Mr. Bryan

Mr. Bryan
Hamil



Malam harinya tepat pukul sebelas malam


"Mas Bryan kemana ya? Kenapa belum pulang juga?"


Sejak tadi Diana mondar-mandir di ruang tamu menunggu suaminya pulang, padahal suaminya itu seharusnya sudah pulang sejak 2 jam lalu.


Tadi sore Bryan menghubungi Diana dan mengatakan akan pulang pukul 9 malam karena masih ada sedikit pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Hujan sejak tadi turun sangat lebat, dan entah kenapa sejak tadi perasaannya tidak enak.


Diana sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel suaminya namun tidak di jawab.


"Nona, tuan pasti sebentar lagi sampai anda istirahatlah lebih dulu" ucap Bik Arum


Sejak tadi bik Arum selalu bersama nona mudanya itu, beliau juga tidak akan bisa tidur jika meninggalkannya sendirian, karena nonanya itu masih terjaga.


"Bibik istirahat duluan saja, aku masih mau menunggu mas Bryan"


"Saya akan tetap di sini menemani anda" ucap Bik Arum


"Baiklah terserah bibik saja" jawab Diana lembut


Beberapa menit berlalu, namun Bryan tak kunjung muncul juga


"Bibik bagaimana ini mas Bryan belum pulang juga" ucap Diana khawatir


"Tenanglah nona, tuan Bryan mungkin terjebak macet karena hujan sangat lebat" ucap bik Arum mencoba menenangkan majikannya


"Benar, bibik benar sekali tapi bik sejak tadi perasaan ku tidak enak"


"Berdoa saja nona semoga tuan pulang dengan selamat"


"Iya bik"


Karena sudah lelah berdiri Diana duduk di sofa, dia mencoba menelpon ponsel suaminya lagi.


Tutt.... Tutt...


"Gak di angkat juga" gumam Diana


Namun tak lama ada sebuah panggilan masuk di ponselnya


Drttt drttt


"Halo Mas?" panggil Diana, lantas dia langsung berdiri


"Halo Mas Bryan?" ucap Diana senang


"Maaf apa ini keluarga dari tuan Bryan Adams?"


"Iya benar saya istrinya, anda siapa ya?" perasaan Diana mulai cemas lagi


"Maaf nyonya kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa suami anda tuan Bryan Adams mengalami kecelakaan tunggal dan saat ini beliau sudah di bawa ke rumah sakit Adams"


"Apa!! Ke..kecelakaan pak?" Diana terkejut bukan main tubuhnya seketika lemas beruntung bik Arum segera menyanggah tubuhnya.


"Benar nyonya"


"Ba..baik pak, saya akan segera ke rumah sakit terima kasih banyak" mencoba bersikap tenang


"Sama-sama nyonya"


Tut..


"Bik mas Bryan bik mas Bryan...hiks"


Setelah panggilan dari pihak polisi berakhir Diana yang tadinya tenang langsung panik dan menangis


"Tenanglah nona, saya akan panggil supir agar kita segera ke rumah sakit tapi anda harus tenang dulu" bik Arum tak kalah terkejut tapi dia harus tenang agar nona mudanya tidak bertambah panik


"Bagaimana aku bisa tenang bik, hiks mas Bryan kecelakaan"


"Saya tahu nona tapi anda harus tenang ini tidak baik untuk kandungan anda"


Seketika Diana tersadar mendengar ucapan bik Arum.


"Bibik benar aku harus tenang ada nyawa lain yang harus aku jaga, hiks" Diana berangsur tenang dia mengusap perutnya yang masih rata itu.


Tadi sore saat tengah memasak untuk makan malam Diana tiba-tiba pingsan, bik Arum yang saat itu ada di dapur bersama dengan Diana langsung membawa nona mudanya ke kamar di bantu dengan pelayan yang ada di sana.


Lalu bik Arum segera menghubungi dokter keluarga dan saat dokter memeriksa kondisi Diana, dokter itu mengatakan bahwa kemungkinan nona mudanya itu tengah hamil.


