
Setelah mendapat kabar terbaru tentang keberadaan Agya, sekertaris Kim langsung bergegas ke kamar Dev dengan langkah panjang. Pria itu terlihat tidak sabaran untuk menyampaikan kabar tersebut kepada tuan mudanya. Sudah cukup ia melihat keterpurukan tuannya itu selama beberapa hari terakhir ini, tepatnya saat dirinya kembali dari luar negri.
Ya, sekertaris Kim baru kembali ke Korea Selatan tiga hari yang lalu bersama Della. Ia begitu terkejut saat mendengar kabar kehilangan Agya dan keterpurukan Dev dari Tuan Andhito. Untuk itu, ia memutuskan kembali ke negaranya untuk membantu mencari keberadaan nyonya mudahnya.
Saat pertama kali sekertaris Kim menginjakan kakinya di White House, ia benar-benar terkejut melihat kondisi Mr. Dev yang begitu kurus dan tak sedetikpun melepaskan wine dari tangannya. Seakan minuman tak sehat itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Ada apa?" Dev menatap sekertaris Kim yang baru saja masuk ke dalam kamarnya sebelum kemudian ia beralih pada wine yang baru saja ia tuang ke dalam gelas kecil.
"Kau ingin menemaniku minum?" tanyanya, meneguk habis wine tersebut.
Sekertaris Kim bergeming, menatap kasihan pada Dev. Tak ada satupun yang bisa melarang Dev untuk tidak mengonsumsi minum tersebut kecuali Agya, wanita yang amat sangat dicintai pria itu.
"Kami telah menemukan keberadaan nyonya Agya, tuan."
Deg
Dev menghentikan aktivitasnya, lalu menatap sekertaris Kim dengan tatapan tak terbaca. Ia tak begitu mendengar apa yang diucapkan oleh sekertaris Kim karena wine yang tengah menguasainya.
"Saat ini nona Agya sudah berada di Indonesia." Sekertaris Kim kembali melanjutkan ucapannya saat melihat kebingungan di wajah Dev.
"A-agya ada di Indonesia?" Seketika Dev langsung beranjak dari duduknya dengan mata yang melebar, botol wine yang semula berada di tangannya, terlepas begitu saja hingga jatuh berserakan di atas lantai.
"Iya tuan. Tuan Darwin dan Nyonya Inayah sendiri yang membawa nona Agya ke Indonesia."
"Ka-kau melihatnya? Bagaimana kondisi istriku dan bayinya?"
"Nona Agya terlihat sehat tapi saya tidak tahu kondisi bayi---."
"Kita ke Indonesia sekarang." ujar Dev. Tanpa pikir panjang, ia berlalu meninggalkan kamarnya dengan raut wajah yang berubah-ubah, kebahagiaan, amarah dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu, hingga membuatnya bingung untuk menyikapi hal ini.
Setelah 5 bulan, akhirnya ia akan bertemu dengan istrinya? Demi tuhan, ia akan menjaga wanita itu dan tak akan pernah melepaskannya lagi. Ia tak akan mengecewakannya apalagi menyakitinya. Sungguh, tak ada satupun kata yang bisa menjelaskan kerinduannya pada istrinya, ia amat sangat merindukan wanitanya itu.
"Selama 5 bulan nona Agya tinggal di Berlin, dan baru pindah ke Canada ditanggal 11 Juni kemarin. Dan pria yang menemani nona Agya selama ini adalah Sean."
"Sean? Siapa pria itu?" tanya Dev menghentikan penuturan sekertaris Kim dengan dahi yang berkerut dalam.
"Sean Luxor, kerabat bisnis tuan Darwin. Pria itu pernah hadir di pernikahan tuan dan nona Agya."
"Sean." Dahi Dev semakin berkerut dalam, ia memutar otaknya mencoba mengingat-ingat nama tersebut.
"Apa hubungan pria itu dengan Agya? Kenpa Agya bisa bersamanya?!"
"Mereka tak memiliki hubungan apapun sebelumnya, namun Sean pernah menyukai nona Agya sebelum tuan menikah dengan nona."
"Shhitt." tangan Dev terkepal begitu juga dengan rahangnya yang mengeras. Ia sudah mengingat pria itu bahkan wajahnya.
"Sampai kapan jet ini mengudara?" dengusnya melempar pandangannya ke luar jendela, menatap gelapnya malam yang membungkus langit.
"Apa saja yang telah dilakukan Agya dengan pria keparat itu selama 5 bulan ini? Mereka pasti sering berdua bukan, apa mereka sudah saling mencintai? Apa Agya sudah membalas cinta pria itu dan melupakanku?"
Kini pikiran-pikiran negatif memenuhi kepala Dev, ia tak akan tinggal diam dan membiarkan Agya jatuh cinta pada pria itu. Agya hanya akan jatuh cinta padanya saja! Pada Mr. Dev, pria tampan yang dijuluki sebagai word wide handsome.
"Tuan akan bertemu nona Agya. Apa tuan tidak mengganti pakaian dulu dan mencukur kumis tuan?" tanya sekertaris Kim. Sontak Dev langsung menatap sekertarisnya itu dengan tatapan tajam.
