Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menyusun rencana baru



Setelah berada di dalam mobil, Dev menyuruh Agya untuk duduk lebih dekat dengannya, dan Agya langsung menurut tatkala mata suaminya itu mulai menghunus tajam lagi.


"Lebih dekat." serunya menarik tubuh Agya hingga wanita itu langsung terjatuh di atas pangkuannya.


"Tu-tuan Dev---."


"Kenapa? Kau tidak suka?"


"Ehm, bu-bukan seperti itu tapi." Agya menoleh ke arah sekertaris Kim yang tengah fokus akan kemudinya.


"Dia tidak akan mendengar ataupun melihat kita."


"Ha? Bagaimana bisa? Jelas-jelas dia memiliki mata dan juga telinga, tentu saja dia mende---." ucapan Agya tertahan takala mulutnya di sumpal oleh mulut Dev.


Kedua bola mata Agya membola, jantungnya terasa berdebar kencang, sangat terkejut dengan serangan dadakan Dev.


Merasakan cengraman tangan Dev di pingangganya semakin kuat pun ciuman pria itu yang terasa semakin dalam, menyusuri rongga mulutnya hingga membuatnya kesulitan bernapas.


"Tu-tuan Dev--." Napas Agya memburuh, jantungnya semakin berdetak kencang. Begitu juga dengan Dev, pria itu melepas ciumannya, mengatur napasnya seraya menatap manik mata teduh milik Agya yang membuat jantungnya ikut berdebar takaruan. Untuk kali pertamanya ia merasakan perasaan ini, perasaan berbeda yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, perasaan yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata.


Untuk beberapa saat Agya dibuat membeku akan tatapan hangat Dev. Sebelum kemudian ia merasa cengraman tangan Dev di pinggangnya mulai sedikit longgar hingga ia mengambil kesempatan itu untuk beranjak turun dari pangkuan Dev, namun Dev tidak membiarkan Agya lepas darinya. Ia kembali memeluk tubuh istrinya itu erat.


"Tetaplah seperti ini."


"Tapi--." Lagi Agya menoleh ke arah selertaris Kim, wajahnya terlihat memerah padam, begitu malu dengan sikap tidak wajar antara dirinya dan Dev yang mereka tunjukan di hadapan sekertaris Kim.


"Kau malu pada sekertaris Kim?" tanya Dev yang langsung dijawab anggukan pelan oleh Agya.


"Sekertaris Kim, apa kau tahu apa yang baru saja kami lakukan?" Dev mengalihkan pandangannya ke arah sekertaris Kim, menatap punggung belakang pria itu.


"Tidak tuan." jawab sekertaris Kim.


"Kau dengar? Dia tidak tahu apa yang kita lakukan."


"Ha? Benarkah? Mana mungkin." Agya tampak tidak percaya, jelas-jelas kaca spion yang ada di hadapan sekertaris Kim mengarah ke arah mereka.


"Nona Agya, tolong percayalah dan ikuti semua keinginan tuan Dev. Jangan perdulilan aku di sini, anggap saja aku sebagai debu jalanan yang melengket di mobil ini." batin sekertaris Kim, menatap singkat kaca spion yang menampakan wajah Agya sebelum kemudian ia kembali fokus akan kemudinya.


"Kau tidak percaya?!"


"Ehm, pe-percaya. Sangat percaya." jawab Agya gelagapan.


"Anak pintar. Apa perutmu masih sakit?" Agya mengangguk pelan, "Iyaa, tapi sedikit."


"Kenapa? Bukankah tadi sangat sakit hingga kau menjatuhkan tubuhmu di lantai."


"Ehm, iyaa tadi sangat sakit, tapi sekarang sudah tidak. Mungkin karena aku terlalu takut padamu jadi perutku sedikit bisa di ajak kompromi."


Sekertaris Kim menarik sudut bibirnya, tertawa kecil saat mendengar keluhan Agya, namun tidak dengan Dev yang sudah menampakam raut wajah garangnya.


"Kau takut padaku?" Agya mengangguk polos, "Iyaa, apa boleh aku berkata jujur?"


"Tidak boleh!!" cetus Dev kesal.


"Yaah, baiklah." Bibir Agya mengerucut, padahal ia sangat ingin berkeluh kesah langsung pada pria yang membuatnya resah.


"Jika perutmu masih sakit, beristirahat dan tidurlah. Perjalanan kita masih 4 jam lagi, aku akan membangunkanmu saat sampai nanti."


