
Keesokan paginya, Agya terbangun saat ponsel Dev yang tergeletak di atas nakas tak berhenti berdering. Ia hendak mengambilnya namun suara cetus Dev mengurungkan niatnya.
"Tidak usah diangkat." pinta Dev masih dengan mata yang terpejam, menarik tubuh Agya yang sudah terlepas dari pelukannya, memeluknya kembali dengan begitu posesif.
"Sayang, bagaimana jika yang menelponmu orang-orang penting?"
"Tidak ada lagi yang penting bagiku selain dirimu." serunya, menenggelamkan wajahnya di dada Agya seraya mengendus aroma tubuh istrinya itu.
"Jangan mengangguku, aku masih ingin tidur."
"Ehm, baiklah. Tidurlah lagi." Agya ikut mengeratkan pelukannya lalu mengusap-usap kembali puncak kepala Dev dengan lembut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya dalam hati, merasa begitu aneh dengan sikap Dev kali ini. Sejak kepulangannya semalam, Dev menjadi orang yang begitu posesif terhadap Agya, ia tidak pernah melepaskan pelukannya sedikitpun, bahkan ia mengigau berkali-kali menyuruh Agya untuk tidak meninggalkannya.
"Apa dia sudah tidur?" Agya menjauhkan sedikit kepalanya agar bisa menjangkau wajah Dev dan benar saja pria itu kembali tertidur dengan begitu pulasnya.
Perlahan Agya melepas pelukannya, menarik tangannya yang sedikit ditindih oleh Dev dengan sangat hati-hati takut mengganggu ataupun membangunkan suaminya itu.
Cup..
Agya tersenyum malu, untuk pertama kalinya ia mengecup kening dan bibir Dev seperti ini.
"Pantas saja banyak wanita yang mengaguminya." gumamnya mengusap lembut wajah tampan Dev dengan tangan kirinya. Ya, Dev terlihat sangat tampan bagi Agya jika pria itu dalam keadaan tertidur seperti ini, berbeda lagi kalau dalam keadaan marah.
"Tapi Dev sudah menjadi milikku sekarang, dia suamiku. Hanya aku yang boleh menatap dan mengusap wajahnya. Hanya aku yang boleh memeluknya seperti ini." Agya kembali memeluk Dev, tiba-tiba ia begitu cemburu dengan wanita-wanita yang memuji-muji Dev di kantin kampus kala itu.
"Mereka terlihat sangat kegirang saat menatap wajah suamiku di Tv dan memujinya berkali-kali. Bahkan ada yang berharap untuk menjadikan Dev suami mereka. Ah tidak boleh, Dev hanya milikku, dia hanya mencintaiku kan?!" gumamnya mengecup wajah Dev berkali-kali hingga membuat Dev terbangun.
"Sayang, ada apa?" tanya Dev saat dirinya di sambut dengan wajah cemberut Agya.
"Katakan padaku jika kau hanya mencintaiku!!" serunya menyipitkan matanya, menatap wajah Dev dengan tatapan menelisik.
Seketika Dev langsung terbahak, mencubit lembut wajah Agya, merasa begitu gemas dengan wajah cemberut istrinya itu, "Hahah sayang ada apa denganmu? Tentu saja aku hanya mencintaimu. Memangnya siapa lagi? Nenek Gamri? hahah."
"Iishhh Dev, aku serius." celetuk Agya semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kau mulai nakal sekarang ya, kau berani menyebut namaku." Tak segan Dev menindih tubuh Agya, mengecup dan menyesa* kulit leher istrinya itu hingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Apa kau masih datang bulan?" Agya mengangguk, mengusap lembut wajah senduh Dev.
"Mungkin besok akan selesai."
"Benarkah?" tanya Dev memastikan seraya menerbitkan seringai tipis di bibirmya, "Aku akan menyimpan banyak tenagaku untuk besok. Akan kubuat kau tidak bisa berjalan selama satu minggu." bisiknya lembut tepat ditelinga Agya lalu menggigit telinga wanita itu.
"Ahh Dev." lenguh Agya tertahan.
"Ssttt, jangan menggodaku sayang." Dev tersenyum lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Agya, sebelum napsu birah*nya menyerang tubuhnya.
"Bangunlah, kita akan pergi berbelanja hari ini."
"Berbelanja? Untuk apa?" tanya Agya beranjak bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sayang, bukankah besok kau akan kembali ke kampus?"
"Lalu?"
"Ya, kau harus membeli pakaian. Kau mau ke kampus hanya memakai piyama?"
"Bicara sembarang!" gerutunya, "Tidak perlu beli, aku bisa mengambil pakaianku di apartemenku."
"Tidak, kau harus membeli yang baru. Kau sudah menjadi istriku sekarang jadi kau harus memakai pakaian yang sesuai dengan seleraku, tidak boleh ada rok mini apalagi baju dengan satu tali."
"Aku juga tidak pernah memakai rok mini!" celetuk Agya.
"Aku hanya bercanda sayang. Ayo kita mandi." ujarnya menggendong tubuh Agya lalu membawanya ke kamar mandi.
***
"Ahhh Deeev." Agya yang sedang berada di depan cermin setinggi dirinya tiba-tiba berteriak dengan sangat kerasnya saat melihat tubuh dan lehernya di penuhi kissmark, siapa lagi pelakunya kalau bukan Dev.
