
Sekertaris Kim menarik selimut lalu menyelimuti tubuh Della yang hanya memakai dala*an, sebelum kemudian ia mendaratkan tubuh wanita itu di tepi tempat tidur.
"Je-Jeha." Della memeluk erat pinggang sekertaris Kim yang berdiri di hadapannya dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Bayangan akan dirinya yang di cumbui Jio beberapa saat lalu masih memenuhi kepalanya. Ia ketakutan, syok dan terluka.
"A-aku----."
"Ssttt. Kau sudah aman bersamaku, maafkan aku sayang. Seharusnya aku pulang lebih awal." ucap sekertaris Kim mengusap lembut puncak kepala Della, lalu mengecupnya. Ia juga terluka melihat kondisi Della seperti ini, seharunya ia tak meninggalkan Della sendirian.
Mendapat perlakuan lembut dari Jeha, membuat Della semakin tak kuasa menahan tangisnya.
"Dia, dia mencium dan menyentuh tubuhku Jeha---." lirihnya, merasa semakin kotor.
"Aku semakin tak pantas untuk----."
"Ssttt, jangan mengucapkan kalimat itu sayang. Atau aku akan melenyapkan pria keparat itu sekarang!" Rahang sekertaris Kim mengeras pun matanya yang sudah memerah menahan tangis, sungguh ia tak sanggup melihat Della yang terus merasa dirinya kotor dan tak berhak dicintai oleh siapapun.
Perlahan, sekertaris Kim melepas pelukan Della dari tubuhnya, hendak berlalu pergi dari sana namun Della mencegahnya.
"Ka-kau mau pergi kemana?" tanyanya menatap lekat kedua manik mata sekertaris Kim.
"Aku akan membunuh pria keparat itu Della, dia harus menerima hukumannya."
"Tidak." Della menggeleng, segera beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh sekertaris Kim.
"Tetaplah di sini Jeha. Aku tak ingin kau pergi, aku tak mau dia melukaimu. Ku mohon." Air mata Della kembali menetes, hingga membuat sekertaris Kim menghembuskan napasnya ke udara dengan kasar, sebelum kemudian ia mengecup wajah kekasihnya itu dan memeluknya seerat mungkin.
***
Kim Jeha melangkahkan kakinya dengan langkah panjang, menuju ke salah satu ruangan dimana Jio berada. Kedua tangan pria itu tergepal kuat, ditambah lagi dengan wajahnya yang memerah akibat amarah yang sudah menggumpal dan siap untuk diledakan. Ia akan menghukum pria keparat itu, dan membunuhnya bila perlu.
"Selamat datang tuan Kim." sapa seorang polisi membungkukan badannya lalu membukakan pintu untuk atasannya teresebut.
"Silahkan tinggalkan tempat ini." perintahnya pada beberapa polisi yang berada di dalam ruangan. Sebelum kemudian ia menatap tajamnya ke arah Jio yang terkulai lemah di atas lantai dengan kedua tangan yang terikat.
"Jio Mozii." Jeha tersenyum sangar, ia melangkah ke arah Jio dengan langkah panjang, lalu duduk berjongkok tepat di samping pria itu.
"Kau!" Menyadari kehadiran Jeha di sana, Jio langsung menghunuskan tatapan yang tatkala tajamnya.
"Apa kau sudah siap menghadapi hukumanmu Jio Mozzi?!" Jeha meraih sebuah cambuk lalu melilitkannya di tangannya, mata pria itu terlihat berapi-api, amarahnya memuncak. Ia benar-benar akan melenyapkan pria ini sebagai hukumannya karena telah melukai hati dan tubuh wanita yang sangat ia cintai. Bagaimana bisa Jio tega melukai wanita setulus Della?
"Kenapa?!" seru Jeha, menghantam tubuh Jio dengan cambuk. "Kenapa kau menyakiti wanitaku?! Pria keparat!"
"Ahhh." Jio meringis tatkala sebuah cambuk kembali menghantam tubuhnya hingga baju yang dikenakannya sobek dan tak beraturan.
"Aku akan membunuhmu Jio Mozzi."
"Tuan Kim." Tuan Yoosih yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, segera berlari dan mendorong tubuh Jeha saat pria itu hendak menikam tubuh Jio dengan pisau yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.
