Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Pria aneh



Beberapa menit berlalu, Agya masih betah berada dalam pelukan Dev, merasakan kehangatan tubuh suaminya yang terasa nyaman, namun tiba-tiba suara ringisan kecil keluar dari mulutnya saat hantaman rasa sakit kembali menggerogoti perutnya.


"Ada apa?" Dev melonggarkan pelukannya, menatap wajah Agya yang tampak menahan sakit.


"Perutku.."


"Kau tidak sedang membohongiku lagi kan." seloroh Dev, telihat tidak percaya dengan rasa sakit yang di keluhkan istrinya.


"Tidak, awww." Mata Agya terpejam singkat tak tahan dengan rasa sakit yang berkali-kali menghantam perut bawahnya, menjatuhkan tubuhnya di lantai saat rasa sakit itu kembali menjalar ke pinggang dan juga dadanya.


"Perutmu benar-benar sakit?" Wajah Dev berubah panik, buru-buru ia menggendong tubuh istrinya itu dan memindahkannya ke atas sofa yang berada di samping mereka.


"Di bagian mana yang sakit? Apa sakit sekali?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Dev, wajahnya semakin terlihat panik saat Agya memekik hebat.


"Ahhh, perutkuuu.." Agya kembali memejamkan matanya bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari kedua pelupuk matanya, benar-benar kesakitan bahkan ia merasakan darahnya semakin mengalir deras di bawah sana.


Melihat Agya seperti itu membuat Dev kalang kabut, bingung harus berbuat apa.


"Kau mau apa?" Mata Agya terbuka lebar, merasakan sentuhan tangan Dev yang mencoba membuka bajunya.


"Diamlah!" cetus Dev, kembali melanjutkan niatnya, menyingkap baju istrinya itu lalu mendaratkan kecupan-kecupan hangat di perut Agya, berharap dengan melakukan itu dapat menghilangkan rasa sakit yang dirasakan istrinya.


Agya membelalak, antara terkejut dan ingin tertawa melihat aksi aneh suaminya tersebut.


"Apa masih sakit?" Dev mengangkat kepalanya, menatap wajah Agya yang juga menatapnya.


Agya mengangguk seraya mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan tawanya saat melihat wajah polos Dev yang tengah dirundung kepanikan. "Ahh, kenapa semakin terasa sakit?"


"Benarkah? Apa sakit sekali? Baiklah, akan ku cium kembali sampai benar-benar sembuh." ujar Dev, menyingkap baju Agya lagi, lalu kembali mengecup-ngecup perutnya seraya mengusap-usap pinggang belakangnya.


"Hahaha." Tak tahan tawa Agya terlepas begitu saja, merasa geli dengan kecupan yang dibenamkan oleh Dev.


"Kenapa kau tertawa? Kau mengerjaiku?" Dev beranjak dari duduknya, wajahnya yang semula panik kini berubah menjadi dingin.


"Ehm, ti-tidak. Aku tidak mengerjaimu, perutku benar-benar sakit. Sungguh." Agya mengacungkan dua jarinya, perutnya benar-benar sakit. Tidak berniat atapun bermaksud mengerjai suaminya itu.


"Lalu kenapa kau tertawa? Perutmu sakit karena kau mengonsumsi pil kontrasepsi itu? Bagaimana jika pil itu bebahaya untukmu? Bagaimana jika kau mati karena mengonsumi pil itu?" Mode emosi Dev kembali membuncah hingga membuat Agya menghela napas. Menarik tangan suaminya itu untuk duduk di sofa tepat di sampingnya.


"Apa kau mencemaskanku?" tanya Agya menyandarkan kepalanya di bahu Dev seraya mengusap dada bidang suaminya itu lembut.


"Tidak, aku sama sekali tidak mencemaskanmu." Dev menangkap tangan nakal Agya saat gejolak panas tiba-tiba memenuhi tubuhnya.


"Benarkah? Lalu kenapa kau masih merasa kesal dengan pil kontrasepsi itu? Bukankah aku harus mengonsumsi pil itu agar tidak---."


"Aku menginginkan anak darimu!!" Dev memotong ucapan Agya seraya menoleh ke arah wanita itu, pun tatapan matanya yang tampak menghunus tajam.


"Sangat ingin?" tanya Agya menatap lekat kedua manik mata coklat milik Dev. Seolah sedang mencari sesuatu di dalam sana.


"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan barusan!!" dengus Dev.


"I-iyaa, aku mendengarnya. Apa kau bisa bicara tanpa emosi? Wajahmu terlihat semakin tua jika terus seperti ini."


"Kau mengataiku tua!!"


