
Kata-kata yang diucapkan Dev semalam membuat Agya terus kepikiran. Sebenarnya ia juga ingin hidup lebih lama dengan pria itu namun apa yang bisa ia lakukan dengan kanker ganas yang dideritanya saat ini.
"Kau sudah siap?"
"Hm." Agya mengalihkan tatapannya ke arah Dev yang baru saja keluar dari walk in closet, seulas senyuman hangat ikut menyambutnya.
"Apa kau baik-baik saja? Bibirmu terlihat sangat pucat." ibu jari Dev bergerak megusap lembut bibir Agya yang pucat dan kering.
"I-iya, aku baik-baik saja."
"Baiklah. Kita berangkat sekarang." ujar Dev. Dalam sekali gerakan ia berhasil membawa tubuh Agya ke dalam gendongnnya.
"Dev turunkan aku, aku sangat berat."
"Tidak."
"Bukankah tanganmu sedang sakit? Kenapa kau malah menggendongku?"
"Sudah tak sakit lagi." jawab Dev seraya melangkah meninggalkan kamar mereka.
"Secepat itu? atau kau hanya berpura-pura sakit untuk menarik simpatiku?" Kini tatapan Agya berubah penuh selidik.
"Aku akan melakukan apapun agar kau selalu memerhatikanku."
"Hah dasar!" gerutu Agya, melingkarkan tangannya di leher Dev seraya menatap pria itu dengan tatapan dalam,
"Maafkan aku Dev." ucapnya dalam hati, ia segera mengalihkan tatapannya saat hendak bertemu pandang dengan Dev.
"Hari ini kita hanya akan jalan-jalan di taman lalu ke dokter Obgyn."
Agya mengangguk paham, sudah tak sabar untuk mengetahui kabar dua bayinya, namun di sisi lain ada ketakutan dalam dirinya. Ia takut jika dokter Obgyn membeberkan penyakitnya pada Dev. Tapi sebenarnya hari ini ia sudah sangat siap untuk memberitahu Dev tentang penyakitnya. Tapi tunggulah sebentar, ia masih ingin menikmati waktu bahagianya dengan Dev di taman nanti.
"Di mana sekertaris Kim? Dia tak ikut?" Agya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sekertaris suaminya yang tak ikut masuk ke dalam mobil.
"Dia sedang sibuk." Dev menjawab singkat, seraya memasangkan seatbelt pada istrinya tersebut.
"Oh."
"Apa kau merasa sesak?" tanyanya mendongakan kepalanya, menunggu tanggapan istrinya akan seatlbelt yang melingkar di tubuh wanita itu.
"Tidak."
"Baiklah. Cup." sebuah kecupan hangat mendarat di perut Agya sebelum Dev kembali duduk di tempatnya.
"Hanya bayimu saja yang kau beri kecupan?"
"Kau juga mau?" Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik ke arah Agya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Tentu saja!"
"Kau cemburu pada bayimu?"
"Bukan cemburu Dev, tapi kau harus adil." seru Agya menghunuskan tatapan kesal.
"Hahaha, mendekatlah biar ku beri kecupan." ujarnya, seketika Agya langsung mendekatkan wajahnya ke arah Dev lalu menerima kecupan hangat di kening dan juga bibirnya.
"Lagi?"
Agya menggeleng, "Sudah lebih dari cukup." jawabnya mejauhkan tubuhnya, jika tidak begitu Dev pasti akan langsung menyerang bibirnya.
"Aku mencintaimu." Dev meraih tangan Agya, menggam dan mengecupnya singkat. Sebelum kemudian ia kembali fokus akan kemudinya.
Sedangkan Agya, tatapannya tak berpindah. Ia terus memandangi wajah Dev yang begitu teduh, hingga tak terasa air matanya ikut menetes.
Dev adalah pria baik yang pernah ia temui, pria egois dan keras kepala, namun dibalik itu tersimpan rasa kasih dan perhatian yang begitu besar di dalam diri pria itu.
"Aku sangat mencintaimu Dev." ucapnya pelan seraya menyeka air matanya saat mereka tiba di sebuah taman yang tak jauh dari kompleks perumahaan tuan Darwin.
"Biar aku yang melepaskannya." ujar Dev mengambil alih seatbelt dari tangan istrinya. Entah sejak kapan pria itu sudah membuka pintu mobil yang berada di sisi Agya.
Usai berjibaku dengan seatblet tersebut, kini Dev kembali menggendong Agya keluar dari dalam mobil.
"Dev, bagaimana aku akan sehat jika kau terus menggendongku seperti ini." gerutu Agya.
"Jalan disini berbatu, aku tak mau kakimu kesakitan."
"Baiklah." Agya benar-benar terlihat pasrah berada di gendongan Dev, terserah pria itu mau membawanya di mana.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Dev usai mendaratkan tubuh Agya di kursi taman.
"Aku mau ice cream coklat dan cream strowberry. Bolehkah?"
