
"Ini berkas tambahannya tuan." ucap Teressa menyerahkan berkasnya yang ada di tangannya kepada Dev dengan sedikit berjongkok. Ia sengaja membusungkan dadanya untuk menarik perhatian Dev, namun sialnya Dev tak menatapnya sedikit saja.
"Keluarlah." pinta Dev.
"Aku?"
"Ya, keluarlah. Aku tak membutuhkan bantuanmu."
"Ehm, ba-baiklah." Dengan wajah yang memerah sekaligus menahan malu, Teressa langsung bergegas pergi dari sana, namun sebelum itu ia melemparkan tatapan tak terbaca pada Agya.
"Kau mau kemana?" Dev mengalihkan perhatiannya dari berkasnya tatkala Agya sudah berada di ujung pintu.
"Ehm, aku mau ke kantin untuk membeli kopi, apa kau mau juga?"
"Sejak kapan kau menyukai kopi?" Dev menutup berkasnya seraya beranjak dari duduknya. Melangkah ke arah Agya dengan tatapan dingin.
"I-itu, aku---."
"Kau mau mengejar Teressa?"
"Tidak."
"Jangan membuat keributan di kantor sayang, kau akan menjadi pusat perhatian karwayan di sini." ujarnya membelai lembut wajah Agya lalu mengecupnya, "Aku akan memecatnya setelah tender ini berhasil. Tak perlu membuang tenaga untuk meladeninya."
"Kau janji?"
"Hm. Ayo duduklah." ujar Dev meraih berkas yang ada di atas meja. Lalu ikut mendaratkan tubuhnya di sofa, tepat di samping Agya.
"Semalam mami menghubungiku, mami sudah mendaftarkanmu di kelas kehamilan. Mulai besok kau akan mengikuti kelas itu."
"Kelas kehamilan? Kenapa mami tak membicarakannya dulu denganku? Jika aku mengikuti kelas kehamilan, aku tak bisa mengikutimu ke kantor."
"Kelas kehamilan tidak setiap hari. Hanya 3 kali dalam seminggu, dan 4 hari berikutnya kau bisa menemaniku di kantor atau beristirahat di rumah."
"Hm. Baiklah." Agya menjawab singkat seraya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Mencari tempat yang sekiranya cocok untuk memajang foto pernikahan mereka di ruang kerja suaminya itu.
"Apa yang kau lihat?" Dev mengikuti arah pandang istrinya dengan dahi yang berkerut dalam.
"Ehm. Aku memiliki hadiah untukmu."
"Hadiah?"
"Iyaa. Tunggu sebentar." Agya meraih tasnya lalu mengeluarkan dua bingkai foto pernikahan yang ia bawa dari rumah.
"Surprisee." ucapnya tersenyum, "Aku akan meletakan foto pernikahan kita di ruang kerjamu, agar tak ada satupun wanita yang berani menggodamu."
Agya beranjak dari duduknya, meletakan satu bingkai foto di atas meja kerja Dev, dan satu lagi di dekat rak buku.
Sementara Dev, ia hanya menggeleng-geleng kepalanya seraya tersenyum melihat tingkah Agya yang ada-ada saja.
"Jauh lebih indah dari sebelumnya bukan. Apa aku harus menyimpan beberapa foto lagi? Termaksud di depan pintu?" tanyanya pada Dev.
Sontak Dev langsung terbahak, secepat kilat ia menarik tubuh Agya hingga wanita itu terjatuh di atas pangkuannya.
Cup
"Kenapa kau cemburu pada mereka hm?" tanya Dev tak melepaskan bibirnya dari wajah Agya.
"Karena mereka jauh lebih seksi dariku Dev. Aku takut kau tergoda."
"Kau tak percaya padaku?" Agya mengangguk polos.
Pletak
"Aww." pekik Agya tatakala Dev menyentil dahinya, "Sakit tau." gerutunya dengan bibir yang mengerucut. Ia mengusap dahinya yang terasa perih.
"Masih tak percaya padaku?"
"Sedikit."
"Shittt, Gyaa." umpat Dev kesal, bagaimana bisa Agya meragukan cintanya dan tak percaya padanya?
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Aku tak akan membiarkan siapapun berhasil masuk dalam hubungan kita. Aku bisa menjaga diriku. Kenapa kau masih tak mempercayaiku!"
