
"Arghhh sakit sekali"
"Sedikit lagi bu, tarik nafas keluarkan perlahan"
"Arghhh"
"Kamu pasti bisa sayang" ucap Bryan sambil menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat
"Arghhh huhhh hahhh"
Diana mencengkram kuat telapak tangan Bryan
"Argghhh"
"Oekk oekk"
"Alhamdulillah" ucap Bryan saat mendengar suara bayinya
"Sayang kamu hebat" ucap Bryan lalu dia mengecup kening Diana dengan mata yang berkaca-kaca
Dokter Risa menggendong bayi Bryan dan Diana yang baru saja lahir
"Selamat tuan ibu Diana bayi kalian laki-laki"
"Sayang bayi kita" ucap Bryan bahagia dengan mata yang masih berkaca-kaca
Diana menganggukkan kepalanya, Diana menitikkan air mata bahagia.
Dokter Risa memberikan bayi mungil itu pada suster untuk di bersihkan
Beberapa saat kemudian suster membawa bayi mungil itu pada Bryan untuk di Adzani
Diana tak dapat membendung air matanya, ibu muda itu sangat bahagia melihat itu.
Setelah di Adzani, dengan perlahan Bryan memberikan bayi mungil itu pada istrinya.
"Bayi kita sayang"
"Iya mas" jawab Diana dengan mata yang sudah banjir air mata.
Di usapnya lembut pipi putranya
"Bu Diana anda bisa langsung memberikan ASI pada putra anda" ucap Dokter Risa
"Sekarang dok?" tanya Diana karena dia tidak tahu
"Iya bu, anda bisa langsung memberikan ASI sekitar 10 sampai 15 menit, setelah selesai anda dan bayi anda akan kami pindahkan ke ruang inap"
"Baik dok" jawab Diana lalu dia menatap ke arah suaminya
Bryan tak mengerti arti tatapan Diana
"Kenapa bengong, ayo segera beri putra kita ASI"
Dokter Risa yang masih ada di antara mereka mengerti maksud Diana
"Tuan Bryan bisa berbalik sebentar" ucap Dokter Risa membantu Diana
"Kenapa?" tanya Bryan
"Berbaliklah sebentar tuan"
"Oke" jawab Bryan, lalu dia berbalik tanpa tahu kenapa dia harus berbalik badan
Dokter Risa tersenyum pada Diana, lalu dia membantu Diana untuk memberi ASI pada putranya
"Ibu Diana, mulai sekarang anda harus membiasakan diri menyusui putra anda di depan suami anda karena saya tidak bisa membantu anda terus" ucap Dokter Risa dengan lembut
"Baik dok, maaf sudah merepotkan anda" jawab Diana sambil tersenyum
"Tidak merepotkan sama sekali kok" jawab Dokter Risa
"Benar begini cara menggendongnya Dok?" tanya Diana, dia tidak mau sampai salah menggendong bayinya.
"Iya sudah benar, bu" jawab Dokter Risa
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti setelah 15 menit suster akan memindahkan anda dan bayi anda ke ruang inap"
"Baik dok, terima kasih banyak" jawab Diana
"Sama-sama bu" ucap dokter Risa lalu dia berbalik ke arah Bryan dan berpamitan
"Saya permisi, tuan"
"Silahkan Dok, dan terima kasih banyak sudah membantu istri saya"
"Itu sudah tugas saya tuan"
Bryan mengantar dokter Risa keluar dari sana, lalu stelah itu dia langsung menghampiri istrinya yang sedang memberikan asi pada bayinya.
"Sayang"
Diana sedikit terkejut dan langsung menutupi tubuh bagian atasnya dengan telapak tangannya.
"Tidak perlu malu, mas kan sudah sering liat" ucap Bryan sambil terkekeh lalu dia menurunkan tangan istrinya
"Apaan sih mas, malu tahu"
Bryan kembali terkekeh, lalu dia duduk di kursi yang ada di sebelah brankar istrinya. Dia menatap putranya yang minum dengan lahap.
