Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Penghianat



3 jam berlalu..


Dev dan Teressa sudah berada di Wings Hotel untuk melakukan tender besar yang dihadiri beberapa petinggi perusahaan besar yang ada di kota Seoul. Sedangkan Agya, ia tak ikut ke hotel, seusai makan tadi ia meminta izin pada Dev untuk ikut pulang bersama tuan Andhito. Tubuhnya terasa lelah, begitu juga dengan hati dan batinnya. Ia benar-benar kelelahan menghadapi sikap Teressa, namun bukan berarti ia membebaskan wanita itu dengan mudah. Ia akan kembali dengan tenaga yang lebih besar. Tunggulah.


"Nyonya. Apa nyonya memangil saya?" tanya Bi Noam yang baru saja masuk ke dalam kamar Agya.


"Ah, iya Bi. Apa bibi sedang sibuk?"


"Tidak nyonya."


"Baiklah. Bibi bisa menyiapkan makan malam di balroom? Aku ingin melakukan dinner romantis dengan suamiku." ujarnya, mengalihkan pandangannya dari pesan masuk yang dikirim Dev di ponselnya. Pesan masuk yang berisi kemenangan Dev atas tender besar di Wings hotel hari ini.


"Bisa nyonya. Saya akan menyiapkannya sekarang."


"Terima kasih Bi. Tapi tunggu sebentar, aku ingin membantu Bibi." Agya beranjak turun dari atas tempat tidur dengan sangat tergesah-gesah. Ia sudah tak sabar menyiapkan dinner romantis untuk merayakan kemenangan suaminya.


"Tapi nyonya, tuan Dev melarang kami---."


"Jangan beritahu Dev. Ini kejutan untuknya. Please." Agya memelaskan wajahnya berharap Bi Noam mengizinkannya untuk membantunya.


"Baiklah, tapi nyonya bisa segera beristirahat jika merasa lelah."


"Oke Bi." Agya merekahkan senyuman hangat di bibirnya, lalu mengikuti Bi Noam yang berjalan mendahuluinya.


**


Malampun tiba, terlihat Agya yang sibuk menata makanan dan juga lilin di atas meja yang berada di balroom, ia juga sudah terlihat cantik dengan dress selutut berwarna hitam yang menutupi tubuhnya yang tampak berisi.


"Kenapa Dev belum menghubungiku juga? Dia bahkan tak membalas pesanku." gumam Agya mendaratkan tubuhnya di kursi, tatapan matanya tak beralih dari ponselnya, menunggu Dev menghubunginya atau setidaknya membalas pesannya.


Beberapa detik kemudian, ponsel Agya berdering, tanda pesan masuk yang ia sangka dari Dev.


"Nomor tak dikenal?" Tanpa basa basi, Agya langsung membuka isi pesan tersebut yang tak lain adalah sebuah gambar yang menunjukan potret Dev, tuan Andhito dan nyonya Valerie yang sedang makan malam di sebuah restoran. Dan yang membuat dirinya terkejut adalah kahadiran Teressa di tengah-tengah keluarga Dev, bahkan wanita itu duduk tepat di samping Dev.


Deg


Agya menjatuhkan ponselnya, jantungnya terasa berhenti berdetak. Apa yang baru saja ia lihat? Dev dan keluarganya menghianatinya? Mereka makan malam bersama disaat dirinya menyiapkan dinner di rumah?


"Tidak." Agya menggeleng kepalanya bersamaan dengan air matanya yang menetes. Sekelebat rasa sakit menumpuk di dadanya kini, ia merasa dihianati sekaligus dibohongi oleh Dev dan keluarganya.


Dev yang bilang sendiri jika ia akan memecat Teressa setelah memenangkan tender, namun apa yang ia lihat sekarang? Dev dan keluarganya mengajak Teressa makan malam bersama untuk merayakan tender yang mereka menangkan.


Agya beranjak dari duduknya, lalu membawa tubuhnya meninggalkan balroom, terus melangkah hingga ke halamana rumah.


"Agya." Terdengar seseorang yang tengah memangil-manggilnya, namun Agya tak memerdulikannya lagi, ia terus berjalan dengan sisa-sisa tenaganya, membiarkan butiran salju dan dinginnya malam menjamah tubuhnya. Hingga di detik berikutnya, ia merasa kepalanya begitu berat, pun pandangannya yang perlahan memudar.


Terlihat seseorang menghampirinya dan langsung menggendong tubuhnya yang hampir terjatuh di jalan raya sebelum kemudian ia tak menyadari apapun lagi.


