Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Memberikan penawaran



Sepeninggalan sekertaris Kim, Agya langsung memutar tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam apartementnya, wajah wanita itu terlihat lesu, matanya membengkak karena seharian menangis. Pun kepalanya yang tersa berat dan berkunang-kunang.


"Sudah ku duga jika Mr.Dev akan menuntutmu dan meminta royalti." ujar Della menghampiri Agya yang baru sepersekian detik menginjakan kakinya di dalam rumah.


"Ka-kau mendengar semuanya?"


"Iyaa, aku mendengar semuanya. Gya, seharusnya kau tidak menyuruhku masuk tadi. Ah rasanya aku ingin menjambak rambut pria gila itu." decaknya, sungguh jika Agya tidak melarang dan menyuruhnya masuk, ia tidak akan membiarkan sekertaris Kim menyerahkan map berisi rincian kerugian Mr.Dev kepada Agya, dan mengata-ngatai Agya seperti tadi. Dia dan tuannya sama-sama tak memiliki perasaan.


"Del, aku harus bagaimana? A-aku tidak memiliki uang sama sekali." Agya menundukan kepalanya, bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes. Air mata yang sudah hampir habis.


Della mengembuskan napasnya ke udara dengan kasar, melangkah mendekat ke arah Agya dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Gya, bagaimana jika kita meminta bantuan kepada Darrel?" usulnya, namun Agya langsung menolak dengan gelengan kepala, "Tidak Del. Dia orang asing bagiku, aku tidak ingin melibatkannya dalam masalahku."


"Tapi masalah ini bersumber dari pesta pernikahan kakaknya. Seharusnya dia ikut bertanggung jawab atas masalah ini. Ah, tapi di mana dia sekarang? Dia pasti telah mengetahui kasusmu bersama Mr.Dev, tapi dia sama sekali tidak menampakan wajahnya di hadapan kita. Apa dia sengaja ingin lari? Pengecut sekali." dengus Della tidak habis pikir, seharusnya Darrel berada di sana dan membantu Agya dalam menyelesikannya masalahnya, tapi pria itu malah tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


"Huh, aku jadi semakin merasa bersalah. Aku menyesal telah menjodohkanmu dengan pria pengecut itu!!"


"Del, masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Darrel sedikitpun. Jangan menyalahkannya." Wajah Agya berubah memelas, merasa jika Darrel tidak bersalah.


"Sudah jangan membahas pengecut itu lagi, aku jadi malas mendengarnya. Sekarang kita kembali fokus dengan masalahmu. Ayo duduklah dulu." Menarik tangan Agya, menuntunnya untuk duduk di sofa.


"Besok aku sudah harus membayar royalti pada Mr. Dev." Agya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit-langit ruang tamu dengan tatapan kosong seraya memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit dan pening. Membiarkan sisa-sisa air matanya menempel di wajahnya.


"Kenapa harus membayarnya? Gyaa, kau sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Kau tidak harus mengganti rugi apapun! Justru seharunya dia yang harus mengganti rugi karena telah mencemarkan nama baikmu."


"Aku lelah Del. Tidak ada satupun yang akan percaya padaku, bagaimana aku membuktikan jika aku tidak bersalah?"


Seketika kebingungan menyelimuti kedua wanita itu. Della ikut menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa seraya mengembuskan napasnya ke udara. Bingung harus memakai cara apa untuk menyelesaikan masalah ini.


Keheningan kembali melingkupi ruang tamu itu, kedua wanita yang tengah duduk di atas sofa ruangan tersebut hanya melamun mencari solusi dan jalan keluar akan permasalahan yang dihadapi Agya.


Suara ponsel Della yang tergeletak di atas meja, tiba-tiba berbunyi dengan sangat kerasnya hingga memecah keheningan ruangan itu. Pun perhatian Della yang langsung teralihkan ke arah benda pipih tersebut.


"Jio." Della berdecak kesal menatap penuh nama yang tertera di layar ponselnya. Begitu enggan menjawab panggilan telepon dari calon tunangannya yang bernama Jio itu.


"Ada apa?"


"Aku sudah di depan apartemen Agya, segeralah keluar. Kita akan makan malam bersama keluargaku."


"Aku tidak bisa, aku sedang sibuk sekarang."


"Della." suara Jio terdengar menajam, hingga mau tidak mau Della langsung mengiyakan ajakan calon tunangannya tersebut. Takut terjadi sesuatu yang buruk lagi padanya jika dirinya tetap bersih keras untuk menolak.


"Huh, baiklah. Aku akan segera keluar." Memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Apa kau akan pergi?" Agya menolehkan kepalanya ke arah Della, menatap sahabatnya itu dengan tatapan sendu.


Della mengangguk, "Iyaa Gya, maafkan aku. A-aku lupa jika malam ini aku telah memiliki janji untuk dinner bersama keluarga kak Jio"


"Oh baiklah, tidak apa-apa." Agya mengulaskan senyuman, "Pergilah, terima kasih sudah menemaniku seharian ini." ucapnya sendu, "Del, bolehkan aku memelukmu sebentar?"


