
Diana menarik pelan lengan suaminya agar duduk.
.
.
.
"Jadi apa ada yang mau kalian katakan?" tanya Diana setelah dia duduk
"Maafkan kami nyonya"
"Selain itu" ucap Diana sambil mengibaskan tangannya
"Tolong jangan keluarkan anak saya dari sekolah nyonya" ucap salah satu dari mereka memohon
"Mengeluarkan dari sekolah? siapa yang akan mengeluarkan anak anda dari sini?" tanya Diana
Wanita itu melirik dengan takut ke arah Bryan lalu kembali menunduk, Diana yang melihat itu langsung menatap ke arah suaminya.
"Kakak mau mengeluarkan anak-anak mereka?" tanya Diana
"Hmm"
"Memangnya kak Bryan boleh mengeluarkan mereka?" tanya Diana
"Tentu saja, tempat ini milik keluarga Adams"
Diana yang mendengar ucapan suaminya di buat tercengang
"Sekolah ini juga milik kak Bryan? seberapa kaya dia?" tanya Diana dalam hati
"Tuan tolong maafkan Saya, saya janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi"
"Benar tuan preschool anda adalah tempat terbaik untuk anak-anak kami, tolong jangan keluarkan anak-anak kami"
"Sudah tahu kalian butuh tempat ini tapi masih saja berbicara hal buruk tentang kami, kalian sungguh terlalu berani" ucap Bryan dengan nada mengejek
"Maaf tuan"
"Sudahlah kak Bryan kita lupakan saja masalah ini, berikan mereka kesempatan kedua"
"Yang penting sekarang Hana baik-baik saja"
"Tidak bisa begitu" tolak Bryan
"Baiklah terserah kak Bryan saja, tempat ini bukan milik ku jadi keputusan yang di ambil kakak aku tidak akan ikut campur"
"Tapi keputusan yang di ambil kak Bryan harus bijak, semua orang pasti pernah berbuat salah jadi tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua"
"Tapi jika mereka melakukan kesalahan lagi entah itu pada kita atau pada orang lain ingatlah hal ini baik-baik, tidak akan ada ampun untuk kalian" ucap Diana dengan nada mengancam
Kalimat terakhir yang di ucapkan Diana membuat orang tua murid itu ketakutan.
"Baiklah aku akan memberikan kesempatan kedua, TAPI... JIKA AKU MENDENGAR KEJADIAN SEPERTI INI LAGI JANGAN HARAP KALIAN BISA SELAMAT"
"Baik tuan kami janji" ucap mereka
"Sekarang pergi!" bentak Bryan
"Baik, terima kasih tuan terima kasih nyonya terima kasih banyak" ucap mereka sambil menundukkan kepala
Setelah semua orang tau murid keluar Diana berdiri dan menghampiri kepala sekolah.
"Maaf membuat keributan bu kepala" ucap Diana pada kepala sekolah
"Tidak apa-apa nyonya, mereka memang agak keterlaluan sudah sepantasnya tuan marah"
"Dengar itu" ucap Bryan pada Diana
"Kak Bryan gak boleh begitu"
"Sudahlah kakak mau ke kantor dulu" ucap Bryan dengan santainya keluar dari ruangan kepala sekolah
"Maaf bu, kami permisi dulu" pamit Diana pada kepala sekolah
"Silahkan nyonya"
Diana berlari mengejar suaminya
"Kak Bryan tunggu"
Bryan menghentikan langkahnya "Cepetan" ucap Bryan sambil merentangkan tangan kanannya agar Diana menggandengnya
Diana meraih telapak tangan Bryan lalu mereka melangkah ke arah parkiran.
