
Pagi menyambut, terlihat butiran salju yang mulai berjatuhan dari langit, menyentuh bumi yang hanya ditemuinya selama empat bulan, menutupi dedaunan dengan bentuk ukirannya yang sangat indah. Yaa, musim dingin telah tiba tepat di bulan kelahiran Dev.
Terlihat orang-orang yang sudah menyambut pagi dengan melakuan rutinitas seperti biasanya, jaket tebal dan syalpun tak luput menemani aktifitas mereka. Pagi itu udara benar-benar terasa sangat dingin, namun tidak bagi Agya dan Dev. Sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu masih tertidur dengan begitu pulasnya. Pun Dev yang tampak bertelanjang dada sembari mendekap tubuh mungil Agya. Keduanya benar-benar tertidur pulas hingga tak sadar dengan suasana di sekitar mereka, bahkan mereka sama sekali tak menyadari kehadiran orang tua mereka di ruangan itu.
"Astaga Dev." Nyonya Valerie yang baru saja melangkah masuk ke ruang rawat Agya dibuat terkejut akan penampilan Dev, pria itu bertelanjang dada. Oh Dev tak mengindahkan saran dokter Chyntia? Mereka masih nekat berhubungan?
"Lihatlah menantumu Inayah, Istrinya sedang sakit tapi dia masih meminta jatahnya? Bahkan pintupun tak mereka kunci." Berkali-kali nyonya Valerie menggeleng-geleng kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan Dev.
"Valerie, sepertinya kita masuk di waktu yang salah. Mereka masih tidur." ucap Nyonya Inaya menoleh ke arah besannya.
"Tidak. Kita tunggui saja disini, aku ingin menjewer telinga Dev. Dia benar-benar sudah tidak waras, dia ingin kehilangan anaknya. Kenapa dia tidak menahan birah*nya sampai Agya benar-benar sembuh, memalukan sekali." celoteh Nyonya Valerie dengan suara yang melengking hingga membangunkan Dev dari tidurnya.
Pria itu tampak mengerjab-ngerjabkan matanya, mencoba mengusir rasa kantuknya. Yang benar saja, ia baru tertidur satu jam yang lalu.
"Mami." Dev langsung beranjak duduk tatkala melihat mertuanya dan ibunya yang sudah berada di sana.
"Dev apaa-apaan ini. Kau benar-benar sudah tidak waras, kau tak membiarkan istrimu beristirahat, dalam keadaan sakitpun kau memaksanya untuk melayanimu? Astaga."
"Memaksanya melayaniku? Apa maksud mami?" Dev mengerutkan dahinya, ia baru saja bangun namun sudah diceramahi sepagi ini.
"Yaaa, lihatlah tampilanmu. Kau pasti memaksa Agya untuk melayanimu!"
"Oh astagaa." dengus Dev, beranjak turun dari ranjang namun sebelum itu ia mendaratkan kecupan hangat di kening Agya yang masih terlelap.
"Mami telah salah paham." sambungnya.
"Salah paham? Jelas-jelas kau tak memakai---"
"Bisakah Mami berbicara lebih pelan, istriku baru saja tertidur." gerutu Dev.
"Bagaimana keadaan Agya sekarang nak?" kini nyonya Inaya yang bersuara, ia melangkahkan kakinya ke arah ranjang tepat di sisi Agya. Menatap lekat wajah anak sulungnya yang terlihat semakin pucat dan tak bertenaga.
"Ehm, semalam Agya kembali mual dan muntah, dia juga memuntahkan pakaianku itu sebabnya aku melepaskannya, dan terlihat tak berharga seperti ini di hadapan Mamiku."
"Oh, mami pikir kau--."
"Aku tak sebejad itu Ma, aku tak mungkin menyakiti istriku, aku sangat mencintainya."
"Syukurlah kau masih sedikit waras."
"Hah." Dev menghela napas singkat, percuma berdebat dengan maminya, tak akan berujung.
"Ehm, Ma. Apakah mual dan muntah hal yang wajar untuk wanita hamil? Sampai kapan istriku akan mengalami ini? Aku tak tega melihatnya muntah terus-terusan seperti semalam. Tidurnya juga terganggu karena itu." ucap Dev mengalihkan perhatiannya pada Agya kini. Sungguh, semalam ia benar-benar tak tega melihat Agya, rasanya ia ingin menggantikan posisi istrinya itu.
"Semua wanita hamil akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Agya sekarang dan itu adalah hal yang normal." imbuh nyonya Inaya.
"Benarkah? Apa mereka akan terus mual dan muntah selama 9 bulan? Apa itu tidak melelahkan? Apa Agya akan terus kesakitan selama itu?"
"Hahaha. Astaga." Nyonya Valerie terbahak, menertawakan kebodohan anaknya yang begitu paranoid.
