
Seusai makan malam, Agya membantu nenek Gamri kembali ke kamarnya. Mengambilkan air minum yang tergeletak di atas nakas lalu menyodorkannya pada wanita paru baya itu.
"Terima kasih nak." ucap nenek Gamri, menelan beberapa butir obat lalu melarutkannya dengan air putih yang disodorkan Agya.
"Sama-sama nek." Agya mengambil alih gelas tersebut dan kembali meletakannya di atas nakas, sebelum kemudian ia membantu nenek Gamri untuk merebahkan tubuhnya.
"Kembalilah ke kamarmu nak, suamimu pasti sudah menunggumu." ujar nenek Gamri mengusap wajah Agya lembut seraya tersenyum hangat.
"Baiklah, selamat malam nek."
"Selamat malam." jawab nenek Gamri, masih mengukirkan senyuman di bibirnya. Menatap Agya yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Gadis itu sangat baik sekali. Seandainnya dia belum menikah, aku pasti akan menikahkannya dengan Darrel."
***
"Kenapa kau lama sekali?!!" Baru sepersekian detik Agya masuk ke dalam kamar, namun telinganya sudah disuguhkan dengan suara ketus Dev yang menggelegar dan menyakiti gendang telingnya.
"Ma-maaf." Agya langsung menundukan kepalanya, tidak berani menatap sorot mata tajam Dev yang menghunus ke arahnya.
"Kemarilah." Dev menjentikan tangannya, meminta istrinya untuk mendekat ke arahnya. Pria itu tengah berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang bertelanjang dada, pun rambutnya yang masih tampak basah.
"Apa kau tidak mendengarku?!!" cetusnya melempar handuk kecil tepat di wajah Agya.
"Eh, de-dengar tuan." ucap Agya gelagap, menangkap handuk kecil yang dilemparkan oleh Dev.
"Ya sudah, mendekatlah. Keringkan rambutku."
"Ehm, ba-baik tuan." Hembusan napas berat tampak keluar dari mulut Agya, merasa jika dirinya akan kembali menjadi kacung Dev dan akan selalu seperti itu entah sampai kapan.
"Duduklah, kenapa kau masih berdiri di situ?" seru Dev menarik kasar tangan Agya hingga wanita itu jatuh ke atas tubuhnya.
Agya tertegun bersamaan dengan bola mata yang melebar, sangat terkejut saat wajah Dev berada di bawah wajahnya bahkan ujung hidung mereka saling bersetuhan. Buru-buru Agya beranjak bangun, namun pelukan tangan Dev di pinggangnya terasa semakin kuat hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Tu-tuan Dev, a-apa yang ingin kau lakukan? Le-lepaskan aku." seru Agya, merontah.
Dev tidak menjawab, tangannya bergerak mengusap wajah istrinya itu, pun matanya yang menatap lekat manik mata teduh milik Agya.
"Aku mengingat apa yang kita lakukan kemarin malam." ucap Dev kemudian.
Deg,
Kedua bola mata Agya semakin terbuka lebar, bersamaan dengan jantungnya yang berdebar takaruan.
"Ka-kau mengingatnya?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan pelan oleh Dev.
Demi apapun wajah Agya langsung memerah bak kepiting rebus sekarang, pun jantungnya yang semakin berdebar kencang.
"Bu-bukankah katamu kau tidak mengingat apapun." ucap Agya terbata-bata.
"Kau tidak percaya?" dengus Dev mengubah posisinya, kini tubuh Agya berada di bawah kungkungannya. Sorot matanya menatap Agya kesal, ia sudah menurunkan egonya bahkan menjatuhkan kepercayaan dirinya untuk mengakui apa yang sudah ia lakukan kepada Agya namun istrinya itu malah tidak percaya.
"A-aku percaya." Agya berucap tatkala merasakan sesuatu yang keras milik Dev di bawah sana.
"Huh menyebalkan!!" Dev kembali mendengus, meraih benda yang tergeletak di atas nakas, benda yang tak lain adalah borgol.
"Untuk apa lagi jika bukan untuk memborgolmu."
"Ha?"
"Diamlah!" seru Dev, membuka borgol tersebut lalu melingkarkan di salah satu tangannya dan tangan Agya.
