
Hari pernikahan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Pagi ini semua orang yang ada di kediaman orang tua Diana tengah sangat sibuk.
Bahkan sudah dari sebelum subuh mereka sudah bangun.
Semua keluarga inti Diana sudah berkumpul dari kemarin, sedangkan kerabat jauh akan tiba di sana pukul 6 sampai 7 pagi.
Tepat jam 5 pagi perias yang di pesan mama Anna sudah datang untuk merias Diana dan keluarga yang lain.
Semua pakaian yang akan di pakai di acara sudah di kirim ke sana 2 hari yang lalu.
Dekorasi untuk akad juga sudah selesai di dirikan sejak kemarin, dekorasi itu sangat megah dan mewah untuk orang-orang di kawasan itu.
Diana dan keluarganya cukup terkejut dengan hasil dekorasinya karena sangat megah dan juga mewah.
Tadinya Diana pikir tidak akan sebesar itu, namun ternyata ukuran aslinya memang segitu.
Dia tidak tahu karena saat tante Nara menjelaskan tentang detailnya dia ijin ke kamar mandi, hanya tante Nara dan Bryan yang tahu namun Bryan tidak mengatakan apapun pada Diana saat itu.
"Mbak semua ini bener dari keluarga mempelai pria?" tanya ipar ibu Ida yaitu adik ayah Evan
"Iya, mbak cuma bayar cateringnya saja" jawab ibu Ida
"Wah.. Beruntung sekali Diana mbak"
"Iya Alhamdulillah"
"Diana sekarang dimana?" tanya ipar ibu Ida
"Ada di kamarnya lagi di rias"
"Ohh periasnya sudah datang toh, ini sih bukan cuma akad nikah aja mbak, tapi sekalian resepsi"
"Mbak juga gak tahu kalau bakalan sebesar ini, beruntung halamannya cukup"
"Iya bener mbak, ya sudah mbak aku mau siap-siap dulu"
"Iya"
Tok tok
Pintu terbuka
"Diana dimana?" tanya ibu Ida
"Masih di kamar mandi bu, sedang di lulur" ucap salah satu staf MUA
"Apa waktunya cukup untuk di rias, karena acaranya pukul 8 pagi" tanya ibu Ida
"Cukup bu, masih ada waktu 2 jam 30 menit lagi, sebentar lagi juga sudah selesai di lulur bu"
"Ya sudah kalau begitu, saya cuma khawatir saja, maklum ini pertama kali di adakan pernikahan setelah beberapa tahun" ucap ibu Ida sambil tersenyum
"Iya bu kami mengerti, hal seperti ini sudah biasa terjadi"
"Iya, kalau begitu saya keluar dulu kalau kalian butuh apa-apa beritahu saya"
"Baik bu, oh ya bu untuk keluarga yang akan di rias sudah ada tim khusus jadi tolong beritahukan kepada keluarga yang lain untuk segera bersiap" ucap staf MUA
"Iya akan saya sampaikan, saya permisi"
"Iya bu"
Beberapa menit kemudian Diana keluar dari kamar mandi dan segera mulai di rias.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel yang berjarak sekitar 1 jam dari rumah Diana juga tengah sibuk bersiap.
Keluarga besar Bryan memilih berangkat tadi malam ke hotel itu dan menginap di sana agar perjalanan tidak terlalu jauh.
"Bryan sudah bangun?" tanya mama Anna
"Sudah ma, lagi di kamar sedang siap-siap" jawab Zain suami Bella
"Baguslah, tolong hubungi yang lain minta untuk bersiap kita sarapan di restoran dulu sebelum berangkat, pukul setengah 7 kita harus berangkat"
"Baik ma"
"Keadaan Bella bagaimana?" tanya mama Anna, beliau agak khawatir karena dari perkiraan dokter persalinan Bella sebentar lagi.
"Bella baik-baik saja ma, dia bahkan sangat bersemangat sejak bangun tidur"
"Syukurlah, tetap pantau istri mu dan jangan biarkan dia sendirian"
"Baik ma, sekarang Bella bersama dengan Kiano dan Hana ma" ucap Zain
"Kiano sudah datang?" tanya mama
"Iya ma, dari tadi malam 1 jam setelah kita sampai di sini"
"Dasar anak itu, bisa-bisanya tidak menghubungi mama" ucap mama Anna kesal
"Mama kan tahu Kiano seperti apa"
"Kamu benar, hah... Awas saja setelah pernikahan kakaknya selesai akan mama jodohkan anak itu"
Menantunya itu hanya tersenyum mendengar kekesalan mama Anna.