"Pasangan yang serasi" ucap Bu kepala sekolah
Flashback end
"Jadi teman-teman Hana bilang kamu ibu tiri yang jahat?" tanya ayah
Diana menganggukkan kepalanya
"Bagaimana bisa anak yang seumuran dengan Hana mengatakan hal seperti itu" ucap Ibu Ida tak habis pikir
"Mereka mengatakan seperti itu karena mendengar ucapan orang tua mereka, bu" ucap Diana
"Ya karena itulah orang tua harus berhati-hati saat bicara karena anak zaman sekarang itu pintar-pintar" ucap ibu Ida
"Benar" jawab ayah Evan
Bryan dan Diana hanya menganggukkan kepala mereka
"Kak Bryan aku ke kamar duluan, ngantuk" pamit Diana pada suaminya
"Iya"
Diana beranjak dari tempatnya duduk dan hendak melangkah ke kamarnya
"Tunggu dulu"
"Kenapa bu?" tanya Diana
"Duduk dulu"
Diana duduk kembali di tempatnya
"Kamu panggil suami mu apa barusan?" tanya ibu Ida
"Kak Bryan"
"Iya, memangnya kenapa bu?" tanya Diana
"Dia suami mu nak bukan kakak mu"
"Sama saja bu"
"Beda, ubah panggilan mu"
"Tapi... "
"Ibu panggil ke ayah mu mas, lah kamu panggil suami mu kakak"
"Sama saja bu"
"Ganti"
"Tidak apa-apa bu, Bryan gak keberatan kok" ucap Bryan mencoba menghentikan perdebatan ibu dan anak itu
"Kak Bryan gak keberatan kok bu" sahut Diana
"Udahlah ganti saja, panggil Bryan mas" ucap ayah Evan
"Ayah kok ikut-ikutan sih" keluh Diana
"Ayah tahu suami mu itu maunya di panggil mas sama kamu"
"Ayah tahu dari mana?" tanya Diana
"Kamu gak perlu tahu"
"Ih ayah ngeselin" keluh Diana, lalu dia menatap suaminya
"Apa?" tanya Bryan dengan lembut
"Kakak gak suka panggilan ku?" tanya Diana
"Suka kok"
"Kalau gitu kenapa ayah bilang kak Bryan maunya di panggil mas?"
Ayah Evan dan Ibu Ida memilih pergi dari sana secara diam-diam, dan meninggalkan mereka berdua
"Enggak kok sayang, kakak gak keberatan kamu panggil apa saja"
"Kalau aku panggil monyet mau?"
"Ke ke ke" Bryan terkekeh
"Kok malah ketawa sih?"
Bryan mencubit hidung Diana
"Aww sakit tahu" ucap Diana sambil mengusap hidungnya
"Imut banget sih, kamu kok tambah imut sih sayang" ucap Bryan sambil mendekati leher jenjang istrinya
"Apaan sih kak, malu ada ayah ibu"
"Gak ada kok, ayah dan ibu sudah masuk ke kamar"
"Hah?"
Diana menoleh ke tempat orang tuanya tadi duduk
"Loh kapan perginya?"
"Kamu sih terlalu fokus natap wajah kakak jadi gak sadar ayah sama ibu sudah ke kamar"
"Udah ah, aku mau ke kamar" ucap Diana sambil mendorong tubuh Bryan yang bibirnya mulai nakal
Diana melangkah dengan cepat menuju kamarnya dan meninggalkan Bryan sendirian di sana.
"Dia kabur" ucap Bryan sambil terkekeh
Drttt drttt
Ponsel Bryan bergetar, Bryan merogoh saku celananya dan menjawab panggilan di ponselnya.
"Halo"
"..."
Bryan bangun dari sofa dan melangkah menuju ke ruang tamu, agar penghuni rumah tidak terganggu dengan suaranya
Sedangkan di dalam kamarnya Diana tengah bersiap untuk tidur
"Hah... "
Dia terlentang di atas kasurnya dengan piyama tidurnya
"Masa iya kak Bryan maunya di panggil mas? ayah pasti mengada-ngada nih"
"Tapi sepertinya memang benar"
"Apa aku panggil mas saja ya?"
"Tapi aku tidak terbiasa, gimana nih?"
Diana melirik ke arah jam yang ada di kamarnya
"Ngapain kak Bryan di bawah? kok lama banget"
Sudah 20 menit sejak Diana naik ke kamarnya namun Bryan tak kunjung masuk ke kamar
"Biarin dah aku ngantuk" ucap Diana lalu dia mulai memejamkan matanya
10 menit kemudian Diana merasakan seseorang tengah mengangkat tubuhnya, dengan mata yang masih berat Diana memaksa membuka matanya
"Kak Bryan" panggil Diana dengan suara seraknya sehabis tidur
"Maaf kamu jadi terbangun" ucap Bryan
"Kakak ngapain?"
.
.
.