Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Tragis



"Wanita jalan*." teriak Jio, tak terima dengan perlakuan Alenaa padanya. Pria itu segera beranjak berdiri dan menghampiri Alenaa, mendorong tubuh kekasihnya itu ke dinding.


"Kau mau mati? Berani sekali kau mendorongku!!" cetus Jio mencekik leher Alenaa kini.


"Ji-Jio sakit." Alenaa memukul-mukul tangan Jio, berusaha melepas cekikan tangan pria itu yang semakin menyakitinya.


"Kita sama-sama brengsek, jadi jangan pernah bertindak suci di hadapanku, apalagi menjatuhkan harga dirimu." cetus Jio, melepaskan kedua tangannya.


"Aku hanya ingin menemui papaku."


"Jangan memancing emosiku Alenaa. Berapa kali aku harus mengingatkanmu jika kita adalah buronan polisi. Jangan bertindak bodoh!"


"Aku tak mungkin berdiam diri di sini dan menyaksikan ayahku mati di tangan para marinir itu."


"Itu jauh lebih baik." seru Jio, mengambil kunci yang masih menggantung di bawah knop pintu. Sebelum kemudian ia melangkah ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana.


"Apa yang akan kau lakukan di sana hm? Membebaskan ayahmu dengan bersujud di kaki para marinir itu? Atau kau akan menjual tubuhmu untuk membebaskan ayahmu?"


"Pria keparat!! Aku tak sekeji itu!!"


"Hahahaha." Jio terbahak, "Apa kau bisa mengulangi kata-katamu?"


"Aku tak akan sekeji itu jika aku tak mengenalmu." cetus Alenaa, amarahnya semakin membuncah.


"Hahaha." Lagi Jio terbahak seraya membakar sebatang rokok yang baru saja ia ambil dari atas meja.


"Meskipun kau tak mengenalku, kau akan tetap menjadi wanita pembunuh. Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika dulu kau hampir membunuh Diandra mantan kekasih Dev karena kau ingin Dev menjadi milikmu? Kau juga mengancam dan menyuruh wanita malang itu tidur dengan pria suruhanmu di apartemen Dev. Kau wanita yang penuh obsesi, dan lihatlah obsesimu kini telah menghancurkanmu." tutur Jio, menyesap rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke arah Alenaa dibarengi dengan senyum tipis yang terkesan mengejek, "Kau bahkan membunuh Mrs. Belinda."


"Aku tak akan membunuhnya jika kau tidak tidur dengannya!!" seru Alenaa.


"Dia membutuhkan kehangatan tubuhku dan aku juga membutuhkannya di saat kau sedang sibuk dengan sandiwaramu di rumah sakit."


"Tapi kau sudah berjanji akan menikahiku dan tidak berhubungan dengan wanita tua itu lagi Jio! Kau juga membunuh Della hanya kau tak ingin pernikahan kita digagalkan olehnya dan anak yang di kandungnya."


"Hahahaha, kau tak kala bodohnya dengan wanita-wanita itu. Dengarlah Alenaa." Jio menjentikan sisa rokoknya lalu beranjak dari duduknya. "Aku membunuh Della agar aku tidak terikat hubungan dengannya, dan apa yang aku katakan padamu hanyalah omong kosong. Tak ada cinta dalam diriku, aku menggunakan kalian hanya sebagai pemuas nafsu dan sumber penghasilkanku, tak lebih dari itu."


Plak, bunyi tamparan yang sangat keras, menggema memenuhi seisi ruangan.


"Dasar gigol*. Tak seharusnya aku berhubungan denganmu."


"Kemana saja kau selama ini sayang? Kenapa kau baru menyadarinya?" Jio mengusap pipinya yang memerah seraya tersenyum maniak.


"Kau mau apa?" Alenaa melangkah mundur saat Jio berjalan ke arahnya seraya melepas kancing kemejanya dengan kasar.


"I will fac* you so hard." ucapnya menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.


"Kau pikir aku akan melayanimu setelah mengetahui sifat burukmu?"


"Kau tak memiliki pilihan lain sayang. Kau akan merasakan kehangatan tubuhku seperti yang Mrs. Belinda rasakan untuk terakhir kalinya."


Deg, Alenaa menelan salivanya dengan kasar, kata-kata Jio benar-benar menakutkan. Apa pria itu akan membunuhnya juga?


