Mr. Bryan

Mr. Bryan
I Will



"Gadis baik, sekarang kita berangkat" Bryan mengusap lembut kepala Diana lalu melajukan mobilnya setelah memasang seat belt di tubuhnya.


"Dia sangat menakutkan" batin Diana menjerit ketakutan


.


.


.


Perjalanan yang di tempuh keduanya cukup jauh, pukul 5 sore mereka baru tiba di tempat itu


Bryan membangunkan Diana yang sejak tadi tertidur


"Sayang bangun"


"Diana kita sudah sampai"


"Hmmm"


"Ayo bangun kita sudah sampai"


"Hmmm sebentar lagi bu"


"Lah kok ibu? Sayang bangun"


"Diana sayang mau bangun atau kakak cium"


Diana membuka matanya dengan malas


"Apa?"


"Bangun sudah sampai"


"Masih ngantuk kak"


"Kalau begitu kakak tinggal sebentar, kamu kumpulin dulu nyawanya"


"Hmmm"


Bryan turun dari mobil dan berjalan agak jauh dari mobil untuk menelpon seseorang


"Halo, bagaimana semuanya sudah siap?


"Sudah tuan, persiapan sudah selesai"


"Baiklah, sebentar lagi kami datang"


"Baik tuan"


Panggilan berakhir sedangkan di dalam mobil, Diana yang sudah mulai sadar melihat ke sekeliling dengan raut wajah bingung


"Dimana ini?"


"Kenapa banyak sekali pohon?"


"Sebenarnya Kak Bryan ajak aku ke mana?"


Tok tok


Bryan mengetuk kaca mobil di samping Diana, Diana menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil


"Sudah siap?" tanya Bryan


"Kak sebenarnya kita dimana? Kenapa kakak ajak aku ke sini?"


"Ayo turun nanti kakak kasih tahu"


"Aku takut, tempat apa ini?"


Bryan membuka pintu mobilnya


"Tidak perlu takut ada kakak"


Walaupun ragu Diana tetap turun dan membawa tas jinjingnya


"Tunggu dulu aku mau telp ibu dulu"


"Untuk apa?"


"Untuk jaga-jaga"


"Hah... Sebentar biar kakak saja yang telp"


"Oke"


Bryan menelpon nomor mamanya


"Kok kakak telp mama?"


"Sutt..., halo ma?" Bryan menekan tombol loud speaker


"Halo Bryan ada apa?"


"Mama lagi sama ibu?"


"Iya, kenapa?"


"Tolong hidupkan loud speakernya ma, Bryan mau bicara sama ibu"


"Baiklah"


"Sudah"


"Halo bu, ibu bisa dengar Bryan?"


"Iya nak ada apa?"


"Bryan izin bawa Diana ke suatu tempat ya bu"


"Kemana?"


"Mama tahu tempat ini bu, ma Bryan bawa Diana ke tempat milik opa"


"Oh kamu bawa Diana ke sana"


"Iya ma, tolong jelaskan pada ibu ya"


"Baiklah"


"Bu, nanti mama akan jelaskan maaf Bryan tidak bisa beritahu ibu langsung"


"Iya tidak apa-apa, kalian hati-hati"


"Iya bu"


"Ibu titip putri ibu Bryan"


"Tentu bu, Bryan akan jaga putri ibu baik-baik"


"Ya sudah Bryan mama tutup telpnya"


"Iya ma, bu terima kasih Assalamualaikum"


Wa'alaikum salam"


Panggil berakhir, Bryan memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya


"Sudah?"


"Emmm" Diana mengangguk


"Ayo ikut kakak, tapi sebelum itu..."


Bryan mengeluarkan kain hitam dari saku belakang celananya


"Untuk apa itu?"


"Karena ini kejutan jadi kamu harus tutup mata"


"Eh kak, kalau mata ku di tutup aku gak bisa lihat"


"Tenang saja nanti kakak gandeng kok"


Bryan mengikat kain hitam itu untuk menutupi kedua mata Diana


"Kekencangan tidak?"


"Tidak"


"Oke"


Bryan meraih telapak tangan Diana, lalu berjalan perlahan menuju tempat yang di tuju Bryan


5 menit kemudian mereka sudah sampai, Bryan melepas genggamannya dari Diana


"Sudah sampai kak?" tanya Diana


"Iya"


"Aku buka ya" Diana hendak melepas penutup matanya


"Eh tunggu sebentar sayang, jangan di buka dulu"


"Kenapa?"


