
"Tuan Dev, jetnya sudah siap. Tuan .bisa berangkat sekarang." Sekertaris Kim membungkuk singkat, berdiri di depan pintu kamar hotel tuan mudanya.
"Tunggulah, aku belum bersiap. Oh iya katakan pada tuan Darwin untuk menunggu di restoran hotel saja."
"Baik tuan, saya permisi dulu." Kembali membungkukan badannya singkat.
"Tunggu. Bagaimana dengan pekerjaanmu semalam?"
"Saya sudah memperingati Nona Alena tuan. Dia tidak akan berani berbicara pada publik tentang hubungan tuan dengannya."
"Huh." Dev menghembuskan napas legah, "Pergilah." pintanya, berlalu masuk ke dalam kamarnya kembali seraya menutup rapat pintu kamarnya tersebut. Kini sorot mata pria itu mengarah ke arah Agya yang berdiri di samping tempat tidur dengan kepala yang tertunduk dalam, benar-benar sangat malu dan ketakutan saat Dev mengetahui sandiwara sakit pinggangnya.
"Kenapa kau masih berdiri di situ?! Cepat siapkan air hangat untukku!" cetus Dev, menghunuskan tatapan tajam ke arah istrinya itu, merasa sangat kesal karena dikerjai.
"Ehm, ba-baiklah. Maafkan aku."
"Aku tidak akan memaafkanmu! Cepatlah!"
"Eh, i-iyaa." Agya mengangguk pelan, lalu berlari masuk ke kamar mandi.
Dengan tangan yang gemetar Agya memutar kran air hangat untuk mengisi bath up, kembali membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu, kejadian di mana amarah Dev memuncak saat mengetahui dirinya sedang dikerjai, bahkan pria itu hampir mencekik leher Agya karena rasa kesalnya. Untung saja sekertaris Kim datang tepat waktu, hingga menghentikan amarah Dev. Sungguh melihat raut wajah Dev tadi membuat Agya ketakutan, dia benar-benar seperti macan gila yang sedang kelaparan.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengejutkan Agya dan membuyarkan lamunan wanita itu.
"Kenapa lama sekali?!" Dengus Dev menghunuskan tatapan tajam.
"Ma-maaf. Air hangatnya sudah siap. Tuan bisa mandi sekarang." Menundukan kepalanya, tidak berani menatap mata tajam Dev yang menakutkan. "Sa-saya permisi dulu." ucapnya hendak keluar dari kamar mandi namun Dev langsung menarik tangannya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Tetap di sini dan mandikan aku."
"Ha?" Agya melongo bersamaan dengan matanya yang membulat lebar. "Memandikan tuan?"
"Iyaa, apa kau tuli?"
"Eh, tapi--."
"Aku tidak suka ditolak!" serunya, lalu menanggalkan pakaiannya di depan Agya, hingga membuat wanita itu tertegun dengan mata yang membola bahkan hampir lepas dari tempatnya.
Agya langsung memutar tubuhnya, sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Ah mataku!" gumamnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya seraya mengatur napasnya, "Ke-kenapa dia melepas pakaiannya di depanku? Apa dia tidak malu? Ah mataku jadi ternodai karenanya."
"Hei, cepatlah. Aku mau mandi sekarang." cetus Dev menatap Agya yang masih memunggunginya. Pria itu sudah duduk di dalam bath up.
Agya memejamkan matanya singkat seraya menghela napas pajang, memutar tubuhnya dan memegangi jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.
"Cepatlah!"
"I-iyaa." Wajah Agya memerah, mengutuki pikiran kotornya, pun matanya yang tergoda dengan tubuh polos nan putih Dev. Sungguh rasanya Agya ingin menghilang saat ini juga.
"Pijatlah dengan lembut, selembut aku memijatmu tadi." Dev berucap seraya mendongakan kepalanya, menatap wajah Agya yang duduk dibelakangnya.
"I-iyaa. Maafkan aku." Harus meminta maaf berkali-kali agar Dev tidak mengungkitnya lagi.
"Pakaian aku shampo, jangan lupa pijat kepalaku juga dengan lembut."
