Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Limited Edition



"Kau tahu apa alasanku bertemu denganmu Mrs. Belinda?" Kini Dev berada di dalam ruangan Mrs. Belinda yang menjabat sebagai ketua jurusan.


"Maaf Mr. Dev. Saya sama sekali tidak tahu apa tujuan anda kemari."


"Ah ya, apa sekertarisku tak memberitahumu?" Dev beranjak dari duduknya, pria itu tampak merogoh sesuatu dalam sakunya. Sebelum kemudian ia meletakan beberapa lembar foto di atas meja tepat di hadapan Mrs. Belinda.


"Berhentilah bermain dengan para brondong. Segera selesaikan tugas anda sebagai seorang dosen dan juga pembimbing. Kau sudah terlalu lama melarikan pekerjaanmu Mrs. Belinda."


Glekk,


Mrs. Belinda langsung terperangah kaget, ia meraih lembaran foto itu dan memerhatikannya satu persatu. Potret dirinya yang sedang tidur dengan beberapa pria muda dan salah satunya adalah kekasih Alenaa.


"Dari mana kau mendapatkan semua ini?"


"Wah wah, ternyata kau langsung mengakui jika itu dirimu? Kau mempermudah urusanku Mrs. Belinda." ucap Dev tersenyum miring, ia sangat puas melihat wajah terkejut Mrs. Belinda.


"Aku menerima pesan dari istriku jika kau akan datang di jam 11 siang nanti. Tapi nyatanya kau sudah berada di ruanganmu dari jam 8 pagi. Kenapa kau tidak mau menemui istriku Mrs. Belinda? Dia hanya membutuhkan bimbinganmu. Kenapa kau malah mempersulitnya!!"


"Istri?"


"Ya. Agya Artika Wardana adalah istriku, mahasiswi yang menjadi anak bimbinganmu. Bukankah dia sudah membuat janji denganmu pukul 8 pagi?! Tapi kau malah melarikan diri. Tak hanya itu, beberapa kali proposalnya di tolak olehmu. Padahal jika ku periksa proposal yang di buat istriku sudah sangat bagus, dia memiliki potensi yang luar biasa untuk mengembangkan administrasi sebuah perusahaan, tapi kenapa masih terus di tolak?! Aku semakin yakin jika kau tidak memeriksa proposal istriku dengan benar!" Emosi Dev memuncak, rasanya ia ingin meninju wajah Mrs. Belinda. Sangat tidak profesional sekali wanita tua ini.


"Ma-maaf Mr. Dev, aku lupa jika telah membuat janji."


"Lupa?" Dev menaikan salah satu alisnya seraya tersenyum miring, tak segan ia mendudukan tubuhnya di meja kerja Mrs. Belinda.


"Dengan mahasiswamu kau selalu lupa telah membuat janji? Lalu bagaimana dengan para brondongmu? Apa kau lupa juga?"


"Mr. Dev." Mrs. Belinda beranjak dari duduknya, kedua kakinya terlihat gemetar. Pun wajahnya yang semakin memucat.


"A-aku akan menyuruh asistenku untuk memanggil Agya ke sini."


"Tidak perlu." cegah Dev mengangkat salah satu tangannya.


"Panggillah setelah aku keluar dari ruangan ini." Dev beranjak dari duduknya seraya merapikan dasinya yang sedikit miring.


"Bekerjalah dengan baik Mrs. Belinda jika kau tak ingin reputasimu hancur. Aku tidak membenarkan perbuatan yang kau lakukan selama ini, tapi aku tak berhak ikut campur. Aku ke sini hanya ingin mencari keadilan untuk istriku dan juga mahasiswa lain. Mereka sudah banyak menghabiskan waktu menunggu anda di sini, sedangkan anda terus melarikan diri dari mereka dan bermain dengan para brondong itu."


"Ehm, iyaa Mr. Dev. Maafkan saya."


"Minta maaflah pada anak bimbinganmu." ujar Dev berlalu dari sana namun sebelum itu ia meminta sesuatu pada Mrs. Belinda.


*


Sementara itu, di luar ruang jurusan. Agya tampak *******-***** ujung bajunya. Ia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Pikirannya benar-benar kacau, ia takut Dev melakukan sesuatu yang buruk pada Mrs. Belinda. Meskipun ia tak tahu permasalahan apa yang terjadi antara suaminya itu dan Mrs. Belinda.


"Sayang, kau sudah---."


"Sekertaris Kim, kita pergi sekarang." ujar Dev memotong ucapan Agya, pria itu terus melangkahkan kakinya menjauh dari ruang jurusan tanpa menyapa ataupun menoleh pada Agya yang mengajaknya berbicara.


