Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Cinta sekertaris Kim



Seperti biasa, Dev baru kembali ke rumah pukul 11 malam. Ia benar-benar sangat lelah, menjadi seorang presdir ternyata bukanlah sesuatu yang mudah, waktunya banyak tersita hanya karena pekerjaan itu.


"Apa Agya sudah tidur Bi?" tanya Dev pada Bi Noam yang menyambutnya.


"Ehm, Nyonya menunggu tuan di ruang keluarga dan tertidur di sana."


"Apa?" Dev terhenyak, buru-buru ia melangkah ke ruang keluarga dan benar saja, istrinya itu tertidur meringkuk di atas sofa.


"Kenapa bibi tidak menyuruhnya untuk menunggu di kamar saja?!"


"Maaf tuan, saya sudah menyuruh nyonya tapi nyonya bersih keras untuk menunggu tuan di sini."


"Hah." Dev menghela napas panjang, dalam sekali gerakan ia berhasil meraih tubuh Agya ke dalam gendongannya, lalu dengan hati-hati ia membawa istrinya itu ke dalam kamar.


"Dev." Kelopak mata Agya terpisah, sayup-sayup ia memandangi wajah suaminya.


"Ah, kau sudah bangun." ucap Dev merebahkan tubuh Agya ke atas ranjang, lalu ia ikut ikut merebahkan tubuhnya di sana.


"Kenapa kau baru pulang? Aku menunggumu dari tadi." bibir Agya mengerucut, ia benar-benar sangat kesal apalagi Dev tak membalas pesannya sejak pagi.


"Maafkan aku. Aku sangat sibuk di kantor."


"Apa kau akan terus sesibuk ini? Dev, aku membutuhkanmu di sisiku. Aku ingin kau menemaniku, aku sangat bosan berada di rumah. Melakukan pekerjaan yang sama dan terus berulang, makan, tidur, dan nonton. Aku tak memiliki teman mengobrol, ya meskipun mami selalu menemaniku, namun tetap saja berbeda jika kau yang menemaniku." celoteh Agya melingkarkan tangannya di tubuh Dev. Ia merindukan prianya, merindukan perhatian pria itu yang perlahan menghilang karena kesibukannya.


"Kau mau ikut ke kantor besok?"


"Apa boleh?" Agya melonggarkan pelukannya, menatap wajah Dev kini.


"Tentu saja, aku akan memgenalkanmu pada karyawan di Wilantara Group. Tapi dikantor akan lebih sangat membosankan." ucapnya membelai lembut wajah Agya.


"Tidak masalah, aku tak akan bosan jika terus bersamamu." Kedua sudut Agya mengembang lebar, akhirnya ia bisa keluar dari rumah itu setelah sebulan terkurung di sana.


"Ehm, Dev. Terima kasih sudah mengakuiku di depan publik. Aku sungguh sangat bahagia, setidaknya tak ada lagi wanita yang berimajinasi tentangmu."


"Berimajinasi?"


"Hum, banyak wanita diluar sana yang mendambakanmu, bahkan berimajinasi buruk denganmu-."


"Termaksud kau?"


"Aku? Tentu saja tidak."


"Lalu kau tahu dari mana jika wanita diluar sana sering berimajinasi denganku." tatapan mata Dev terlihat semakin dalam dan tak terbaca, hingga membuat Agya salah tingkah.


"Ehm, itu. Ah bagaimana cara mejelaskannya padamu."


"Katakan saja jika kau juga sering berimajinasi dan membayangkan wajahku."


"Tidak."


"Kau tak mau berkata jujur?" tanya Dev, tangannya sudah bergeriliya masuk ke dalam piyama Agya.


"Ahh Dev." Agya melenguh, saat tiba-tiba Dev merema* payu*aranya. Dan sesaat kemudian terjadi pergumulan panas diantara sepasang suami istri itu.


***


Setelah memastikan Dev sudah berada di rumah, sekertaris Kim segera memutar kemudi mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi membela gelapnya malam.


Tak hanya Dev yang merindukan wanitanya, sekertaris Kim juga sangat merindukan Della, wanita yang kini telah menjadi kekasihnya dan tinggal bersamanya di apartemen miliknya.


Satu minggu yang lalu, Della baru dinyatakan benar-benar pulih oleh dokter Cha. Namun wanita itu masih membutuhkan perawatan mandiri untuk menghilangkan sisa-sisa traumanya.


Setibanya di basement apartemennya, sekertaris Kim segera memarkirkan mobilnya. Dengan begitu tegesah-gesah ia meraih dua paperbag berisi makanan yang sempat ia beli di restoran 24 jam.