"Tidur dalam posisi seperti ini?"


"Iyaa."


"Tapi--."


"Selalu saja melawan, jika kau masih banyak berbicara lagi aku akan menurunkanmu di tengah jalan."


"Eh, ja-jangan. Baiklah-baiklah, aku akan tidur." ucap Agya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dev yang terbalut jas berwarna hitam. Mencari jalan aman, takut Dev benar-benar menurunkannya di tengah jalan.


Tak berselang lama, Dev mendengar napas Agya yang tampak teratur menandakan wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya.


"Tuan, apa tuan yakin mau seperti itu sampe di kota Seoul?" tanya sekertaris Kim melirik singkat ke arah tuannya.


"Tentu saja! Kau meragukan kekuatanku?"


"Ehm, ti-tidak tuan." Sekertaris Kim langsung menutup mulutnya. Membiarkan tuan mudanya itu melakukan apa yang dia inginkan.


***


Beberapa jam kemudian, mobil berwarna hitam tampak masuk ke sebuah halaman rumah bernuansa modern klasik, rumah megah nan mewah yang terlihat begitu sangat besar.


Di depan rumah itu terlihat beberapa pelayan dan juga bodyguard yang berdiri berjejeran, menyambut tuan muda dan nyonya baru rumah itu.


"Gya bangunlah, kita sudah sampai." ujar Dev menatap penuh wajah Agya yang masih bersembunyi di balik jasnya.


"Aku masih sangat mengantuk." Agya mengeratkan pelukannya di pinggang Dev seraya mengendus dada bidang pria itu.


"Baiklah, tidurlah lagi." Suara Dev tampak terdengar melunak, berbeda dari biasanya.


"Silahkan tuan." sekertaris Kim membuka lebar pintu mobilnya, mempersilahkan tuannya untuk keluar dari dalam mobil.


Dev mengangguk, mengeratkan gendongannya pada tubuh Agya lalu keluar dari dalam mobil tersebut.


"Selamat siang tuan." Para pelayan dan juga bodyguard Dev tampak menyambut tuan muda mereka dengan begitu hangat seraya membungkukan badan mereka singkat.


"Istriku sedang sakit, aku akan memperkenalkan pada kalian nanti."


"Baik tuan." jawab Bi Noam selaku kepala pelayan di rumah itu.


"Bukakan pintu kamarku."


"Baik tuan." sekertaris Kim melangkah ke arah pintu kamar tuan Dev, menekan tombol yang berada di sisi pintu itu untuk memasukan kode kamar Dev.


"Tunggu aku di ruang kerjaku." ujar Dev melangkah masuk ke dalam kamarnya, pun sekertaris Kim yang langsung pergi ke ruang kerja Dev yang berada di samping kamar pria itu.


Dev merebahkan tubuh Agya dengan sangat hati-hati di atas ranjangnya yang berukuran king size, menarik selimut untuk menutup tubuh wanita itu, lalu beralih menatap wajah Agya yang tampak kelelahan.


"Apa aku sangat kejam hingga kau takut padaku?" ucap Dev pelan, merapikan anak sulur rambut istrinya itu yang tampak menutupi wajahnya. Sebelum kemudian, ia membenamkan sebuah kecupan di kening dan juga bibir istrinya itu. Ya, bibir Agya kini menjadi bagian tubuh kesukaan Dev, entah kenapa ia juga tidak tahu.


Pria itu sama sekali tidak menyadari perlakuan buruknya pada Agya selama ini, sepertinya Dev mengalami Transient Global Amnesia, dimana ia akan melupakan kejadian yang pernah dilakukannya selama beberapa jam kemudian mengingatnya kembali nanti.


***


Sekertaris Kim beranjak dari duduknya saat tuan Dev melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Sekertaris Kim, sepertinya kau harus menyusun ulang rencanamu, Agya masih belum jatuh cinta padaku, dia juga masih selalu menolakku." dengus Dev, "Satu lagi, aku ingin kau menyingkirkan Darrel dari muka bumi ini, aku sangat muak melihat wajahnya." sambungnya mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Tuan, saya memiliki satu rencana lagi, tapi akan sedikit berat bagi tuan."


"Apa?!"


"Datangkan nona Alenaa di sini, dan beritahu hubungan tuan dan nona Alenaa pada nona Agya."


"Apa kau sudah gila? Rencana macam apa itu Kim? Aku tidak setuju!!" serunya melototkan matanya.


