
Sekertaris Kim melajukam mobilnya dengan kecepatan maksimal, membela keheningan kota Seoul malam itu. Lagi-lagi ia tak dapat mengendalikan pikirannya untuk berhenti memikirkan Della. Ya wanita itu, wajahnya, suaranya, tangisannya, dan semua tentangnya selalu berputar-putar di memori kecil sekertaris Kim, entah kenapa ia tak tahu. Seharian tadi ia belum menemui wanita itu, ia merindukannya. Rindu? Tidak, ini bukan rindu melainkan sebuah rasa perduli, ya hanya itu.
"Selamat malam tuan Kim." sapa dokter Cha, menyambut sekertaris Kim yang baru saja tiba di AMC Hospital.
"Bagaimana kabar nona Della?" tanyanya melangkah masuk ke AMC Hospital hendak menuju ke ruang rawat Della.
"Nona Della, sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi---." tiba-tiba dokter Cha menghentikan ucapannya hingga membuat langkah kaki sekertaris Kim ikut terhenti.
"Ada apa?" tanya sekertaris Kim menaikan salah satu alisnya.
"Ehm, itu tuan. Nona Della tak ingin ditemui olehmu."
"Apa dia yang mengatakan itu?"
"Iya tuan."
Seketika wajah sekertaris Kim langsung berubah pias. "Ehm baiklah, aku tidak akan menemuinya sekarang."
"Mohon maaf tuan."
"Tidak apa-apa. Jagalah nona Della dengan baik. Aku percayakan semuanya padamu dokter Cha."
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nona Della tuan." ucap dokter Cha yang hanya dibalas anggukan oleh sekertaris Kim. Sebelum kemudia pria itu melangkah meninggalkan AMC Hospital dengan langkah panjang.
**
Setibanya di apartemennya, sekertaris Kim langsung menanggalkan seluruh pakaiannya, mengisi air ke dalam bath up hingga penuh lalu menuangkan aroma terapi ke dalamnya.
"Kenapa wanita itu tak ingin menemuiku?" gumam sekertaris Kim masuk ke dalam bath up.
"Apa dia membenciku? Kenapa? Aku yang menyelamatkannya. Seharunya dia berterima kasih padaku. Tapi kenapa dia malah bersikap sebaliknya?"
"Hah dasar wanita. Mereka tak tahu caranya berterima kasih." sungut sekertaris Kim, menenggelamkan wajahnya ke dalam bath up, berharap ia tak bangun lagi.
***
Di belahan bumi lain, tepatnya di Hannam The Hill, tampak seorang pria yang masih belum tertidur, padahal sudah hampir menjelang pagi.
Sejak beberapa jam yang lalu, pria itu terus memandangi dan memuji kecantikan istrinya. Siapa lagi kalau bukan Deva bucin Wilantara. Entah sudah berapa ribu kali mulut dan bibir tipisnya itu bergumam mengucapkan kata cinta kepada Agya yang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Aku mencintaimu, cup." dua kalimat penuh makna dan kecupan hangat mendarat di bibir Agya sesaat sebelum Dev beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah pergi dari sana.
Satu jam berlalu, Dev kembali ke dalam kamarnya. Dengan hati-hati ia meletakan nampan berisi semangkok sup rumput laut di atas nakas sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur tepat di sisi Agya yang masih tertidur pulas.
"Sayang." Telapak tangan Dev bergerak mengusap wajah dan bibir ranum istrinya itu hingga membuat Agya terbangun.
"Aku sudah membuatkan sup rumput laut untukmu." ucap Dev seraya mengulaskan senyuman hangat di bibirnya. Tak lupa ia memberikan beberapa kecupan manis di wajah istrinya itu.
Agya yang masih mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya hanya bisa terdiam. Kedua bola matanya tampak bersinar saat melihat wajah tampan Dev yang berada tepat di atas wajahnya. Peluh yang bercucuran di dahi dan juga leher Dev membuat Agya menelan salivanya dengan kasar. Kini tatapan Agya beralih ke tubuh Dev, ia kembali menelan salivanya saat melihat otot-otot dada Dev yang tampak menggiurkan di balik kaos putih yang dipakai pria itu, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Tanpa basa basi Agya langsung mengusap dada bidang itu dengan tatapan mata yang mendamba, pun tangannya yang tak berhenti sampai di situ saja.
Deg, Dev tersentak saat Agya mengusap lembut miliknya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Dev hendak menyingkirkan tangan nakal Agya namun wanita itu malah semakin mengeratkan genggamannya.