"Ah, lupakan saja." ucap Agya beranjak turun dari pangkuan Dev.
"Aku sangat lapar."
"Baiklah. Kita akan makan di kantin, papa pasti sudah menunggu kita di sana."
"Dan Teressa?"
"Jangan membahasnya lagi Gyaa." seru Dev beranjak berdiri, meletakan berkas-berkas yang ia periksa sejak tadi di atas meja kerjanya. Sebelum kemudian ia memusatkan perhatiannya pada Agya kini.
"Kita akan bersama wanita itu seharian penuh. Jangan mencoba membuat keributan dengannya."
"Aku tak berjanji." gumam Agya dalam hati. Ya, ia tak bisa berjanji untuk tidak membuat keributan dengan Teressa. Mana mungkin ia akan diam saja disaat wanita lain berusaha mengambil perhatian suaminya, bahkan memamerkan tubuh mereka di depan suaminya. Setidak berharga itukah mereka?
***
Setibanya di kantin, wajah Agya langsung berubah masam tatkala melihat keberadaan Teressa yang sudah duduk di samping papa mertuanya.
"Sayang. Ayo." ajak Dev, melingkarkan tangannya di pinggang Agya. Saat ini, mereka sedang menjadi pusat perhatian karyawan Wilantara Group. Pasalnya, hari ini untuk pertama kalinya, Dev menginjakan kakinya di kantin selama perusahaan itu dibangun.
"Ehm." Agya berdehem, ia mencoba mengulaskan senyuman hangat di bibirnya untuk membalas senyuman beberapa karyawan yang tersenyum ke arahnya.
"Silahkan duduk nak." ujar tuan Andhito menarik kursi untuk diduduki oleh Agya.
"Terima kasih Pa."
"Duduklah sayang." Agya mengangguk, ia segera mendaratkan tubuhnya di kursi, dan sialnya kursi yang didudukinya kini berhadapan langsung dengan kursi yang di duduki Teressa.
"Kau ingin makan apa nak?" tuan Andhito menyodorkan buku menu di hadapan Agya. "Semua makanan di sini sangat lezat, kau bisa mencoba semuanya jika mau."
"Apa saja pa."
"Kentang, udang balado, dan jus alpukat." sahut Dev.
"Bukankah kau tak suka jus alpukat?" Agya menoleh ke arah Dev dengan dahi yang berkerut dalam.
"Tuan Dev sangat menyukai jus alpukat nona Agya. Bagaimana kau bisa tak tahu dengan kesukaan suamimu." Tak ada yang mengajak Teressa berbicara, namun wanita itu tiba-tiba menyahut, hingga mengalihkan perhatian Agya.
"Tahu apa kau tentang kesukaan suamiku? Aku jauh mengenalnya dibanding dirimu!"
"Gyaa." Dev mengusap lengan Agya, berusaha menenangkan istrinya yang sudah menatap Teressa dengan tatapan garang. Ibarat macan yang telah siap menerkam mangsanya.
"Ini waktunya untuk makan bukan berdebat." seru Tuan Andhito.
Seketika Agya dan Teressa langsung terdiam, keduanya sibuk menatap hidangan mereka yang baru saja disajikan oleh waiters.
"Aku akan menyuapimu." Dev mengambil alih makanan Agya seraya memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah istrinya tersebut. Ia sendiri tidak berselera makan karena masih merasa mual.
Agya bergeming, matanya terpejam singkat berusaha mencegah air matanya yang hendak menetes. Sejak kapan Dev menyukai jus alpukat? Dan wanita itu, sejak kapan ia mengetahui apa yang disukai dan tak disukai Dev?
"Sayang, makanlah." ujar Dev menyodorkan sesuap makanan di mulut Agya. "Kau harus makan yang banyak karena bayi-bayi kita membutuhkan nutrisi yang banyak juga."
Agya mengangguk, ia menerima suapan makanan dari suaminya itu, seraya melirik singkat ke arah Teressa yang ternyata sedang mentapnya.
"Untuk hari ini aku akan memaafkanmu Teressa. Tapi setelahnya, aku tak akan tinggal diam. Aku tak akan membiarkan kau mendekati suamiku." gumam Agya dalam hati. Tatapan matanya semakin tajam, mengisyaratkan permusuhan yang begitu besar.
.
.
.
.
Bersambung.....