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Kau bisa saja kabur saat aku tidur." celetuknya merebahkan tubuhnya di samping Agya, sebelum kemudian ia memejamkan matanya, bersiap untuk segera tidur.
Agya tertegun, wajahnya terlihat kebingungan, antara terkejut dan ingin tertawa. "Pria aneh. Mana mungkin aku kabur, bahkan mikirkannya saja aku tidak berani lagi." batinnya, menatap dengan teiliti wajah Dev, menyusuri setiap garis wajah pria itu.
"Apa tuhanlah yang telah menakdirkan pria ini hadir di hidupku? Aku merasa begitu terikat dengannya, phobiaku juga hilang setelah bertemu dengannya."
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mulai kagum dengan ketampananku?" Dev membuka matanya seraya memiringkan tubuhnya. Hingga ia dan Agya saling berhadap-hadapan.
Bak kedapatan mencuri, Agya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Ti-tidak, a-aku tidak menatapmu." jawanya gelagapan.
"Benarkah? Apa kau tidak tahu jika aku bisa membaca pikiran orang."
"Ha?" Agya melongo, mengalihkan pandangannya ke arah Dev, menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.
Tanpa ragu Dev menarik tubuh Agya ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu dengan begitu eratnya hingga membuat Agya kesulitan bernapas.
"Tu-tuan Dev. Apa kau ingin membunuhku? Napasku hampir habis." teriaknya, namun Dev semakin mengeratkan pelukannya, sama sekali tidak mendengarkan ucapan Agya, tepatnya mendadak tuli.
"Tu-tuan De---." teriakan Agya tertahan tatkala mulutnya disumpal oleh Dev menggunkan bibirnya. Demi apapun mata Agya langsung membulat sempurnah bahkan hampir lepas dari tempatnya.
"Diamlah jika kau tidak ingin aku melakukan lebih dari ini." sungut Dev. Menjauhkan sedikit kepalanya, lalu memejamkan kembali matanya, pun pelukannya di tubuh Agya yang semakin terasa erat.
Mendapat peringatan seperti itu, Agya langsung terdiam seribu bahasa, benar-benar pasrah tubuhnya di peluk seperti ini. Tetapi sebenarnya ia menikmatinya juga, udara diluar yang sangat dingin mampu terhalaukan akan kehangatan tubuh Dev. Ya, pelukan pria itu terasa begitu hangat dan menenangkan.
"Ahhh jantungkuu, kenapa kau semakin berdebar kencang. Ku mohoon bekerja samalah denganku kali ini, jangan berdebar sekarang." gumam Agya dalam hati, memejamkan matanya kuat seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah padam menahan malu. Merasa jika Dev pasti ikut merasakan debaran jantungnya saat ini, pasalnya tubuh mereka begitu sangat dekat bahkan saling bersentuhan, apalagi Dev dalam keadaan bertelanjang dada.
Dan ya, hal itu benar terjadi dan dapat dilihat dari senyum tipis yang tersemat di bibir Dev.
"Apa dengan cara ini kau akan luluh dan jatuh cinta padaku? Baiklah, aku akan melakukan hal-hal manis ini mulai dari sekarang. Akan kupastikan kau akan jatuh cinta padaku dalam 7 hari kedepan." Senyum di bibir Dev berubah menjadi sinis dan licik, tidak sabaran untuk melakukan rencananya dalam tujuh hari kedepan, berusaha untuk menarik Agya ke dalam jebakannya dan membuat wanita itu jatuh cinta setengah mati padanya.
Dev telah menampakan wujud aslinya, ia akan membuat semua wanita tunduk padanya, dan memuja-mujanya setiap saat. Tidak boleh ada satupun wanita yang menolaknya, sekalipun itu terjadi, ia akan menghancurkannya seperti apa yang telah terjadi pada Agya.
Dan ah, nenek Gamri. Bisa-bisanya nenek tua itu begitu enggan menatap wajahnya, padahal semua wanita baik dari kalangan anak-anak sampai lansia pun pasti akan selalu memandangi wajahnya dengan penuh kekaguman, kenapa nenek Gamri berbeda? Apa perlu ia menikahinya juga dan membuatnya jatuh cinta setelah itu meninggalkannya??
Dev benar-benar bingung dan meminta usul kak Readers 😂
.
.
.
.
.
Bersambunggg..