"Cepat sekali minumnya, kamu sangat haus ya sayang" ucap Bryan sambil mengusap lembut pipi putranya
"Dia tampan seperti mu, mas" ucap Diana masih memandang wajah mungil putranya
"Tentu saja dia tampan, tapi dia lebih mirip Mommynya" ucap Bryan sambil tersenyum
"Aku rasa dia tidak mirip dengan ku" ucap Diana
"Tidak, putra kita lebih mirip Mommynya, jika di amati baik-baik sekilas dia lebih mirip dengan mu"
"Sepertinya benar" jawab Diana saat meneliti wajah putranya
15 menit kemudian
"Permisi tuan, ibu Diana dan bayinya akan kami pindahkan ke ruang rawat" ucap suster pada Bryan
"Iya, silahkan sus"
"Mas gendong putra kita" ucap Diana
"Iya"
Bryan mengambil putranya dari gendongan Diana, lalu dia keluar mengikuti Brankar Diana menuju ruang rawat VVIP.
Bik Arum yang masih setia menunggu di depan ruang bersalin, langsung berdiri dan mengikuti mereka menuju ruang VVIP
Setelah para suster keluar karena sudah selesai melakukan tugas mereka, bik Arum langsung menghampiri Diana
"Nona anda melakukannya dengan baik"
"Terima kasih bik" ucap Diana sambil tersenyum
"Bik, tidak mau melihat putra ku" ucap Bryan yang masih menggendong bayinya
"Tentu saja saya harus melihatnya tuan" ucap bik Arum sambil tersenyum
Bik Arum melangkah menghampiri Bryan yang masih menggendong bayinya, dia tidak mau melepas putranya sedetik pun.
"Sangat tampan" ucap bik Arum
"Tentu saja bik, dia tampan seperti ku" jawab Bryan
Bik Arum terkekeh pelan sedangkan Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kepercayaan diri suaminya.
"Mas sudah telpon mama dan papa belum? keluarga aku juga"
"Saya sudah menelpon tuan dan nyonya mereka langsung pergi ke bandara, keluarga non juga sudah saya beritahu" ucap bik Arum
Papa dan mama Bryan sedang berada di luar negeri untuk menghadiri undangan pernikahan anak teman papa Heru.
"Lalu bagaimana dengan Hana, bik?"
"Nona kecil akan di jemput tuan dan nyonya, non"
"Baiklah"
"Oekk oekk"
Diana segera memberi putranya ASI.
Beberapa jam kemudian semua anggota keluarga Bryan dan keluarga Diana sudah sampai di rumah sakit
"Putra mu mirip dengan Mommynya, Bryan" ucap mama Anna
"Benar dia juga tampan" ucap Kiano
"Itu karena Mommynya cantik jadi dia tampan" jawab Bella
"Itu karena Daddynya juga tampan" ucap Bryan
"Kakak tidak setampan itu, jika kakak ipar juga pria dia akan lebih tampan dari mu, kak" jawab Kiano
"Enak saja" jawab Bryan kesal
Mereka semua tertawa melihat kekesalan Bryan
"Udah akui saja kak, kakak itu tidak setampan itu" ejek Kiano
"Kiano..."
