Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Bertemu mertua?



Setelah menerima paperbag berisi lingerie Agya yang tidak sedikit jumlahnya, sekertaris Kim segera meninggalkan toko lingerie itu dengan wajah yang terlihat semakin dingin dan dipenuhi amarah, pasalnya seles toko itu sempat menggodanya dengan mengusap dada bidangnya hingga membuatnya ingin menghilangkan wanita itu dari muka bumi namun tidak ia lakukan karena ada hal penting yang harus ia urus.


"Saya akan segera memberitahu tuan Dev, nyonya." ucap sekertaris Kim yang masih terhubung via suara dengan nyonya Valerie.


"Cepatlah. Aku sudah menyuruhmu untuk mengabarinya sejak pagi, tapi kenapa kau belum mengabarinya sampai sekarang!"


"Maafkan saya nyonya."


"Aku tidak membutuhkan kata maafmu, aku membutuhkan Deva sekarang!!" cetus nyonya Valerie meninggikan suaranya, sebelum kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya tiba-tiba.


"Nona Alenaa ada di rumah sakit?" gumam sekertaris Kim mengerutkan kedua alisnya saat dirinya sempat mendengar suara Alena tadi.


"Dia masih memiliki keberanian untuk menemui nyonya Valerie." Sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya seraya melangkahkan kakinya meninggalkan toko lingerie itu menuju toko perhiasan. Sungguh ia tidak habis pikir dengan Alena yang bermuka baja, wanita itu benar-benar tidak tahu malu.


"Apa kau masih berada di toko lingerie? Jangan lupa untuk membelikan istriku tas, dan juga sepatu. Bila perlu beli semua tas-tas dan sepatu yang ada di sana."


"Oh iyaa ukuran kaki istriku nomor 39. Awas jika kau salah membelinya, kau yang akan memakainya jika ukurannya salah."


"Jangan membeli sepatu yang memiliki hills yang tinggi, aku tidak ingin kaki istriku terluka karena sepatu yang kau pilihkan."


"Aku dan Agya berada di taman hiburan yang berada di depan Byungso restaurant. Segera ke sini dalam 30 menit." ~ Dev


Sekertaris Kim dibuat geleng-geleng kepala setelah membaca pesan berunut yang di kirim oleh tuan mudanya itu.


"Mereka tidak berada di toko perhiasan lagi? Itu artinya tuan Dev tidak bertemu dengan Jio di sana. Hah syukurlah." Embusan napas legah tampak keluar dari mulut sekertaris Kim, sangat bersyukur tuan mudanya tidak bertemu dengan Jio. Ia tidak bisa membayangkan perang seperti apa yang akan terjadi jika Deva melihat Jio, ditambah lagi dengan pria brengsek itu yang ternyata menjalin kasih dengan Della juga.


Seusai memilih tas dan sepatu sesuai kriteria yang diinginkan Dev, sekertaris Kim segera memasukan semua paperbag belanjaan Agya yang tidak terhitung jumlahnya itu ke dalam bagasi mobilnya. Lalu ia ikut memasukan tubuhnya ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum menuju Byungso restaurant, namun sebelum itu ia mengirim pesan singkat kepada Della.


"Jauhi Jio, dia bukan pria yang baik untukmu." Tulisnya dalam pesan singkat tersebut.


***


Setibanya di Byungso restaurant, sekertaris Kim segera memarkirkan mobilnya di sana, melepas seatbeltnya lalu keluar dari dalam mobil itu dengan begitu terburu-buru karena beberapa menit yang lalu ia menerima kabar buruk tentang kondisi tuan Andhito.


Langkah kaki sekertaris Kim terhenti, ia menatap Dev yang tengah berdiri di samping komedi putar dengan senyum yang tampak mengembang lebar, menikmati tingkah istrinya yang begitu asik bermain-main di sana.


"Apa aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka hari ini jika aku memberitahu kabar buruk tentang tuan Andhito?" gumamnya, terbesit pemikiran untuk tidak memberitahu Dev tentang kondisi papanya karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan Dev hari ini.


"Sekertaris Kim, kau sudah tiba. Kemarilah." Dev yang melihat kehadiran sekertarisnya di sana segera memanggilnya untuk mendekat ke arahnya. Pria itu terlihat begitu ramah berbeda dengan tadi pagi, sepertinya Agya berhasil merubah sedikit demi sedikit sikap Dev.


"Kau sudah membelikan semuanya yang ku minta?" tanyanya.


"Sudah tuan." sekertaris Kim menjawab dibarengi dengan anggukan kecil.


