Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Pria egois



Dev membanting pintu kamar hotel yang ditempatinya dengan sangat kasar hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras, pria itu tengah dilingkupi amarah yang meledak-ledak. Tak terhitung berapa kali ia memaki sekertaris Kim atas kerjanya yang tidak beres.


"Bagaimana perkembangan Agya sekarang? Kenapa bodyguard yang kau utus bisa lengah menjaganya?" cetus Dev menatap sekertaris Kim yang berdiri di dekat pintu.


"Maafkan saya tuan. Sepertinya nona Agya sudah merencanakan ini sebelumnya."


"Apa maksudmu?!"


"Iyaa tuan, beberapa jam yang lalu bodyguard yang menjaga nona Agya masih memantau nona Agya sampai ke rumah nona Della, namun setelah menunggu di sana berjam-jam ternyata yang pulang bersama nona Della bukanlah nona Agya, tuan. Melainkan adik nona Della sendiri yang sengaja memakai pakaian nona Agya. Kemungkinan mereka sudah merecanakan ini untuk mengelabui bodyguard tuan."


"Apaa?!" Dev berdecak, menggertakan giginya hingga terlihat sangat jelas rahang pria itu mengeras. Kenapa Agya bisa merencanakan semua ini? Kenapa Agya sangat berniat kabur darinya? Apa karena kejadian semalam?


"Ahhh shittt." umpat Dev mengusap kasar wajahnya, rasanya ia ingin kembali ke Korea saat ini juga untuk mencari sendiri keberadaan Agya.


"Coba telpon Agya kembali." Sekertaris Kim mengangguk, merogoh ponselnya dari saku jasnya lalu kembali menghubungi Agya walaupun ia tahu ponsel nona mudanya itu sedang berada di luar jangkauan."


"Masih tidak aktif tuan."


"Huh, keluarlah." pinta Dev, melangkahkan kakinya ke arah jendela, mengarahkan pandangannya keluar, menyaksikan setiap butiran hujan yang jatuh dengan sangat derasnya.


Pun sekertaris Kim yang membungkukan badannya singkat, sebelum kemudian ia membawa tubuhnya keluar dari kamar hotel tuan mudanya tersebut, menutup pintu kamar hotel itu dengan sangat rapat.


"Kemana dia?" Dev bergumam, melipat kedua tangannya di atas dadanya, menggigit-gigit ibu jarinya. Kenapa ia secemas dan sekhawatir ini?


"Agghtttt." Tiba-tiba Dev berteriak sekencang-kencangnya, hingga teriakannya menggema di kamar hotel tersebut.


***


Pukul 5 pagi, Dev langsung melakukan penerbangan ke Korea, padahal pagi itu kota Tokyo masih diselimuti oleh hujan lebat. Sungguh Dev tidak memperdulikan keselamatannya kali ini, yang ada dipikirannya hanyalah Agya. Ya, wanita itu telah berhasil membuat pikirannya seberantakan ini, berhasil membuatnya tidak tidur semalaman.


"Apa suruhanmu telah berhasil melacak keberadaan Agya?" Dev menoleh ke arah sekertaris Kim yang berdiri di sampingnya.


"Belum tuan." jawab sekertaris Kim sedikit berhati-hati, takut membuat Dev semakin marah.


"Huh." Hembusan napas kasar keluar dari mulut Dev, pria itu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi seraya memijat-mijat kepalanya yang terasa pening. Mengedarkan pandangannya keluar jendela, langit masih terlihat begitu gelap, pun beberapa kali petir menyambar-nyambar awan hitam. Sungguh sangat menakutnya dilihat, namun hal itu tak membuat Dev ketakutan sedikitpun, karena ketakutan terbesarnya adalah kehilangan Agya, tepatnya kehilangan wanita yang telah ia jadikan kacung.


Setelah mengudara kurang lebih dua jam, akhirnya jet pribadi Dev landing juga di Seoul Incheon International airport.


"Katakan pada pihak bandara untuk tidak membiarkan Agya melakukan penerbangan ke luar negri."


"Baik tuan." Sekertaris Kim mengangguk, sebelum kemudian ia melangkah menjauh dari tuan mudanya tersebut untuk menjawab panggilan telpon dari pengawalnya.


"Bagaimana? Apa Darrel ikut terlibat dan membantu nona Agya kabur?" Sekertaris Kim menekan earphonenya, berbicara sekecil mungkin agar Dev tidak mendengarnya.


"Iyaa tuan Kim, Darrel yang menjadi dalang kaburnya nona Agya."


"Ah shittt. Pria brengsek itu." umpat sekertaris Kim, tangganya menggepal kuat, menahan amarah yang hampir meluap. Sudah menduga jika Darrel ikut terlibat dalam masalah ini. Karena sebelum Agya melarikan diri, wanita itu sempat bertemu dengan Darrel di sebuah restoran, entah apa yang mereka bahas kala itu.


"Segera ke apartemen atau rumah Darrel, cari nona Agya di sana."


"Baik tuan." jawab pengawal tersebut mengakhiri panggilan teleponnya.


"Sekertaris Kim. Bawa aku ke apartemen Agya sekarang." ujar Dev membawa masuk tubuhnya ke dalam mobil sedan miliknya, tak lupa ia memakai kaca mata hitamnya kembali. Menutupi matanya yang memerah karena menahan kantuk.


