
"Kau menangis? Apa yang membuatmu menangis hm?" sepeninggalan dua anak kecil itu, Dev langsung menyerang Agya dengan banyak pertanyaan.
"Ehm, mataku kelilipan itu sebabnya dua anak kecil itu mengira aku menangis." ucap Agya mendaratkan kembali tubuhnya seraya mencicipi ice cream yang berada di tangannya.
"Kau tak berbohong?" Dev masih belum percaya, ia menatap Agya dengan tatapan penuh selidik.
"Iyaa, duduklah. Kau mau ice cream juga?"
Dev menggeleng, "Tidak, makanlah." ujarnya mendaratkan tubuhnya di kursi taman. Pun Agya yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Dev."
"Hm."
"Jika suatu hari nanti aku tiada, apa kau akan menikah lagi?"
"Entahlah. Aku tak memikirkan itu."
"Aku rasa kau harus memikirkannya. Kita tak pernah tahu hari kematian kita, mungkin aku akan tiada lebih dulu darimu."
"Jika itu terjadi aku akan ikut denganmu."
Deg
Agya bergeming, menelan salivanya dengan kasar.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Kau mau meninggalkan anak-anak kita?"
"Lalu bagaimana denganmu? Kau tega meninggalkanku dan anak-anak kita?" Dev menoleh, menatap penuh wajah Agya yang tengah sibuk menyantap ice cream.
"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal ini? Bukankah kita ke sini untuk refreshing. Selalu saja mengajakku berdebat." gerutu Dev mengusap lembut ujung bibir Agya yang berlumuran ice cream.
"Makanlah dengan baik."
Agya mengangguk, ia melempar pandangannya pada danau yang ada di hadapannya. Memikirkan cara agar dirinya bisa memberi tahu Dev tentang penyakitnya.
Sementara Dev, pria itu memilih untuk mengusap-usap perut Agya. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
"Sebentar lagi sekertaris Kim akan ke sini." setelah cukup lama membisu akhirnya Dev berucap juga, tangannya masih sibuk mengusap perut istrinya itu ditambah dengan kecupan-kecupan singkat.
Agya tak merespon, wanita itu tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ah bagaimana ini?
"Ehm, Dev. Aku ingin berbicara sesuatu yang pent----."
"Selamat pagi tuan Dev, nyonya Agya." ucapan Agya terhenti, wanita itu langsung menoleh tatkala mendengar sapaan dari sekertaris Kim.
"Della?" Kedua bola mata Agya melebar, ia sangat terkejut melihat Della berdiri di samping sekertaris Kim.
"Della, kau benar-benar Della?" Agya masih tampak tak percaya, ia segera beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh sahabatnya itu.
Pun Della yang ikut membalas pelukan Agya dengan begitu girang. Ah sudah sangat lama mereka tak bertemu, tapi ia dibuat terkejut saat melihat tubuh Agya yang kurus dengan wajah yang begitu pucat.
"Bagaimana kabarmu Dell? Kau tahu, aku sangat merindukanku. Sudah lama aku mencari keberadaanmu."
"Seperti yang kau lihat Gya. Aku jauh lebih baik." Della tersenyum, sungguh ia sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya berkat terapi psikis yang ia lakukan di luar negri beberapa waktu lalu.
"Syukurlah, banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Aku sangat merindukanmu Della."
"Aku juga merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Ah inikah hasil buah cintamu." ucap Della mengusap lembut perut Agya.
"Ehm, bagaimana bisa kau datang ke sini bersama sekertaris Kim? Apa selama ini kalian---."
"Iyaa nyonya." tanpa basa basi sekertaris Kim langsung membenarkan dugaan nyonya mudanya tersebut.
"Benarkah? Della kau jatuh cinta dengan pria yang sangat kau benci?"
"Bukankah kau juga demikian?" celetuk Della, sontak kedua wanita itu langsung terbahak, namun tidak dengan sekertaris Kim dan Dev, seperti biasa hanya ada raut dingin di wajah kedua pria itu.
"Duduk dan berceritalah. Aku dan sekertaris Kim akan menunggu di sana." ujar Dev menunjuk ke arah kursi taman yang berada di dekat parkiran.
"Ehm, baiklah."
"Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa langsung memanggilku." imbuhnya.
Agya mengangguk, sekali lagi ia menerima kecupan hangat di kening dan juga bibirnya, sebelum Dev benar-benar berlalu pergi dari sana.
"Mr. Dev benar-benar sangat mencintaimu." ucap Della menuntun Agya untuk duduk di kursi taman.
"Hm."
"Apa kau sudah mengetahui jenis kelamin kedua bayimu? Aku sangat bahagia saat mendengar kau hamil."