"Tak perlu takut, aku hanya akan memberikanmu se* terbaikku. Kau belum pernah merasakannya bukan."


"Jio, jangan coba-coba mendekatiku." Alena semakin menjauh.


Bug, tubuh Alenaa membentur meja, sial ia tak dapat menghindari Jio lagi. Pria itu kini telah bertelang dada dan semakin mendekatinya.


"Ji-jio, aku akan membunuhmu jika kau mendekatiku." seru Alenaa menyodongkan pisau buah di hadapan Jio.


"Wah-wah kau mengancamku. Apa aku harus takut? Tolongg, Alenaa akan membunuhku hahahha." Bak orang gila, Jio tertawa terbahak-bahak. Ia sama sekali tak takut dengan ancaman wanita yang ada di hadapannya ini.


"Kemarilah sayang." Dengan segera Jio memukul tangan Alenaa hingga pisau yang di pegang wanita itu jatuh ke atas lantai.


"Kau harus menjadi wanita penurut jika kau tak ingin hari ini menjadi hari terakhirmu." Alenaa bergeming, ia menolehkan wajahnya saat Jio mengusapnya.


"Layani aku malam ini sampai aku merasa puas. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan membantumu untuk menemui ayahmu."


"Ka-kau janji?" tanya Alenaa dengan bibir yang bergetar.


"Hm." Jio menjawab singkat sebelum kemudian ia meluma* bibir Alenaa dengan brutalnya. Tak segan ia mengikat tubuh Alenaa di atas ranjang, lalu menyerang tubuh wanita itu tanpa henti.


*


Keesokan paginya, terlihat Jio yang tengah kebingungan. Berkali-kali ia mengacak-acak rambutnya, wanita yang semalam tidur dengannya kini tak menghembuskan napasnya lagi.


"Aghhtt shittt, kenapa aku membunuhnyaa?!" umpat Jio, menatap tubuh Alenaa yang terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun. Tubuh yang sudah kaku dan sangat pucat.


"Aku harus pergi dari sini." Dengan segala ketakutannya, Jio langsung meraih topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya lalu keluar dari apartemen tersebut dengan langkah panjang. Ia benar-benar tak sengaja membunuh kekasihnya itu, semalam amarahlah yang menguasai jiwanya hingga ia tak berpikir panjang dan mencekik leher wanita itu hingga tewas.


"Shitt." Jio kembali mengumpat, ia segera bersembunyi di dalam kamar mandi saat bertemu dengan cleaning service yang berjalan ke arahnya.


"Aku harus segera pergi dari sini." Sepeninggalan cleaning service tersebut Jio langsung keluar dari kamar mandi dan pergi dari sana. Tak perduli dengan situasi yang terjadi setelahnya, saat ini ia harus menyelamatkan dirinya. Lari sejauh mungkin hingga seorangpun tak dapat menemukannya.


8 jam berlalu..


Seorang Clening Service yang baru saja mengakhiri tugasnya tiba-tiba di kejutkan dengan jasad di sebuah kamar yang tak terkunci rapat. Buru-buru ia, mengambil handy talknya untuk mengabarkan keberadaan jasad tersebut.


"Telah ditemukan mayat wanita di kamar nomor 302." ucapnya pada handy talk yang terhubung ke resepsionis. Cleaning Service tersebut sangat terkejut bukan main saat melihat wanita yang tergeletak di atas kasur dan hanya berbalutnya selimut putih, wanita yang terlihat sangat pucat dan mengeluarkan busa dari mulutnya.


"Mayat? Aku akan segera melaporkannya ke polisi."


"Baik. Terima kasih."


Tak berselang lama, bebera polisi datang ke Wuild Hotel tersebut dan memeriksa kamar nomor 302 untuk melakukan olah TKP. Polisi-polisi tersebut tidak kala terkejutnya saat melihat jasad yang tak lain adalah Alenaa. Pelaku pembunuhan yang tengah menjadi buronan, namun pelaku itu kini tak bernyawa lagi? Sungguh kematian yang sangat tragis.


Kini, nama Jio menjadi nama yang sangat diincar oleh polisi. Belum usai kasus Mrs. Belinda kini ia telah menghilangkan satu nyawa lagi. Ditambah dengan laporan Sekertaris Kim terkait percobaan pembunuhan yang dilakukan Jio terhadap Della.


.


.


.


.


.


Rest in peace Alenaa🥀😌