Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Diluar dugaan



"Kenapa kau lama sekali?! perutku semakin sakit." celetuk Agya tidak perduli dengan siapa ia bicara sekarang. Wanita itu memekik menahan rasa sakit dan nyeri pada perut bawahnya.


"Iyaaa, maaf." ucap Dev segera mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Pun Agya yang langsung merubah posisi tidurnya.


"Letakan di atas perutku."


"Bukan di situ, lebih ke atas sedikit." perintah Agya dan Dev langsung melakukannya dengan hati-hati, memindahkan botol berisi air hangat itu ke perut atas Agya.


"Pindahkan lagi ke bagian bawah. Ahh, kenapa semakin terasa sakit? Kau pasti melakukannya dengan terpaksa dan sangat tidak ikhlas." dengus Agya, memejamkan matanya saat rasa nyeri itu kembali menghantamnya.


"Berani sekali kau membentakku!!" cetus Dev menghunuskan tatapan tajamnya pada Agya, namun tangannya tetap bergerak memindah-mindahkan botol itu di sekitar perut istrinya tersebut.


"Siapa yang membentakmu? Aku hanya berkomentar saja."


"Huh." Napas Dev berembus dengan kasar ke udara, mengakhiri perdebatan itu sebelum emosinya terpancing. Kembali memindah-mindahkan botol tersebut dengan penuh cinta dan kasih sayang agar Agya tidak mengomentarinya lagi.


"Aku akan memaafkan ketidaksopananmu ini karena kau sedang sakit. Tapi setelah itu, aku akan menangih jasa ini." gumam Dev dalam hati seraya menyeringai licik.


"Ahhh, sakitt." Agya kembali menjerit memeluk perutnya dengan begitu erat. Air mata yang semula tertahan kini mulai membanjiri wajahnya lagi.


"Hei, kenapa kau menenangis?!"


"Sa-sakitt Dev." rintih Agya sesegukan. Sontak Dev langsung merebahkan tubuhnya di samping Agya, memeluk tubuh istrinya itu seraya mengusap-usap perutnya lembut. Entahlah ia begitu bingung dan sama sekali tidak tahu cara mengatasi sakit yang dikeluhkan Agya, hingga ia mengambil cara itu dengan harapan bisa meredam rasa sakitnya.


"Apa masih sakit?" tanya Dev beberapa saat kemudian.


Agya mengangguk, seraya memekik kecil. Rasa nyeri yang semula hanya di perut bawahnya kini semakian menyebar hingga ke dadanya.


"Apa yang bisa aku lakukan lagi? Ah, aku akan menghubungi dokter." Dev hendak beranjak dari tidurnya namun Agya langsung mencegahnya.


"Tidak perlu, rasa sakitnya pasti akan hilang nanti." ucapnya mengenggam tangan Dev yang masih berada di atas perutnya.


"Tidak perlu? Apa kau sudah gila? Kau memilih untuk menahan sakit seperti ini?! Aku akan tetap memanggilkan dokter untukmu." seru Dev menarik tangannya lalu beranjak bangun. Meraih ponselnya yang berada di atas lantai.


"Kau dimana?"


"Saya sedang dalam perjalan ke kota Daegu tuan."


"Kenapa lama sekali?! Cepat hubungi dokter terbaik di kota ini."


"Dokter? Apa tuan sedang sakit?" tanya sekertaris Kim dengan nada panik.


"Bukan aku tapi Agya. Cepatlah, istriku membutuhkan dokter sekarang."


"Ba-baiklah tuan, saya akan segera mengubunginya." ucap sekertaris Kim sebelum kemudian Dev mengakhiri panggilan telepon tersebut.


***


Beberapa jam kemudian, Agya masih berada di atas tempat tidur, terlihat begitu tekejut saat Dev membawa tiga dokter sekaligus ke dalam kamar untuk memeriksanya.


"Astaga memalukan sekali. Kenapa dia membawa dokter sebanyak ini?" gumam Agya dalam hati, rasanya ia ingin menghilang dari bumi saat itu juga karena tidak sanggup menahan malu.


