
"Hiks hiks Mommy Hana cangen Mommy" ucap Hana mulai menangis
"Mommy juga kangen sama Hana, maafkan Mommy ya sayang"
.
.
.
"Sekarang Hana tidak perlu sedih, Mommy sudah di sini sayang"
Hana menganggukkan kepalanya dalam pelukan Diana
Bryan datang dan mendekati Diana dan Hana
"Halo putri Daddy, apa kabar?" sapa Bryan
Hana melepaskan pelukannya dari Diana lalu menatap Daddynya
"Baik daddy, capi tangan Hana di tucuk jalum" ucap Hana sambil memperlihatkan tangannya yang di infus
Bryan menyentuh telapak tangan putrinya yang di infus
"Daddy minta paman doktel cabut jalumnya" rengek Hana pada Daddynya
Bryan mengambil kursi yang berada di dekat brankar Hana dan duduk di kursi itu
"Hana sayang dengarkan daddy ya...." ucap Bryan sambil mengusap pelan telapak tangan putrinya
Hana menganggukkan kepalanya
"Hana mau cepat sembuh kan?" tanya Bryan
"Iya Daddy, Hana mau cepat cembuh" jawab Hana sambil mengangguk imut
"Nah kalau ingin cepat sembuh jarumnya tidak boleh di buka dulu, karena sekarang Hana masih sakit jadi harus di infus dulu" ucap Bryan mencoba memberi pengertian oada putrinya
"Capi Hana cakut jalum Daddy" rengek Hana
"Karena Hana mau cepat sembuh Hana harus bersabar sayang, nanti kalau sudah sembuh baru bisa di buka"
"Nanti kalau Hana sembuh Daddy ajak jalan-jalan mau?" tawar Bryan
"Mau Daddy, jalan-jalan cemana?" tanya Hana senang
"Hana mau kemana?" tanya Bryan
"Emmm Hana cidak cahu Daddy"
"Ya sudah kita pikirkan saja nanti setelah Hana sembuh, oke?"
"Oce Daddy"
"Hana sudah makan belum?" tanya Diana
Hana menggelengkan kepalanya
"Hana tidak mau makan, mama sudah membujuknya sejak tadi tapi hana tetap tidak mau, Hana juga harus minum obat" jelas mama Anna yang masih berdiri di dekat mereka
"Kenapa Hana gak mau makan?" tanya Bryan pada putrinya
"Hana mau di cuapi Mommy"
"Ohh jadi mau di suapi Mommy?" tanya Bryan
"Iya" jawab Hana sambil mengangguk
"Sekarang Hana mau makan kalau Mommy suapi?" tanya Diana
"Iya mau"
"Ma makanan Hana ada di mana?" tanya Diana pada mama Anna
"Buburnya sudah dingin nak, biar mama minta yang baru" ucap mama Anna
"Baik ma" jawab Diana
Mama Anna menghubungi seseorang dan meminta tolong membawakan bubur baru, beberapa saat kemudian mama Anna sudah selesai menghubungi seseorang
"Sebentar lagi buburnya datang" ucap mama Anna
"Iya ma" ucap Diana pada mama Anna
"Hana sayang tunggu sebentar ya.." ucap Diana
"Iya Mom" jawab hana dengan logat cadelnya
Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan
"Masuk" ucap papa Heru yang sejak tadi duduk di sofa dekat pintu
Ceklek, pintu terbuka
"Nyonya seseorang datang membawa makanan nona Hana" ucap Rendy
"Tolong suruh masuk Ren" ucap mama Anna
"Baik nyonya" ucap Rendy
"Silahkan masuk" ucap Rendy pada seorang perawat perempuan
Perawat itu menunduk ke arah Rendy, lalu masuk ke dalam ruang inap
"Permisi nyonya ini bubur milik nona muda"
"Mama Anna mengambil nampan yang di bawa perawat itu"
"Terima kasih" ucap mama Anna
"Silahkan"
Setelah perawat itu pergi mama Anna menghampiri cucu dan menantunya
"Nah bubur Hana sudah datang, sekarang Hana makan di suapi Mommy ya" ucap mama Anna
"Iya Oma"
Setelah memberikan bubur Hana pada menantunya Mama memilih duduk di sofa bersama papa Heru karena Hana sudah di rawat Mommy dan Daddnya.
