Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Kasih sayang Dev



Dev benar-benar melaksanakan apa yang ia katakan pada Agya beberapa waktu lalu. Pria itu membantu mengeringkan rambut Agya usai memandikannya, membantunya memakaikan pakaian dan kini ia berlutut di hadapan Agya seraya mengusap lembut perut istrinya yang masih tampak rata.


"Kalian bisa lihat seberapa besar aku mencintai istriku, awas jika kalian berdua menyusahkannya apalagi menyakitinya, kalian akan berhadapan denganku." celoteh Dev, suaranya terdengar penuh ancaman, apalagi tatapan matanya yang menajam.


"Dev, apa-apaan ini. Kau memarahi bayiku?!"


"Siapa yang memarahinya, aku hanya memberitahunya saja."


"Sama saja." Agya memutar kedua bola matanya, sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan meja rias.


"Aku sangat bahagia keinginanku terpenuhi Dev. Akhirnya, aku bisa memiliki bayi kembar."


"Sayang, bagaimana kita bisa memiliki mereka? Aku dan keluargaku sama sekali tak memiliki genetik kembar sebelumnya." Dev berjalan ke arah Agya lalu memeluk tubuh istrinya tersebut dari belakang.


"Karena kau sering membuatnya." menjawab asal seraya menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Aku serius." dengus Dev, ikut mengalihkan tatapannya pada cermin.


"Ehm, dulu Mami melahirkan bayi kembar. Aku dan kak Avra."


"Kau memiliki kembar? Lalu dimana dia?"


"Kak Avra?" Dev mengangguk, ia memutar tubuh Agya kini hingga saling berhadapan. Tangannya bergerak mengusap air mata yang hampir menetes membasahi wajah istrinya.


"Kak Avra meninggal dunia saat kami berusia 5 tahun. Kakak menderita leukimia stadium akhir dan tak bisa diselamatkan lagi."


Deg,


"Leukimia?" Kedua bola mata Dev membulat. "Sayang, bukankah itu penyakit genetik? Bagaimana jika itu terjadi padamu?" Paranoid Dev semakin menjadi-jadi. Ia semakin dibuat ketakutan.


"Tidak mungkin." Agya terkekeh lalu memeluk pinggang Dev.


"Jangan bercanda sayang. Aku serius!"


"Dulu papa juga berpikir sama denganmu, tapi setelah kakak meninggal dunia, papa langsung menghubungi beberapa dokter ahli untuk memeriksa tubuhku dan hasilnya aku baik-baik saja. Tidak ada kelainan kromosom pada tubuhku. Tapi--."


"Tapi apa?!"


"Tapi tak bisa dipungkiri jika penyakit itu akan terjadi padaku juga suatu saat nanti."


"Shittt. Agyaa." Dev langsung melepas pelukan istrinya seraya memijat kepalanya, tidak ia tak menginginkan kenyataan pahit ini.


"Aku baik-baik saja Dev."


"Baik-baik saja?! Itu penyakit berbahaya Agya, penyakit itu bisa merenggut nyawamu juga."


"Dev, dengarkan aku." Agya kembali memeluk pinggang Dev seerat mungkin, "Kau tak perlu memikirkan itu. Bukankah kita harus fokus pada dua bayi yang ada di dalam kandunganku? Lagian sejauh ini tubuhku masih baik-baik saja. Percayalah sayang."


Dev bergeming, ia menatap langit-langit kamarnya mencegah air matanya yang hampir menetes, sial kenapa kenyataan pahit ini harus muncul ditengah-tengah kebahagiaan mereka. Ah sial memang!!


"Ya-yaa kita akan fokus pada bayi kita." ucap Dev mengulaskan senyuman di bibirnya, berusaha menyembunyikan ketakutannya di balik senyuman hangat itu.


"Baiklah." Agya ikut tersenyum, sebenarnya ia juga takut sewaktu-waktu penyakit itu menyerangnya. Namun selagi belum terjadi, ia hanya akan fokus pada kebahagiaannya sekarang.


"Apa kau sudah lapar?" tanya Dev mengalihkan pembicaraan serius mereka.


"Hm. Aku sangat lapar."


"Ah, dua bayi ini benar-benar merepotkan dan membuatmu kelaparan." celetuk Dev.


"Dev!" kedua bola mata Agya menajam, tak suka dengan ucapan suaminya itu barusan.


