Mr. Bryan

Mr. Bryan
Tangis Hana



"Ya sudah kamu makan saja, aku mau mandi dulu" ucap Bryan


"Iya" jawab Diana sambil mengangguk.


.


.


.


"Hana Daddy mau mandi dulu ya kamu jagain Mommy" pesan Bryan pada Hana


"Ciap Daddy" jawab Hana sambil membuat tanda hormat dengan tangannya


"Dasar posesif" umpat Rico


"Biarin, oh ya Diana dia David dan si tengil itu Rico" ucap Bryan memperkenalkan kedua temannya itu


"Hai, Diana" ucap Diana memperkenalkan diri


"Hai, aku David"


"Rico, panggil saja kami kakak" ucap Rico


"Baik Kak" jawab Diana


"Hai acu Hana" ucap Hana meniru apa yang di lakukan oleh Diana dan mengundang gelak tawa dari para orang dewasa itu


"Ha ha ha"


"Uncle udah tahu nama Hana" sahut Rico


"Cih uncle gak ceru" ucap Hana merajuk


"Bryan dia berdecih pada ku, semakin hari dia semakin mirip dengan mu saja" keluh Rico pada Bryan.


"Tentu saja uncle acu kan anaknya Daddy" sahut Hana


"Sudah-sudah, Hana tidak boleh begitu pada yang lebih tua sayang" ucap Bryan memberi nasehat pada putrinya dengan nada yang lembut


"Baik Daddy" ucap Hana patuh


"Maaf Uncle" ucap Hana pada Rico


"Tidak apa-apa sayang uncle maafkan" ucap Rico


"Daddy mandi dulu ya" ucap Bryan sambil mengusap lembut kepala Hana


"Iya daddy"


Bryan melangkah menuju lantai dua di mana kamarnya berada.


Diana sangat kagum pada Bryan, Bryan memberikan nasehat pada putrinya dengan lembut dan dia juga membesarkan putrinya dengan kasih sayang yang melimpah.


Di tambah dengan kedua teman Bryan yang terlihat sangat menyayangi Hana sama seperti Bryan menyayangi putrinya.


Ketiga pria yang berada di depannya itu membuat dirinya kagum walaupun tubuh mereka tinggi berotot dan terkadang menyebalkan ternyata di balik itu semua mereka sangat sayang pada Hana.


"Hana sudah makan?" Tanya Diana setelah tersadar dari kekagumannya


"Cudah Mommy cadi di cuapin Daddy" ucap Hana sambil tersenyum


"Oh baiklah kakak makan dulu ya" ucap Diana dan mulai makan


15 menit kemudian Hana memanggil Diana setelah melihat Diana sudah menghabiskan makanannya di piring


"Mom"


"Ya sayang?" Ucap Diana sambil menoleh pada Hana


"Mommy mau pulang?" tanya Hana


"Iya sayang" jawab Diana


"Cenapa Mommy pulang? Apa Hana nacal?" Tanya gadis kecil itu matanya mulai berkaca-kaca


Diana dan kedua teman Bryan menatap tak tega pada Hana yang bersedih, Diana meletakkan gelas yang ia pegang dan berjongkok di depan Hana yang sedang duduk di kursi makan.


"Sayang, coba lihat kakak"


"No, bukan kakak Mommy" ucap Hana


"Oke oke coba lihat Mommy" Diana mengalah


Hana mendongakkan kepalanya menatap dirinya membuat Diana tersenyum.


"Sayang ka.. ah maksud ku Mommy, Mommy harus pulang Hana ingat teman Mommy kemarin aunty Ross?


"Nah aunty Ross sama Mommy punya cafe yang harus di jaga, kalau Mommy tidak pulang kasihan aunty Ross jaga cafe sendirian kan?" Diana mencoba memberi pengertian kepada Hana.


Hana mengangguk


"Jadi Mommy harus pulang tidak apa-apa kan sayang?" bujuk Diana


"Telus Mommy cidak pulang ke cini lagi?" tanya Hana


Diana terdiam ia tidak tahu harus menjawab apa


"Mommy, cenapa Mommy halus cerja, Daddy can cudah celja di perucahaan opa, Mommy minca uang cama Daddy caja cidak ucah celja cemani Hana di cini" ucap Hana panjang lebar


Diana benar-benar tidak tahu harus menjawab apa pada gadis kecil itu.