"Ayo sekarang waktunya Hana makan, aaaak sayang" ucap Diana
Diana mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut mungil Hana setelah meniupnya agar tidak terlalu panas.
Hana membuka mulut kecilnya lalu memakan bubur yang di suapi Mommynya.
"Hmmmm anak pintar" puji Bryan saat melihat Hana makan dengan lahap
"Buburnya enak?" tanya Diana
Hana menggelengkan kepalanya dan setelah menelan bubur di dalam mulutnya Hana bersuara " Bubulnya cidak ada lasa Mom"
"Hahh...." Di tercengang kemudian tertawa
"Tidak ada rasanya ya sayang?" Tanya Diana sambil tersenyum
"Iya Mom"
"Mungkin karena Hana lagi sakit jadi rasa buburnya tidak terasa sayang"
"Cenapa begicu?" Tanya Hana penasaran
Diana menyuapi Hana lagi, lalu menjelaskan alasan rasa buburnya hambar
"Hana kan lagi sakit jadi semua makanan yang di makan Hana akan terasa hambar, kecuali makanan yang rasanya sangat menyengat"
"Menyengat?" tanya Hana bingung
"Iya menyengat, misalnya bubur Hana di masukkan garam sangatttt banyakkk baru Hana bisa merasakan rasa buburnya" ucap Di sambil mengarahkan sendok berisi bubur pada Hana
"Jika Mommy yang makan bubur yang di tambah garam sangat banyak akan merasa sangat keasinan, tapi kalau Hana yang makan gak keasinan"
"Hana mengerti penjelasan Mommy?" tanya Diana
Hana menggeleng, melihat gelengan Hana Bryan seketika terkekeh
"Sayang dia terlalu kecil untuk mencerna semua perkataan mu" ucap Bryan pada istrinya
Di menatap suaminya lalu kembali menyuapi Hana
"Mungkin memang Hana masih terlalu kecil, tapi jika di jelaskan lagi Hana pasti mengerti karena Hana anak pintar kak, dia lebih pintar dari anak seumurannya" ucap Diana yang sudah mengetahui bagaimana putrinya walaupun baru satu bulan tinggal bersama
"Benarkah?" tanya Bryan yang tidak tahu akan hal itu
"Iya" jawab Diana
"Hana mau Mommy jelaskan lagi?" tanya Diana pada Hana
"Hmmm" Hana menganggukkan kepalanya
"Begini sayang, ingat tidak waktu Mommy buat telur mata sapi untuk Hana? terus Hana sama Mommy makan di dekat kolam renang?" tanya Diana
"Iya inyat"
"Bagaimana rasanya sayang?"
"Enyak capi acin" ucap Hana sambil bergidik imut
"Benar waktu itu Mommy memasukkan terlalu banyak garam benar kan sayang?"
"Iya Mommy macukin banyak galam"
"Benar, nah waktu itu kan Hana lagi gak sakit jadi rasa telur mata sapinya terlalu asin"
Hana menganggukkan kepalanya
"Tapi kalau Hana lagi sakit walaupun makan telur mata sapi yang asin tidak akan terasa di lidah Hana, kecuali garamnya lebih banyak dari yang waktu itu"
"Benalkah Mom?"
"Iya benar"
"Cenapa begicu?" tanya Hana lagi
Sebelum menjawab Diana menyuapi Hana lagi
"️Karena saat sakit lidah tidak bisa merasakan rasa makanan jadi kalau makanannya terasa hambar di lidah Hana belum tentu rasa aslinya hambar"
"Dan jika Mommy yang makan bubur Hana, rasa buburnya tidak hambar tapi pas"
"Sekarang Hana mengerti?"
"Iya Mom Hana mengelti" ucap Hana sambil mengangguk
"Jadi kesimpulannya bagaimana sayang?" Tanya Bryan mencoba mengetes Hana apakah sungguh mengerti atau hanya mengiyakan ucapan Mommynya
"Bubulnya cidak celasa carena Hana lagi cakit Daddy, capi calau Hana cembuh bubulnya celasa"
"Calau Hana lagi cakit celus macan bubul halus di kacih galam yang banyak bial kelasa, benalkan Mommy?"
.
.
.