"Tunggu sebentar jangan di buka dulu"


"Baiklah"


Bryan mengendap-endap dan pergi


"Kak?" panggil Diana


"Kak Bryan boleh di buka tidak?"


Diana membuka penutup matanya karena merasa takut


"Dimana kak Bryan?"


"Tempat apa ini?" Diana memutar tubuhnya ke segala arah untuk mencari Bryan


Namun Bryan tidak ada, yang ia lihat saat ini adalah hamparan bunga berwarna-warni dan terdapat juga sebuah danau


"Kak Bryan!!" panggil Diana


"Kakak dimana? Kenapa kakak meninggalkan ku sendirian?!!"


Diana ketakutan berada di tempat itu sendirian apa lagi hari sudah mulai gelap


"Hiks hiks, bagaimana ini? Dimana kak Bryan?"


"Ah benar telp"


Diana merogoh tas jinjingnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Bryan


'Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, cobalah beberapa saat lagi. The number.... '


"Nomornya gak aktif?"


Sekali lagi Diana menelpon Bryan namun tetap tidak bisa di hubungi


"Aku telp ibu saja"


Diana mencoba menelpon ibunya, namun ponsel ibunya juga tidak aktif.


"ARGGGGGHHH KAK BRYAN!!!" Diana berteriak cukup kencang


Dia sangat frustasi dan ketakutan semua orang terdekatnya sudah ia telp akan tetapi ponsel mereka tidak ada yang aktif.


"Hiks hiks kamu jahat kak, kenapa meninggalkan ku sendirian" Dia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di atas kedua lututnya


Hari sudah berganti malam, Diana sungguh ketakutan di tinggalkan sendirian di tempat itu.


Tiba-tiba terdengar suara petasan di udara


Diana yang mendengar itu mendongakkan kepalanya, dan seketika memeluk seseorang yang sudah ada di hadapannya.


"Kak Bryan hiks hiks" dia memeluk Bryan sangat erat


Bryan tersenyum dan mengusap lembut punggung Diana


"Hiks hiks kenapa kakak meninggalkan ku sendirian?"


"Maaf"


"Kakak jahat sekali hiks hiks aku ketakutan"


"Maaf, sudah jangan menangis lihat kakak menyiapkan hadiah untuk mu" ucap Bryan sambil menunjuk ke langit


Diana menghentikan tangisannya dan menatap ke langit yang bertabur petasan


"Cantik tidak?" tanya Bryan


"Emm cantik" jawab Diana, dia masih sesenggukan


Bryan melepaskan pelukannya lalu berdiri di belakang Diana sambil memeluknya dari belakang.


"Maaf kakak meninggalkan mu sendirian"


"Kakak jahat, jangan lakukan ini lagi aku takut" ucap Diana cemberut


"Iya kakak janji, ini adalah pertama dan terakhir kalinya"


"Aku pegang kata-kata kakak"


"Iya"


"Apa hadiah kakak hanya ini?"


"Tidak masih ada"


"Lalu dimana?"


"Klek" Bryan menjentikkan jarinya dan seketika lampu-lampu di tempat itu menyala


"Wahh" ucap Diana kagum


"Bagaimana?"


"Indah"


Bryan melepas pelukannya, lalu menekuk sebelah kakinya seperti sedang bersimpuh di hadapan Diana


"Kakak sedang apa? ayo bangun"


Bryan merogoh saku celananya, dia mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna biru tua lalu membukanya untuk di perlihatkan pada Diana.


Diana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya


"Kak"


Bryan tersenyum sambil menatap Diana


"Sayang... aku tahu kita sudah akan menikah tapi ini masih belum terlambat, hari ini aku akan melamar mu sekali lagi karena saat itu papa yang melamar mu untuk ku"


"Sayang, satu-satunya hal yang bisa aku janjikan pada mu saat ini adalah hati ku yang tulus..."


"Akan ku lakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidup ku"


"Diana Queenza Will you marry me? dan jadilah ibu untuk Hana dan calon anak-anak kita kelak"


Diana menitikkan air matanya dengan tangan yang masih berada di mulutnya, dia tidak menyangka Bryan membuat rencana untuk melamarnya.


"Will you marry me?" tanya Bryan sekali lagi


Diana mengangguk dan berkata "Yes, i will marry you Kak Bryan"


.


.


.