"Tuan. Kehadiran nona Alenaa akan menguji nona Agya. Kalau nona Agya cemburu terhadap nona Alenaa berarti nona Agya sudah jatuh cinta kepada tuan."


"Ide gila apa yang kau temukan ini, aku tidak akan pernah setuju!! Bagaimana jika Agya tidak cemburu sama sekali, dan malah kabur dariku lagi." seloroh Dev. "Kau tahukan salah satu alasanku menikahi Agya agar aku bisa lepas dari wanita licik itu. Dan kau malah menyuruhku untuk mendekatinya?!" Serunya kesal, menolak keras rencana yang diberikan sekertaris Kim.


"Duduklah, cari cara lain dan pikirkan sekarang!! Aku mau Agya jatuh cinta padaku dalam 7 hari kedepan."


Sekertaris Kim tampak menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di hadapnnya, memutar otakanya, memikirkan cara lain agar Agya segera jatuh cinta pada tuan mudanya itu.


"Tuan, bagaimana jika tuan bersikap lembut pada nona Agya, memberikannya banyak perhatian dan membebaskannya kembali, dengan begitu perlahan hati nona Agya pasti akan luluh."


"Membebaskan seperti apa yang kau maksud?"


"Ehm." Sekertaris Kim berdehem, ragu-ragu ia mengusulkan rencananya kali ini, "Tuan mengizinkan Agya untuk kembali kuliah, dan menjalankan rutinitasnya seperti biasanya. Jangan terlalu mengekangnya seperti saat ini."


"Siapa yang mengekangnya? Aku tidak mengekangnya sama sekali!!" cetus Dev menatap sekertaris Kim kesal. Tidak terlihat ramah sedikitpun.


"Jelas-jelas tuan yang mengekangnya dan bersikap kasar padanya hingga nona Agya begitu takut pada tuan, bahkan nona Agya semakin menutup rapat hatinya karena sikap tuan." batin sekertaris Kim.


"Tuan hanya bisa memilih salah satu rencana yang saya usulkan jika tuan ingin nona Agya jatuh cinta pada tuan."


Dev tampak terdiam, mencoba memikirkan usul yang diberikan oleh sekertaris Kim.


"Hah baiklah, aku akan melakukan rencana keduamu. Apa kau sudah mengganti rugi uang semester Agya dan membersihkan namanya?"


"Sudah tuan, sudah saya lakukan."


"Bagaimana dengan artikel tentang skandal itu?"


"Saya sudah menghapusnya sehari setelah tuan menuntut royalti pada nona Agya."


"Bagus, kau sangat bisa diandalkan." ucap Dev menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman tipis seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Apa kelurga pria brengsek itu masih melakukan aksi teror mereka pada Agya?"


"Tidak tuan, ibu dan kekasih Darrel tidak akan mengganggu nona Agya lagi, mereka terlihat ketakutan setelah saya menuntut mereka dan menunjukan bukti jika mereka penyebar foto-foto tuan dan nona Agya ke media."


"Hah, ternyata hanya sampai di situ batas kemampuan mereka." ucap Dev. "Kau masih memiliki satu pekerjaan lagi."


"Iyaa tuan, saya akan segera menjauhkan Darrel dari nona Agya."


"Baguss, lakukanlah sesegera mungikin. Aku ingin Darrel di depak dari kampusnya agar dia tidak bertemu dengan Agya lagi di sana."


"Baik tuan." jawab sekertaris Kim menganggukan kepalanya.


"Tuan, besok nyonya Valerie dan tuan Dhito akan kembali dari Jepang. Apa tuan yakin degan keputusan tuan tentang nona Agya yang tinggal di sini? Bagaimana jika orang tua tuan tiba-tiba ke sini dan melihat nona Agya?"


Dev langsung terdiam bersamaan dengan senyumnya yang menyurut dari bibirnya. "Tapi mami dan papaku sangat jarang ke sini. Aku tidak mungkin membiarkan Agya tinggal di apartemennya lagi, otakknya bisa saja terpengaruh oleh sahabatnya yang barbar itu, huh aku sangat membenci wanita itu."


"Jadi tuan tetap ingin nona Agya tinggal di sini?"


"Entahlah, akan ku pikirkan lagi nanti." ujar Dev menutup percakapannya dengan sekertaris Kim.


.


.


.


.


Bersambungg...


Jangan lupa like & komentnya yak kakss.


Jangan lupa sumbang votenya juga kalau suka dengan cerita ini heheh..


Terima kasih 🤗❤