Mr. Bryan

Mr. Bryan
Bentakan Bryan



"Tidak masalah sayang, Hana kan cucu mama dan papa jadi tidak merepotkan sama sekali" ucap mama Anna sambil tersenyum


.


.


.


Diana hanya tersenyum, pintu ruangan terbuka muncullah papa Heru dan Hana yang sedang berjalan sambil membawa satu kotak makanan.


"Mommy"


"Hana sayang" Diana turun dari ranjang menghampiri Hana


"Mommy cudah bangun?"


"Iya sayang"


"Mommy cakit apa?" tanya Hana


"Tidak sayang, Mommy gak sakit cuma kelelahan saja"


"Ooohhh"


"Hana Bawa apa sayang?" tanya Diana


"Oh iya Hana hampil caja lupa, ini untuk Mommy" Hana memberikan kotak makan yang di bawanya


"Ini untuk Mommy?" tanya Diana


"Iya"


"Untuk Hana mana?" tanya Diana


"Punya Hana ada di opa, ayo Mommy duduk di cini lalu makan" ucap Hana sambil menarik Diana agar duduk


"Iya sayang terima kasih"


"Cama-cama"


"Ma pa mari duduk" ajak Diana


"Iya sayang" ucap mama Anna


Sebelum duduk papa Heru melihat ke arah putranya dan ternyata Bryan sudah bangun


"Bryan kamu sudah bangun?" ucap papa Heru, lalu menghampiri putranya


Diana yang akan melahap makanannya terhenti saat mendengar ucapan papa Heru, dia menatap ke arah Bryan.


"Bryan kamu mau makan? Papa tadi beli bubur"


"Daddy" panggil Hana lalu menghampiri Bryan


"Daddy cudah cembuh?" tanya Hana


Bryan sebenarnya sudah terbangun dari tadi, dia memperhatikan pembicaraan kedua orang tuanya dengan dua orang yang tidak dia ingat.


Bryan ingat tadi sebelum dokter memberinya obat mamanya mengatakan bahwa gadis kecil itu putrinya dan perempuan itu adalah istri barunya.


Saat ini Bryan sedang mencoba untuk menerima kenyataan yang di katakan mamanya, walaupun sangat sulit.


"Daddy, apa Daddy macih cakit?"


"Tidak sayang" Bryan mencoba bersikap biasa pada gadis kecil yang katanya adalah putrinya


Karena jika dia mengatakan, dia tidak mengenal gadis kecil itu Bryan takut gadis kecil itu akan sedih.


"Bryan kamu.. " ucap papa Heru


Bryan menggeleng "Belum pa"


"Lalu?"


"Aku hanya tidak mau dia sedih"


Papa Heru tersenyum mendengar ucapan putranya itu, setidaknya Bryan tidak membuat Hana kecewa.


Diana yang tadinya mengira Bryan sudah ingat harus kembali kecewa, karena ternyata suaminya itu masih belum bisa mengingat dirinya dan juga Hana.


"Hana sayang ayo makan dulu" panggil mama Anna


"Iya oma"


"Daddy Hana mau makan dulu"


Bryan mengangguk sambil mengusap lembut kepala Hana


"Bryan kamu mau makan tidak?" tanya papa Heru


"Nanti saja pa"


"Baiklah"


"Ma... " panggil Bryan


Namun sang mama mengabaikannya, dia sibuk membantu Hana makan.


Bryan hanya dapat menghela nafasnya


30 menit kemudian mereka selesai makan


"Ma, Bryan lapar tolong suapi tangan Bryan masih lemas" ucap Bryan mencoba membujuk mamanya


"Tunggu sebentar" jawab mama Anna cuek


"Sayang tolong bantu suapi suami mu" ucap mama Anna pada Diana


"Biar Diana saja yang menyuapi mu, mama mau ke bawah ada perlu" ucap mama Anna sambil memberikan nampan berisi bubur pada Diana


"Ya sudah papa saja" ucap papa Heru


"Tidak bisa, papa ikut mama" cegah mama Anna


"Mama kok gitu sih" ucap Bryan


"Hana mau ikut oma sama opa gak?" tanya mama Anna


"Cemana oma?" tanya Hana


"Oma sama opa ada perlu sekalian mau ke toko kue di lantai bawah, Hana suka kue coklat kan?" ucap Mama Anna