"Tentu saja tidak Dev, mual dan muntah hanya akan terjadi di tiga bulan pertama."
"Tiga bulan, ah lama sekali. Apakah kita tidak bisa melakukan sesuatu agar Agya tak merasakan hal itu? Mungkin dengan memberinya obat atau semacamnya."
"Adaa nak, apa dokter kandungan yang memeriksa Agya belum memberinya obat dan vitamin?" tanya nyinya Inayah.
Dev menggeleng, ia tak tahu perkara obat-obatan itu.
"Ah astaga, Chyntia sudah memberikannya pada mami semalam, tapi mami lupa memberikannnya padamu."
"Mami." seru Dev menatap maminya kesal.
"Maklum saja Mami sudah tua dan sering lupa, kau juga tak bertanya pada Mami."
"Hah astagaa." Lagi Dev hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat melawan maminya yang sama sekali tak mau kalah.
**
Tak berselang lama, Tuan Andhito dan Tuan Darwin masuk ke dalam ruang rawat Agya diikuti oleh sekertaris Kim yang membawa paperbag berisi pakaian Dev.
"Papa." ucap Dev menghampiri papa mertuanya lalu memeluk pria setengah baya itu singkat.
"Bagaimana kabarmu nak?"
"Syukurlah. Selamat nak, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Apa kau sudah siap?"
"Sangat siap."
"Jagalah anak dan cucuk papa dengan baik, awas jika terjadi sesuatu yang buruk lagi pada mereka."
Glek.
Dev menelan salivanya dengan kasar, sejenak ia menatap papanya. Ah pasti pria tua itu telah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada mertuanya. Sial memang.
"Heheh, maaf pa. Kemarin aku tak sengaja."
"Tidak apa-apa." tuan Darwin tersenyum seraya menepuk-nepuk pelan bahu Dev.
"Silahkan duduk Pa, aku mau mengganti pakaianku dulu." ucap Dev kemudian, meraih paperbag yang disodorkan oleh sekertaris Kim.
"Bagaimana dengan penangkapan Jio semalam?" tanyanya pelan pada sekertaris Kim
"Gagal tuan, Jio melarikan diri lagi."
"Shitt. Kita belum sepenuhnya bebas jika pria brengsek itu belum ditangkap. Segera berikan pengawalan pribadi untuk mertuaku, aku ingin keselamatan mereka terjamin selama mereka berada di sini dan jaga privasi mereka. Satu lagi, lindungil Della, jangan sampai pria brengsek itu tahu jika Della masih hidup."
"Baik tuan."
"Lakukanlah dengan baik. Aku percayakan semuanya padamu." ucap Dev mengakhiri percakapannya dengan sekertaris Kim, lalu pria itu bergegas ke kamar mandi.
Breaking news
Alden Danedra resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kepemilikan senjata ilegal, tidak haya itu Alden Danedra juga terkuak sebagai dalang pembunuhan Huen Family. Saat ini Alden Danedra telah ditahan oleh marinir.
Tidak sampai disitu, kemarin senin 4 Desember pukul 8.30 pagi kasus malang kembali menimpah Alden Danedra. Anak sulungnya, nona Alenaa Valencia Madiason dikabarkan meninggal dunia, dibunuh oleh kekasihnya Jio Mozzi.
"What daebak. Ini sangat sulit dipercaya, selain berpacaran dengan Deva Wilantara, Alena juga menjalin hubungan gelap dengan pria lain?"
"Keluarga Danedra benar-benar sangat kontorversi."
"Alena meninggal dunia? Sungguh ini sangat mengejutkan."
"Kejahatan keluarga Danedra terhadap keluarga Wilantara benar-benar dibayar lunas. Tuhan melindungi keluarga mereka dari orang-orang jahat."
"Omooo, aku tak menyangkah Alenaa wanita yang sangat buruk. Bagaimana mungkin dia menjalin kasih dengan banyak pria."
"Tuhan benar-benar menghukumnya. Dia meninggal di tangan kekasih gelapnya."
Beragam komentar netizen kembali memenuhi sosial media. Saat ini, keluarga tuan Alden menjadi sorotan publik, banyak kasus-kasus kejahatan lainnya yang bermunculan.
"Aku masih tidak percaya jika kita pernah menjalin hubungan dengan keluarga Tuan Alden." Nyonya Valerie ikut mengomentari, ia menatap suaminya kini.
"Itu adalah kesalahan terbesar kita. Kita bahkan hampir menjadikan Dev korbannya." ucap tuan Andhito.
"Apa sebelumnya tuan Alden pria baik?"
"Yaa, awalnya kami pikir begitu Darwin, dia pandai menyembunyikan kejahatannya, itu sebabnya kami tak pernah tahu bahkan mencurigainyapun tidak."
"Tuhan masih melindungi kita."
.
.
.
.
.
.
Bersambungg..