
Sudah hampir dua jam Dev berjibaku dengan komputer lipatnya, memeriksa laporan sekaligus saham perusahannya yang mengalami penurunan karena gagal memenangkan tender yang dilakukannya di Jepang 2 hari lalu.
Dev berdecak seraya menutup komputer lipatnya dengan sedikit kasar, mengusap wajah dan juga rambutnya gusar. Menatap langit-langit kamarnya, sebelum kemudian ia memusatkan perhatiannya ke arah Agya yang masih tampak terlelap di atas ranjang.
"Kenapa dia masih belum bangun juga?" Beranjak berdiri kemudian melangkah menghampiri istrinya itu.
"Agyaa, bangunlah." Dev hendak meninggikan suaranya namun tertahan tatkala mengingat ucapan sekertaris Kim tadi untuk memperlakukan Agya dengan baik dan lembut. "Hah, sepertinya aku tidak sanggup melakukan itu. Tapi aku akan mencobanya." Ikut merebahkan tubuhnya di samping Agya, melingkarkan tangannya di pingangg wanita itu.
"Sayang? Apa aku akan memanggilnya sayang? Kenapa aku merasa begitu geli?" gumamnya mengukirkan seulas senyuman tipis di bibirnya.
"Sayang bangunlah." bisik Dev lembut tepat di telinga Agya. Napas pria itu menyapu kulit leher dan pipi Agya hingga membuat wanita itu menggeliat, namun belum bangun juga.
"Gyaa sayang." suara Dev semakin terdengar lembut, tangannya yang semula melingkar di pinggang Agya kini menelusup masuk di balik pakaian istrinya itu.
"Ahh." Tiba-tiba Agya melengu* kecil, matanya langsung terbuka lebar saat menyadari sebuah tangan yang cukup lebar sedang memainkan dua gundukan kenyal miliknya.
"Tu-tuan Dev apa yang kau lakukan?" Agya langsung tertegun sekaligus terkejut melihat tubuhnya yang sudah setengah telanjang, bajunya hilang entah kemana.
"Aku menagih janjimu." ucap Dev tersenyum menyeringai.
"Ja-janji? Janji apa? Aku tidak memiliki janji denganmu."
"Benarkah? Apa otakmu ini sudah tidak berfungsi lagi?" dengus Dev menyentil dahi Agya kuat.
"Ihhh sakit tahu." celoteh Agya mengusap dahinya. Menatap kesal wajah Dev yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Aku menangih janjimu untuk membuatkanku anak." ucap Dev tanpa basa basi.
"Ta-tapi tidak sekarang."
"Kenapa? Aku menangihnya sekarang!" cetusnya, "Aku menangihnya sekarang sayang." Dev mengulangi perkatannya dengan nada yang terdengar sedikit lembut, tangannya kembali bergerak memainkan dua gundukan kenyal milik Agya mencoba merangsang wanita itu.
"Sayang? Dia baru saja memanggilku sayang? Hah aneh sekali. Ada apa dengan dirinya?"
"Tu-tuan Dev, ini tidak benar. A-aku sedang datang bulan." ucap Agya menyilangkan kedua tangannya di dadanya seraya menggeser tubuhnya menjauh dari jangkau Dev mesu*. Ya sepertinya Dev memiliki julukan baru kali ini.
"Ah shittt." Dev mengumpat kesal, ia baru menyadari jika istrinya itu sedang datang bulan.
"Tu-tuan Dev--."
"Tetaplah seperti ini." ujar Dev menarik tubuh Agya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya, mengecup leher wanitanya itu seraya mengendus aroma tubuhnya, mencoba meredam rasa sakit pada tubuh bawahnya.
Tubuh Agya mendadak kaku, keringat dingin tampak bercucuran di dahinya. Merasa sedikit syok dengan perlakuan Dev hari ini, tidak hanya itu, ia baru menyadari jika dirinya berada di kandang macan gila itu sekarang.
"Kenapa kau berkeringat dingin seperti ini? Kau sakit?" tanya Dev menjauhkan kepalanya agar lebih leluasa menjangkau wajah istrinya itu.
Agya menggeleng pelan, "Seharusnya aku yang bertanya pada tuan. Apa tuan tidak salah minum obat? Sikap tuan sangat berbeda sekali hari ini."
"Kau memanggilku apa barusan?"
"Tuan." jawab Agya cepat.
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku seperti itu?!" ketusnya. "Mulai detik ini kau harus memanggilku sayang. Kau mengerti?!"
"Sayang? Untuk apa? Aku lebih suka memanggilmu tuan." ucap Agya, terlihat kebingungan terpancar di wajahnya. Merasa begitu aneh dengan sikap Dev hari ini, biasanya pria itu tidak mempermasalahkan panggilan untuknya namun hari ini dia marah-marah karena tidak ingin di panggil tuan.
