
"Kak, samperin dulu" ucap Diana masih menahan desahannya karena takut terdengar orang yang tengah mengetuk pintu ruangan itu.
.
.
.
"Kak tangannya berhenti, lihat dulu siapa itu" ucap Diana
Bryan lagi-lagi tidak menggubris istrinya, dia malah membungkam bibirnya cerewet istrinya
Tok tok "Permisi tuan" tok tok
Pintu kembali di ketuk bahkan kali ini orang itu memanggil Bryan
"Kak itu suara kak Rendy" ucap Diana setelah memaksa melepas cumbuan suaminya
"Tck dasar mengganggu" ucap Bryan kesal karena kesenangannya di ganggu
"Kak..."
"Oke oke kakak samperin, tapi setelah itu kita lanjut" ucap Bryan dia langsung bangun dan melangkah menuju pintu
Ceklek
"Ada apa Ren?" tanya Bryan dengan wajah masamnya
"Ini pesanan anda tuan" ucap Rendy sambil memberikan sebuah paper bag besar berlogo sebuah restoran
"Hah... Aku lupa, maaf Ren" Bryan mengambil papar bag di tangan Rendy
Bryan lupa kalau tadi saat Diana sudah masuk ke kamar mandi, dia menghubungi Rendy yang sedang mengantarkan kedua orang tuanya pulang, untuk mampir di restoran langganannya sebelum dia kembali ke rumah sakit.
Dia meminta Rendy untuk membeli makan malam untuk dirinya dan istrinya.
"Terima kasih Ren" ucap Bryan
"Sama-sama tuan" jawab Rendy
"Oh iya, malam ini tidak usah berjaga di luar, kalian pantau saja dari dalam ruangan kalian" ucap Bryan memberi perintah
"Kenapa tuan?" tanya Rendy
"Sudahlah patuhi saja" ucap Bryan tidak mau memberitahu alasannya
"Baik tuan"
"Dan kalian pesanlah makanan, pakai saja kartu ku"
"Baik tuan, terima kasih banyak" ucap Rendy
"Sama-sama, aku masuk dulu"
"Selamat menikmati makan malam anda tuan"
Bryan mengangguk pada asistennya itu, Bryan kembali masuk ke dalam lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Tentu saja aku akan menikmati makan malam ku" ucap Bryan dalam hati sambil tersenyum licik
"Sayang...." Panggil Bryan
"Apa?" tanya Diana sambil menoleh pada Bryan
"Lihat" Bryan mengangkat paper bag di tangannya
"Wah kebetulan sekali, aku lapar" ucap Diana, dia langsung bangun dari ranjang dan menghampiri Bryan
"Tentu saja kakak suami yang baik kan? tanpa kamu minta kakak sudah belikan" ucap Bryan bangga
"Kak Rendy yang belikan, kakak cuma nyuruh saja" ucap Diana bercanda
"Kan pakai uang kakak, sayang" protes Bryan
"Iya iya terima kasih, ayo kak cepetan di buka aku sudah lapar"
"Ini pegang dulu" Bryan menyerahkan paper bag pada istrinya
Bryan mengangkat meja yang tadi dia singkirkan ke pinggir, lalu meletakkan di samping ranjangnya
"Nah sudah" ucap Bryan setelah meletakkan meja
Diana tersenyum menatap suaminya
"Jangan tatap begitu, iya kakak tahu kakak itu tampan" ucap Bryan, dia duduk di samping istrinya
"Dih pd nya" ucap Diana sambil terkekeh
Skip selesai makan.
Diana bersiap untuk tidur dia sudah berbaring di kasur, Bryan naik ke atas kasur setelah keluar dari kamar mandi.
Bryan tidur sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Kak Bryan bisakah kakak diam , kenapa kau sangat gatal sekali menyentuh ku?" gerutu Diana sambil berusaha melepaskan tangan Bryan dari tubuhnya
"Diamlah sayang aku kedinginan" sahut Bryan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Diana bahkan kini wajahnya menyusup pada celah lehernya
"Kak Bryan jangan seperti ini" Bisik Diana, dia merasa geli dengan nafas Bryan yang menerpa kulit lehernya
"Diamlah sayang, kau mau membuat kakak on? kau mau aku meniduri mu disini begitu?"
