
Bunyi pesan singkat yang berasal dari ponsel Dev, mengalihkan perhatian pemiliknya yang tengah memandangi pantulan tubuhnya di cermin.
Kedua alis Dev menaut tajam tatkala gambar seorang wanita yang tengah berciuman memenuhi layar ponselnya. Wajahnya yang semula terlihat datar kini berubah drastis, sekelebat amarah langsung memenuhi wajahnya.
"Dia sama sekali tidak berubah." gumam Dev, menggenggam kuat ponselnya dengan rahang yang mengeras.
"Siapa pria yang ada di foto itu? Apa pria yang sama yang selama ini berhubungan dengannya."
"Iya tuan." jawab seseorang di balik telepon.
"Hah, shittt. Jelaskan semua detailnya padaku." ujar Dev, melangkah menuju sofa lalu mendaratkan tubuhnya di sana, namun sebelum itu ia menoleh ke arah kamar mandi yang masih terkunci rapat.
"Tuan, kejadian itu terjadi kemarin malam di Club Fuyoshi. Nona Alenaa datang bersama pria itu dan juga beberapa sahabatnya."
"Nona Alenaa juga memesan kamar di Bruston Hotel. Dan menginap di sana selama dua malam."
"Oh jadi karena penolakanku kemarin malam, dia langsung melampiaskan ke pria lain." batin Dev, senyum sinis tampak terukir di salah satu sudut bibirnya.
"Kumpulkan semua bukti-bukti itu, lalu kirimkan pada sekertaris Kim."
"Baik tuan. Saya sudah mengamankan beberapa bukti."
"Baiklah, tetap pantau aktifitas Alena. Aku mau kau mengumpulkan lebih banyak bukti lagi, bila perlu aktifitas mereka di dalam hotel itu juga."
"Baik tuan."
"Lakukanlah dengan baik dan berhati-hati. Alena wanita yang sangat licik, dia bisa merubah bukti-bukti itu menjadi kertas remuk tak berarti."
"Baik tuan." ucap mata-mata Dev mengkahiri sambungan teleponnya.
"Sepertinya aku akan lebih mudah melepaskan wanita jalan* itu. Ah, tapi aku akan mempermalukannya terlebih dulu." Dev menyunggingkan senyuman sinis di bibirnya. seraya memutar-mutar ponselnya. Tinggal menunggu waktu saja, hidup dan karir Alena akan tamat.
"Sudah cukup kau bermain-main denganku Alenaa, sebentar lagi kau akan kalah dan aku yang akan menjadi pemenang dari pemainan ini. Game over." gumam Dev, senyum yang semula terlihat sinis kini berubah menakutkan.
"Dan wanita itu." Dev menoleh ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat.
"Huh apa yang dia lakukan di kamar mandi selama ini? Apa dia malu padaku karena hal liar yang dilakukannya tadi?" Melempar ponselnya ke sembarang arah seraya beranjak dari duduknya. "Ah, wajahnya pasti sedang memerah menahan malu." gumamnya.
"Keluarlah! Apa yang kau lakukan di dalam sana?" Dev menggedor pintu kamar mandi seraya memutar-mutar handle pintu dengan kasar. Pria itu benar-benar tidak sabaran san emosian.
"Agya Wardana! Keluarlah jika kau tidak ingin aku merusak pintu ini!" Dev meninggikan suaranya tatkala Agya tidak menyahutinya.
"Gyaa. Buka pintunya! Apa kau tidak mendengarku! Aku akan menghukummu jika kau masih belum membukanya dalam 3 detik." Dev kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi bahkan lebih keras dari sebelumnya. Namun, tetap saja ia tidak merima jawaban dari istrinya yang sudah berada di kamar mandi selama kurang lebih satu jam.
Karena rasa tidak sabaran dan emosi yang membuncah, Dev langsung menendang pintu kamar mandi, hingga pintu itu terbuka lebar dan menampakan tubuh Agya yang tengah berbaring di atas lantai seraya merintih kecil.
"Agya." Wajah Dev berubah panik, dengan segera ia menghampiri istrinya tersebut.
"Tu-tuan Dev, perutku sangat sakit." ujar Agya dengan sisa-sisa tenanganya, menatap senduh Dev yang duduk berjongkok di hadapannya.
Dev terdiam, kedua bola matanya membulat dengan sempurnah tatkala melihat beberapa titik darah mengotori jubah mandi yang di pakai Agya.
"Kau melukai tubuhmu?!" cetusnya, matanya menghunuskan tatapan tajam, namun tidak dengan wajahnya yang semakin panik.
Buru-buru Dev meraih tubuh Agya ke dalam gendongannya lalu membawa istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan begitu tergesah-gesah, bahkan ia hampir terjatuh saat kakinya tersandung keset kamar mandi.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau melukai tubuhmu? Kau beniat bunuh diri? Hah, Kau benar-benar sudah gila Agya." teriak Dev frustasi, menatap Agya yang baru saja ia rebahkan di atas tempat tidur.
Agya tidak menjawab, perutnya begitu terasa sakit hingga membuatnya ingin menangis. Sedangkan Dev, wajahnya semakin terlihat panik dan kalang kabut saat darah yang mengotori jubah mandi Agya terlihat semakin banyak. Pria itu hendak memeriksa sumber darah tersebut, namun Agya langsung mencegahnya dengan menepis tangan Dev pelan.
