Mr. Bryan

Mr. Bryan
Mas Bryan Tua



"Karena itulah tetaplah di sisi mas sampai mau memisahkan kita" ucap Bryan sambil menyentuh kedua pipi istrinya yang mulai berisi.


.


.


.


Diana menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, dia sangat terharu mendengar ketulusan Bryan.


"Jangan menangis sayang" ucap Bryan sambil mengusap air mata di kedua pipi Diana


"Aku sangat bahagia mas terima kasih sudah datang ke dalam kehidupan ku, dulu aku kira aku tidak akan pernah bisa menemukan pria sebaik diri mu"


"Aku kira semua pria sama saja, sama-sama brengs..."


"Suuuttt jangan bicara begitu" Bryan menghentikan ucapan istrinya dengan meletakkan jari-jemarinya di bibir Diana


"Semuanya adalah masa lalu dan sekarang kan semuanya sudah baik-baik saja karena itulah ikhlaskan saja semuanya"


Diana menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya, lalu dia memeluk tubuh suaminya.


"Mas berjanjilah kepada ku berjanjilah jangan pernah mengkhianati ku jika sampai mas melakukan itu aku pasti akan hancur" ucap Diana sambil terisak


Bryan mengusap lembut punggung istrinya


"Mas janji sayang dan bukan hanya janji mas akan membuktikannya pada mu, mas sudah tahu bagaimana rasanya di khianati jadi mas tidak akan pernah melakukan itu pada mu, percayalah"


Diana menganggukkan kepalanya di pelukan Bryan.


"Kamu juga berjanjilah sayang jangan pernah mengkhianati mas, jika kamu juga melakukan itu mas akan sangat hancur"


"Aku janji mas"


Diana melepas pelukannya lalu menatap wajah Bryan


"Aku perempuan yang setia mas, asalkan mas masih tetap tampan dan kaya" ucap Diana bercanda


"Lalu kalau mas sudah tidak tampan dan kaya apa yang akan kamu lakukan?" tanya Bryan meladeni ucapan istrinya


"Aku akan cari yang lain" jawab Diana sambil terkekeh


"Dasar" Bryan mendorong pelan kening istrinya menggunakan jarinya


"Aww"


"Lebay" ejek Bryan


"Mas Bryan... awas ya aku cari cowok lain loh" ancam Diana


"Memangnya ada yang mau? kamu kan galak" ucap Bryan sambil terkekeh


"Mas ngeremehin aku?"


"Ha ha ha" Bryan tertawa


"Palingan kamu bakalan terbang ke Korea buat ketemu Idol kesukaan mu itu dan mas yakin mereka gak bakalan mau sama janda" ucap Bryan masih terkekeh


"Gimana kalau mereka suka janda yang cantik kayak aku?" tantang Diana


"Gak bakalan" jawab Bryan sambil terkekeh


"Mas janda itu menggoda apa lagi yang cantik kayak aku"


"Ke ke ke" Bryan terkekeh melihat kenarsisan istrinya


"Kalau begitu tidak akan mas biarkan kamu pergi, mas akan tetap tampan walau pun sudah tua dan mas akan bekerja keras agar tetap kaya jadi kamu gak bakalan bisa Kemana-mana" ucap Bryan sambil mengeratkan pelukannya


"Yahhhh.... kalau gitu aku gak jadi ngincer idol ku dong" ucap Diana cemberut


Bryan tertawa


"Tidak perlu cari idol mu itu, mas lebih tampan dari mereka"


Diana mencebikkan bibirnya


"Iya tampan tapi sudah tua"


"Hei"


"Ha ha ha"


Kali ini giliran Diana yang tertawa


"Mas tidak setua itu sayang"


"Mas Bryan tua" ejek Diana


"Sayang, mas tidak setua itu"


"Dasar sudah tua bisa-bisanya nikahin perempuan muda seperti aku, pake di buat bunting segala" ucap Diana sambil terkekeh lalu dia mengusap perutnya yang mulai membuncit


"Biarin tua-tua begini kamu cinta kan" ucap Bryan


"Siapa bilang" jawab Diana sambil terkekeh


"Nakal ya... mau mas hukum?"


