Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Kesepakatan



Pagi menyambut, terlihat Agya yang masih berjibaku di atas ranjang dengan selimut putih yang menutupi tubuh polosnya. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat begitu banyak bekas-bekas keganasan Dev semalam. Oh betapa buasnya pria itu, ia bahkan melakukannya bukan hanya sekali.


"Sekali saja tak cukup bagiku." kata-kata Dev semalam yang membuat Agya langsung diam seribu bahasa, ia memasrahkan tubuhnya di cabik-cabik oleh Dev semaunya.


"Dia masih belum bangun juga?" Dev yang baru saja kembali dari dapur segera menghampiri istrinya dan ikut bergabung di atas ranjang. Pria itu terlihat segar dan bugar seolah tak melakukan kegiatan berat apapun.


Seulas senyuman penuh kemenangan tampak terbit di bibir Dev, mengingat perdebatan mereka semalam yang berakhir di ranjang.


Cup


"Sayang." Dev menggerakan tangannya, mengusap lembut wajah dan juga bibir ranum Agya hingga membuat wanita itu melenguh dalam tidurnya.


"Dev." samar-samar terdengar suara berat Agya, ia mengerutkan wajahnya saat merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di intinya.


"Ada apa sayang?" tanya Dev panik.


"Sakit." Agya bergumam, ia begitu enggan membuka matanya, apalagi menggerakan tubuhnya. Semuanya terasa sakit kini, pun kepalanya yang terasa berat karena ia hanya tidur selama dua jam.


"Sakit? Di mana? Di sini?" tanpa basa basi Dev menyentuh inti Agya hingga membuat wanita itu menjerit dan memukul tangan nakal suaminya.


"Dev, jangan menyentuhnya!" celetuk Agya menghunuskan tatapan tajam. "Kau menyakitiku."


"Maaf. Aku tak sengaja." Dev menarik kembali tangannya, "Apa sakit sekali?" tanyanya kemudian yang hanya dijawab anggukan singkat oleh Agya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." dengan wajah yang masih diselimuti kepanikan, Dev segera meraih tubuh Agya ke dalam gendongannya.


"Tidak-tidak, jangan konyol!"


"Konyol? Kau sakit, bukankah seharusnya kau dibawa ke rumah sakit?"


"Dengan kondisi tubuh seperti ini?" celetuk Agya menatap tubuhnya yang tak tertutupi sehelai benangpun, pasalnya selimut yang dipakainya tadi sudah terjerambah di atas lantai.


"Astaga, aku benar-banar sudah gila. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan pakaianmu."


"Tidak perlu. Aku tidak ingin ke rumah sakit."


"Kenapa? Kau sakit Agyaaa." teriak Dev frustasi, ia merasa bersalah kini apalagi setelah melihat inti Agya yang bengkak dan lebam.


"Iyaa, aku tahu. Tapi apa yang akan kau katakan di rumah sakit nanti? Dok, tolong istriku, dia kesakitakan karena aku mencumbunya berkali-kali dengan kasar? Haha." Agya terbahak, ia tak sanggup melihat wajah frustasi Dev. Wajah pria itu benar-benar sangat lucu saat panik seperti ini.


Namun tidak dengan Dev yang langsung menampakan raut wajah dinginnya. "I don't like jokes."


"Ehm, ya-yaa. Aku tahu kau tidak suka bercanda. Tapi Dev, kita tak perlu ke rumah sakit, aku baik-baik saja sungguh." ujar Agya meyakinkan kembali suaminya seraya mengusap lembut wajah dingin pria itu.


"Kau sakit, kau kesakitan karena ulahku. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?"


"Dev." Agya kembali mengusap wajah Dev, wajah yang dipenuhi rasa bersalah. "Aku baik-baik saja, rasa sakitnya pasti akan hilang, mungkin setelah di kompres dengan air hangat."


"Di kompres? Apa itu akan menyembuhkanmu?"


"Iyaa, mungkin saja."


"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan air hangatnya sekarang." ujar Dev, menurunkan Agya dari gendongannya lalu merebahkan kembali istrinya itu dengan hati-hati di atas ranjang.


