Mr. Bryan

Mr. Bryan
Lamaran Dadakan



"Lah bukan yang itu maksud ku" Heru memukul lengan temannya itu


"Lalu yang mana?" tanya Evan.


.


.


.


"Maksud ku kamu nyuruh putra ku dan putri mu menikah? benar itu?" tanya Heru tidak percaya


"Iya" jawab Evan


"Alasannya?" tanya Heru


"Kamu ini gimana sih Ru, bukankah kamu mau mereka berdua menikah? lalu sekarang kamu tanya aku apa alasannya" ucap Evan


"Hei perkutut tadi kan kamu marah dan gak merestui mereka, kenapa sekarang malah nyuruh mereka nikah? itu maksud ku" ucap Heru yang kesal pada temannya


"Kamu tanya saja putra mu itu" ucap Evan


Heru langsung menatap ke arah putranya


"Nanti Bryan jelasin di rumah pa" ucap Bryan


"Oke papa tunggu"


"Lanjutkan makan malamnya setelah itu kita lanjut bahas masalah pernikahan anak-anak kita" ucap Evan


"Benar silahkan di lanjut makan malamnya" ucap Heru


"Baik" jawab yang lain


"Ehmm Di bentar lagi nikah nih" bisik Ross pada teman


"Diam lanjutkan makan mu" bisik Diana


"Ciee kakak...." ejek Ayla


"Ayla" tegur ibu Ida


"Maaf" jawab Ayla cengengesan


Mereka lanjut menikmati makan malam, setelah makan malam para orang tua dan calon kedua pengantin sudah berada di ruang keluarga.


Ayla tidak berkumpul di sana ,dia harus belajar karena sebentar lagi ujian, Ross dia sudah masuk ke kamar Diana karena hal ini bukan ranah nya sekaligus menemani gadis kecil yang sudah terlelap selepas makan malam.


Di ruang keluarga.


"Oke jadi bagaimana lanjutannya?" tanya Heru


"Apa lagi pa, segera buat rencana pernikahannya lah" sahut mama Anna


"Acara lamaran dulu ma" sahut papa Heru


"Oh ya benar mama lupa"


"Ya sudah sekalian saja sekarang lamarannya" sahut Heru


"Mana bisa begitu Ru" ucap Evan


"Tidak apa-apa anggap ini cuma pengikat saja sebagai tanda kesepakatan pernikahan kedua anak kita, misalnya besok ada yang datang melamar putri mu gitu siapa tahu kan, aku tidak mau calon menantu ku keduluan orang lain" Sahut Heru


"Lamaran resminya nanti biar Bryan yang urus, ini hanya lamaran tidak resminya, dengan begitu aku bisa tenang tanpa rasa khawatir" lanjut Heru


"Apa yang membuat mu harus khawatir?" tanya Evan


"Selain karena alasan ku tadi aku takut kamu berubah pikiran" ucap Heru sambil cengengesan


"Kau pikir aku seplinpan itu?"


"Buktinya tadi awalnya kamu gak mau tapi sekarang kamu mau merestui mereka"


"Terserahlah" ucap Evan malas


"Udah mas gak apa-apa, ini cuma lamaran gak resminya saja kok" bujuk ibu


"Baiklah, Nak kamu tidak keberatan kan?" tanya ayah


"Aku terserah kalian saja, yah" sahut Diana


"Baiklah" sahut Evan


"Ayo Bryan cepat mulai" ucap Heru


Mendadak Bryan menjadi gugup saat papanya menyuruh dirinya melamar Diana.


"Papa kok dadakan sih? aku mau ngomong apa? Bryan bingung" bisik Bryan pada papanya yang duduk tepat di sebelahnya.


"Ya sudah biar papa saja yang wakil kan" bisik Heru


"Baik pa terima kasih"


"Bismillahirrahmannirrahiim, baiklah malam ini saya Heru Adams mewakili putra saya, ingin menyampaikan ketulusan hati putra saya untuk melamar putri bapak dan ibu"


"Dengan tulus saya mengatakan bahwa putra saya tulus mencintai anak bapak dan ibu. Dan tolong izinkan putra saya untuk mempersuntingnya dan menjamin kebahagiaan dan masa depannya setelah ini"


Jantung Diana berdetak kencang seperti habis lari maraton, dia tidak menyangka kepulangannya tadi siang malah akan berakhir dengan acara lamaran dadakan.