"Baik tuan." Sekertaris Kim ikut membawa masuk tubuhnya ke dalam mobil, namun sebelum itu ia menyuruh beberapa pengawalnya untuk menjaga ketat bandara, agar Agya tidak menemukan celah untuk kabur melalui bandara tersebut.


"Apa perlakuanku padanya selama ini sangat keterlaluan? Hingga dia begitu niat melarikan diri dariku." Dev bergumam dalam hati, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sesak dari dalam dadanya. Entah kenapa ia juga tidak tahu.


"Cepatlah sekertaris Kim. Bisa saja Agya sedang bersembunyi di apartemennya."


"Baik tuan." Sekertaris Kim menambah laju mobil yang ia kemudi, mengikuti semua keinginan Dev termaksud membawa pria itu ke apartemen Agya meskipun ia tahu Agya pasti tidak berada di sana.


"Tuan Kim, Darrel tidak berada di apartemen maupun rumahnya." Laporan yang baru saja diterima sekertaris Kim membuat pria itu mendengus.


"Tetap lakukan pencarian di sekitaran kota Seoul, tetap lakukan pemantauan di rumah nona Della. Laporkan padaku jika ada gerak gerik mencurigakan dari mereka. Setelah ke apartemen nona Agya, aku dan tuan Dev akan langsung ke rumah nona Della."


"Baik tuan."


Sekertaris Kim, melirik singkat ke arah kaca spion yang menampakan wajah tuan mudanya. Menatap wajah Dev dengan tatapan iba.


"Nona Agya, semoga nona tidak membuat kesalahan besar lagi kali ini. Jangan membangkitkan luka lama tuan Dev, nona."


***


"Agyaa. Buka pintunya, aku tahu kau pasti sedang bersembunyi di dalam. Jangan coba-coba menghindariku atau kau---." ucapan Dev terhenti, begitu juga dengan gedoran tangannya pada pintu, tatkala pintu apartemen tersebut dibuka oleh seorang wanita yang tak lain adalah Della.


"Apa? Kau akan mengancam Agya dengan kata apalagi tuan Dev?!" seru Della menghunuskan tatapan tajamnya pada pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Nona Della." Sekertaris Kim terhenyak, lagi ia merasa kecolongan. Sama sekali tidak menyangkah Della akan berada di apartemen Agya.


"Kenapa anda diam saja tuan Dev? Anda mencari Agya bukan? Untuk apa? Untuk menagih hutang anda padanya?" cercahan yang keluar dari mulut Della membuat Dev terdiam sesaat.


"Di mana Agya?!"


"Untuk apa tuan mencari Agya? Anda ingin menangih hutang bukan? Ambillah." Della menyodorkan sebuah koper kecil berisi uang tepat di hadapan Dev dengan sedikit kasar, hingga beberapa lembar uang tersebut berceceran di lantai.


"Aku tidak membutuhkan semua ini!" seru Dev, menghunuskan tatapan mata yang tak kala tajam.


"Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Agya sudah menitipkan uang ini padaku untuk melunasi semua hutangnya padamu. Ah, aku lupa, seharusnya Agya tidak perlu membayar fu*king royalti itu." cetus Della, benar-benar merasa kesal terhadap dua pria yang ada di hadapannya saat ini. Dua pria yang telah membuat Agya menderita.


"Nona Della, jaga ucapan anda!" Sekertaris Kim ikut mengangkat bicara, sangat membenci wanita barbar itu.


"Kalian yang seharusnya menjaga ucapan kalian! Apa kalian tidak merasa bersalah sedikit saja? Kalian telah merusak karir dan hidup seorang gadis yang sama sekali tidak bersalah!!" Amarah Della semakin tak terkendali.


"Dan untuk anda tuan Deva Andriano Wilantara. Apa anda masih merasa belum puas telah merusak hidup Agya?! Apa anda masih ingin menjadikan Agya sebagai kacung anda? Memaksanya menikah denganmu dan merenggut kehormatannya tanpa malu dan tahu diri!!"


Jlep,


Dev langsung terdiam seribu bahasa, sangat terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Della dengan lantangnya barusan, begitu juga dengan sekertaris Kim. Pria itu menoleh ke arah tuan mudanya singkat lalu kembali menatap wajah Della yang diselimuti amarah yang meledak-ledak.


"Jadi tuan Dev telah melakulan hubungan sejauh itu? Ah, apa hal itu terjadi kemarin malam?" batin sekertaris Kim.


"Di mana Agya?!" Dev kembali berbicara setelah cukup lama terdiam, tidak ada yang ia inginkan sekarang selain mengetahui keberadaan Agya.


Della menarik sudut bibirnya membentuk senyuman sinis. "Kau benar-benar pria egois tuan Dev. Kau dan sekertarismu ini sama-sama pria brengsek yang tidak tahu diri." seru Della.


"Katakan di mana Agya!" Dev meninggikan suaranya, emosinya ikut tak terkendali.


"Nona Della, katakan di mana nona Agya." ucap sekertaris Kim.


"Aku tidak tahu. Sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahu kalian!!"


.


.


.


.


Bersambung...


🙂