"Apa kumis ini merusak ketampananku?!"
Sekertaris Kim tidak menjawab, ia memilih diam dari pada diserang dengan kalimat-kalimat mematikan dari Dev.
"Cepat sjapkan pakaianku dan alat cukur. Aku tak mau terlihat jelek di mata istriku." pintanya. Yaa, ia akan kembali terlihat tampan dengan begitu Agya tak akan berpaling pada Sean Luxor.
"Baik tuan." Sekertaris Kim mengangguk, untung saja ia sudah menyiapkan pakaian dan alat cukur sebelum melakukan penerbangan tadi.
***
Hampir 8 jam mengudara, akhirnya Dev tiba di Indonesia, pria itu sudah kembali tampan dengan setelan jas berwarna hitam dan model rambut yang tertata rapi, pun tubuhnya yang sudah berganti aroma, bukan wine lagi melainkan aroma mint. Aroma kesukaan Agya.
Tunggu sebentar, apa Agya akan menyambutnya dengan senyum dan sebuah pelukan? Atau wanita itu malah memlilih untuk tidak menemuinya karena masih sangat marah dan kecewa?
"Sudah tuan. Jauh lebih tampan dari sebelumnya."
"Apa maksudmu?! Kau pikir karena rambutku yang berantakan dan berkumis, aku tak tampan?"
Rasanya sekertaris Kim ingin menghilang dari sana, merasa lelah meladeni Dev yang sedari tadi menayakan ketampanannya. Namun dibalik itu, ia merasa bahagia, Dev kembali menjadi seorang Mr. Dev yang cerewet, pemarah dan memerhatikan ketampananya.
"Tuan tetap tampan dalam keadaan apapun." ucap sekertaris Kim, ia memutar kemudinya berbelok ke arah menteng.
Sementara Dev, ia tak membalas ucapan sekertaris Kim lagi, pria itu memilih untuk melempar pandangannya ke luar jendela, jantungnya tiba-tiba berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat saat menyadari dirinya yang sudah hampir tiba di rumah Tuan Darwin.
"Tuan." sekertaris Kim menghentikan laju mobilnya, menatap ke arah anak buah tuan Darwin yang berjaga di pintu gerbang.
"Masuk saja. Mereka tak akan mencegah kita." ucap Dev, ikut menatap anak buah papa mertuanya yang tidak sedikit jumlahnya itu.
"Berhenti!" tiba-tiba salah seorang anak buah tuan Darwin mencegat mobil yang dikemudi sekertaris Kim, meminta sekertaris Kim untuk menurunkan kacanya.
"Mr. Dev---. Apa yang kau lakukan disini?" pria itu mengulaskan senyuman sinis pada Dev.
"Aku mau menemui istriku." Dev beranjak keluar dari dalam mobilnya, tak terima dengan senyum sinis yang masih mengulas di wajah anak buah tuan Darwin.
"Istri? Siapa yang kau maksud tuan? Tak ada istrimu di sini."
"Aku tak ingin meladenimu, segera bukakan pintunya sekarang!" cetus Dev, emosinya mulai terpancing.
"Bagaimana jika saya tidak membukakannya tuan? Apa tuan akan marah dan menghajar----."
Bug
Belum sempat melanjutkan ucapannya, anak buah tuan Darwin itu langsung menerima bogem besar dari Dev.
"Jangan memancing amarahku!! Cepat buka pintunya atau aku akan membunuhmu!!"
"Hei, hei. Be slowly bro." seseorang ikut menghampiri Dev saat melihat rekannya yang sudah babak belur.
"Apa tujuan anda ke sini? Jika anda ingin bertemu nona Agya, maka anda berada di tempat yang salah. Nona Agya tak berada disini."
"Kau pikir kami bodoh tuan bodyguard." Imbuh sekertaris Kim, ia ikut keluar dari dalam mobilnya.
"Kami tahu jika nona Agya berada di dalam. Jadi, silahkan buka pintunya dan biarkan kami masuk ke dalam dengan cara baik-baik."
"Apa hak anda menyuruh kami? Kami tak akan membukakan pintu untuk kalian. Pergilah sebelum kami menghabisi kalian berdua."
"Kau mengancamku!!" Dev yang sudah diselimuti amarah, tak segan melangkah ke arah pria bermulut besar itu.
"Aku suami dari Agya Wardana, tak sepantasnya kau memperlakukan suami nona mudamu seperti ini!!"
Bug, tiba-tiba pria bermulut besar itu menghantam wajah Dev dengan kepalan tangannya, hingga membuat Dev jatuh tersungkur ke atas tanah.
"Shittt." umpat Dev mengusap cairan merah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Berani-beraninya kau!!" Dev beranjak berdiri dan kembali menyerang pria itu, hingga perkelahian besarpun tak dapat dihindari.
"Agyaaaaa." teriak Dev, wajahnya memerah dan dipenuhi darah, ia akan menghabisi semuan anak buah tuan Darwin jika wanita itu tak segera keluar.
.
.
.
.
Bersambung....