***


Pukul 11 malam, Dev yang baru saja pulang segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan langkah panjang. Namun langkah pria itu tiba-tiba terhenti tatkala melihat Bi noam dan para pelayan lain berdiri di ruang tamu dengan wajah yang tertunduk dalam.


"Kenapa kalian berkumpul di sini?" Kedua kening Dev berkerut dalam, menatap satu persatu para pelayan dan juga bodyguardnya, hingga tatapannya terhenti pada Bi Noam.


"Nyonya--."


"Berbicaralah dengan jelas Bi!!"


"Nyonya Agya menghilang tuan."


"Menghilang? Apa maksud Bibi?!" kedua bola mata Dev menajam, ia kembali meminta penjelasan kepada Bi Noam.


"Nyonya Agya tak ada di rumah, kami sudah mencarinya seluruh sudut rumah, namun kami tak menemukannya tuan."


"Apa?" Dev membulatkan matanya, "Sejak kapan dia menghilang? Dimana tempat terakhir dia pergi Bi?!"


"Terakhir nyonya Agya berada di balroom, dan menunggu tuan untuk makan malam bersamanya di sana jam 8 tadi tuan."


"Jam 8? Kenapa kalian baru memberitahuku sekarang?!" teriak Dev, menatap tajam satu persatu bodyguardnya. Wajahnya memerah, pun jantungnya yang berdebar dua kali lebih cepat.


"Cari istriku sekarang!! Aku akan melenyapkan kalian jika istriku tak kalian temukan!" serunya meninggikan suaranya. Sebelum kemudian ia merogoh ponselnya untuk menghubungi Agya seraya berlari ke arah balroom, berharap Agya masih menunggunya di sana.


Namun....


Saat tiba di balroom, Dev tak menemukan siapapun, yang ada hanya dua lilin yang masih memancarkan cahaya, menyinari berbagai hidangan yang tersaji di atas meja.


Pun sebuah ponsel yang tergeletak di bawah meja yang sedari tadi tak berhenti berdering, kini menjadi pusat perhatian Dev.


"Agya." Dev mengedarkan pandangannya, berharap semua ini hanya mimpi. Agya pasti masih berada di sana dan menunggunya. Namun sekali lagi Dev harus menelan pill pahit, ia merasa Agya benar-benar sudah pergi meninggalkannya, dan yang menjadi alasan utama wanita itu adalah sebuah foto yang kini ditatap oleh Dev tanpa berkedip.


"Shittt." Dev mengumpat seraya mencengkram ponsel Agya yang kini berada di tangannya. "Siapa yang mengirimkan gambar sialan ini pada Agya?!" sungutnya melempar ponsel tersebut ke atas tanah.


"Periksa semua CCTV yang ada di dalam maupun di luar rumah. Istriku pasti masih berada di sekitaran sini." seru Dev pada bodyguardnya yang baru saja menghampirinya di balroom.


Tak butuh waktu lama, bodyguard Dev berhasil menemukan keberadaan terakhir Agya. Ia dan Dev menatap dengan seksama layar komputer yang menunjukan posisi Agya yang berada di halaman utama pukul 8.25 pm. Terlihat wanita itu berjalan keluar pagar dengan tubuh yang sempoyongan bahkan tubuhnya hampir terjatuh ke jalan raya jika seseorang tak menahannya.


"Siapa pria itu?" Sorot mata Dev kini tertuju pada pria yang wajahnya tak begitu jelas sedang menggendong tubuh Agya dan memindahkanmya ke dalam mobil.


"Segera cari tahu pemilik mobil itu. Beraninya dia membawa kabur istriku!" Dev menggertakan giginya, pun rahangnya yang ikut mengeras. Sebelum kemudian ia mengusap wajahnya gusar.


"Shittt, Agyaaaa." teriaknya memukul komputer yang ada di hadapannya, hingga komputer tersebut jatuh berserakan di atas lantai.


Dev meninggalkan ruang CCTV itu dengan amarah yang meledak-ledak, dan melampiaskannya pada setiap barang yang menghalangi jalannya. Tidak, Agya tak boleh pergi darinya. Wanita itu tak boleh meninggalkannya. Ia mengaku salah, seharusnya ia pulang ke rumah dan makan malam bersama istrinya. Bukan bersama mama, papa dan Teressa, wanita sialan yang berhasil membujuknya dengan raut wajah memelasnya


.


.


.


.


Bersambung....