"Kalau begitu Zain ke kamar Kak Bryan dulu ma"
"Iya nak tolong temani dia, dia pasti gugup"
"Iya ma, Zain permisi"
"Emm, eh tunggu nak"
"Ya ma?"
"Kamu sudah bawa dokter dan perawat Bella kan?" tanya mama Anna
"Sudah ma, mama tenang saja Zain sudah siapkan semuanya"
"Iya ma permisi"
Zain berjalan ke kamar Bryan yang berada di satu lantai dimana seluruh keluarga besar Bryan menginap.
Tok tok
Ceklek
"Masuk bro" ucap Bryan setelah membuka pintu kamarnya
"Kenapa belum siap juga?" tanyanya karena melihat Bryan hanya memakai celana putih untuk akad dan masih memakai kaos berwarna putih
"Bentar lagi, masih lama juga aku tinggal pakai jasnya saja"
"Mama meminta kita berangkat pukul setengah 7"
"Iya, sekarang kan masih pukul setengah 6" ucap Bryan
"Kamu gugup?" tanya Zain
"Kata siapa?" Bryan mengelak
"Ke ke ke, sangat terlihat di wajah mu" ucap Zain sambil terkekeh
"Hah... Apa sangat terlihat?" ucap Bryan menghela nafas sambil bersandar di sofa
Dia mengangguk
"Tenang bro, kamu kan juga sudah pernah menikah"
"Kali ini aku lebih gugup dari pada saat aku menikahi Cika"
"Kenapa begitu?" tanya Zain
"Aku tidak tahu juga"
"Tenanglah Bryan, semuanya akan berjalan dengan lancar"
"Thanks bro"
"Aku akan menemani mu di sini, mama meminta ku untuk menemani mu"
"Lalu Bella bagaimana?" tanya Bryan
"Bella sudah ada yang jagain"
"Siapa?"
"Kiano dan Hana"
"Kiano sudah di sini? Sejak kapan?" tanya Bryan terkejut
"Ke ke ke"
"Kenapa kamu tertawa?"
"Mama juga menanyakan hal yang sama barusan" ucap Zain
"Jadi kapan dia sampai?"
"Tadi malam 1 jam setelah kita sudah sampai di sini"
"Hah... Anak itu benar-benar sulit di tebak, padahal tadi malam saat aku telp dia bilang masih lama dan kemungkinan tidak akan bisa datang" ucap Bryan
"Kamu kan tahu sendiri bagaimana sifat adik mu itu"
"Kau benar"
"Kamu sudah hafal ijab qabul nya?" tanya Zain
"Sudah"
"Mas kawinnya?"
"Sudah" jawab Bryan
"Bagaimana dengan cincinnya?"
Bryan merogoh saku celana pengantinnya
"Ini" Bryan menyodorkan kotak merah berisi cincin pada Zain
"Boleh aku lihat?"
"Boleh"
Zain membuka kotak cincin berwarna merah itu
"Kapan kalian membeli ini? Aku dengar dari mama kalau kalian lupa membeli cincinnya" tanya Zain
"Saat mengantar Diana pulang dari mansion"
Awalnya Diana akan pulang di antar sopir, namun saat itu nenek bertanya apakah mereka sudah membeli cincin pernikahan atau belum.
Dan Bryan mengatakan bahwa mereka lupa membelinya, alhasil Diana dan Bryan harus pergi ke mall setelah sarapan, sekalian mengantar Diana pulang ke rumah orang tuanya.
Tentu saja Bryan sangat senang dan tidak mau membuang kesempatan itu, jadi dia ingin langsung tancap gas menuju mall dan mengantar Diana pulang.
Akan tetapi nenek melarang mereka pergi tanpa supir, jadi mereka berangkat di antar supir dan Bryan tidak keberatan dengan hal itu.
"Bro apa kamu tidak mampu membeli cincin lain?" tanya Zain
"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Bryan.
.
.
.