
Bryan meletakkan piring bekas makan istrinya di meja, lalu dia mengambil air kemasan yang selalu tersedia di meja itu.
.
.
.
Bryan membuka tutup botol air kemasannya lalu di memberikannya pada Diana.
"Minum dulu ya" ucap Bryan sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Diana
Diana mengalihkan pandangannya sekejap pada botol itu, lalu mengambilnya dan menenggaknya.
***
Beberapa bulan berlalu hari persalinan sudah di depan mata, sekitar 2 minggu lagi adalah hari persalinan Diana.
Dokter memperkirakan Diana akan melahirkan 2 minggu lagi.
Di minggu pagi
"Mas" Panggil Diana dari ruang keluarga
"Sebentar" teriak Bryan dari arah dapur.
Selama beberapa bulan ini dia sering kali bolak balik ke dapur, dia memasak untuk istrinya.
Karena istrinya itu sering kali ingin makan makanan yang di masak sendiri oleh Bryan.
Bryan senang-senang saja istrinya meminta hal itu, karena menurutnya itu adalah permintaan yang paling normal di antara semua permintaan istrinya.
Beberapa kali Diana juga meminta hal aneh pada suaminya itu, seperti ingin melihat penjual sate berjualan tepat di depan rumahnya.
Bryan menuruti hal itu tapi saat penjual sate itu sudah berada di sana Diana malah protes karena penjual yang Bryan hanya satu orang.
Padahal yang Diana inginkan bukan cuma satu tapi 20 orang penjual sate. Alhasil mau tak mau Bryan harus menuruti permintaan istrinya.
Saat itu juga Bryan di bantu asistennya berkeliling mencari para penjual sate di sekitar sana.
Bahkan dia juga harus berkeliling satu kota untuk mencari penjual sate yang mau ikut dengannya.
Tentunya Bryan juga harus merogoh kocek cukup besar untuk menuruti semua permintaan Diana, tapi dia tidak masalah toh itu semua untuk anaknya sendiri.
Setelah hampir 3 jam berkeliling mencari penjual sate, Bryan sudah kembali ke rumah besarnya bersama 10 mobil pick up yang mengangkut barang-barang beserta gerobak penjual sate dan juga orangnya.
Saat turun dari mobilnya lagi-lagi Bryan di buat terkejut oleh keberadaan orang-orang yang ada di sana.
Ternyata Diana sudah mengundang banyak orang untuk datang ke rumahnya. Bahkan para pelayan di mansion orang tuanya pun dia angkut semua.
Flashback
Bryan melangkah ke arah istrinya yang sudah menunggu di teras depan bersama semua keluarganya.
Halaman depan juga sudah di dekor sedemikian rupa nampak seperti sebuah tempat pesta.
"Bryan kenapa kita di kumpulkan semua? kata Diana kamu mau bilang sesuatu?" tanya ayah mertuanya
"Aku yah?" tanya Bryan sambil menunjuk wajahnya sendiri
"Iya, istri mu yang bilang sendiri" jawab ayah Evan
Bryan menatap bingung ke arah istrinya, sedangkan Diana menoleh ke arah lain pura-pura tidak melihat suaminya.
Lagi-lagi Bryan sungguh di buat terkejut tapi apa yang bisa dia lakukan jika sang istri sudah berkehendak.
"Bryan" panggil ayah Evan
"Biar Bryan jelaskan nanti ya, yah" ucap Bryan
"Baiklah"
"Bryan kamu mau ngapain?" Tanya nenek Bryan saat melihat asisten cucunya itu tengah sibuk menurunkan barang-barang dari pick up bersama para pekerjanya
"Ini nek, ibu Ratu lagi ngidam" ucap Bryan sambil menatap ke arah istrinya
Wanita hamil muda itu hanya tersenyum manis menatap suami tampannya. Nenek Bryan menoleh ke arah istri cucunya.
