Mr. Bryan

Mr. Bryan
Tirai



"Oke, bagaimana kalau blue film?" tawar Bryan lagi


"Hais... Dasar duda mes*m!!".


.


.


.


"Ke ke oke oke kakak matikan" Bryan mematikan tv Nya


"Sudah?"


"Iya"


"Huh" gadis di pangkuan Bryan itu bernapas lega kemudian melotot pada Bryan


"Kenapa kamu melotot gitu? Minta di cium? ucap Bryan sambil tersenyum manis


"Dasar mes*m" Diana hendak beranjak turun dari pangkuan pria itu, tapi Bryan menahan pinggangnya


"Mau ke mana?"


"Pulang" jawab Diana ketus


"Sekarang? Ini masih gelap"


"Tidak apa-apa walaupun masih gelap, dari pada tetap di sini sama duda yang mes*m nya gak ketulungan" ucap Diana kesal


Bukannya marah Bryan malah tertawa


"Ha ha ha sudah jangan ngambek dong, kalau mau pulang kakak antar nanti setelah sarapan" rayu Bryan


"Gak mau" tolak Diana


"Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Bryan


"Pesan taxi" jawab Diana ketus


"Yakin nih?" tanya Bryan


"Iya kenapa?!"


"Gimana kalau yang nyetir tuh taxi bukan manusia" bisik Bryan seram


"Glek, ishhh tuh kan nakutin lagi" rengek Diana


"Ha ha ha maaf maaf habisnya kamu ngeyel mau pulang sekarang, nanti setelah sarapan aja"


"Ya udah aku mau tidur, lepas tangan kakak aku mau turun". Ucap Diana masih dalam nada kesal


"Udah tidur di sini saja"


"Gak mau aku mau tidur di kamar"


"Jangan bahaya" larang Bryan


"Bahaya apanya?"tanya Diana bingung


"Bahaya nanti kalau di kamar aku khilaf gimana? Bisa-bisa bangun tidur kamu sudah jadi mantan perawan nanti"


Glekkk Diana menelan ludah kasar


"Aku tidur sendiri!" ucap Diana


"Kamu gak mungkin berani tidur sendirian" ucap Bryan


"Kenapa gak mungkin?" Tanya Diana


"Kamu yakin berani tidur sendirian sayang? apa lagi setelah nonton film horor" Bisik Bryan


"Y...a berani"


"Yakin?" ucap Bryan dengan nada menggoda


"Kalau gitu aku mau tidur dengan Hana saja" ucap Diana


"Tidak bisa, kasur Hana kecil cuma muat untuk Hana saja"


"Ah sudahlah aku tidur di sofa aja kakak tetep di sini tidur di sofa satunya"


"Begini saja" Bryan merebahkan tubuhnya di sofa dan Diana berada di atasnya


"Ahhhh kak" Diana terkejut saat Bryan tiba-tiba merebahkan tubuhnya


"Tidurlah"


"Tapi ini, nanti kalau ada yang lihat gimana?" ucap Diana mencari alasan


Bryan mengambil remote control kemudian menekan salah satu tombol, dan tirai mulai bergerak perlahan membentuk sebuah ruangan.


Diana terpukau melihat itu, tapi sesaat kemudian ia tersadar.


"Kak apa bedanya sama tidur di kamar?" protes Diana


"Beda sayang kalau di kamar pintunya bisa di kunci dan ada dindingnya, kalau disini hanya tertutup tirai tidak ada pintu dan dinding Kalau kau tetap ingin ke kamar ayo aku tidak keberatan tapi kamu harus siap-siap"


"Hais dasar mes*m" entah sudah berapa kali kata itu keluar dari bibir Diana


"Ke ke ke mes*m sama calon istri sendiri gak masalah"


"Siapa yang calon istri mu?" Ucap Diana sewot


"Kamu lah"


"Siapa bilang?"


"Aku" klaim Bryan


"Kau..."


"Sudah tidur" pinta Bryan


"Huh menyebalkan"


Diana terpaksa tidur di atas tubuh pria itu jantungnya berdegup kencang, hal yang sama tengah dirasakan oleh pria itu dan Diana dapat merasakan Detak jantung Bryan juga tidak kalah cepat bahkan nafasnya semakin memburu.


"Kak"


....