Setelah Diana sadar, dokter memintanya melakukan tes dan ternyata benar dia tengah hamil.


"Maafkan Mommy sayang"


"Bik tolong hubungi papa mama, dan tolong siapkan mobil" ucap Diana


"Baik nona"


"Bik, bagaimana dengan Hana? haruskah kita bawa dia?" tanya Diana


"Baiklah bik"


Saat ini Diana dan bik Arum sudah hampir sampai di rumah sakit setelah hampir 1 jam berkendara untuk sampai ke rumah sakit, hujan juga sudah mulai reda hanya tersisa gerimis.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di sana, Diana langsung turun dari mobil tanpa payung dia berlari.


"Nona tolong jangan berlari" ucap Bibik yang berusaha mengejar nona mudanya


Sesampainya di resepsionis


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis


"Mbak, korban kecelakaan tunggal Bryan Adams ada di lantai berapa?" Tanya Diana, matanya sudah bengkak karena banyak menangis.


"Nona" panggil bik Arum yang sudah menyusul di ikuti pak Ujang dari belakang


"Sebentar nona saya cek dulu"


Diana hanya mengangguk


"Pasien atas nama tuan Bryan Adams saat ini berada di ruang operasi nyonya"


"Ru..ang operasi" ucap Diana terkejut


"Benar nona, anda bisa naik ke lantai 7, kemudian lurus saja"


Tanpa mengucapkan terima kasih karena sangat panik Diana langsung menuju lift.


"Terima kasih" ucap bik Arum menggantikan nona mudanya


"Sama-sama" ucap resepsionis sambil mengangguk


Ketiga orang itu masuk ke dalam lift menuju lantai 7


Ting


Lift sampai di lantai 7, Diana langsung keluar dari kotak besi itu sesampainya di depan ruang operasi dia melihat seorang pria di sana.


"Selamat malam nona" sapa pria itu


"Kak Rendy bagaimana keadaan mas Bryan"


Ternyata yang sudah berada di sana adalah asisten Bryan yaitu Rendy, dia sudah lebih dulu sampai di sana karena polisi juga menghubungi asisten dari bos besar itu.


"Maaf nona saya tidak menghubungi anda terlebih dahulu sebelum tuan di operasi"


"Tidak masalah, katakan bagaimana keadaan mas Bryan? Kenapa harus sampai di operasi" tanya Diana


"Benturan di kepala tuan sangat kuat nona, jadi harus segera di operasi" jelas Rendy


Tubuh Diana hampir saja terjatuh mendengar itu, air matanya tadi yang sudah berhenti mengalir, mulai mengalir kembali.


"Hiks hiks mas Bryan"


"Nona tenangkanlah diri anda, tuan akan baik-baik saja" ucap asisten Rendy mencoba menenangkan istri tuannya


"Apa yang di katakan asisten Rendy benar nona, anda harus tenang" ucap Bik Arum yang berada di dekatnya


"Hiks hiks" Diana hanya mengangguk


"Bibik sudah menghubungi mama papa?" tanya Diana


"Ya Allah, bibik lupa"


"Saya sudah menghubungi nyonya dan tuan besar, nona" ucap asisten Rendy


"Terima kasih"


Rendy menganggukkan kepalanya


Sudah hampir 2 jam operasi berlangsung namun tidak ada tanda-tanda dokter keluar dari sana.


Dari kejauhan terlihat sepasang suami istri berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan putra ku?" tanya mama Anna panik


"Tuan muda masih di dalam ruang operasi nyonya" jawab Rendy


"Ya Allah, tolong selamatkan putra ku" mama Anna kembali histeris


"Ma tenanglah" ucap Heru


Papa dan mama Bryan baru sampai karena tadi saat mendengar kabar Bryan kecelakaan mama Anna pingsan berulang kali, jadi papa Heru harus menunggu istrinya itu siuman terlebih dahulu.


.


.


.