
"Kenapa kau memaksa untuk melawan mereka jika kau tak bisa? Seharusnya kau mengalah dan tak perlu menemuiku. Lihatlah, wajah dan tubuhmu jadi dipenuhi luka seperti ini." celetuk Agya melepas kemeja yang dipakai oleh Dev dan meletakannya di atas sofa yang berada di kamarnya.
"Kau tak merindukanku?" tak ada pertanyaan lain yang ingin ditanyakan Dev, ia hanya ingin tahu kerinduan istrinya itu terhadapnya.
"Tentu saja."
"Lalu kenapa kau meninggalkanku selama ini? Apa aku terlalu mengecewakanmu?"
"Tak perlu membahasnya. Duduklah, aku akan mengobati lukamu." ujarnya hendak mendaratkan tubuhnya di sofa, namun Dev menahannya dengan memeluk pinggang wanita itu.
"Agya, luka terbesarku adalah dirimu. Aku ingin tahu kenapa kau meninggalkanku hingga berbulan-bulan?" Dev memindai kedua manik mata Agya, mencoba mencari sesuatu di dalam sana.
"Bukankah sudah jelas? Kau mengecewakanku untuk itu aku memilih pergi."
"Dengan Sean Luxor?"
Deg
Agya langsung melepas tangan Dev dari tubuhnya dan memilih untuk duduk di sofa.
"Aku tak ingin membahasnya Dev. Ayo duduklah, darah di pelipismu masih belum berhenti mengalir."
"Aku tak peduli dengan luka sialan ini Agya! Aku hanya ingin tau sekecewa apa kau terhadapku hingga kau memilih pergi dengan pria lain?" serunya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa panas.
"Kau tak akan mengerti Dev. Aku hanya ingin membiasakanmu hidup tanpaku."
"Apa maksudmu?" Dev mengerutkan dahinya, menetap lekat manik mata Agya. "Apa kau akan meninggalkanku lagi? Kenapa?!"
"Aku tak tahu." mata Agya terpejam singkat, ia mengalihkan pandangannya lalu menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes tanpa seizinnya. Ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk memberitahu Dev tentang penyakitnya, bahkan ia juga belum memberitahu kedua orang tuanya.
"Huh shittt." Dev menghembuskan napas kasar seraya menarik rambutnya ke belakang, rasanya ia ingin mengeluarkan semua amaranya namun tak ia lakukan.
Suara ketukan di pintu, mengalihkan perhatian Agya dan Dev. Keduanya menoleh saat nyonya Inayah melangkah masuk seraya membawa kotak P3K dan juga wadah berisi air hangat.
"Mama sudah mengobati sekertarismu, sekarang giliranmu nak." ucapnya meletakan bawaannya ke atas meja.
"Du-duduklah." Agya menarik lengan Dev, menuntun suaminya itu untuk duduk di sampingnya, dan ersikap seolah tak terjadi apapun.
"Sayang, bisakah kau membantu mama untuk membersihkan luka suamimu?"
"Ehm, bisa Ma. Mana yang harus ku bersihkan?" tanyanya meraih handuk kecil yang baru saja disodorkan oleh nyonya Inayah, sebelum kemudian ia beralih menatap penuh wajah Dev yang hampir dipenuhi goresan luka.
Dengan hati-hati, Agya membersihkan darah di wajah pria itu, matanya ikut terpejam saat Dev meringis kesakitan.
"Sakit?"
Dev mengangguk, menatap Agya dengan tatapan senduh, tak sedetikpun ia melepaskan pandangannya dari istrinya itu. Ia masih tak menyangka jika mereka akan berbagi udara yang sama lagi.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Dev disela-sela ringisannya.
"Ehm, apa bodyguard papa mencakar wajahmu? Kenapa mereka meletakan banyak bekas luka seperti ini?" Agya mengalihkan pembicaraan Dev, tangannya bergerak untuk menyentuh luka memar yang ada di pipi kanan pria itu.
"Luka di pelipismu cukup parah. Mama akan menjahitnya." ujar nyonya Inayah, meraih alat jahit yang telah ia siapkan sebelumnya.
Melihat jarum yang dipegang oleh mertuanya tersebut membuat Dev menelan salivanya dengan kasar, ia mengalihkan pandangannya ke arah Agya kini seraya menggeleng kepalanya, meminta pertolongan istrinya itu. Sumpah demi apapun, Dev sangat takut dengan benda kecil itu.