"Iya oma Hana cuka kue, Hana ikut oma" ucap Hana segera turun dari ranjang tempat dia duduk


"Ayo kita berangkat sekarang nanti kuenya keburu habis" ucap mama Anna


"Ayo oma"


"Sayang kamu bantu Bryan, mama ke bawah dulu" bisik mama pada Diana


"Tapi ma.. "


"Cobalah dekati suami mu agar dia cepat mengingat mu, nak" bisik mama Anna


"Tapi ma bagaimana kalau mas Bryan mengamuk lagi?" bisik Diana


"Tidak akan, papa akan menunggu di depan" ucap mama


"Baiklah"


Setelah kedua mertuanya dan Hana keluar, Diana perlahan menghampiri Bryan.


"Mas ini buburnya biar aku bantu suapi"


"Tidak perlu, saya sudah tidak lapar" ucap Bryan dingin


"Tapi tadi mas bilang lapar" ucap Diana lembut


"Tidak! saya sudah tidak lapar" bentak Bryan


"Sedikit saja ya.. " Diana mendekatkan sendok berisi bubur ke mulut Bryan namun bukannya memakannya Bryan justru menepis tangan Diana dan sendok itu terjatuh ke lantai


Prangggg


"Sudah saya katakan saya tidak lapar!" bentak Bryan


Air mata mengalir dari pelupuk mata Diana, dia terisak menerima bentakan Bryan, Bryan yang sangat mencintainya sudah berubah.


Bryan yang biasanya tidak pernah membentaknya sekarang membentaknya, Bryan yang biasanya selalu bersikap hangat dan lembut sekarang menjadi sangat dingin dan kasar.


Sebenarnya dia memaklumi sikap Bryan seperti itu karena sedang sakit tapi mungkin efek kehamilannya membuat dia sangat sensitif dengan hal seperti itu.


"Maaf mas, kalau mas tidak mau makan ya sudah aku akan letakkan buburnya di sini, mas bisa memakannya jika mas sudah lapar"


Diana meletakkan bubur di nakas samping brankar Bryan, lalu dia mengambil tisu untuk membersihkan bubur yang tumpah di lantai.


Dia ke wastafel di kamar mandi untuk mencuci sendok yang Bryan jatuhkan.


beberapa saat kemudian dia keluar lalu meletakkan sendok yang sudah dia cuci dan di keringkan di sebelah bubur.


Diana juga meletakkan segelas air di nakas itu, lalu keluar membiarkan Bryan di dalam ruangan sendirian.


"Nak kenapa keluar? Kau butuh sesuatu?" tanya papa Heru


"Tidak pa, maaf aku keluar karena mas Bryan tidak mau makan, papa tolong suapi mas Bryan dia tidak mau kalau aku yang suapi"


"Kamu sudah bujuk Bryan?" tanya mama Anna


"Sudah pa, tapi mas Bryan tetap tidak mau"


"Ya sudah biar papa yang suapi, ayo masuk"


"Aku tunggu di sini saja pa" ucap Diana


"Kenapa?"


"Aku takut mas Bryan tetap tidak mau makan jika melihat ku"


"Hah... Nak, ingat atau tidak kamu tetaplah istri Bryan jadi mau tidak mau Bryan harus menerima hal itu, lagi pula jika kamu terus menghindari Bryan bagaimana bisa dia cepat mengingat mu jadi kamu harus terus di dekatnya agar ingatannya cepat kembali, mengerti?"


Diana mengangguk tanda mengerti


"Baiklah sekarang kita masuk, kamu duduk saja di sofa biar papa yang bantu Bryan makan"


"Iya pa, tapi tolong jangan marahi mas Bryan karena tidak mau aku suapi"


"Kenapa?"


"Kalau papa marahi mas Bryan, mas Bryan akan tambah kesal aku takut itu mempengaruhi kesehatannya pa"


"Iya papa mengerti, lagi pula kalau papa omeli dia yang ada dia akan semakin tidak suka pada mu dan itu juga tidak baik untuk hubungan kalian"


"Terima kasih pa"


"Emmm... ayo sekarang kita masuk"


.


.


.