"Tentu saja sayang. Tapi ini masih sangat pagi, bagaimana jika kau makan yang lain dulu?"
Agya menggeleng dengan bibir yang mengerucut, "Aku mau ice cream."
"Baiklah. Tunggu sebentar aku akan pergi mencarikannya untukmu."
"Yeayyy, terima kasih." seketika Agya langsung berteriak girang. Sedangkan Dev, ia hanya menggeleng-geleng dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana.
Wanita itu langsung mengusap lembut perutnya, matanya tampak berkaca-kaca, "Maafkan Mommy sayang. Mommy tak bisa menamani kalian hingga dewasa, mommy bahkan tak bisa melihat senyum manis kalian nanti. Tapi mommy akan selalu menyayangi kalian dimanapun mommy berada. Mommy titip daddy ya sayang, jaga daddy baik-baik, daddy kalian adalah pria yang sangat hebat, kalian pasti akan sangat dicintai olehnya." Agya menyeka air matanya seraya mendongakan wajahnya ke langit. Ah ia membenci suasana haru ini.
"Onty..Onty.. Kenapa onty menangis? Apa ada yang menganggu onty?" Dua anak kecil itu menghampiri Agya. Sedikit terkejut melihat wanita yang menangis di kursi taman.
"Ehm, Aunty baik-baik saja." Agya yang terkejut segera menyeka air matanya lalu mengulaskan senyum di bibirnya.
"Benalkah? Jika ada yang menganggu Onty katakan saja pada Loey dan Lion. Bial Loey dan Lion yang menghajalnya." ucap salah satu dari anak laki-laki itu.
"Ah terima kasih, tapi tak ada yang menganggu Aunty. Aunty hanya kelilipan saja."
"Oh. Ayo onty kita belmain." ajak salah satu anak tersebut, sedangkan yang satunya sibuk memandangi perut Agya.
"Onty, apa di dalam sini ada adik bayi?" tunjuknya ke arah perut Agya.
Agya mengangguk, "Iyaa sayang."
"Adik bayi? Loey suka adik bayi." ucap anak kecil yang bernama Loey tersebut dengan senyum girang.
"Ayoo onty kita belmain."
"Onty tidak bisa belmain belsama kita Lion. Kata mama onty tidak boleh kecapean. Benalkan onty."
"Iya sayang. Aunty tidak bisa bermain bersama kalian."
"Yaaahh."
"Loey, Lion. Jangan menganggu Aunty." ujar seorang wanita menghampiri Agya dan juga dua anak laki-lakinya itu.
"Eh, mereka tidak menganggu kok mba. Aku sangat senang dengan kehadiran mereka. Mereka sangat lucu."
"Loey memang lucu Onty, tapi Lion tidak."
"Lion juga lucu!"
"Hei, Leoy Lion. Jangan bertengkar."
"Hahaha, kalian berdua sama-sama lucu." ujar Agya mencubit gemas pipi dua anak laki-laki itu.
"Onty juga sangat lucu. Apa Loey bisa mencium pipi Onty?"
"Tidak boleh." Tiba-tiba terdengar suara sangar seseorang yang tak lain adalah Dev. Pria itu sudah berdiri di belakang dua anak kecil itu dengan wajah dinginnya yang membuat kedua anak itu langsung memeluk ibu mereka.
"Dev." Agya menggeleng dengan mata yang memelotot.
"Boleh kok sayang."
"Tidak boleh." Dev masih pada pendiriannya pun wajahnya yang semakin terlihat dingin dan menakutkan.
"Ma-maafkan anak-anakku mba, mas."
"Eh, tak perlu meminta maaf. Suamiku hanya bercanda."
"Aku tak---."
"Kalian mau ice cream?" Agya memotong ucapan Dev seraya meraih ice cream dari tangan suaminya itu dan memberikan kepada dua anak kecil yang ingin menangis karena Dev.
"Tidak Onty, Loey dan Lion tidak makan ice cleam."
"Ah benarkah?"
"Iyaa maaf mba. Aku tidak membiasakan mereka mengkonsumsi makanan manis."
"Ah, kalau begitu Aunty akan membelikan yang lain."
"Eh, ti-tidak perlu mba, terima kasih. Kami sudah mau pulang."
" Loey, Lion ayo berpamitan pada Aunty."
"Onty, Loey pulang dulu ya. Onty jangan belsedih lagi."
"Bersedih?" Dev mengerutkan dahinya, ia langsung menoleh ke arah Agya, memerhatikan kedua bola mata istrinya itu.
"Lion juga mau pulang, sampai ketemu lagi Onty."
"Ah cepat sekali. Baiklah, hati-hati dijalan yaa, sampai ketemu lagi Loey, Lion."
"Bye bye Onty." ucap dua anak kecil itu melambaikan tangan mereka, sesekali mereka melirik ke arah Dev yang masih menunjukan ekspresi dinginnya.
.
.
.
.
Bersambung....