*


Beberapa saat kemudian, Dev kembali seraya membawa wadah air hangat di tangannya. Pria itu langsung mengopres tubuh Agya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Sementara Agya hanya bisa pasrah, awalnya ia menolak, ia ingin mengompres tubuhnya sendiri namun Dev terus bersih keras untuk membantunya. Tidak hanya itu, pria itu juga membantu Agya untuk membersihkan dirinya, mengeringkan rambutnya bahkan membantu memakaikannya baju. Ini benar-benar gila, Dev menjelma menjadi malaikat baik setelah semalam pria itu menjadi harimau gila.


"Aku mencintaimu." Dev menarik Agya ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali, "Maafkaan aku, aku berjanji tak akan melakukannya lagi."


"Eum Dev, apa kita harus membuat kesepakatan?"


"Kesepakatan?" Dev melepaskan pelukannya dengan dahi yang berkerut dalam. "Untuk apa?"


"Untuk kita, untuk kebaikanmu dan terutama kebaikanku."


"Jangan bilang kau--."


"Yaa, aku ingin kita membuat kesepakatan tentang itu. 4 kali sebulan?"


"Kau gila, kau ingin melihatku menderita?"


"Lalu berapa? Aku tidak ingin kau melakukannya setiap hari. Ah bukan, tapi setiap saat kau selalu menginginkanku."


"Bukankah itu normal?"


"What? Kau pria hyperse*"


"6 kali seminggu."


"Dev, itu sama saja kau melakukannya tiap hari." cetus Agya melangkah keluar dari walk-in closet, mengekori Dev yang sudah keluar terlebih dulu.


"5 kali seminggu?" tawar Dev lagi. Pria itu berdiri di depan meja rias, merapikan jas yang membalut tubuh kekarnya.


"4 kali seminggu."


"Oke, bukan ide yang buruk." ucapnya tersenyum puas seraya menggeleng-geleng kepalanya. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak dengan obrolan mereka kali ini, namun tak ia lakukan karena melihat wajah kesal Agya.


"Sudah jangan menekuk wajahmu seperti ini. Aku akan melakukannya hanya saat kau mengizinkanku saja." ujar Dev membelai wajah Agya yang sedikit terlihat pucat.


"Janji?"


"Hm."


"Menjawablah dengan benar." celetuk Agya, ia sama sekali tak percaya dengan ucapan pria yang ada di hadapannya ini.


"Iyaa sayang, aku janji. Maafkan aku." ucapnya menatap lekat kedua manik mata brown milik Agya. Sungguh ia tak akan mengulangi perbuatan liarnya semalam, ia tak ingin membuat Agya kesakitan seperti ini lagi.


"Astaga aku lupa. Hari ini aku akan melakukan penelitian di Wilantara Group. seharusnya aku sudah ke sana sekarang." Agya menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa gara-gara membahas obrolan tak berbobot tadi.


"Tidak, kau masih sakit, kau tidak boleh kemana-mana. Duduk diam di rumah dan beristirahlah yang banyak."


"Tapi Dev, bagaimana jika proposalku di kembalikan. Aku tidak ingin proposalku di tolak lagi untuk kesekian kalinya."


"Sepertinya kau melupakan satu hal sayang. Aku Deva Wilantara, CEO Wilantara Group. Bagaimana bisa aku mengembalikan proposal milik istriku hm?"


"Tapi tetap saja Dev, aku harus profesional dan kau juga harus begitu. Aku tak ingin kau mencampuri urusanku."


"Kau istriku. Urusanmu adalah urusanku juga."


"Aku akan tetap ke Wilantara Group hari ini." ujar Agya, ia kembali masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Kita akan pergi bersama."


"Terserah."


**


"Kau hanya akan ke Wilantara Group bukan ke acara fashion show, berdandanlah sewajarnya."


"Tuhaaan lihatlah betapa cerewetnya suamiku. Bisakah kau kirim dia ke Mars sebentar saja?!" gerutu Agya, menatap pantulan wajah Dev di cermin. "Aku hanya memakai make up tipis, lagian aku selalu memakai make up seperti ini setiap kali ke kampus."