"Sayang, ada apa?" tanya Dev melangkah kakinya dengan langkah panjang menghampiri istrinya itu, lalu memeluknya dari belakang.
"Lihatlah, tubuhku jadi seperti ini karena ulahmu." sungut Agya menatap kesal pantulan wajah Dev di cermin.
"Biarkan saja. Itu buah karya dari Deva Wilantara, tanda kepemilikikanku yang harus kau banggakan dan tunjukan ke orang-orang." ucap Dev membenamkan satu kecupan lagi di pundak Agya.
"Tapi aku malu." Agya membalik tubuhnya, lalu menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya dengan kening yang berkerut dalam.
"Kenapa? Seharusnya kau bersyukur memiliki tanda itu dariku, dari seorang Deva Wilantara yang banyak dikagumi wanita, pria yang dijuluki sebagai world wide handsome." ucapnya penuh percaya diri, merentangkan kedua tangannya seraya memejamkan matanya.
"Hah percaya diri sekali." cebik Agya kembali menatap pantulan tubuhnya di cermin.
"Yaa tapi tidak sebanyak ini Dev." gerutunya.
"Hahah maaf, habisnya kau sangat menggodaku tadi."
"Hah menyebalkan. Pergilah, aku mau mengganti pakaianku."
"Ganti saja. Aku akan tetap berada di sini. Lagian aku sudah sering melihat tubuh polosmu." ucap Dev kembali mengulaskan senyuman di bibirnya. Lalu melangkah menuju sofa yang berada di ruang ganti itu dan mendudukan tubuhnya di sana.
***
"Sayang, kenapa kau memakai jas? Kita mau ke mall bukan ke kantor." celetuk Agya menghampiri Dev yang tengah sibuk membuat simpul dasinya.
"Aku hanya akan terlihat tampan ketika aku memakai jas."
"Iyaa aku tahu, kau memang sangat tampan. Tapi---." ucapan Agya terhenti tatkala Dev langsung memotongnya.
Mata pria itu tampak berbinar setelah Agya mengakui ketampanannya. Ya, Agya baru saja mengakuinya.
"Apa yang kau katakan tadi? Apa kau bisa mengulanginya sayang?" ujarnya menghampiri Agya yang hanya berjarak 1 meter darinya.
"Ehm, kau sangat tampan."
Cup
"Benar sekali! Kenapa kau baru menyadarinya hem? Aku menunggu pengakuian ini darimu." celetuknya mengecup kembali bibir Agya yang sudah terbalut lipstik berwarna merah.
"Ehm, ganti saja pakaianmu. Aku ingin ke mall bersama suamiku bukan dengan Deva Wilantara."
"Hei, memangnya siapa suamimu kalau bukan Deva Wilantara?"
"Maksudku, aku ingin melihatmu dalam versi berbeda, bukan dalam versi yang dikenal banyak orang. Aku mau kau memakai kaos dan juga celana jeans saja."
"Tapi aku tidak memiliki pakaian itu."
"Adaaa. Aku melihatnya tadi di dalam lemarimu." ucap Agya melanjutkan langkah kakinya menuju lemari
"Pakailah."
"Ini?" Dev menatap kaos polos berwarna hitam dan juga celama jeans berwarna senada yang baru berpindah tangan.
"Iyaaa, cobalah. Kau pasti akan terlihat semakin tampan."
"Baiklah aku akan mencobanya." Buru-buru Dev menanggalkan pakainnya lalu menggantinya dengan pakaian yang di berikan Agya.
"Bagaimana? Apa cocok di tubuhku?" menatap wajah Agya yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa sayang? Apa terlihat aneh? Apa aku tidak tampan memakai pakaian ini?" tanyanya berunut, melangkah ke arah meja rias.
"Eh, bu-bukan seperti itu." ucap Agya gelapan, ia benar-benar terpukau melihat ketampanan suaminya.
"Sial ketampanannya semakin bertambah karena koas hitam itu." gumam Agya dalam hati.
"Sayang, pakaian ini sangat cocok di tubuhmu. Kau sangat tampan." Mengusap lengan Dev yang tengah sibuk menatap pantulan tubuhnya di cermin
Dev menoleh, semburan kebahagiaan kembali terpancar di wajahnya, "Benarkah? Aku memang sudah sangat tampan sejak embrio." ucapnya membanggakan dirinya, Agya benar-benar membangkitkan kepercayaan diri Dev lagi setelah beberapa hari yang lalu pernah patah karenanya.
"Hahaha." Agya terbahak, "Mana ada orang tampan sejak embrio, yang benar saja." selorohnya tak berhenti tertawa.
"Ya emang begitu. Hah sudahlah, ayo kita berangkat sekarang." Meraih tangan Agya lalu merekatkan sela-sela jarinya di tangan istrinya itu.
"Eh tunggu sebentar, kau harus memakai topi agar tidak ada yang mengenalimu." Agya kembali menghampiri lemari lalu mengambil topi berwarna hitam untuk di pakai oleh Dev.
"Sudah." ucap Agya tersenyum setelah memakaikan topi di kepala suaminya itu.
"Ayo kita pergi." ujar Dev lagi meraih ponsel dan juga kunci mobilnya.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Kelanjutannya nanti malam yaa.