"Ada apa?" Agya mengerutkan dahinya, menatap Dev dengan tatapan kebingungan. Ia tak mengerti dengan raut wajah Dev yang tiba-tiba dipenuh ketakutan, bahkan pria itu sampai berkeringat dingin.
"Kau takut dengan jarum?"
Dev mengangguk cepat, "A-aku bukan takut, hanya saja aku tak bisa melihatnya." sangkalnya.
"Hahaha." seketika nyonya Inayah dan Agya terbahak, "Baiklah, jika kau tak mau dijahit. Mama akan mengobatinya saja dan menutupnya dengan kain kasa."
"Kau benar-benar takut dengan jarum?" Agya masih tak berhenti terbahak, air matanya sampai menetes karena menertawakan suaminya yang berbadan besar namun sangat takut dengan jarum kecil.
"Kau meledekku!" bukannya marah, Dev malah tersenyum, ia menangkup wajah Agya kini dan menatapnya dengan tatapan dalam. Sungguh ia sangat bahagia melihat kembali tawa istrinya setelah sekian lama.
"Aku mencintaimu." Dev kembali berucap. Ah rasanya ia ingin memeluk dan mengecup bibir ranum Agya, namun tak ia lakukan karena masih ada ibu mertuanya di sana.
"Jangan banyak bergerak dulu, darah di pelipismu belum berhenti mengalir." ujar nyonya Inayah, menempelkan kapas yang sudah dibaluri cairan berwarna merah di pelipis menantunya itu lalu melapisinya dengan kain kasa. Sebelum kemudian ia mengakhiri pengobatannya itu dan berlalu pergi dari sana.
Sepeninggalan nyonya Inayah, suasana di dalam kamar langsung berubah dingin dan mencekam.
"Ehm." Agya berdehem hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba Dev menarik tubuhnya dan menjatuhkannya di atas pangkuan pria itu, hingga hidung dan dahi mereka saling bertemu.
Terdengar hembusan napas Dev yang saling memburuh, menyapu wajah Agya.
"Apa kau tak mencintaiku lagi? Sejak tadi aku selalu mengungkap isi hatiku, tapi kau tak meresponku. Gyaa, apa Sean Luxor berhasil membuatmu jatuh cinta padanya? Apa selama 5 bulan ini kalian telah saling jatuh cinta?" Dev merendahkan suaranya, ia menatap manik mata Agya dengan tatapan frustasi.
Agya menggeleng, "A-aku juga sangat mencintaimu Dev." ucapnya melingkarkan tangannya di leher Dev. Sebelum kemudian, ia membenamkan bibirnya di bibir pria itu, mengecup dan meluma*nya dengan kasar, mengorek kenikmatan dari dalam sana. Kali ini Agya terlihat lebih eksplisit, ia terus meluma* bibir Dev dengan kenikmatannya, mengisi ruang yang sudah lama kering.
Sementara Dev, ia membalas ciuman itu dengan takkala brutalnya. Keduanya sama-sama haus akan kenikmatan.
"Ahhh." suara desa*an yang keluar dari mulut Agya membuat Dev semakin menggila, ia meluma* rakus mulut istrinya itu pun tangannya yang sudah berada di dalam pakaian Agya, mencari sesuatu yang sudah basah sedari tadi.
Namun didetik berikutnya, akal sehat Dev kembali. Perlahan ia menurunkan Agya dari pangkuannya seraya menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Kenapa?!" dengus Agya, ia yang hampir mencapai puncak dibuat kesal dengan Dev yang tiba-tiba menghentikan permainannya.
"Aku tak mau menyakiti bayi kita."
"Tapi mereka menginginkanmu!"
"Mereka atau kau? Jangan menjadikan anakku sebagai---."
"Aku yang mengingikanmu."
"Kau yakin?"
Agya mengangguk bersamaan dengan wajahnya yang memerah padam.
"Baiklah, mari lakukan dengan hati-hati." ujar Dev tersenyum. Dalam sekali gerakan ia berhasil mengangkat tubuh Agya ke dalam gendongannya lalu merebahkan wanita itu di atas ranjang.
.
.
.
.
Bersambung....