"Baik tuan." sekertaris Kim mengangguk, lalu ia mengekori Dev yang berjalan mendahuluinya.


"Dev." Agya hendak mengejar suaminya, namun suara seorang staf jurusan menghentikannya.


"Nona Agya. Mrs. Belinda menganggil anda, segeralah keruangannya."


"Ah, shitt." umpatnya dalam hati, sebelum kemudian ia memutar tubuhnya masuk ke dalam ruang jurusannya.


"Apa tidak ada jalan lain untuk keluar dari universitas ini? Aku tak ingin bertemu dengan wanita-wanita ganje* itu lagi, apalagi mendengar teriakan mereka." gerutu Dev pada sekertaris Kim.


"Tidak ada tuan. Tuan hanya cukup mengangkat kepala tuan dan berjalan tanpa menatap mereka."


"Mengangkat kepalaku kau bilang? Aku tak ingin mereka melihat ketampanan wajahku yang limited edition ini. Hanya istriku yang boleh menatap dan mengaguminya."


"Aku merindukan istriku. Dia tak bisa menemuiku jadi aku saja yang datang menemuinya."


"Menemui tapi tak menyapanya."


"Aku menyapanya, kau saja yang tidak mendengarnya. Ah yaa, kau tak bisa mendengarnya karena aku menggunakan bahasa kalbu."


"Bahasa kalbu?"


"Ya, bahasa kalbu seperti bahasa batin yang hanya bisa diketahui oleh dua orang yang saling mencintai."


"Memangnya nona Agya sudah mencintai tuan?"


Jleb.


Langkah kaki Dev langsung terhenti, "Sialan kau." dengusnya menendang kaki sekertaris Kim, namun tak membuat pria itu kesakitan.


"Sebentar lagi dia akan jatuh cinta padaku. Percayalah." ujar Dev menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Hei itu Mr. Dev. Dia sudah keluar dari fakultas." teriak salah satu wanita saat melihat Dev. Seketika, para wanita yang sudah menunggu di luar fakutlas sedari tadi itu kembali memenuhi dan memadati parkiran, mereka terlihat berdesak-desakan dan meneriaki nama Dev.


"Ya tuhan, dia terlihat begitu tampan. Aku ingin menjadikannya suamiku."


"Aaa Mr. Dev aku mencintaimu."


"Apakah kita tidak bisa mendekat? Jarak ini terlalu jauh bagiku. Aku ingin mencium aroma tubuhnya, dia pasti sangat wangi."


"Kau tak lihat sudah berapa banyak security yang berdiri di sampingnya? Mereka pasti tak akan membiarkan kita mendekat."


"Ah ya, kita tak perlu mendekat. Melihatnya dari jauh saja sudah membuat bira*iku memuncah."


"Hei sadarlah, dasar mesum."


"Uhhh, kenapa dia semakin hari semakin tampan? Sudah lama aku tak melihatnya, terkahir saat scandalnya yang tersebar beberapa minggu lalu."


"Iyaaa. Tapi scandal itu tak benar kan."


"Dev, I love youuu." teriak salah satu wanita hingga berhasil mengalihkan perhatian Dev.


"Berani sekali wanita itu menyatakan perasaannya saat Agya belum mengatakan cintanya padaku sama sekali." gerutu Dev, melirik wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam. Tapi tak membuat wanita itu ketakutan, ia malah semakin mengeraskan suaranya. Gila memang!


"Sekertaris Kim, beri pelajaran wanita itu. Bila perlu jahit saja mulutnya agar dia tak dapat meneriaki namaku dan menyatakan perasaannya lagi!" cerocos Dev memasukkan tubuhnya ke dalam mobil seusai sekertaris Kim membukakan pintu untuknya.


Sedangkan sekertaris Kim hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya, melihat sikap posesif Dev terhadap dirinya sendiri.


"Kami permisi dulu, terima kasih atas pengawalannya tuan." ucap sekertaris Kim pada beberapa security yang membantunya. Lalu ia ikut masuk ke dalan mobil tepatnya di kursi kemudi.


Saat hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba sekertaris Kim mengurungkan niatnya tatkala melihat Della yang baru saja keluar dari mobil milik Jio. Pria itu langsung memalingkan wajahnya saat Jio mengecup puncak kepala Della.


"Sekertaris Kim, apa yang kau lihat? Cepatlah, aku tak sanggup lagi berada di tempat ini."


"Ehm, ba-baik tuan."


"Mereka masih berhubungan baik? Apa video yang ku kirimkan pada Della tak cukup membuat wanita itu sadar jika kekasihnya bukanlah pria yang baik?" batin sekertaris Kim.


.


.


.


Bersambung..