"Daddy itu tampan dan kaya..." sahut Hana yang masih fokus melihat adiknya di box bayi
"Putri Daddy memang yang terbaik" ucap Bryan senang karena ada yang membela
"Kayak monyet" lanjut Hana lalu tertawa cekikitan begitu pula yang lain
"Hana... " panggil Bryan merajuk
"Hana tidak boleh begitu sayang" ucap Diana dari arah brankarnya
"Hana cuma belcanda Mom" jawab Hana lalu kembali melihat adiknya
"Tenang saja kakak ipar, kakak itu tampan seperti artis Korea" ucap Ayla membela suami kakaknya
"Adik ku Ayla memang yang terbaik, kakak mu ini akan memberi mu hadiah" ucap Bryan pada Ayla
"Sungguh kak?" tanya Ayla
"Iya kamu mau apa?" tanya Bryan
"Aku mau motor, motor ku di sita ayah" jawab Ayla
"Jangan kasih, Bryan" ucap ayah Evan
"Kenapa di sita, yah?" tanya Bryan
"Dia habis kebut-kebutan di jalan, ayamnya pak Amir hampir di tabrak" jawab ayah Evan membuat mereka tertawa
"Begitu, sayang sekali adik ipar kakak mu ini tidak bisa memberi mu motor" ucap Bryan
"Yahhh... ayah sih" ucap Ayla merajuk
"Kamu nebeng aja ke temen mu, kamu gak boleh bawa motor lagi" jawab ibu Ida
"Gimana kalau aku bawa mobil aja" ucap Ayla
"Mau nebeng temen mu atau motor mu gak bakalan kembali selamanya" ancam ayah Evan
"Oke oke aku nebeng aja, tinggal 2 minggu lagi kan" ucap Ayla pasrah
"Gimana kalau abang aja yang nganter?" Ucap Kiano pada Ayla
"Abang abang, emangnya kamu abangnya" ucap Bella sambil menonyor kepala Kiano
"Akhh sakit, KDRT nih" ucap Kiano sambil mengusap kepalanya
"Jangan mau dek sama dia, dia itu punya kelainan" ucap Bella pada Ayla
"Enak saja" jawab Kiano tidak terima
"Iya, siapa juga yang mau di anterin dia" jawab Ayla
"Loh memangnya kenapa? abangkan ganteng" jawab Kiano
"Idwiiiieee..." ucap Ayla dengan wajah mengejeknya
"Awas jatuh cinta loh" ucap Kiano
"Gak bakalan" jawab Ayla
"Lihat saja nanti" jawab Kiano dengan wajah mengejeknya
"Mom" panggil Hana
"Iya?"
"Kenapa dedek bayinya cuma satu? dedek bayi aunty Bella ada dua" tanya Hana.
"Karena gak kembar sayang jadi cuma satu" jawab Bryan
"Tapi Hana mau dedek bayinya dua"
"Nanti minta lagi ke Mommy" jawab Kiano
"Gak, gak ada lagi" jawab Bryan
"Kenapa?" tanya mama Anna mewakili yang lain
"Aku gak tega lihat istri ku kesakitan, lihat saja tangan ku jadi korbannya" ucap Bryan sambil menunjukkan bekas cengkraman Diana
"Bilang aja gak mau ribet, buatnya enak giliran di suruh nemenin lahiran ngeluh" ejek Kiano
"Bukan itu maksud ku, istri ku kesakitan aku tidak tega melihatnya, luka segini gak seberapa" jawab Bryan dengan serius
"Ya ya ya" jawab Kiano sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"Aku serius Kiano" ucap Bryan
"Sudah sudah kalian ini berantem terus gak malu apa" lerai mama Anna
"Dia duluan ma" ucap Bryan
"Sudah Bryan, kamu itu sudah punya dua anak masih ngeladenin adik mu. Kiano itu emang usil jadi gak perlu di ladeni" ucap papa Heru
"Iya" jawab Bryan
"Kita foto yuk" ajak Ayla mencairkan suasana
"Ide bagus tuh" jawab Mama Anna
"Ayo" ajak Bryan
Bryan menggendong putranya lalu memberikannya pada Diana
"Kamu yang gendong sayang" ucap Bryan pada Diana yang masih duduk bersandar di brankarnya
Semua keluarga mengambil posisi di samping Diana, Ayla mengatur tongsis yang dia bawa agar semuanya nampak di foto
"Biar aku saja yang pegang" ucap Kiano mengambil alih tongsis dan ponsel Ayla
"Oke" jawab Ayla, lalu dia berdiri di dekat Kiano
"Oke sudah siap?" tanya Kiano
"Iya"
"Oke, satu dua chesss" ucap Kiano
Cekrek
.
.
.
...Tamat...