Della mengangguk cepat lalu memeluk tubuh Agya, kedua wanita itu kembali menangis.


***


"Aku pulang dulu ya, maafkan aku." ucap Della mengusap kedua lengan Agya lembut.


"Iyaa, pergilah. Kak Jio sudah menunggumu." Menatap calon tunangan Della yang tengah duduk di dalam mobil dengan wajah yang sudah terlihat sangat kesal.


"Iyaa. Bye Gya, besok aku akan ke sini lagi. Aku akan menemanimu untuk bertemu Mr.Dev."


"Tidak perlu Del, a-aku akan menemuinya sendiri."


"Tapi--."


"Dellaa cepatlah!" suara Jio yang terdengar begitu ketus mengalihkan perhatian Agya, pun Della yang sontak langsung berpamitan kembali pada Agya, dengan buru-buru ia menuruni anak tangga yang ada di hadapannya, menghampiri Jio yang sudah memasang raut wajah tak ramah.


Embusan napas panjang keluar dari mulut Agya, ia mengunci rapat pintu apartemennya lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meraih selimut dan kembali menangis sejadi-jadinya. Hingga tanpa sadar wanita itu langsung terlelap dalam keadaan menangis.


****


Pukul 10.40 pagi, terlihat Agya yang masih berada di atas tempat tidurnya, matanya menatap lekat jam yang menggantung di dinding, mulutnya tak berhenti bergumam menghitung putaran jarum jam tersebut.


"Sudah hampir jam 11 pagi tapi aku belum memiliki uang sama sekali, aku juga tidak bisa menghubungi papa karena ponselku hilang. Ahh, aku harus bagaimana?" gumamnya memukul-mukul kepalanya, benar-benar bingung harus melakukan apa.


"Papaaa, Mamaa, tolongin Gyaa." Agya memeluk kedua lututnya dan kembali menangis. Ya, ia hanya bisa menangis untuk mewakili perasaannya saat ini. Benar-benar tidak tahu harus mendapatkan uang sebanyak 189 juta won dari mana.


"Asshh." Lagi Agya berdecak, menyeka air matanya lalu beranjak turun dari atas tempat tidur, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia telah memutuskan untuk tetap menemui Mr.Dev meskipun dirinya tidak membawa uang sepersenpun. Tidak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti di restoran tempat mereka bertemu, yang penting Agya harus menemui pria itu dulu.


30 menit berlalu, kini Agya sudah selesai bersiap-siap, wanita itu memakai baju berwarna biru dan juga celana kain berwarnah putih, memakai lipstik merah dan menguncir sedikit rambutnya. Mengambil beberapa lembar sisa uangnya dan memasukannya kedalam tasnya yang berwarna pink.


"Aaaghtt sial." Agya berdecak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu yang ia miliki tinggal 20 menit lagi. Buru-buru Agya memakai sepatunya, lalu keluar dari dalam apartementnya dengan sedikit berlari, dan sialnya ia terjatuh dari tangga yang ada di teras apartemennya hingga celana putih yang di pakainya menjadi kotor. Ingin menggantinya namun ia tidak memiliki waktu yang banyak lagi.


*


Sebuah taxi berwarna orange melaju dengan kecepatan tinggi, di dalamnya tampak Agya yang duduk di belakang kursi kemudi seraya mengigit-gigit ibu jarinya. Sorot matanya tak lepas menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggal beberapa menit lagi waktu yang dimilikinya akan habis, namun perjalan yang ia tempuh dari gwanak-gu ke pusat kota Seoul masih cukup jauh.


"Berhenti pak." ujar Agya, merogoh isi tasnya, mengambil beberapa lembar uang lalu menyodorkannya pada supir taksi tersebut. Sebelum kemudian, pandangannya mengedar ke arah Hunsik Seoul Restaurant yang tampak sepi.


Agya beranjak keluar dari sana, melirik singkat ke arah jam tangannya yang hampir menunjukan pukul 12.00.


"Selamat siang nona Agya." Sekertaris Kim menyapa dengan wajah datarnya, pria itu mengangkat lengannya, memerhatikan jarum jam pada jam yang melingkar di salah satu pergelengan tangannya tersebut.


"Nona, masuklah. Waktu nona tinggal 10 detik." ucapnya membuka pintu restoran tersebut.


"I-iyaa." Agya mengangguk, dengan sedikit berlari ia masuk ke dalam sana.


"1." Mr. Dev meletakan ponselnya di atas meja, lalu melepas kaca mata hitam yang membalut matanya, menatap Agya yang berdiri di hadapnnya dengan napas yang terengah-engah.


"Letakan uangnya sekarang." ujarnya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya melipat kedua tangannya di dadanya, matanya masih menatap lekat wajah Agya, memerhatikan mata sembab wanita itu.