"Oh lagi ngidam" ucap nenek sambil tersenyum ke arah Diana
"Iya nek" jawab Diana sambil tersenyum
"Tuan semuanya sudah siap" ucap asisten Rendy
"Iya terima kasih Ren" ucap Bryan
"Sama-sama tuan"
"Semuanya sudah siap, lalu sekarang apa?" Tanya Bryan pada Diana
"Apa lagi, ya makanlah mas" ucap Diana dengan entengnya kemudian melangkah ke salah satu penjual sate
"Lalu kenapa kamu manggil banyak orang. sayang?" Tanya Bryan sedikit mengeraskan suaranya agar di dengar Diana yang sudah melangkah agak jauh
"Buat habisin satenya mas, ayo cepetan" ucap Diana sambil menoleh ke belakang
Papa Heru meminta pak An yang selalu setia berdiri di sampingnya untuk mengatakan pada semuanya untuk menikmati sate yang sudah di siapkan Bryan
"Pak An, minta yang lain menikmati satenya seperti yang di inginkan menantu ku" ucap papa Heru
"Baik tuan" ucap pak An langsung menjalankan perintah papa Heru
"Hah.... Jadi ceritanya kita pesta sate nih" ucap Bryan dengan lesu membuat semua keluarganya tertawa saat mendengar ucapan Bryan
"Sudah nikmati saja Bryan kapan lagi kita bisa pesta begini" ucap papa Heru sambil terkekeh
"Benar Bryan, bahkan bukan kamu saja korbannya tapi ayah juga. Ayah baru aja mendarat di Bali tapi istri mu itu nelpon ayah suruh cepetan ke sini, dia bilang kamu mau bicara sesuatu tapi ternyata ini maksudnya"
"Diana bukan istri aku aja, yah tapi putri ayah juga" ucap Bryan sambil cemberut
"Ha ha ha" ayah Evan tertawa di ikuti papa Heru
"Bryan" peringat mama Anna agar tidak bicara begitu pada mertuanya
"Tidak apa-apa, aku sudah sering dengar kalau putri ku itu sering menyusahkan Bryan" ucap ayah Evan
"Benar sekali ayah, aku bahkan pernah di suruh mencium pipi nenek-nenek yang kita temui di supermarket" curhat Bryan pada mertuanya
"Ha ha ha, bagaimana rasanya?" tanya ayah Evan
"Keriput" ucap Bryan
Plak
"Aw sakit nek" keluh Bryan saat neneknya memukul lengannya
"Keriput kamu bilang? Nenek mu ini masih awet muda tahu"
"Jadi nenek-nenek yang di maksud Bryan itu, nenek?" Tanya Kiano
"Menurut mu?" Tanya nenek Bryan dengan menyunggingkan senyumannya dengan kesal
"Ha ha ha" papa Heru tertawa sedangkan Bryan dan yang lain menahan tawanya
"Berhenti tertawa" ucap nenek pada putranya
"Bryan sebaiknya kamu samperin istri mu, lihat dia" ucap mama Anna sambil melihat ke arah menantunya yang membawa nampan berisi tumpukan sate yang menggunung
Nampak juga Rendy yang meminta nona mudanya menyerahkan nampan yang dia bawa pada dirinya untuk di bawakan namun Diana menolak.
Asisten Bryan pun sering kali kerepotan sama seperti tuannya, tapi jika di bandingkan kerepotan dirinya dengan Bryan.
Maka Rendy lah yang sangat kerepotan karena dialah yang akan pergi mencari apa yang di inginkan istri tuan mudanya.
Tapi Rendy lebih senang hati di suruh-suruh dari pada harus merasakan hal yang di rasakan tuan mudanya karena ulah istrinya.
Karena jika dia yang berada di posisi Bryan, Rendy tidak akan pernah sanggup untuk muncul lagi di perusahaan setelah hari itu.
Bryan melangkah ke arah istrinya, lalu dia mengambil nampan yang ada di tangan Diana
"Loh?"
"Jangan bawa yang berat berat" ucap Bryan sambil melangkah ke salah satu meja yang sudah di siapkan di sana
.
.
.