"Berani sekali kau membantah ucapanku? Kau mau ku bunuh sekarang?!" seru Dev menindih dan mengunci tubuh Agya, pun tatapannya yang menghunus tajam.
"Ehm, ti-tidak. Ba-baiklah aku akan memanggilmu sayang." Agya berucap dengan begitu terbata-bata, sangat ketakutan melihat tatapan tajam Dev.
Dev yang menyadari ketakutan Agya pada dirinya, segera melepaskan tubuh istrinya itu lalu beranjak turun dari atas tempat tidur.
"Segera bersiap, kita akan pergi ke suatu tempat." ujarnya berlalu keluar dari kamarnya meninggalkan Agya yang mematung di tempatnya dengan bola mata yang melebar karena masih dirundung ketakutan dan juga keterkejutannya.
"Aahhh, siaal. Aku tidak bisa bersikap lembut padanya. Dia selalu membuatku kesal." sungut Dev menendang kursi yang ada di hadapannya seraya menghembuskan napasnya kasar. Bayang-bayang raut wajah ketakutan Agya tadi kembali memenuhi kepalanya.
"Apa wajahku terlihat garang seperti macan hingga dia begitu ketakutan?" gumamnya menatap pantulan wajahnya di cermin, menyipitkan kedua matanya, memerhatikan dengan teliti garis wajahnya tersebut.
"Kau di mana sekertaris Kim?"
"Saya sedang berada di kantor tuan." ucap sekertaris Kim, sesaat setelah menjawab panggilan telepon dari tuan mudanya tersebut.
"Hah baiklah."
"Ada apa tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Katakan yang sejujurnya padaku, apa menurutmu aku sangat tampan?" tanyanya, seketika kening sekertaris Kim langsung berkerut dalam, "Apa ini ada kaitannya dengan nona Agya? Apa nona Agya masih tidak mengakui ketampanan tuan Dev?" gumam sekertaris Kim dalam hati, untuk kesekian kalinya Dev kehilangan kepercayaan dirinya akan ketampanannya karena Agya.
"Kenapa kau diam saja?!" seru Dev kesal saat sekertarisnyan itu tidak meresponnya.
"Ehm, maaf tuan. Menurut saya tuan sangat tampan sekali."
"Kau tidak sedang berbohongkan."
"Tidak tuan, saya sudah berkata jujur."
"Aku masih belum percaya. Kau memiliki tugas baru sekarang!" ucap Dev, "Lakukan survey penelitian pada semua orang yang tinggal di kota Seoul, tanyakan pada mereka tentang ketampanan wajahku. Aku mau melihat berapa persen yang mengatakan aku tampan."
"Sudah kuduga tuan Dev akan menyuruhku melakukan tugas aneh ini." batin sekertaris Kim.
"Lihatlah nona Agya, tuan Dev menjadi idiot dan tidak percaya diri lagi karena nona Agya. Apa nona Agya sama sekali tidak menyadari jika memiliki suami setampan Mr. Dev yang menjadi incaran dan idola semua wanita." sambungnya dalam hati, merasa aneh juga juga dengan Agya. "Sepertinya nona Agya harus melakukan pemeriksaan mata."
"Sekertaris Kim!! Kau mendengarku!"
"Dengar tuan, akan saya lakukan survey penelitiannya sekarang."
"Bagus lakukan segera, aku mau hasilnya dalam 30 menit ke depan."
"Tu-tuan apa tuan tidak salah? Kota Seoul memiliki penduduk kurang lebih 10 juta jiwa 15% di anataranya anak-anak dan balita. Mana mungkin saya mendapatkan hasil survey hanya dalam 30 menit." ucap sekertaris Kim.
"Hah baiklah, aku memberimu waktu 2 jam."
"2 jam? Baik tuan." Sekertaris ingin melakukan aksi protesnya lagi namun terurungkan, takut suara menggelegar Dev merusak gendang telingnya.
"Lakukan dengan baik. Oh iya sekertaris Kim, segera siapkan apartemenku yang berada di Home Sweety, aku dan Agya akan berkunjung ke sana dalam satu jam kedepan."
"Baik tuan." ucap sekertaris Kim mengahiri sambungan teleponnya.
"Hah." Sekertaris Kim menghembuskan napasnya dengan kasar, belum selesai satu pekerjaannya namun ia harus mengerjakan pekerjaan lain.
"Panggil 100 ahli survey hari ini, dan segera temui aku di ruang meeting." ucapnya menekan earphone yang ada di telingnya, melangkah keluar dari ruangan kerjanya dengan langkah panjang.
"Baik tuan."
"Katakan pada para readers untuk ikut melakukan vote ketampanan Mr. Dev." ucap sekertaris Kim pada Author.
Author: Jangan lupa vote ketampanan Mr. Dev yaaahhh kak Readers biar Agya segera sadar kalau suaminya spek pangeran wkwkw
.
.
.
.
.
Bersambung...
Kelanjutannya nanti siang ya.