"Ah aku lupa, setipis apapun aku memakai make up. Aku akan selalu terlihat cantik, bukan kah begitu tuan Deva Wilantara?" Agya beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke arah Dev yang berdiri di dekat ranjang.


"Percaya diri sekali." cetus Dev meraih dasinya lalu melingkarkannya di lehernya.


"Jadi aku tak cantik? Baiklah, akan kutanyakan pada sekertaris Kim saja."


"Hei, jangan macam-macam. Jika kau melakukan itu, bisa kupastikan sekertaris Kim tak akan ke sini lagi."


"Kau memecatnya?"


"Ya, kenapa tidak."


"Astaga, pecemburu sekali kau ini." Agya mengambil alih dasi Dev lalu memasangnya di leher suaminya itu.


"Sudah selesai, bisakah kita berangkat sekarang?"


"Kita sarapan dulu." Dev kembali memerhatikan wajahnya di cermin. Memastikan dirinya sudah benar-benar tampan.


"Sarapan? Aku belum membuat makanan apapun untuk kita sarapan."


"Aku sudah membuatnya."


"Kau?"


"Yaa." ucap Dev melingkarkan tangannya di pinggang Agya lalu membawa wanita itu ke dapur.


"Dev, kau yang memasak semua ini." Agya menoleh ke arah Dev, menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. Sebelum kemudian ia menatap kembali makanan yang sudah tersaji di meja makan.



"Ya, hanya spaghetti."


"Aku masih tak percaya. Kau bisa memasak? Ah atau kau memesannya di restoran milikmu?"


"Kau meragukan kemampuanku? Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Deva Wilantara hm? Semuanya menjadi keahlianku, termaksud menyenangkanmu di atas ranjang, apalagi hanya membuat spaghetti."


"Dev!"


"Haha, duduklah sayang. Aku sudah sangat lapar." ujar Dev menarikan kursi untuk istrinya tersebut.


"Aku tak yakin dengan rasanya."


"Kau belum mencobanya, jangan asal memberi penilaian." celetuk Dev kesal.


"Hahah, Lets try." Agya mengambil sendok yang berada di samping piring spaghetti itu, hendak mencoba masakan suaminya namun niatnya terurungkan tatkala ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


"Jangan memainkan ponsel saat makan."


"Tunggu sebentar."


Gyaa, kau di mana? Tolong aku, aku takut


Tolong selamatkan aku Gyaa, aku sangat ketakutan.


"Dev, Della." usai membaca pesan dari Della, Agya langsung menunjukan pesan singkat itu pada Dev. Tangannya bergetar, pun kecemasan yang menyelimuti tubuhnya kini.


Dengan segera Dev meraih ponsel Agya, menghubungi sahabat istrinya itu untuk memastikan keadaannya. Tak lama kemudian, ponsel mereka terhubung.


"Hallo Agya. Ada apa? Kenapa kau menelponku?"


"Della, apa kau baik-baik saja? Kau baru saja mengirimkanku pesan singkat berisi---."


"Oh astaga Gyaa. Ma-maaf, tadi adikku yang memegang ponselku. Dia pasti sedang mengerjaimu."


"Benarkah?" Agya tampak tak percaya, apalagi setelah mendengar suara serak Della.


"I-iyaa, aku baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskanku. Sudah dulu ya, aku masih ada urusan."


"Ehm, baiklah."


"Lanjutkan makanmu." ujar Dev meletakan ponsel Agya di atas meja.


"Dev, suara Della terdengar serak, dia seperti ketakutan. Aku tidak yakin dia baik-baik saja."


"Kau tidak dengar apa yang dia katakan? Dia baik-baik saja. Sudahlah jangan overthinking."


"Tapi Dev--."


"Gyaa."


"Ehm, i-iyaa. Aku akan makan sekarang." ucap Agya, buru-buru ia mengambil garpu lalu menyantap makanannya kembali.


"Segera pastikan keadaan Della." tulis Dev dalam pesan singkat yang baru saja ia kirim pada sekertaris Kim.


.


.


.


.


Bersambung...