
Dua jam berlalu, Agya dan Dev masih berada di butik yang di kunjunginya tadi.
"Ganti." pinta Dev saat Agya menunjukan dress selutut berwarna lilac yang dipakainnya.
Agya mendengus kecil, benar-benar kesal dengan suaminya, sudah hampir 20 pakaian yang ia tunjukan ke hadapan Dev, namun suaminya itu selalu menolaknya dan menyuruh menggantinya.
"Sayang aku sudah sangat lelah. Sudah hampir 2 jam kita berada di sini, dan hanya 3 pakaian yang cocok dengan seleramu?"
"Ya karena pakaian yang kau coba tadi semuanya sangat ketat. Aku tidak suka kau memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhmu."
"Huh menyebalkan, kenapa tidak sekalian kau menyuruhku untuk membeli daster yang oversize? Dengan begitu lekuk tubuhku tidak akan terlihat." gerutu Agya, benar-benar kesal dengan pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kau suka? Baiklah aku akan membelikanmu daster oversize. Awas jika kau tidak memakainya nanti saat ke kampus." ujar Dev bersungguh-sungguh, sontak Agya langsung menggeleng cepat kepalanya, "Eh, ti-tidak sayang. Mana mungkin aku memakai daster ke kampus, tidak usah di beli yahh." bujuknya memeluk lengan Dev seraya memelaskan wajahnya.
"Tidak, aku sangat tidak suka menarik kata-kataku." ucap Dev dengan raut wajah datarnya.
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Aku akan menuruti semua yang kau suka dan yang kau inginkan. Asalkan kau tidak membelikanku baju daster, pleasee." Agya semakin memelaskan wajahnya. Mana mungkin ia memakai baju daster ke kampus, sungguh sangat memalukan jika hal itu benar terjadi.
"Tidak! Aku akan tetap membelikanmu baju daster. Ayo kita ke toko daster sekarang."
"Dev. Aku tidak mau."
"Kau harus mau sayang." ucap Dev tersenyum tipis saat melihat wajah panik Agya. Merasa puas mengerjai istrinya itu.
"Kau akan menyukai daster yang akan kubelikan ini sayang. Kau akan memakainya tiap malam di hadapanku." gumamnya dalam hati dengan seringai tipis tampak terbit di bibirnya.
"Sekertaris Kim, segera bayar pakaian Agya. Dan temui kami di toko daster."
"Baik tuan." Sekertaris Kim yang berdiri di pintu masuk butik segera mengangguk, lalu melangkah ke arah kasir untuk membayar pakaian Agya yang sudah di masukan ke dalam paper bag.
*
"Sa-sayang ini bukan toko da---." Kedua bola mata Agya membelalak tatkala Dev mengajaknya masuk ke salah satu butik yang menjual lingerie dengan berbagai macam model dan bentuk.
"Ini daster yang ku maksud sayang. Kau pasti akan menyukainya." ucap Dev menyeringai.
Agya menelan salivanya dengan kasar bersamaan dengan bulu kuduknya yang tiba-tiba merinding, "Untuk apa kita membeli ini?"
"Untuk apalagi jika bukan untuk dipakai olehmu."
"Jadi kau mau aku memakai ini ke kampus?" tanyanya, mengingat ucapan Dev tadi jika pria itu akan membelikannya pakaian yang akan di pakainya di kampus.
"Hei! Siapa yang menyuruhmu memakainya di kampus. Dasar gadis bodoh." dengus Dev menyentil dahi Agya hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Sakit." Agya mengusap-usap dahinya seraya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, menatap lingerie yang terpanjang di sana.
"Kau akan memakai pakaian ini tiap malam sayang, tapi hanya di hadapanku. Paham!"
Agya mengangguk "Memangnya harus memakai ini?" tanyanya lagi bergidik ngeri saat melihat lingerie tanpa kain melainkan jaring-jaring tipis dengan beberapa sobekan dibeberapa area tertentu.
"Iyaa, wajib untuk kau pakai. Aku akan semakin tergoda saat kau memakai lingerie di hadapanku, apalagi lingerie berwarna merah yang menujukan keberanian, kekuatan dan semangat membara. Hahaa." Dev terbahak dengan ucapannya sendiri, namun tidak dengan Agya yang sudah berkeringat dingin.
"Selamat siang tuan." sapa seorang seles wanita yang baru saja menghampiri Agya dan juga Dev.
"Ehm, selamat siang." jawab Dev melingkarkan tangannya di pinggang ramping Agya.
"Silahkan dipilih lingerienya tuan. Oh iya, kami memiliki lingerie keluaran terbaru, apa tuan ingin melihatnya?" tanya seles tersebut menatap Dev dengan tatapan lekat.