"Aku menginginkan ini."
Demi apapun Dev langsung melongo terkejut, untuk kali pertamanya Agya memintanya dengan cara seperti ini.
"Kau tidak sedang bercanda kan sayang."
"Apa aku terlihat bercanda? Aku menginginkanmu." celetuk Agya, ia sudah melakukan hal yang memalukan, namun Dev hanya menganggapnya bercanda. Sungguh pria memang memiliki tingkat kepekaan dibawah rata-rata.
"Kau tak ingin sarapan dulu. Aku tak ingin tenagamu habis saat kita sedang bermain nanti." ucap Dev menyunggingkan senyuman maniaknya seraya naik ke atas ranjang.
"Tidak."
"Baiklah." Dengan segera Dev menanggalkan seluruh pakaiannya dan juga pakaian Agya. Sebelum kemudian, ia menindih tubuh wanita itu, lalu mengecup kening, hidung dan berakhir di bibir wanita itu. Siapa yang tak menginginkan hal ini? Sejujurnya ia menginginkannnya dari semalam, namun karena melihat kondisi tubuh Agya yang tidak memungkinkan, ia harus meredam hawa nafsunya, dan sekarang Agya sendiri yang memintanya. Tentu saja, Dev tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ia akan memberikan best se* yang pernah ada untuk istrinya itu.
*
Beberapa jam berlalu, pergumulan sepasang suami istri itu baru saja berakhir, keduanya benar-benar gila, entah berapa kali mereka melakukannya mungkin 5 kali, hanya sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu yang tau.
"Dev."
"Hm." jawab Dev singkat seraya memeluk Agya dari belakang.
"Kau tahu, sejak kecil aku berkeinginan untuk memiliki baby twins saat menikah nanti."
"Dan sekarang kau ingin memiliki anak kembar?" Agya mengangguk, "Yaa, aku sangat menginginkan anak kembar."
"Kau yakin? Apa perut kecilmu ini akan muat?" tanya Dev mengusap lembut perut Agya yang tak tertutupi sehelai benangpun, hingga ia bisa merasakan kulit istrinya tersebut.
"Tentu saja muat." Agya memutar tubuhnya, hingga kini ia saling berhadapan sekaligus bertatapan dengan Dev.
"Apa kau sangat menginginkannya?" Dev kembali mengajukan pertanyaan dengan tatapan yang terlihat ragu.
"Iyaa."
"Baiklah, kalau begitu mari kita lanjutkan permainan kita." ucapnya kembali menyunggingkan senyum maniaknya.
"Ihh Dev, aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar menginginkan anak kembar."
"Ya justru itu. Jika kau ingin anak kembar bukankah kita harus lebih sering membuatnya."
"Tidak. Tidak sekarang." Agya segera menjauhkan tubuhnya dari Dev, takut tubuhnya kembali diterkam oleh macan gila yang ada di hadapannya ini.
"Aku lelah, tulang-tulangku terasa ingin patah jadi aku---."
"Aku tidak sebejad itu." timpal Dev, mengendus leher Agya.
"Ah, aku pikir kau akan melakukannya lagi." Terdengar hembusan napas legah dari mulut Agya.
"Aku mencintaimu."
"Aku tahu."
Hening...
Hening...
Hening...
"Sayang." panggil Dev, mengecup perut Agya. Entah bagaimana, pria itu sudah berada di depan perut Agya.
"Ada apa?"
"Bolehkan aku meminta sesuatu?"
"Tentu saja. Apa yang kau inginkan hm? Kau tak ingin aku memiliki anak kembar?" Dev menggeleng.
"Lalu?"
"Bisakah kita menunda untuk memiliki anak?"
Glek, Agya membeliak dengan bola mata yang melebar, dadanya terasa sesak kini.
"Menunda?"
"Ya menunda. Setidaknya sampai masalah dikeluargaku selesai."
"Kenapa? Bukankah dulu kau yang ingin segera memiliki anak dariku? Kenapa kau berubah?"
"Sayang, bukan seperti itu."
"Aku tak ingin menundanya." Agya melepas dekapan Dev lalu beranjak turun dari atas tempat tidur.
"Sayang. Dengarkan aku dulu." pinta Dev meraih handuk yang tersampir di atas kursi untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku tak ingin mendengar apapun Dev, aku tak akan mengabulkan permintaanmu." cetus Agya memakai kembali satu persatu pakaiannya.
