
"Siapa pria itu? Apa kau mengenalnya? Kenapa dia tiba-tiba memukulku?" sungut Jio mengusap sudut bibirnya yang terlula seraya menatap bengis punggung belakang sekertaris Kim yang melangkah menjauh.
"Aku tidak tahu, ayo duduklah sebentar, aku mau membersihkan luka di bibirmu." ucap Della mengusap luka yang berada di sudut bibir Jio yang masih mengeluarkan darah.
"Tidak usah. Kita pulang sekarang." cetusnya menepis kasar tangan Della.
"Tapi kak, kita belum membeli cin---."
"Di tempat lain saja, aku tidak ingin bertemu dengan pria bejad tadi lagi. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja, tunggu saja pembalasanku." ucap Jio dengan amarah yang membarah.
"Jangan." Della menggeleng kepalanya, "Tidak usah di balas kak, mungkin dia tidak sengaja memyerangmu."
"Tidak sengaja kau bilang? Dia sudah memukulku hingga terluka seperti ini dan aku hanya akan diam saja?!" cetusnya tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan orang asing tadi padanya. "Oh, atau jangan-jangan kau mengenal pria itu hingga kau membelanya mati-matian seperti ini."
"Tidak, aku tidak mengenal pria itu."
"Tapi kau menyebut namanya!!" sentak Jio mencengkram kuat lengan Della, "Katakan padaku siapa pria itu?!!"
"Sakit." ringis Della memegang lengannya yang masih dicengkram kuat oleh Jio.
"Dia, sekertaris Mr. Dev. Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu namanya saja." ucapnya menundukan kepalanya seraya memejamkan matanya saat cengkraman Jio semakin menyakitinya.
"Sekertaris Mr. Dev." Jio mengulangi ucapan Della, raut wajahnya yang semula terlihat dipenuhi amarah kini berubah menjadi panik.
"Kita pergi sekarang." ujarnya menarik kasar tangan Della lalu membawanya pergi ke parkiran mall.
**
"Sayang, itu sekertaris Kim." ucap Agya menunjuk ke arah sekertaris Kim yang melangkah menghampiri mereka seraya memegang 3 paperbag di tangannya.
"Kemana saja dia? Kenapa dia baru ke sini." cetus Dev kesal.
"Sayang, tenanglah. Kau sudah berjanji padaku tadi untuk tidak marah-marah."
"Aku tidak bisa tenang karena marah-marah sudah menjadi keahlianku."
"Iyaa marah-marah memang sudah mendarah daging bagimu, tapi bisakah sehari saja kau tidak marah?"
"Tidak bisa."
"Hisss ya sudah maralah. Maralah sampai planet mars berwarna ungu!" celoteh Agya mengerucutkan bibirnya. Namun Dev tidak menghiraukan istrinya itu, kini tatapan pria itu mengunus tajam ke arah sekertaris Kim yang baru saja meminta maaf karena keterlambatannya.
"Kenapa kau lama sekali?!!"
"Maaf tuan, saya pikir tuan ke toko daster. Jadi saya menunggu tuan di sana, tapi ternyata tuan dan nyonya Agya berada di sini." jawab sekertaris Kim menundukan kepalanya.
"Hah, katakan pada sales lingerie itu untuk membungkuskan semua model lingerie yang berwarna merah. Aku akan menunggumu di toko perhiasan."
Mendengar Dev menyebut toko perhiasan membuat sekertaris Kim mengangkat kepalanya bersamaan dengan wajahnya yang berubah panik, "Apa yang tuan lakukan di sana?" tanyanya, ia tidak ingin Dev bertemu dengan Jio. Akan terjadi badai besar jika tuan mudanya itu bertemu dengan pria brengsek seperti Jio.
"Apa yang terjadi denganmu sekertaris Kim? Kenapa kau jadi bodoh sekarang? Memangnya apa yang akan aku lakukan di toko perhiasan itu kalau bukan untuk membeli perhiasan."
"Ehm, ma-maaf tuan." Sekertaris Kim kembali menundukan kepalanya seraya mengutuki kebodohannya.
"Sudahlah, segera masuk ke dalam toko lingerie itu. Oh iyaa berhati-hatilah, aku takut kau tidak menemukan jalan keluar dari toko itu." ucap Dev tersenyum tipis.
"Iyaa sekertaris Kim, berhati-hatilah." Agya ikut memperingati sekertaris Kim hingga membuat pria itu kebingungan.
"Memangnya ada apa dengan toko lingerie itu?" batin sekertaris Kim, melirik singkat ke arah butik lingerie yang berada di sampingnya.