"Aku tak ingin mengetahuinya. Apapun jenis kelaminnya aku sangat bersyukur memiliki mereka."
"Ah benar juga."
"Haruskah aku memberitahumu?" terlihat rona merah di wajah Della, ia masih begitu malu untuk menceritakan kisah cintanya.
"Harus! Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa meluluhkan hati seorang sekertaris Kim?"
"Tidak jauh beda dengan caramu meluluhkan hati Mr. Dev. Kedua pria dingin itu sangat mudah luluh hanya dengan paras cantik kita. Hahhaha."
"Aku serius Della." gerutu Agya, memincingkan matanya. Seketika tawa Della langsung terhenti.
"Baiklah-baiklah."
Della mulai menceritakan kisah cintanya dengan sekertaris Kim, hanya itu saja. Ia tak sedikitpun menceritakan kisah kelamnya, bagaimana psikisnya terganggu karena Jio keparat itu dan bagaimana dirinya bisa bangkit dari keterpurukan, Agya tak perlu tahu itu, ia tak ingin sahabatnya tersebut bersedih karena kisah yang sudah ia kubur dalam-dalam.
"Jadi kau ikut keluar negri bersama sekertaris Kim? Apa kalian sudah menikah?"
Della menggeleng, "Belum. Kami akan menikah setelah dua bayimu ini lahir. Aku ingin kau dan dua bayimu bisa menghadiri pernikahanku. Aku sangat menantikan hal itu Gyaa."
Mendengar ucapan Della membuat hati Agya terenyuh, ia memejamkan matanya singkat mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya.
"Mungkin aku tak bisa hadir."
"Kenapa?" Della mengerutkan dahinya, menatap Agya dengan tatapan kebingungan.
"Gyaa, apa telah terjadi sesuatu? Katakan padaku? Apa Mr. Dev menyakitimu? Tapi itu tak mungkin."
"Della." Agya tak kuasa menahan air matanya lagi, ia meraih tangan Della dan menggamnya dengan erat.
"Gyaa ada apa?"
"De-Della, berjanjilah padaku. Aku ingin kau membantu merawat dua bayiku."
"Tentu saja, aku akan membantumu merawat mereka."
Agya menggeleng, air matanya terus mengalir. "Bukan denganku."
"Apa maksudmu Gya, berbicaralah yang benar."
"Della, a-aku mengidap kanker darah sejak 5 bulan yang lalu."
"Apa?" Kedua bola mata Della melebar, alirannya darahnya terasa berhenti mengalir. "Kanker darah? Gya, kau--."
Agya mengangguk, "Umurku tak panjang lagi." ucapnya menyeka cairan merah yang tiba-tiba mengalir dari hidungnya.
"Gyaa." teriak Della histeris, air matanya mengalir dengan deras begitu ia melihat darah yang sudah memenuhi hidung dan bibir Agya.
"Ti-tidak Gya, ini tak boleh terjadi. Kenapa kita harus dipisahkan lagi Gya? Aku tak mau." Della semakin histeris, ia segera melepas cardigannya untuk membersihkan darah tersebut.
"Gyaa, kenapa ini bisa terjadi padamu? Kenapa Jeha tak memberitahuku?"
"Mereka tak tahu." ucapnya tersenyum dengan kening yang berkerut dalam, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya, pun pandangannya yang mulai berkabut.
"Agyaa."
Mendengar teriakan Dellla membuat sekertaris Kim dan Dev terhenyak. Keduanya segera menoleh ke arah Della dan betapa terkejutnya mereka saat melihat wanita itu berusaha menopang tubuh Agya yang sudah tak sadarkan diri dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Gyaa." Dev langsung berlari ke arah istrinya tersebut, jantungnya berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat, perasaan takut dan khawatir memenuhi tubuhnya kini.
"Della, apa yang terjadi dengan istriku?" serunya meraih tubuh Agya ke dalam pelukannya. Ia semakin terkejut melihat darah yang sudah memenuhi tubuh Agya.
"A-aku---."
"Shitttt. Kita ke rumah sakit sekarang!!" cetus Dev, dengan tangan yang gemetar ia menggendong tubuh Agya dan segera membawa istrinya itu ke mobilnya.
Sedangkan Della, ia masih berdiri mematung di tempatnya, wajahnya benar-benar syok.
"Sayang." Sekertaris Kim langsung memeluk tubuh Della saat menyadari ketakutan di wajah kekasihnya itu.
"Jeha, a-aku."
"Tak perlu menjelaskannya sekarang, ayo kita ke rumah sakit."
Della mengangguk, tubuhnya bergetar hebat akibat ketakutannya, "Gya."
.
.
.
.
Bersambung.....