Seketika Diana langsung diam menciut tak lagi meronta. Terpaksa ia membiarkan Bryan memeluknya saat ini
"Di.. "
"Diana .. " panggil Bryan memelas
"Tidurlah kak ini sudah malam" ucap Diana
"Sayang.. aku jadi benar-benar mau meniduri mu di sini. " ucap Bryan manja membuat Diana seketika merinding
Apa pria di belakang tubuhnya ini memang selalu pandai merayu seperti ini?
"Sayang.. "
" Diana .. " panggil Bryan dengan tangan dan bibir yang mulai tak diam menyentuh tubuh Diana
Wanita itu membulatkan kedua matanya saat merasakan sesuatu mengganjal di bokongnya, Sesuatu itu terasa besar hingga Diana meneguk ludahnya susah payah.
Kemarin sia kesakitan saat sesuatu yang mengganjal itu merobek keper*wanannya untuk pertama kalinya, tapi pada akhirnya benda itu juga membuatnya merasa keenakan.
Diana memejamkan matanya lalu dia menahan tangan dan bibir Bryan yang terus nakal ditubuhnya
"Emmmh Di aa naaa .. emmmh sayaaaang " begitulah suara parau Bryan di leher Diana berniat menggoda istrinya itu dengan suara seksinya
"Dasar suami mesum gila!" umpat Diana dalam hati.
"Mana mungkin aku melayani kak Bryan di sini" gerutu Diana dalam hati
Diana hanya diam menunggu Bryan lengah sebelum melakukan sesuatu pada pria itu Diana ingin sekali mematahkan tangan nakal yang mulai merayap kebawah tubuhnya tapi dia takut dosa.
Bryan menyusup ke balik celana piyama Diana, Diana mencoba menahan tangan nakal suaminya.
Bryan makin antusias saat Diana mencoba memberontak, dia menarik Diana agar terlentang hingga dekapan itu melonggar dan jemari itu tinggal beberapa centi lagi menuju tujuannya yaitu daerah sensitifnga jika saja wanita itu tak mendorongnya kelantai.
"Aww" pekik Bryan menahan suaranya karena tak ingin membuat Hana terbangun
Diana tertawa namun juga merasa kasihan pada suaminya, Diana memperbaiki celana piyamanya yang sudah acak-acakan
"Sayang, kamu mau jadi istri durhaka?" ucap Bryan sedikit kesal
"Itu balasan atas kemesum*n mu, kak " saut Diana, dia berdiri di hadapan suaminya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Bryan bangun
Bryan menepis pelan tangan istrinya
"Sudahlah tidak perlu di bantu" ucap Bryan dengan nada kesal, dan tetap diam di lantai
"Ya sudah" Diana menarik kembali tangannya dan berjalan menghampiri Hana yang sedang terlelap
Bryan yang tadinya hanya berpura-pura kesal menjadi semakin kesal saja, dia kira istrinya itu akan terus membujuknya namun yang terjadi istrinya itu langsung pergi setelah tangannya di tepis sekali.
Padahal yang Bryan harapkan Diana terus merayunya agar tidak marah.
"Hah... Aku lupa kalau istri ku itu memang seperti itu, dasar istri kulkas" gerutu Bryan
Diana yang sedang duduk di samping Hana dapat mendengar gerutuan Bryan, dia diam-diam menertawakan sikap Bryan yang tidak cocok dengan tampangnya.
Setelah menikah dengan Bryan, Diana mengetahui sebuah rahasia di balik wajah dingin itu.
Ternyata tersimpan sifat kekanak-kanakan yang hanya di perlihatkan pada orang-orang terdekatnya saja.
Bryan bangun lalu duduk di kasur sambil mengusap bokongnya yang sakit karena jatuh.
Sedangkan Diana menemani Hana yang tertidur lelap, sesekali dia mengusap pucuk kepala putrinya.
"Putri Mommy cepat sembuh ya... Mommy rindu main dengan Hana" bisik Diana pada Hana.
.
.
.