"Kenapa kalian belum memeriksanya? Apa kalian tidak lihat istriku sedang kesakitan?!"


"Ehm ba-baik tuan." Salah satu dokter menjawab dengan begitu gugupnya, ia begitu kebingungan dan sedikit takut untuk memeriksa Agya yang merupakan istri dari Mr. Dev. ISTRI MR. DEV!


Sungguh ketiga dokter wanita itu begitu sangat terkejut saat mengetahui jika yang akan mereka periksa adalah istri dari Mr. Dev. Mereka pikir, Mr. Dev belum menikah namun nyatanya apa yang mereka lihat di hadapannya saat ini sudah cukup membuktikan. Ditambah lagi dengan Mr. Dev yang selalu memanggil Agya dengan sebutan 'istriku' ah sangat romantis sekali bukan. Dev terlihat sangat mencintai istrinya. Ya itulah asumsi ketiga dokter tersebut.


"Nona Agya, apa saya bisa memeriksa nona sekarang?"


"Tentu saja! Kenapa kau masih bertanya? Kau ingin membuat istriku semakin kesakitan?" bentakan yang keluar dari mulut Dev membuat Agya memejamkan matanya singkat. Rasanya ia ingin mengusir Dev dari sana agar tidak semakin membuat keributan.


"Dok, bukankah orang lain tidak boleh berada di ruangan pemeriksaan kecuali pasien dan dokter saja?" tanya Agya, menatap dua dokter yang berdiri di dekat ranjang, "Apa dokter bisa menyuruh pria itu keluar dari kamar ini?" sambungnya.


"Kau mengusirku?" cetus Dev menautkan kedua alisnya.


"Tidak, aku tidak mengusirnya kan dok. Aku hanya menyuruhnya keluar saja."


"Sama saja! Aku tidak akan keluar. Aku akan tetap berada di sini!" seru Dev dengan keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat. Pria itu berdiri di sisi lain ranjang dengan kedua tangan yang terlipat di atas dadanya.


"Huh menyebalkan sekali."


"Ehm, sa-saya akan memeriksa nona Agya sekarang." ucap salah satu dokter mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Dok, aku tidak sakit. Aku hanya mengalami nyeri haid saja."


"Kau sakit!" celetuk Dev.


"Nyeri haid?" Kedua dokter muda yang berdiri di dekat ranjang Agya langsung menolehkan kepala mereka, saling menatap satu sama lain.


Sedangkan dokter Dina langsung melakukan tindakan pemeriksaan terhadap kondisi Agya, namun wanita itu dibuat tercengang tatkala mengetahui penyebab Agya mengalami nyeri dan sakit di perut selain karena menstruasi.


"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Dev menatap dokter Dina.


Untuk sesaat dokter Dina terdiam, ia menolehkan pandangannya ke arah Agya, menatap raut wajah Agya yang tampak ketakutan.


"Apa tuan Dev tidak mengetahui apapun?" gumam dokter Dina, mengalihkan pandangannya ke arah Dev. Berusaha membaca raut wajah Dev yang masih diselimuti kekhawatiran. Ya, sepertinya Dev tidak mengetahui jika istrinya mengonsumsi pil kontrasepsi.


"Ehm, tuan Dev, tuan tidak perlu khawatir. Nyeri pada bagian perut saat haid umum terjadi pada semua wanita saat menstruasi."


"Benarkah? Semua wanita mengalami hal yang sama?" tanya Dev bergidik ngeri, tidak dapat membayangkannya jika setiap wanita akan mengalami rasa sakit itu setiap bulannya. Termaksud ibunya?


"Iyaa tuan. Tap---." Agya menggengam tangan dokter Dina seraya menggeleng kepalanya. Berharap dokter Dina tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Dev dengan nada suara mendesak.


"Maafkan saya nona, saya harus berkata jujur untuk menyelamatkan hidup dan karir saya." batin dokter Dina menatap wajah senduh dan memelas Agya.