Ting


"Hah. Aku pasti sedang berhalusinasi." gumamnya, menempelkan sidik jarinya pada finger pin pintu apartemennya.


"Apa kau menungguku?" tanyanya menatap Della yang duduk diam di atas sofa.


Wanita itu menoleh lalu menganggukan kepalanya. Tatapan matanya masih terlihat kosong.


"Baiklah, kita makan dulu. Setelah itu aku akan menemanimu tidur." Della kembali menjawab dengan anggukan. Ia masih tak mengeluarkan suaranya setelah beberapa waktu lalu ia kembali histeris saat melihat Jio di AMC Hospital. Ia juga menjadi sangat takut, dan tak mau melepaskan sekertaris Kim, bahkan untuk tidurpun sekertaris Kim harus menemaninya karena wanita itu selalu bermimpi buruk tentang Jio yang kembali menyerangnya dan ingin membunuhnya.


Sekertaris Kim menata makanan di atas nampan, lalu membawakannya pada Della yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"Makanlah." ujarnya menyodorkan sesuap makanan di depan mulut Della, namun wanita itu menggeleng kepalanya, air matanya tiba-tiba terjatuh.


"Sayang. Kenapa kau menangis?" Sekertaris Kim meletakan piringnya di atas meja, lalu beralih menangkup wajah wanitanya, menyeka air mata Della dengan kedua ibu jarinya.


Della bergeming, ia menatap lekat manik mata sekertaris Kim, melihat betapa besarnya ketulusan pria itu terhadapnya.


"A-aku." Della berucap tertahan, air matanya terus mengalir.


"Ada apa?"


"A-aku mau pulang ke rumah."


"Tidak." sergah sekertaris Kim menggeleng kepalanya. "Kau tidak akan aman di sana Della. Tak akan ada yang menjamin keselamatanmu."


"Tapi aku mau pulang!!" Della melepas kedua tangan sekertaris Kim dari wajahnya dan beranjak berdiri.


"Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba meminta pulang setelah berhari-hari kau tinggal bersamaku? Katakan apa yang terjadi Della? Apa kau merasa tak nyaman?" suara sekertaris Kim terdengar merendah, ia berusaha menjangkau Della namun wanita itu semakin melangkah menjauh.


"A-aku wanita kotor Jeha. Aku tak pantas menerima kebaikanmu, aku tak pantas dicintai olehmu. Aku kotor dan menjijikan!" teriak Della histeris. Ia benar-benar tak pantas menerima perlakuan baik ini dari sekertaris Kim, pria itu terlalu baik untuk wanita kotor sepertinya.


"Sayang, dengarkan aku." Sekertaris Kim menarik tubuh Della dan langsung memeluknya dengan tubuh tegapnya. Pelukannya semakin erat tatkala Della terus memberontak.


"Lepaskan aku! Lepaskan Jehaa."


"Aku tak akan melepaskanmu, sampai kapanpun aku tak akan melepaskanmu. Kau mengerti!" seru sekertaris Kim mengeraskan rahangnya. Ah sampai kapan wanita ini akan melunak dan mau menerimanya.


"A-aku wanita kotor Jeha!!" Air mata Della semakin tak terbendung. Sekuat tenanga ia memukul-mukul dada bidang sekertaris Kim, berharap pria itu mau melepaskannya.


"Aku sangat mencintaimu Della, aku tak perduli dengan masa lalumu!!" seru sekertaris Kim, ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Della kini.


"Aku sangat mencintaimu Della." ucapnya menangkup wajah Della lalu menyatukan keningnya di kening wanita itu. "Aku sangat mencintaimu. Aku mohon, biarkan aku menjaga dan merawatmu."


Della kembali bergeming, mulutnya terkatup rapat, hanya air matanya yang mewakili isi hatinya.


Sebenarnya ia juga sangat mencintai sekertaris Kim, tapi ia merasa sangat tak pantas mendapatkan balasan cinta dari Pria itu. Ia terlalu buruk untuk menerima semuanya.


"Aku sangat mecintaimu Della." setelah lama terdiam, sekertaris Kim kembali meraih dan mendekap tubuh Della. Cintanya begitu besar untuk wanita itu, ia tak akan pernah melepaskannya.


Sedangkan Della, perlahan ia membalas pelukan itu. Lalu menangis sejadi-jadinya.


Tanpa keduanya sadari, seseorang telah berusaha mendengar percakapan mereka. Bahkan orang tersebut berhasil menduplikat finger pin sekertaris Kim menggunakan tissu.


.


.


.


.


Bersambung....