"Hah astaga." Agya kembali menghela napas panjang, seraya memejamkan matanya saat rasa sakit di perutnya kembali berkedut. Namun sebisanya ia tahan, karena ingin memanfaatkan suasana ini dengan mengajukan beberapa kesepakatan dengan suaminya itu.


"Apa kau sangat menginginkan anak dariku?" tanya Agya lagi, kembali ke pembahasan awal mereka.


Dev mengangguk pelan, terpancar binar penuh harap di wajahnya dan Agya bisa membaca itu.


"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu termaksud memiliki anak dariku, tapi ada beberapa syarat yang harus kau penuhi."


"Syarat? Berani sekali kau mengajukan syarat padaku!!" cetus Dev.


"Dengarkan aku dulu." Agya berucap tak kala cetusnya, benar-benar sangat kewalahan menghadapi sikap keras kepala dan emosian suaminya.


"Aku akan memberikan anak untukmu, asal kau berjanji untuk memenuhi semua kebutuhan finansial maupun kebutuhan lainnya. Jika syarat itu bisa kau penuhi aku juga akan berjanji akan menyerahkan hak asuh anak itu sepenuhnya padamu saat kita berpisah nanti." tutur Agya, dadanya terasa sesak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Berpisah? Siapa yang menyuruhmu berpisah dariku? Kau dan aku akan merawat anak itu bersama-sama. Kau mengerti!!"


"Ma-maksudmu, aku boleh melihat dan merawat anak kita sekalipun kita sudah berpisah?"


"Hah menyebalkan. Lupakan saja, aku sudah tidak menginginkannya lagi." seru Dev beranjak dari duduknya.


"Segera bersiap, kita akan meninggalkan rumah ini dalam 10 menit ke depan." ujarnya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Aneh sekali. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya, dia yang mengatakan akan berpisah dariku setelah puas dengan kinerjaku tapi sekarang dia bertanya siapa yang menyuruhku berpisah dengannya, dasar pria aneh, gila, dan amnesiaa." gerutu Agya, merebahkan tubuhnya di sofa, begitu enggan meninggalkan rumah nenek Gamri yang sudah membuatnya nyaman.


"Kenapa kau belum bersiap hm? Apa perutmu masih sakit?" tanya Dev keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih tampak basah. Melangkah ke arahnya dengan raut wajah tak terbaca.


Agya mengangguk, "Ada apa dengan dirinya, kenapa dia tiba-tiba melunak dan berbicara selembut itu?" gumamnya dalam hati. Merasa sangat aneh dengan perubahan sikap Dev, "Apa dia kerasukan jin yang berada di kamar mandi?"


"Eh, tu-tuan Dev, a-aku bisa berjalan sendiri." ucap Agya saat Dev tiba-tiba menggendongnya.


"Bukankah perutmu sedang sakit? Kau tidak bisa berjalan dalam keadaan sakit." Dev menjawab seraya menatap lekat wajah Agya, seulas senyuman hangat tampak merekah lebar di bibirnya. Demi apapun, kedua mata Agya langsung melebar. "Di-dia baru saja tersenyum padaku? Astaga, aku semakin yakin jika dia keraskuan jin kamar mandi." gumam Agya mendekatkan telinganya di dada bidang Dev, bermaksud memeriksa detak jantung pria itu yang mungkin sudah menjadi sarang jin.


"Tuan Dev." Sekertaris membungkukan badannya singkat, menatap Dev yang baru saja keluar dari kamarnya, sebelum kemudian ia beralih menatap Agya yang berada di dalam gendongan Dev.


"Syukurlah, nona Agya baik-baik saja." gumamnya dalam hati, sesaat setelah memastikan tidak ada luka memar di tubuh nona mudanya itu. Ia pikir akan terjadi perang dunia 2 karena pil kontrasepsi itu.


"Apa nak Agya masih sakit?" tanya nenek Gamri berjalan tergopoh-gopoh ke arah Dev dan juga Agya.


"Istriku sudah baik-baik saja nek." ucap Dev dingin, menghunuskan tatapan bengis ke arah Darrel yang ternyata masih berada di sana.


"Tuan Dev, turu--."


"Diamlah! Dan jangan pernah menoleh!" bisik Dev penuh penekanan, semakin menyembunyikan wajah Agya di dada bidangnya.


"Oh syukurlah." ucap nenek Gamri mengembuskan napas legah. Sedangkan Darrel, pria itu terlihat berdiri di belakang neneknya, raut wajahnya terlihat begitu masam melihat Agya berada di dalam gendongan Dev.


"Nenek Gamri, aku akan membawa Agya pulang ke rumahku. Terima kasih sudah menampungnya di sini."