"Lihat gini nih kalau urusannya sama orang tua dikit-dikit hukum" ejek Diana


"Baiklah karena mas tua, mas bakalan hukum kamu" ucap Bryan sambil menggendong tubuh istrinya


"Mau kemana?" tanya Diana


"Memangnya kuat? mas kan sudah tua" ejek Diana, dia mengerti arah pembicaraan suaminya


"Jangan meremehkan yang tua sayang, kamu bunting itu ulah siapa kalau bukan ulah suami mu yang tua ini" bisik Bryan di telinga istrinya


"Ha ha ha" Diana lagi-lagi tertawa


"Udah ah turunin aku mas, mas kan ada meeting" ucap Diana menghentikan langkah Bryan


"Oh iya mas lupa"


Diana terkekeh "Lihat kan mas lupa lagi, itu artinya mas memang sudah tua"


Bryan menatap tajam istrinya yang sejak tadi tidak berhenti mengejeknya.


"Kenapa mas mau marah?" tanya Diana sambil tersenyum


"Marah saja aku suka kalau mas Bryan marah apa lagi sampai di hukum" ucap Diana menggoda suaminya dengan cara berbisik


"Sayang kamu benar-benar nakal" ucap Bryan dengan nada bicara yang terdengar berbeda


Bryan melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruangannya lalu dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang mengganggu mereka.


Bryan menurunkan tubuh istrinya dengan pelan ke atas kasur, lalu Bryan membuka kostum badut yang belum sempat dia lepas.


Setelah itu kostum itu terlepas Bryan merogoh saku celana bahannya dan mengambil ponselnya.


Bryan menghubungi seseorang


"Halo"


"Ren, kamu yang pergi meeting aku masih ada kerjaan"


"Tapi tuan"


Tutt tutt


Panggilan terputus sebelum Rendy sempat bicara


"Oke semuanya sudah beres, sekarang giliran mu sayang" ucap Bryan sambil tersenyum nakal ke arah istrinya


Bryan merangkak naik ke atas ranjang lalu dia menyerang bibir istrinya dan Diana menyambutnya dengan senang hati.


Tak lama kemudian


"Argghhh"


Suara teriakan kenikmatan terdengar di kamar itu.


Beberapa Jam kemudian


Bryan sudah kembali segar dan rapi, saat ini dia tengah mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya sedangkan Diana dia masih terlelap di kamar.


Tok tok


"Masuk"


Ceklek


Pintu terbuka dan nampak Rendy melangkah masuk


"Meetingnya sudah selesai?" tanya Bryan masih fokus pada pekerjaannya


"Sudah tuan dan ini laporannya" Rendy menyerahkan beberapa map pada Bryan


"Terima kasih Ren"


"Sama-sama tuan"


"Tuan" panggil Rendy


"Hmm? masih ada lagi?" tanya Bryan


"Begini tuan..." Rendy ragu untuk menyampaikannya pada Bryan


"Ada apa? tidak biasanya kamu ragu begitu" ucap Bryan menatap ke arah Rendy


Rendy menyerahkan tabletnya pada Bryan, Bryan mengambil tablet Rendy lalu melihat apa yang hendak di tunjukkan oleh asistennya itu


Beberapa detik kemudian bola mata Bryan membulat karena terkejut. Dia menscroll layar itu.


"Bagaimana bisa mereka tahu ini aku?" tanya Bryan


"Karena ini tuan" ucap Rendy sambil menunjuk ke arah sepatu Bryan yang ada di layar itu


Bryan menundukkan kepalanya untuk melihat sepatu yang dia pakai, lalu dia menyentuh kepalanya.


"Hah... ada saja yang terlupakan sepertinya aku memang benar-benar sudah tua" ucap Bryan sambil menghela nafas


"Aku malu sekali jika harus menampakkan wajah ku di hadapan mereka" ucap Bryan


"Tidak apa-apa tuan, banyak juga karyawan memuji anda karena hal ini"


"Mereka mengatakan anda adalah suami yang baik, suami idaman dan masih banyak lagi" ucap Rendy


.


.


.