"Ja-jangan memeriksanya, aku sedang datang bulan."
"Datang bulan?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan pelan oleh Agya. Seketika wajah Dev langsung memerah, "Jadi darah ini---Ah shitt." dengusnya. Menyadari jika darah yang mengotori juba mandi Agya bukanlah darah hasil percobaan bunuh diri melainkan darah datang bulan?
"Kau mengerjaiku?!" Kekhawatiran di wajah Dev langsung menguap ke udara, berganti dengan rasa kesal. Jantungnya hampir berhenti berdetak, ia pikir Agya benar-benar melukai dirinya.
Melihat wajah kesakitan Agya membuat amarah Dev perlahan memudar. Pria itu mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur, lalu mengusap-usap perut Agya lembut.
"Apa sakit sekali?" Agya mengangguk, sungguh kali ini perutnya terasa dua kali lebih sakit dari bulan-bulan sebelumnya. "Sakit sekali." jawabnya meneteskan air matanya, tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menjalar di sekitar perut dan pingangnya.
"La-lalu apa yang bisa aku lakukan? Mengusapnya seperti ini tidak akan membuatnya sembuh!"
"Tolong ambilkan air hangat dan masukkan ke dalam botol. Aku membutuhkannya sekarang."
"Dimana aku bisa mendapatkannya Agya!!" celetuk Dev,
"Mintalah pada nenek Gamri di dapur. Nenek Gamri pasti akan langsung memberikannya untukmu." Agya memelaskan wajahnya, berharap Dev mau membantunya tapi itu sangat mustahil terjadi, Dev yang biasanya memerintah mana mau diperintah, namun anggapan itu langsung dipatahkan tatkala Dev mengatakan, "Baiklah, diamlah di sini, aku akan mengambilkannya di dapur." ujarnya bergegas keluar dari kamar tersebut menuju dapur dengan sedikit berlari, tidak memerdulikan dirinya yang hanya memakai handuk untuk menutupi setengah tubuhnya.
Saat hendak memasuki dapur, tiba-tiba Dev menghentikan langkah kakinya, niatnya untuk mengambil air hangatpun terurungkan tatkala dirinya bertemu dengan Darrel di sana.
Pun Darrel yang tampak tertegun saat berpas-pasan dengan Dev. Tidak hanya itu, ia dibuat tercengang saat melihat kissmark memenuhi dada bidang dan juga leher Dev.
"Hubungan mereka sudah sejauh itu?" batinnya, tersenyum masam. Tampak keputus asaan memenuhi wajahnya.
"Nenek Gamri, apa aku boleh meminta air hangat?" pandangan Dev beralih ke arah nenek Gamri yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Air hangat?"
"Iyaa nek." jawab Dev melanjutkan langkahnya masuk ke dalam dapur, menabrak sedikit tubuh Darrel yang menghalangi jalannya.
"Baiklah nenek akan mengambilkannya untukmu." ujar nenek Gamri hendak meraih gelas.
"Nek, Apa nenek memiliki botol? Istriku membutuhkan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol." Dev sedikit mengeraskan suaranya saat menyebut kata 'istriku' sengaja melakukannya agar Darrel mendengarnya dengan jelas dan berhenti mengejar-ngejar Agya lagi.
"Botol? Ah iyaa, tunggu sebentar. Nenek akan mengambilkannya untukmu nak." ucap nenek Gamri, berlalu dari sana menuju ruangan kecil yang ada di ujung dapur tersebut untuk mengambil botol.
"Jauhi istriku!!" seru Dev menoleh ke arah Darrel seraya menghunuskan tatapan tajam.
"Istri? Kau menyembutnya istri? Sejak kapan tuan Dev yang terhormat." Darrel menyunggingkan senyuman tipis yang terkesan mengejek.
"Bukankah kau menikahinya hanya untuk menghancurkan hidupnya? Tuan Dev, walaupun tubuh Agya sudah menjadi milikmu dan terikat denganmu, tapi kau tidak akan pernah memiliki hatinya. Kau tahu kenapa? Karena hati Agya hanya milikku. Dia sangat mencintaiku."
Kedua tangan Dev langsung menggepal kuat, pun rahangnya yang ikut mengeras, "Dia akan mencintaiku! Aku akan membuktikan itu padamu!" serunya menghunuskan tatapan tajamnya bak elang yang siap menerkam mangsanya.
"Ah benarkah? Kalau begitu buktikanlah tuan Dev yang terhormat. Tapi selagi kau belum bisa membuktikan itu padaku, aku akan tetap mengejar Agya."
"Kau--." Dev mencengkram kerak baju Darrel hendak melayangkan kepalan tangannya di wajah pria itu, namun terurungkan saat nenek Gamri kembali ke dapur.
"Awas saja kau!" serunya menghempas kasar tubuh Darrel.
"Nak Dev, ini air hangatnya." ujar nenek Gamri melangkah tegopoh-gopoh ke arah Dev lalu menyodorkan botol air hangat yang dilapisi kain. "Apa nak Agya sedang datang bulan?" tanyanya.
"Iyaa nek, terima kasih. Aku kembali ke kamar dulu." Dev mengambil alih botol tersebut dari tangan nenek Gamri, lalu pergi dari sana. Meninggalkan tatapan tajam yang membekas di ingatan Darrel.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like & coment ya kaks Readers. Terima kasih sudah mampir untuk membaca kisah Agya dan Mr. Dev ❤😊