"Mommy..." rengek Hana


"Hana Sayang Daddy sama Mommy kan belum nikah, jadi tidak boleh tinggal bersama terus cari uang juga harus masing-masing dulu" sahut david


"Nicah?"


"Kak David kok ngomong gitu sih" protes Diana namun David tidak mendengarkan protes Diana dia memilih melanjutkan pembicaraannya dengan Hana


"Iya nikah, kayak aunty Bella sama om Zain dulu itu"


"Yang pesca-pesca itu?" tanya Hana


"Iya yang pesta pesta itu" jawab David


"Calau Mommy cama Daddy cudah bicin pesca Mommy boleh cinggal cama Hana di cini?" Tanya Hana pada David


"Tentu saja boleh"


"Bro" Rico Menyikut temannya itu karena ia melihat wajah masam Diana


David tidak menggubris siapapun saat ini dia hanya bertekad menjadikan Diana istri Bryan, dia sangat yakin bahwa setelah mereka berdua menikah mereka bertiga akan sangat bahagia.


"Ayo Mommy cita bicin pesca bial Mommy bica cama Hana celus, Mommy". Ucap Hana sambil menggoyang lengan Diana yang termenung


"Maaf, Hana sayang Mommy tidak bisa" ucap Diana sambil mengelus pipi Hana


"Hiks cenapa Mommy cidak bica, Mommy cidak cayang Hana lagi?" Ucap Hana sambil menangis


"Tidak tidak bukan begitu maksud Mommy, Mommy sayang Hana kok tapi Mommy tidak bisa tinggal di sini sayang, kalau Hana rindu Mommy Hana datang saja ke rumah Mommy bagaimana?" tawar Diana


"Hiks hiks Cidak cidak mau Hana mau cinggal cama Mommy di cini cama Daddy juga" tolak Hana sambil menangis meraung-raung


"Hana tolong jangan menangis sayang" ucap Diana tidak tega


Diana memeluk Hana sambil mengusap kepala dan punggung gadis kecil yang berada di pelukannya itu.


"Mommy juca cidak cayang Hana cama cayak mama Hana, mama Hana cidak cayang Hana hiks hiks" ucap Hana mengeluarkan uneg-uneg nya


"Deg" semua orang yang mendengar ucapan Hana hatinya bagai di tusuk oleh pisau tajam terutama seorang pria yang tengah berdiri di ujung tangga, sejak tadi dia berdiri di sana melihat interaksi anak dan gadis yang baru ia kenal kemarin.


"Tidak Hana sayang siapa bilang mama Hana tidak sayang Hana, mama Hana sayang Hana kok" ucap Diana mencoba menenangkan Hana


"Cidak cidak mama Hana cidak sayang Hana, kaca ceman Hana di cekolah mama Hana cidak sayang Hana kalena mama cidak antar Hana ke cekolah hiks hiks"


"Mama juga pelgi hiks cinggalin Daddy cama Hana cerus pelgi cama pacal nya" adu Hana


"Deg, bagaimana anak sekecil ini mengerti hal seperti ini?" Diana bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Hana bisa mengerti urusan orang dewasa.


"Bagaimana Hana bisa mengetahui hal ini, apa karena ini Hana tidak mau ke sekolah?" ucap Bryan dalam hati


"Maaf Tuan" kepala pelayan yang sejak tadi melihat kejadian itu menghampiri Bryan


"Ada apa Bi?" Tanya Bryan menoleh pada kepala pelayan


"Tuan, sebenarnya 1 Minggu lalu nona Hana bertemu dengan mamanya tuan" ucap bibi jujur.


"Bertemu? Dimana?" tanya Bryan


"Di mall tuan, saat nona Hana minta mampir untuk membeli mainan setelah dari preschool"


"Apa yang wanita itu katakan?" tanya Bryan dia sudah kesal mendengar hal ini


"Dia menghampiri nona Hana dan menyapanya, tuan.."


.


.


.