"Lepaskan aku tuan Yoonsin." dengus Jeha, tatapan mata elangnya masih belum berpindah dari tubuh Jio. Selangkah lagi ia berhasil membunuh pria yang telah menyakiti wanitanya.
"Tuan Kim, sadarlah. Kau akan sangat dirugikan dalam hal ini." seru tuan Yoonsin melepas cekalannya pada tubuh Jeha. "Jangan mengotori tangan tuan dengan menyentuh pria keparat itu. Serahkan saja pada kami tuan." imbuhnya.
"Tapi dia telah menghancurkan hidup banyak wanita, termaksud wanitaku!" amarah Jeha masih meledak-ledak, ia hendak melanjutkan aksinya namun tuan Yoosin kembali mencegahnya.
"Aku mengerti tuan. Tapi jika tuan tetap membunuh Jio dengan tangan tuan sendiri, maka tuan tak jauh beda dengan pria keparat itu."
Mulut Jeha langsung terkatup rapat, ia dibuat bungkam dengan ucapan tuan Yoonsin yang ada benarnya.
"Pikirkanlah tuan Kim. Nona Della pasti tak ingin tuan menjadi seorang pembunuh. Serahkan saja tugas ini pada kami."
"Huh" Jeha menghembuskan napas dengan kasar ke udara seraya mengusap wajahnya gusar.
"Lakukan tugas kalian. Pria ini harus mati!" serunya meletakan kembali pisaunya kembali ke dalam saku celananya.
Tuan Yoosin mengangguk, "Baik tuan. Kami akan menjalankan hukuman Jio Mozzi sesuai hukuman yang berlaku."
Jeha tak menjawab, ia kembali melirik ke arah Jio, sebelum kemudian ia menendang pria itu tepat diperutnya lalu meninggalkannya dengan emosi yang belum meredam.
"Katakan, bagaimana Jio bisa masuk ke dalam apartemenku?"
"Berdasarkan CCTV di depan apartemen tuan, kemarin Jio mengikuti tuan pulang dan mengambil sidik jari tuan menggunakan tissu, itu sebabnya Jio bisa masuk ke dalam apartemen tuan dengan duplikat sidik jari tuan." ucap salah seorang bodyguard.
Seketika kening Jeha langsung berkerut dalam, "Shittt." umpatnya, membenarkan apa yang diucapkan bodyguardnya barusan, jadi seseorang yang mengikutinya kemarin adalah Jio.
"Bagaimana dia bisa tahu Della masih hidup?!"
"Saya belum mengetahui pastinya tuan. Tapi sepertinya, saat nona Della melihat Jio di rumah sakit beberapa waktu lalu, disaat yang bersamaan Jio juga melihat nona Della, hanya saja Jio tidak mendekati nona Della karena banyak bodyguard yang berjaga di sekitar nona."
"Shittt. Kenapa aku tak menyadari hal itu?!" Jeha mengutuki kebodohannya, sial memang. Ia tak mengantisipasi kejadian itu, hingga pria keparat itu memiliki kesempatan untuk melukai Della lagi.
"Urus pria keparat itu. Tak perlu mengumumkan berita penangkapannya pada publik."
"Baik tuan."
Tak banyak bicara lagi, Jio langsung masuk ke dalam mobilnya, sebelum kemudian ia melajukan dengan kecepatan maksimal membela malam yang begitu dingin dan gelap. Segelap perasaannya kini.
"Selamat malam Tuan Dev. Maaf menganggu waktu tuan."
"Tak masalah. Ada apa Kim?" tanya Dev dari balik telpon.
"Saya ingin bertemu dengan tuan."
"Datanglah." ucapnya memutuskan sambungan telepon tersebut.
Jeha melepas earphone di telinganya seraya memutar kemudinya, berbelok ke arah jalan Gu menuju White House. Ia harus bertemu dengan Dev untuk menyampaikan penangkapan Jio sekaligus menyampaikan keputusan besar yang ia ambil untuk membawa pergi Della ke luar negri. Membawa wanita itu pergi jauh dari negara yang banyak menggoreskan luka untuknya.
Namun di sisi lain, ia tak tega meninggalkan pekerjaannya dan Tuan Dev yang pastinya masih sangat membutuhkannya untuk membantu mengurus Wilantara Group.
.
.
.
.
.
Bersambung....