"Ingatlah untuk membungkus semua model lingerie berwarna merah. Awas jika kau lupa!" Dev kembali berucap setelah terjadi keheningan beberapa saat.
"Baik tuan."
"Cepatlah dan temui kami di toko perhiasan." ujar Dev melingkarkan tangannya di pinggang Agya dan membawanya pergi dari sana, meninggalkan sekertaris Kim yang dipenuhi dipenuhi rasa was-was.
"Semoga tuan Dev tidak bertemu dengan Jio." gumamnya melangkah masuk ke dalam butik tersebut.
"Oh jadi ini maksud ucapan nona Agya dan tuan Dev?" batin sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya pelan saat melihat tubuh seksi seles itu.
"Ehm, tolong bungkuskan semua model lingerie berwarna merah." pintanya menampakan raut wajah dinginnya.
"Semua?" tanya seles itu terlonjat kaget.
"Iyaa nona, apa kau bisa membungkusnya sekarang? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu."
"Baik tuan, akan saya siapkan sekarang." ucap seles itu, niatnya yang semula ingin menggoda sekertaris Kim langsung menciut setelah melihat raut wajah dingin nan menakutkan pria itu.
***
Setelah berbelanja cukup banyak dan juga membelikan kalung untuk Agya, Dev langsung mengajak istrinya itu ke restoran untuk makan siang, namun sekali lagi kesabaran Dev diuji tatkala Agya merengek untuk bermain sebentar di taman hiburan.
"Kau tidak lapar?" Agya menggeleng cepat, "Tidak, aku belum lapar. Ayolah sayang aku mau ke taman hiburan itu." tunjuknya ke arah taman hiburan yang berada tepat di depan restoran yang akan menjadi tempat makan siang mereka.
"Pleasee.." Agya memelaskan wajahnya sangat berharap Dev mengizinkannya.
"Hah baiklah. Tapi--." Dev menoleh ke araj jam yang melingkar di tangannya, "Hanya 30 menit saja."
"Yaahhh, bukankah itu terlalu cepat?"
"15 menit." ucap Dev.
"Eh, kenapa malah semakin sedikit."
"Masih mau berkomentar?"
"Tidak-tidak. Baiklah 30 menit." dengan segera Agya membuka seatbeltnya lalu keluar dari mobil sedan yang dikemudi oleh Dev dengan begitu girangnya.
"Sepertinya aku telah menikahi anak di bawah umur." gumam Dev menggeleng-geleng kepalanya, ikut keluar dari dalam mobilnya. Ada baiknya juga mereka ia ke taman hiburan dulu sembari menunggu sekertaris Kim yang masih terjebak di toko lingerie.
"Dev." teriak Agya melambai-lambaikan tangannya saat melihat Dev yang tengah kelimpungan mencarinya.
"Aku di sini." teriaknya lagi, sontak Dev langsung menggeleng-geleng kepalanya melihat istrinya yang sedang sibuk bermain komedi putar.
"Astaga anak kecil itu." sungut Dev melangkah menghampiri area komedi putar itu.
"Dev, ini sangat seru. Kau tidak ingin mencobanya?"
"Tidak."
"Hah, dasar pria kaku."
"Apa yang kau katakan barusan?"
"Tidak ada. Ayo Dev, kau harus mencobanya. Ini sangat asik sekali." Agya merentangkan kedua tangannya, menikmati komedi putar yang tengah berputar-putar
"Jangan melepas tanganmu jika kau tidak ingin terjatuh." seloroh Dev.
"Ah iya ya. Untung aku tidak terjatuh." gumamnya, memegang erat pengangan komedi putar itu.
Dev kembali menggeleng-geleng kepalanya seraya melipat kedua tangannya di atas dadanya. Kedua sudut bibir pria itu tampak melengkung membentuk senyuman, memerhatikan tingkah kekanak-kanakkan Agya yang begitu menggemaskan.
"Sayang, kau benar-benar tidak ingin mencobanya?" Agya kembali menawarkan permainan itu kepala Dev namun suaminya itu tetap saja menolak.
"Tidak, kau saja. Bermainlah sampai kau merasa puas." ucapnya sedikit mengeraskan suaranya saat komedi putar itu membawa Agya di seberangnya.
Dev merogoh saku celananya, meraih ponselnya lalu memotret istrinya itu secara diam-diam hingga galeri pria itu dipenuhi foto Agya, tak lupa salah satu hasil potretnya itu ia jadikan wallpaper ponselnya.
"Cantik." gumamnya mengusap wajah Agya yang memenuhi layar ponselnya, senyum yang tersemat di bibir istrinya itu semakin menambah rasa cinta Dev.
"Aku akan selalu melindungi dan mencintaimu sampai kapanpun."