"Bagus, kita akan kembali ke restoran setelah Agya merasa puas bermain." ucap Dev kembali fokus memandangi Agya.


Sekertaris Kim tidak menjawab, ia melirik singkat ke arah Agya yang tangah melambai-lambaikan tangannya ke arah Dev dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya. Melihat hal itu semakin membuat sekertaris Kim merasa dilema, di satu sisi ia sangat bahagia melihat kebahagiaan Agya dan juga Dev hari ini namun di sisi lain ia tidak ingin Dev memarahinya nanti karena ia tidak memberitahunya tentang kabar tuan Andhito yang sedang dalam masa kritis setelah semalam pria paru baya itu terkena serangan jantung.


"Tuan." panggil sekertaris Kim seraya menghela napas singkat.


"Hm."


"Maafkan saya tuan."


Tiba-tiba sekertaris Kim memintaa maaf hingga membuat Dev menolehkan kepalanya dengan dahi yang berkerut dalam, "Kenapa kau meminta maaf? Apa kau membuat kesalahan? Apa kau salah membeli ukuran sepatu istriku?"


"Bukan tuan, tapi saya ingin memberitahu tuan tentang tuan Andhito."


"Maaf tuan." sekertaris Kim menundukan kepalanya, "Tuan Andhito sedang di rawat di rumah sakit dan dalam kondisi kritis."


"Apa?" Dev terhenyak, sedikit terkejut.


"Semalam tuan Andhito terkena serangan jantung dan langsung dilarikan di rumah sakit. Nyonya Valerie meminta saya untuk memberitahu tuan agar tuan bisa segera ke rumah sakit."


"Bagaimana kondisi papaku sekarang?Kenapa kau baru memberitahuku?!" dengus Dev.


Sekertaris Kim menghela napas, merasa serba salah.


"Segera siapkan mobilku. Kita ke rumah sakit sekarang." ujar Dev menyerahkan kunci mobilnya pada sekertaris Kim.


"Bersama nona Agya?"


"Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkan dia di sini."


"Tapi bagaimana jika nyonya Valerie mengusir nona A--."


"Itu tidak akan terjadi." Dev memotong ucapan sekertaris Kim, "Aku akan memperkenalkan Agya pada mamiku. Aku yakin mamiku akan menerima Agya, apalagi mami sudah mengetahui kebusukan Alena." sambungnya.


"Ehm, baiklah tuan. Saya akan menyiapkan mobilnya sekarang." ucap sekertaris Kim menghakhiri percakapannya dan segera berlalu pergi dari sana. Ia tidak memberitahu Dev jika Alenaa berada di rumah sakit karena ia merasa tidak yakin jika uara yang di dengarnya tadi dari balik telepon adalah suara Alena.


"Sayang, sudah cukup bermainnya. Kita harus segera pergi dari sini." ujar Dev menghampiri Agya saat komedi putar yang ditunggangi istrinya itu berhenti.


"Pergi? Kemana?"


"Bertemu mertuamu."


"Apa?" Agya tertegun dengan saliva yang tertelan kasar. "Sekarang?"


Dev mengangguk, "Iyaa sayang, apa kau sudah siap bertemu mereka?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan oleh Agya, "Tapi apa tidak masalah jika aku bertemu orang tuamu? Bukankah kau merahasiakan pernikahan kita dari mereka?"


"Aku sudah memberitahu mereka."


"Benarkah?" tanya Agya lagi terlihat begitu ragu.


"Iyaa sayang. Turunlah." ujarnya mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong tubuh istrinya dan menurunkannya dari komedi putar itu.


"Dev, apa bajuku terlihat sopan? Aku tidak ingin kedua orang tuamu merasa ilfeel dengan penampilanku." ucap Agya merapikan rambut dan juga pakaiannya. "Ah, aku merasa sangat gugup sekali, tapi aku sangat bahagia. Ini pertemuan pertamaku dengan kedua orang tuamu, aku ingin membuat mereka terkesan. Sayang, apa kita harus pulang ke apartemen dulu untuk mengganti pakaianku? Baju yang kupakai ini terlihat kurang sopan."


"Tidak perlu diganti sayang." Dev tersenyum pias, menangkup wajah Agya lalu mengusapnya dengan lembut. Terpancar raut kesedihan di wajahnya melihat Agya yang begitu antusias untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, sedangkan ia tahu jika orang tuanya itu sangat tidak menyukai Agya. Namun itu kemarin, dan hari ini mungkin akan berbeda.


.


.


.


.


.


Bersambung...