"Tuan--."


"Aku tidak menyuruhmu berbicara!" serunya memotong ucapan Agya. Seketika wanita itu langsung menundukan kepalanya. "Maaf."


"Aku tidak membutuhkan kata-kata itu. Segera letakan uang ganti rugimu lalu pergi."


"A-aku tidak memiliki uangnya sekarang." Agya mengangkat kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca.


"Aku tidak perduli, segera letakan uangnya sekarang!" seru Dev memukul meja yang ada di hadapannya hingga membuat Agya terlonjat kaget. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini menetes dengan sendirinya, kepalanya kembali tertunduk, tidak berani melihat sorot mata tajam milik Dev.


Sedangkan sekertaris Kim tetap berdiri di depan pintu restoran, membiarkan kedua orang itu berada di dalam.


"A-aku sungguh tidak memiliki uang sepersenpun. Ponsel dan tasku hilang di acara pernikahan itu, aku tidak bisa menghubungi papaku untuk meminta uang padanya." Agya kembali berucap setelah cukup lama membisu, kepalanya masih tertunduk.


"Aku tidak perduli, aku mau uangnya sekarang!!"


"Tu-tuan Dev." Dengan ragu-ragu Agya mengangkat kepalanya, menatap penuh wajah Dev. "Bi-bisakah aku di beri kelonggaran waktu? A-aku akan membayarnya besok, aku akan meminta uang pada orang tuaku."


"Tidak, kau harus membayarnya sekarang." Dev kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya melipat kedua tangannya.


"Ta-tapi aku tidak memiliki uang sekarang. Aku harus membayarnya pakai apa? Aku benar-benar tidak memiliki uang sepersenpun." ucap Agya dengan wajah senduhnya, menyeka air matanya yang terus mengalir hingga membasahi kerak bajunya.


"Sekertaris Kim masuklah." ucap Dev menekan earphonenya seraya bangkit dari duduknya.


Dari luar restoran, tampak sekertaris Kim yang mengangguk, pria itu membuka pintu restoran lalu masuk ke dalam sana bersama dua orang pria lainnya yang memakai seragam berwarna biru.


"Bawa wanita ini pergi. Dia tidak bisa membayar hutangnya padaku." Dev memerintah kedua orang yang memakai seragam tersebut, pria yang tak lain adalah polisi.


"Baik Mr. Dev." ucapnya meraih borgol yang berada di sakunya, hendak memborgol tangan Agya, namun wanita itu langsung berlutut di hadapan Mr. Dev.


"Ja-jangan tuan. Ku mohon jangan membawaku ke kantor polisi." Kedua tangan Agya mengatup, wajahnya memelas dengan sangat, memohon agar pria yang saat ini berada di hadapannya tidak memasukannya ke dalam penjara.


Dev tidak menjawab, ia memasukan kedua tangannya di dalam sakunya, menatap wajah Agya yang semakin basah akan air matanya. Pun sekertaris Kim yang juga hanya berdiri mematung di tempatnya, tidak menduga Agya akan sampai berlutut seperti itu di hadapan Dev.


"Ku mohon tuan. Pa-papaku memiliki riwayat penyakit jantung, a-aku tidak ingin papaku kenapa-napa setelah mendengar aku di penjara. Ku mohon tuan, jangan membawaku ke kantor polisi, kau bisa melakukan apa saja padaku tapi jangan membawaku ke sana." Agya berucap sesegukan, tangannya semakin mengatup rapat. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, hanya memohon seperti ini, meminta belas kasih dari pria yang menatapnya dengan begitu dinginnya.


"Keluar kalian semua, tinggalkan aku bersama wanita ini." ujar Dev, seketika Sekertaris Kim langsung mengangguk lalu melangkah keluar dari sana diikuti kedua polisi itu di belakanganya.


Napas Dev berembus dengan kasar ke udara, ia kembali mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Apa yang bisa kau lakukan untukku untuk menembus hutangmu?" tanyanya, melipat kedua tangannya di atas dadanya. Menatap Agya yang masih berlutut di hadapannya.


"Tuan bisa memakai tenagaku untuk hal apapun, aku bisa mengerjakan semuanya yang tuan minta." Mengangkat kepalanya dengan ragu-ragu.


"Benarkah? Termaksud menjadi pelayan di rumahku?" Agya mengangguk cepat, "I-iya, bisa tuan."


"Sayangnya sudah banyak pelayan yang bekerja di rumahku, aku tidak membutuhkan tenaga baru lagi."


"A-aku akan melakukan apapun yang anda minta tuan." ujar Agya kembali memberi penawaran agar Dev tidak membawanya ke kantor polisi.


"Apapun?"


"I-iyaa."


"Baiklah." Dev memperbaiki posisi duduknya, lebih mendekat ke arah Agya. "Menikahlah denganku."


.


.


.


.


Bersambung..