerucut istrinya itu, ciuman yang semakin dalam dan membuat mereka terbuai hingga tak menyadari seorang wanita tengah berdiri di depan pintu dan menyaksikan mereka.
"Ehm." Teressa berdehem cukup keras hingga menyadarkan Agya dan Dev.
Agya yang terkejut langsung menjauhkan tubuhnya dari Dev, dan hampir saja wanita itu terjatuh di atas laintai jika Dev tak menahannya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Tak sopan!" seru Dev menghunuskan tatapan tajamnya pada Teressa. Wanita itu berani masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi ataupun mengetuk pintu?
"Ehm, ma-maaf tuan. Rapat akan segera dimulai dan tuan Andhito sudah menunggu di ruang meeting." ucap Teressa menundukan pandangannya.
"Pergilah."
"Baik tuan." dengan segera Teressa memutar tubuhnya dan melangkah pergi dari sana. Hatinya terasa semakin sakit mendengar bentakan Dev barusan.
"Sayang, tenanglah." Agya mengusap dada bidang Dev, mencoba menurunkan emosi suaminya yang meledak-ledak. Dan di detik berikutnya, Dev kembali mendaratkan bibirnya di bibir Agya untuk meredam emosinya pada Teressa sialan itu.
.
.
Bersambung....