"Hahah. Aku hanya bercanda. Ayo kita ke bawah sekarang. Mama dan Papa kita pasti sudah menunggu."


"Bercandaanmu tidak luc---." celotehan Agya tertahan tatkala bibir Dev sudah mendarat di bibirnya, dan meluma*nya dengan rakus.


***


Di meja makan, tampak Nyonya Valerie dan yang lainnya sudah bersiap untuk menyantap makanan mereka yang disediakan oleh Bi Noam, begitu juga dengan Dev dan Agya yang baru beberapa saat lalu bergabung di sana.


"Makanlah yang banyak sayang." ucap nyonya Valerie tersenyum.


"Sayang apa kau ingin makan ini?" tuan Andhito menyodorkan udang balado di hadapan menantunya, udang balado yang terlihat sangat lezat.


"Mau." jawab Agya girang. Ah entalah mungkin karena sangat kelaparan, ia menginginkan semua makanan yang tersaji di atas meja itu.


"Kau harus makan yang banyak sayang, karena kau dan dua bayimu membutuhkan nutrisi yang banyak juga." ucap Nyonya Inayah. Bibir wanita setengah baya itu mengembang lebar bersaamaan dengan bola matanya yang berkaca-kaca, melihat kasih sayang yang diberikan oleh keluarga Dev untuk putri semata wayangnya membuatnya begitu terharu.


"Pa, bisakah aku mengambil cuti dari pekerjaanku selama beberapa bulan ke depan? Aku ingin merawat istriku." Dev kembali membuka obrolan sesaat setelah makan malam mereka usai.


"Mengambil cuti untuk merawatku? Dev itu diluar kesepakatan kita tadi."


"Boleh saja. Tapi Dev, perusahaan sedang membutuhkan kinerjamu saat ini, dan minggu depan akan ada rapat dewan besar untuk melanjutkan pemilihanmu sebagai Presidir Wilantara Group." tutur tuan Andhito.


"Tapi Pa, istriku juga membutuhkanku."


"Tidak! Aku tak membutuhkanmu." bantah Agya, seketika Dev langsung menatap Agya dengan tatapan tak terbaca.


"Ada mami dan mama Inayah yang akan merawat Agya. Kau tak perlu mengkhawatirkan istrimu"


"Hah shitt." umpat Dev dalam hati.


"Papa akan memberimu cuti selama 3 hari. Apa itu cukup?"


"3 hari?"


"Cukup pa." imbuh Agya.


"Sepertinya kau tak ingin aku yang merawatmu." bisik Dev pelan tepat di telinga Agya.


"Yaa, aku bisa keluar masuk rumah sakit jika kau yang merawatku. Baru beberapa jam kau merawatku, tapi kau sudah hampir membuatku celaka bahkan bibirku bengkak seperti ini karena ulahmu."


"Sialan kau Agya!" gerutu Dev kesal, menjauhkan tubuhnya dari istrinya.


"Tuan Darwin akan membantu kita memulihkan Wilantara Group."


"Benarkah? Terima kasih Pa." ucap Dev menatap papa mertuanya kini. "Saat ini nilai saham Wilantara Group benar-benar sangat melemah karena ulah Tuan Alden. Bahkan beberapa perusahaan yang sebelumnya bekerja sama dengan Wilantara Group kini membatalkan kerja samanya."


"Papa akan menghubungi beberapa relasi papa untuk menanam saham mereka di Wilantara Group. Saat ini Wilantara Group sudah berkerja sama dengan perusahaan Papa dan Reagan Company untuk mengembalikan kerugian Wilantara Group."


"Benarkah? Kenapa aku tak mengetahuinya?"


"Yaa, karena Papa dan Tuan Darwin belum memberitahumu. Akhir-akhir ini banyak kejadian tak terduga hingga Papa dan Tuan Darwin yang mengambil alih pekerjaanmu."


"Lihatlah Dev, kau merepotkan Papa karenaku. Aku tak mengizinkanmu untuk merawatku lagi." Agya kembali berbisik pada Dev.


"Bukan seperti itu sayang. Semuanya ini tak ada hubungannya denganmu."


"Tapi--."


"Diamlah jika kau tak ingin aku menciummu di depan Mama dan papa."


"Ehm, ba-baiklah." kedua bibir Agya langsung terkatup rapat. Ia memilih diam dan menyimak obrolan antara papa dan suaminya.


.


.


.


.


.


Bersambung....