"Istriku yang akan memakainya, jadi tanyakan saja pada istriku ini." sinis Dev, terlihat begitu tidak suka dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini, wanita yang hanya memakai rok selutut dengan belahan di sampingnya dan juga baju kemeja putih yang terlihat begitu ketat dengan satu kancing yang terlepas hingga memperlihatkan payudar*nya yang hampir menyembul keluar.
"Iyaa, saya yang akan memakainya, bukan suamiku." seloroh Agya, ia juga tidak suka dengan seles itu yang menatap Dev dengan tatapan maniak.
"Ehm, baik nyonya. Silahkan ikut dengan saya." ujar seles tersebut tersenyum pias, melangkah ke dalam seraya merapikan kancing bajunya.
Dev tersenyum, meraih tubuh Agya ke dalam dekapannya lalu mengecup lembut puncak kepala istrinya tersebut.
"Apa kau cemburu dengannya?" bisik Dev.
"Tidak, aku hanya tidak suka saja dia menunjukan bagian tubuhnya di hadapanmu seperti itu. Kau juga pasti sangat menikmatinya kan." celetuk Agya melepas pelukannya.
Kedua alis Dev langsung menaut tajam "Bicara sembarang! Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya, apalagi melihat tubuhnya!"
"Benarkah? Kau pikir aku percaya?" Memukul pelan dada bidang Dev lalu berlalu pergi dari sana menghampiri seles lingerie itu.
"Gyaaa." Dev mendengus kesal menatap punggung belakang Agya yang hampir hilang dari pandangannya.
Sementara itu sekertaris Kim yang baru saja selesai membayar pakaian Agya, segera meninggalkan butik tersebut untuk menghampiri Dev dan juga Agya, namun langkah pria itu terhenti tatkala melihat Della yang baru saja masuk di salah satu toko perhiasan bersama seorang pria yang begitu familiar di ingatannya.
"Jio?" gumamnya melangkah mendekat ke arah toko perhiasan itu untuk memastiakan pria yang sedang bergandengan tangan dengan Della. Dan benar saja, pria itu adalah Jio kekasih Alena. Pria yang beberapa hari terakhir ini selalu bermalam di hotel bersama Alena.
"Kenapa Della bisa bersama pria brengsek itu?" Tanpa basa basi, Sekertaris Kim melangkahkan masuk ke dalam toko itu dengan langkah panjang. Melayangkan kepalan tangannya di wajah Jio hingga membuat pria itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Jio." Della membelalak, menolehkan kepalanya ke arah pria yang baru saja menyerang kekasihnya.
"Hentikan tuan Kim!" teriak Della saat sekertaris Kim hendak menghajar Jio lagi.
"Apa yang kau lakukan tuan Kim? kenapa kau tiba-tiba memukul kekasihku?!" serunya melototkan matanya.
"Kekasih?" Sekertaris Kim menoleh singkat ke arah Jio, lalu kembali menatap Della dengan tatapan dinginnya.
"Iyaa dia kekasihku! Kenapa kau tiba-tiba memukulnya?!" seru Della kesal.
Bruk
"Ah." Sekertaris Kim mendesis saat Jio menyerangnya tiba-tiba.
"Jio, stop!" teriak Della menarik tubuh Jio menjauh dari sekertaris Kim.
"Ada apa ini?" tanya seorang security yang baru saja masuk ke toko itu saat mendengar keributan di sana.
"Tidak ada apa-apa pak." ucap Della tanpa menoleh ke arah security tersebut. Wanita itu tengah sibuk menatap seketaris Kim dengan tatapan tajamnya. Tidak habis pikir dengan serangan mendadak yang dilakukan oleh sekertaris Kim yang tanpa alasan.
"Usir dia pak. Dia baru saja menyerangku, aku tidak mengenalnya tapi dia berani memukulku." Jio berucap seraya mengusap sudut bibirnya yang tampak mengeluarkan setitik darah, menatap sekertaris Kim dengan tatapan kesal.
Sekertaris Kim terdiam, sedari tadi ia tidak melepas pandangannya dari wajah Della. "Maaf." ucapnya, sebelum kemudiam ia berlalu pergi dari sana tanpa meninggalkan sepata kata apapun lagi, bahkan tidak mengatakan alasan dirinya menghajar Jio.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Mohon maaf ya kak Readers. Author lagi gak enak badan, jadi gak fokus nulis beberapa hari terakhir ini. Ini aja udah maksa bangat nulisnyaa. Semoga sukaa ya dengan part ini, terima kasihhh❤❤