Diana menunduk tidak berani menatap orang-orang yang ada di sana terutama Bryan, dia *******-***** jari jemarinya karena gugup.


"Bagaimana nak Queenza maukah kamu menerima lamaran Bryan?" tanya Heru


Diana mendongakkan kepalanya menatap pada calon mertua dan calon suaminya yang menunggu jawaban darinya.


Diana mengangguk tanda setuju, karena tak dapat mengeluarkan suaranya dia terlalu gugup untuk bicara.


"Alhamdulillah" Semua orang yang melihat Diana mengangguk tersenyum bahagia dan mengucap syukur terutama Bryan


Sedangkan Diana masih diam membisu ada rasa bahagia bercampur malu, dia bukan malu karena akan menikah dengan Bryan yang statusnya saat ini adalah duda.


Namun dia malu atau lebih tepatnya tersipu malu karena dia tidak menyangka akan ada seorang pria yang melamarnya.


Bahkan terkesan dadakan dan sebentar lagi mereka berdua akan menikah dan mejalani hidup berumah tangga.


Evan dan Heru berdiri dari tempat masing-masing kemudian saling berpelukan, begitu pula para istri mereka.


"Selamat Van akhirnya kita jadi besan" ucap Heru


"Selamat untuk mu juga Ru" ucap Evan


Mereka sangat bahagia menjadi besan, sedangkan kedua calon mempelai hanya diam dan duduk di tempat masing-masing sambil saling pandang.


"Terima kasih" Bryan hanya menggerakkan bibir nya saja mengucap terima kasih pada tunangannya itu


Diana yang mengerti apa yang Bryan katakan, tersenyum sambil mengangguk.


Para orang tua kembali ke tempat duduk masing-masing dan melanjutkan obrolan mereka.


"Sebaiknya kalian menginap saja, sudah malam bahaya berkendara di malam hari apa lagi jaraknya lumayan jauh" Ucap Evan pada Heru


"Iya pa kita menginap saja sekarang sudah larut" ucap Mama Anna


"Baiklah, tapi apa tidak merepotkan?"


"Sama sekali tidak merepotkan benar kan, dik?" Evan bertanya pada istrinya


"Benar tidak merepotkan sama sekali kok" ucap ibu Ida sambil tersenyum


"Baiklah kita menginap saja" ucap Heru


"Kalau begitu saya permisi siapkan kamarnya dulu"


"Iya jeng terima kasih" ucap Anna


"Sama-sama" ibu Ida beranjak dari sana


"Nak Queenza jika kamu ingin bicara sesuatu dengan Bryan silahkan" ucap Heru


"Tidak ada pa" jawab Diana yang masih gugup


"Sudah sana mengobrol dengan calon suami mu di gazebo" ucap Evan pada putrinya


"Di mau bantuin ibu aja" Diana sudah berdiri dan hendak kabur namun ibunya yang kembali ke ruang keluarga menghentikannya


"Tidak perlu bantu ibu, kamu temani calon suami mu saja" ucap ibu Ida


"Ibu kenapa ke sini lagi?" tanya Diana


"Mau minta bantuan ayah mu"


"Bantuan apa? biar Di saja yang bantu?"


"Kamu gak bakalan kuat angkat meja, sudah sana temani nak Bryan" ibu Ida mendorong pelan putrinya keluar rumah


"Apa yang harus kita bicarakan?" tanya Diana


"Apa saja, misalnya kapan kalian akan menikah atau konsep pernikahan kalian atau apalah terserah kenapa malah ibu yang pusing"


"Ibu mah gitu" rengek Diana


"Nak Bryan kalian bisa bicara di gazebo" Ibu Ida tidak mendengarkan rengekan putrinya dia malah bicara dengan Bryan


"Baik tan terima kasih"


"Jangan panggil tante panggil ibu sama seperti Diana"


"Baik bu" Ucap Bryan sambil tersenyum


"Ya sudah sana, itu Diana sudah ada di gazebo" ucap ibu Ida lembut


"Baik, permisi" Bryan keluar menghampiri calon istrinya yang sudah duduk di sana lebih dulu


"Mas bantuin angkat meja" ucap ibu Ida


"Jadi itu bukan akal-akalan mu, dik?" tanya Evan


"Akal-akalan apanya beneran lah, di kamar tamu ada meja mau di pindah agar ada jalan lewat"


"Baiklah" Evan beranjak


"Aku tinggal dulu sebentar" pamit Evan


"Iya silahkan"


Di luar rumah


.


.


.