"Iyaa." Agya meraih botol shampo yang tidak jauh dari jangkauannya, meneteskan gel shampo di tangannya lalu mengusapkannya di kepala Dev dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
Setalah memakai shampo, Dev langsung beranjak berdiri dan keluar dari bath up. Memasang shower untuk membilas tubuhnya, sedangkan Agya masih duduk di tempatnya. Memalingkan wajahnya ke arah lain. Sungguh ia masih tidak menyangka Dev akan menunjukan seluruh tubuh polosnya di hadapannya.
"Ambilkan aku handuk."
"I-iyaa." Agya beranjak dari duduknya, mengambil handuk yang berada di dalam nakas, kemudian menyodorkan pada Dev dengan kepala yang tertunduk dalam.
Sepeninggalan Dev, Agya langsung menyandarkan tubuhnya di pintu. Memegangi jantungnya yang semakin berdebar kencang, "Ah ini sangat gila sekali." gumamnya, kilasan kilasan bayangan akan tubuh polos Dev masih terngiang-ngiang dikepalanya.
Buru-buru Agya memasang shower, mendinginkan otak dan kepalanya yang terasa panas. Tidak hanya itu, tubuh Agya juga terasa panas sekarang.
***
"Dia belum bersiap-siap?" gumam Agya menutup kembali pintu kamar mandi, menatap Dev yang duduk di atas sofa, masih memakai handuk.
"Kenapa kau lama sekali? Cepat ambilkan pakaianku." Menoleh ke arah Agya dengan wajah kesalnya.
"Eh, i-iyaa." Agya mengangguk, dengan langkah panjang, ia berjalan ke arah lemari, mengambil setelan jas milik Dev yang diantarkan oleh sekertaris Kim semalam.
"Ini tuan." Menyodorkan ke arah Dev.
"Lama sekali." Meraih setelan jas itu dengan kasar seraya beranjak dari duduknya.
"Cepatlah gantia pakaianmu, kita tidak punya banyak waktu."
"Iyaa." Hanya kata itu yang bisa Agya ucapkan, menuruti semua yang diinginkan oleh Dev sesuai dengan isi aturan pernikahan mereka. Agya juga tidak mengerti dengan sikap Dev yang selalu berubah-ubah, sedingin dan sekasar itukah dia?
30 menit berlalu, kini Agya telah siap dengan dress putih motif bunga, membiarkan rambut panjangnya tergerai lurus, dan memakai make up tipis. Pun Dev yang juga sudah siap dengan setelan jas berwarna hitamnya.
"Bisakah kau berjalan lebih cepat?! cetus Dev, menoleh ke arah Agya yang berjalan di belakangnya.
"Bisakah kau tidak memarahiku terus?" Rasanya Agya ingin melontarkan kalimat itu pada Dev namun tidak ia lakukan krena tidak memiliki keberanian.
*
"Selamat pagi tuan Dev." Sekertaris Kim menyapa seraya membungkukan badannya singkat, menyambut tuan mudanya yang baru saja masuk ke dalam restorant.
"Sayangg." Mama Inaya ikut menyambut kehadiran Agya di sana, memeluk dan mencium wajah anak semata wayangnya itu.
"Ayoo duduk dan sarapan dulu, setelah itu Papa dan Mama akan mengantar kalian ke bandara." ujar Papa Darwin tersenyum hangat.
"Ayoo sayang." Mama Inaya menarikan kursi untuk Agya, lalu membantunya untuk duduk.
Melihat perlakuan orang tua Agya yang penuh kasih sayang membuat Dev terdiam, sorot matanya menatap lekat wajah Agya yang terlihat ingin menangis.
"Ayoo sayang, ambilkan makanan untuk suamimu." ujar Mama Inaya mengusap lembut bahu Agya.
"Iyaa Ma." Agya mengangguk, meraih piring kosong yang ada di hadapan Dev lalu mengambilkannya makanan.
"Aku hanya ingin makan sandwich saja."
"Eh." Pandangan Agya beralih menatap Dev, terdengar helaan napas singkat dari mulutnya. "Baiklah." Menukar piring milik Dev yang sudah berisi makanan dengan piringnya, lalu mengambilkan sandwich untuk suaminya itu.
.
.
.
.
.
Bersambung..