".... Tidak kenapa?" Tanya Bryan dengan suara seraknya. Sebenarnya ia tengah menahan sesuatu di bagian bawah tubuhnya.


"Kak, aku tidak nyaman kalau begini"


Lalu Bryan mengubah posisinya, ia meletakkan Diana di sampingnya


"Begini?"


"Emm" jawab Diana sambil mengangguk


"Tidurlah"


"Kak, tidak bisakah aku tidur sendiri?"


"Nope" jawab Bryan


"Kak, laki-laki sama perempuan itu gak boleh bersentuhan kalau bukan muhrimnya, dosa"


"Tidak apa-apa sekali saja, nanti kakak yang tanggung dosanya"


"Mana bisa gitu?"


"Bisa sayang"


"Gak bisa kak"


"Ya sudah sekarang kakak cari penghulu" hendak beranjak


"Buat apa?" tanya Diana sambil menahan lengan Bryan


"Buat menikahkan kita"


"Sekarang?" tanya Diana terkejut


"Iya"


"Mana bisa begitu kak! Kan aku harus ada walinya"


"Tinggal telp orang tua mu untuk sini"


"Mana bisa begitu yang ada kakak bakalan di hajar ayahku karena dia kira kakak apa-apain aku"


"Cerewet sekali kamu ini, tidurlah" ucap Bryan lembut


"Tapi.."


"Tidur sekarang atau kakak beneran apa-apain kamu" ancam Bryan


"Ta..."


"Tidurlah sayang jangan sampai kakak memakan mu sekarang juga" ancam Bryan lagi


"Oke-oke aku tidur". ucap Diana pasrah


Diana mulai memejamkan matanya begitu pula dengan Bryan dan mereka tertidur.


Esok harinya matahari sudah terbit sejak tadi namun kedua anak manusia yang tidur di sofa itu tidak juga kunjung bangun.


Ting tong bel rumah berbunyi dan kepala pelayan membukakan pintu


"Pagi bi" sapa salah satu dari mereka


"Pagi tuan silahkan masuk" sapa kepala pelayan pada kedua tamu yang ternyata adalah teman Bryan


"Bi panggil nama saja jangan tuan"


"Maaf tuan itu sudah aturan sejak dulu"


"Baiklah terserah bibi saja"


Kedua teman Bryan selalu meminta bibi memanggil namanya saja setiap berkunjung ke rumah Bryan.


Begitu juga Bryan dia sudah beberapa kali meminta hal yang sama pada kepala pelayan itu namun bibi kepala pelayan selalu mengatakan hal yang sama.


"Bryan nya ada bi?"


"Ada tapi masih tidur"


"Tumben sekali dia masih tidur? biasanya jam 5 sudah bangun" Ucap Rico teman Bryan


"Akan aku bangunkan dia" ucap Rico dan menuju kamar Bryan di lantai dua


"Tuan.." kepala pelayan hendak mencegah


"Tenang saja bi dia tidak akan marah" ucap Rico tidak mendengarkan ucapan kepala pelayan


"Ada apa bi?" Tanya David


"Tuan Bryan tidak tidur di kamarnya tuan"


"Lalu dia tidur di mana?"


"Di ruang TV"


"Ruang TV yang di tutup tirai itu?" Tanya David heran


"Iya"


Flashback


Tadi saat sudah waktunya bekerja bibi dan beberapa pelayan lainnya melihat tirai di ruang Tv, bibi mengecek ke sana dan melihat Bryan tidur sambil memeluk gadis yang Bryan bawa kemarin.


Sebelumnya Bryan sudah mengatakan siapa sebenarnya Diana karena takut terjadi salah paham jadi sekarang bibi hanya tersenyum bahagia dan membiarkan mereka.


Dari awal bibi tahu kalau tuannya itu tertarik pada gadis yang di panggil Mommy oleh nona kecilnya itu.


Bibi bahagia akhirnya Bryan bisa membuka kembali hatinya, dia berharap gadis itu bisa membuat tuan dan nona kecilnya bahagia.


Bibi memerintahkan kepada para pelayan yang ada di rumah ini untuk tidak sedikit pun mendekati tempat yang tertutup tirai itu, dan para pelayan mematuhi perintah kepala pelayan karena tidak mau di pecat.


Flashback end


.


.


.