"Apa? Cepat katakan?!"


"Ehm, maaf. Nona Agya mengonsumsi pil kontrasepsi sehingga nyeri haid yang dirasakannya saat ini jauh lebih sakit dari biasanya."


"Apa? Pil kontrasepsi?!" Kedua alis Dev langsung menaut tajam, menatap Agya dengan tatapan penuh.


"Keluar kalian semua!!" serunya pada ketiga dokter tersebut, tanpa menoleh ke arah mereka sedikitpun.


"Baik tuan. Maaf." ucap dokter Dina beranjak dari duduknya.


"Kami permisi dulu tuan. Maaf." Dokter Dina kembali berucap seraya membungkukan badannya singkat. Menatap Agya dengan gumaman-gumaman permintaan maaf.


"Keluarlah!!" seru Dev lagi, meninggikan suaranya hingga membuat dokter Dina dan kedua dokter lainnya terhenyak begitu juga dengan Agya.


"Se-sepertinya Dev sangat marah. Ahh, tamatlah riwayatku." gumam Agya mengigit bibir bawahnya, tidak berani menatap Dev yang tengah mengunuskan tatapan tajam ke arahnya.


*


"Dokter Dina, bagaimana keadaan nona Agya?" tanya sekertaris Kim yang berdiri di depan pintu kamar Dev dan Agya. Pun nenek Gamri yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ehm, tuan Kim. Apa kita bisa berbicara berdua saja?" usul dokter Dina, wajahnya masih terlihat ketakutan, begitu juga dengan dua dokter lainnya. Baru kali ini mereka melihat dan menyaksikan secara langsung amarah Dev. Pria itu benar-benar menakutkan sama seperti rumor yang beredar selama ini.


"Baiklah, kita berbicara di ruang tamu saja." ujar sekertaris Kim, merasa jika ada yang tidak beres.


"Apa? Nona Agya mengonsumsi pil kontrasepsi?" Sekertaris Kim tidak kalah terkejutnya setelah mendengar penuturan dokter Dina barusan.


"Iyaa tuan."


"Nona Agya, kenapa kau begitu berani menelan pil itu?" gumam sekertaris tidak habis pikir. Kali ini ia tidak bisa mencegah amarah Dev lagi pada Agya.


"Tuan Kim, tuan Dev terlihat sangat marah pada istrinya. Aku merasa sangat bersalah, aku takut tuan Dev melu--."


"Apa yang anda pikirkan dokter Dina? Tuan Dev sangat mencintai istrinya. Sebaiknya dokter kembalilah bekerja dan jangan lupa untuk merahasiakan hal ini jika anda masih ingin melanjutkan karir anda sebagai seorang dokter."


"Ehm, ba-baik tuan Kim. Saya permisi dulu." ujar dokter Dina semakin ketakutan saat melihat tatapan dingin sekertaris Kim.


"Nona Agya." sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh ia masih tidak menduga dengan tindakan Agya yang memilih menelan pil kontrasepsi itu untuk mencegah kehamilannya. Padahal Dev sangat menginginkan Agya untuk segera hamil agar wanita tidak memiliki celah untuk lepas atapun berniat kabur lagi darinya. Bahkan kehamilan Agya juga akan sangat berdampak baik untuk mengakhiri hubungan Dev dengan Alena, si wanita jalan* yang suka bergonta ganti pasangan.


Sekertaris Kim mendengus, rencana yang ia usulkan tadi pagi pada Dev benar-benar gagal gara-gara pil kontrasepsi itu. Padahal rencana itu akan mengubah pola pikir Dev dan juga tujuan pria itu menikahi Agya. Namun menjadi sia-sia karena pil itu, tetapi ada untungnya juga mereka mengatahui perkara ini lebih awal, dengan begitu niat sekertaris Kim akan kembali berjalan sesuai rencananya. Mungkin tidak hari ini tapi di hari lain.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Ada yg bisa tebak?? Kira-kira kapan Agya mulai mengkonsumsi pill itu??