"Iyaa sama-sama nak. Lain kali kalau istrimu meminta es krim harus segera di turuti agar istrimu tidak kabur lagi dari rumah." ucap nenek Gamri tersenyum, mengingat perkataan Dev kemarin malam padanya, tentang alasan Agya kabur dari rumah dan memilih bekerja di rumah nenek Gamri.


"Tuan Dev mengatakan itu pada nenek Gamri? Hah sungguh memalukan, padahal aku kabur bukan karena ice cream."


"Iyaa nek, istriku memang sangat nakal dan keras kepala. Padahal aku sudah membelikannya satu box ice cream di rumah."


"Bohong nek, bohong. Jangan pernah mempercayai ucapan macan gila ini." cerocos Agya dalam hati,


"Oh benarkah? Syukurlah. Jaga nak Agya baik-baik ya nak, jangan sia-siakan dia. Nak Agya anak yang sangat baik dan penyanyang." Terlihat raut sedih terpancar dari wajah nenek Gamri, ia sudah sangat menyayangi Agya namun biar bagaimanapun ia harus merelakan gadis itu untuk kembali tinggal bersama suaminya.


"Tentu saja aku akan menjaganya dengan sangat baik hingga tidak ada satu orangpun yang bisa merebutnya dariku." sindir Dev, melirik singkat ke arah Darrel.


"Tuan Dev, bisakah kau menurunkan aku? Aku ingin memeluk nenek Gamri sebentar saja."


"Tidak boleh!!" cetus Dev.


"Hiss, jahat sekali." celetuk Agya dengan bibir yang mengerucut tajam.


"Baiklah, aku memberimu waktu dua menit. Tapi ingat kau tidak boleh melirik ke arah pria brengsek itu."


"Iyaa, aku janji." ucap Agya, seketika Dev langsung menurunkan tubuh istrinya itu dari gendongannya.


"Nenek Gamri." Agya masuk ke dalam pelukan nenek Gamri, mengecup pipi wanita paru baya itu singkat. Menitihkan air matanya, sungguh ia sudah sangay menyangi nenek Gamri. Menganggap nenek Gamri sebagai neneknya sendiri, ya walaupun ia masih memiliki nenek juga di Indonesia, namun neneknya itu sangat berbeda dengan nenek Gamri yang lebih terlihat calm.


"Siapkan mobilnya Kim."


"Baik tuan." ucap sekertaris Kim membungkukan badannya singkat lalu berlalu pergi dari sana.


"Sudah lebih dari dua menit." Dev menarik tubuh Agya agar mendekat ke arahnya, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu lalu mengecup wajahnya seraya melirik ke arah Darrel.


Tidak hanya itu, tanpa malu Dev mengecup bibir Agya singkat, seolah memberitahu pada Darrel jika Agya adalah wanitanya dan hanya menjadi miliknya.


Bak terbakar api cemburu, Darrel langsung berlalu pergi dari sana dengan kedua tangan yang menggepal kuat. Sedangkan Agya, wanita itu sangat terkejut menerima perlakuan itu dari Dev.


"Kita berangkat sekarang." ujar Dev.


Agya mengangguk, kembali berpamitan kepada nenek Gamri dengan membungkukan badannya singkat, sebelum kemudian mereka berlalu pergi dari sana.


"Biarkan mereka hidup bahagian nak."


"Tidak nek, Agya mencintaiku dan aku juga mencintainya. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Agya hanya akan hidup bahagia bersamaku." seru Darrel menatap neneknya yang berdiri di dekat pintu.


"Apa nenek tidak melihat wajah tertekan Agya? Dia sangat terpaksa menikahi Dev bajingan itu. Pria itu juga membohongi nenek."


"Nak, nenek sudah sangat berpengalaman dalam hidup. Nenek yakin Dev sangat mencintai Agya, hanya saja dia belum menyadarinya."


"Tapi tidak dengan Agya. Agya masih mencintaiku."


"Nak, sudahlah. Biarkan mereka menjalani dunianya."


"Jadi nenek berpihak pada pria bajingan itu dibanding cucu nenek?" seru Darrel kesal.


"Nenek tidak berpihak pada siapapun, nenek hanya ingin kau tidak merasakan sakit hati jika suatu hari nanti Agya dan Dev sudah saling jatuh cinta."


"Hah terserah nenek saja, aku akan tetap memperjuangkan cintaku." Keputusan yang diambil oleh Darrel sudah sangat bulat, ia yakin Agya masih mencintainya. Ia juga merasa jika Dev yang memaksa Agya untuk melakukan hubungan suami istri.


.


.


.


.


.


Bersambung...