"Kita tak memiliki pilihan lain. Aku tak ingin menyusahkanmu dengan keberadaan anak-anakku!"
"Menyusahkan? Aku tak pernah merasa disusahkan, aku yang menginginkan mereka. Aku bisa merawat mereka sekalipun tanpamu." Agya menyeka air matanya. Sial, kenapa air matanya harus terjatuh seperti ini!
Dev terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa agar Agya mau mengerti.
"Besok aku dan sekertaris Kim akan menjebak tuan Alden dengan berpura-pura membeli senjata ilegalnya, aku---."
"Lalu apa hubungannya dengan menunda untuk memiliki anak Dev!!" teriak Agya dengan air mata yang kembali bercucuran dari pelupuk matanya. Ia membenci situasi ini. "Jangan mendekatiku." cetus Agya saat Dev hendak berjalan ke arahnya.
Dev menghela napas, "Rencana itu belum sepenuhnya tersusun dengan baik, aku takut rencana itu gagal. Dan jika gagal, aku yang akan terjebak ke dalam rencanaku sendiri. Tuan Alden bisa memutar balikan keadaan dan menunduhku atas kepemilikan senjata ilegal itu. Aku bisa mendekam ke dalam penjara seumur hidup. Untuk itu aku ingin kita menunda memiliki anak karena aku tak ingin kau yang merawatnya seorang diri. Aku mencintaimu Agya, aku sangat mencintaimu."
"Hahah." Agya terbahak disela-sela tangisnya, "Kau bilang kau mencintaiku? Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiranmu Dev. Kenapa kau berani melakukan rencana yang belum sepenuhnya tersusun dengan baik? Kenapa kau mengambil resiko sebesar itu? Kau ingin meninggalkanku dan rela berada di dalam penjara seumur hidupmu. Itu yang katanya cinta?! Aku tak melihat sedikitpun cinta darimu. Kau tak benar-benar mencintaiku, brengsek!"
"Kau tak percaya dengan cintaku?"
"Yaaa. Aku sangat tidak percaya dengan cintamu. Jika kau benar mencintaiku, kau tak akan membiarkan rencanamu gagal bukan? Kau tak akan memasrahkan dirimu untuk masuk ke dalam penjara dengan cuma-cuma. Dan yaa, kau pria pengecut, kau belum melakukan rencanamu tapi kau sudah merasa gagal. Dimana Dev pemberani yang aku kenal dulu? Pria yang selalu menindas lawannya. Kenapa aku tak menemukannya lagi dalam dirimu? Dan lihatlah sekarang, dia sudah berubah menjadi pria pecundang Hahah."
"Agyaaa." Dev menggepalkan tangannya, tak terima dirinya dihina seperti ini. Namun ia tak bisa membantah apapun, ucapan Agya ada benarnya. Ah sial, kenapa ia menjadi pria paranoid seperti ini?
"Kenapa? Kau tak terima?" Agya mengusap air matanya seraya tersenyum meledek.
"Yaa. Aku tak terima, aku akan membuktikan padamu jika rencanaku kali ini tak akan gagal seperti rencanaku sebelum-sebelumnya."
"Kau yakin? Apa kau bisa menjamin itu untukku."
"Tentu saja!" seru Dev melingkarkan tangannya di pinggang Agya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya, "Aku pasti akan berhasil menghancurkan tuan Alden dan membuatkan anak kembar untukmu."
"Aku tak percaya." ucap Agya menantang, ia hendak melepas tangan Dev dari tubuhnya namun pria itu malah semakin memeluknya dengan erat.
"Aku akan membuktikannya. Tunggulah." bisiknya dengan suara sangar tepat di telinga Agya, sebelum kemudian ia mengecup telinga wanita itu hingga membuat Agya merinding.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Jika kau berhasil, aku akan mendukungmu untuk membuat anak kembar. Mungkin kita dapat melakukannya setiap hari agar mendapatkan hasil yang baik."
"Dengan senang hati." Dev menyeringai, ia menangkup wajah Agya kini, mengusap sisa-sisa air mata wanita itu. "Maafkan aku."
"Tak akan kumaafkan sebelum rencanamu berhasil." ucap Agya mendorong tubuh Dev dan meloloskan tubuhnya dari cekalan pria itu.
"Sialan Agya. Akan ku buktikan padamu." Dev menarik salah satu sudut bibirnya, menatap Agya yang masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
.
Bersambungggg......