
1 bulan kemudian
Malam ini tepat pukul 8 malam Bryan dan Diana sudah berada di kamar hotelnya setelah seharian mengadakan resepsi pernikahan.
Sudah satu jam Diana berada di kamar mandi namun tak kunjung keluar dari sana.
"Apa yang dia lakukan di sana ? Apa dia tidur di sana?" tanya Bryan
Bryan menggelengkan kepalanya, Dia Memutuskan untuk membuka dasi dan jas yang dipakai Saat resepsi tadi dan melemparkanya ke atas sofa
Dengan langkah lebar Bryan membuka pintu kamar mandi dan masuk ke sana, Diana yang sedang berdiri di bawah guyuran shower hanya memakai pakaian dalam saja terkejut.
Matanya melebar melihat Bryan masuk dia kelabakan hendak mencari handuk untuk menutupi dirinya.
Bryan langsung menghadang Diana yang hendak kabur Dari Sana, Bryan segera masuk ke bawah guyuran air shower lalu memeluk pinggang istrinya erat.
Diana mendongak menatap mata Bryan sesekali matanya mengerjap karena beberapa tetesan dari rambut Bryan dan air shower mengenai wajahnya.
"Kenapa kak Bryan masuk?" Tanya Diana
"Apakah kau ingin membeku di sini?" bisik Bryan yang merasakan tubuh istrinya itu sudah sangat kedinginan .
"Tidak" Diana menggeleng cepat suaranya Terdengar gugup .
"Lalu?" Tanya Bryan
"Aku...aku ha...hanya.." Dia masih mendongak dan menatap Bryan dengan gugup
"Sayang, ini malam pertama kita Aku berjanji akan membuat malam ini menjadi malam terindah dalam hidup mu yang tidak akan pernah kau lupakan dalam hidup mu aku tidak akan menyakitimu"
"Ta..tapi Ross mengatakan kalau itu akan sakit" Ucap Diana takut
"Sedikit hanya sakit sedikit tapi Kalau kamu Tidak siap Tidak apa-apa, kakak akan menunggu kamu siap dulu" Bisik Bryan
"Aku.... " Diana ragu
"Sayang, jika kamu Tidak mau setidaknya biarkan kakak mencium mu Ya.. " bisik Bryan kemudian mencium bibir itu lembut, melu matnya perlahan membiarkan dia benar - benar merasakan dan menikmati apa yang Bryan lakukan padanya.
Diana terhanyut oleh ciuman dan sentuhan Bryan di setiap inci tubuhnya. Bryan sangat mudah membuat istrinya itu melupakan semua rasa takutnya.
Satu bulan Bryan menahannya, dan kali ini dia sudah tidak dapat menahannya lagi jadi dia memutuskan untuk merayu istrinya agar malam ini dia mau menghabiskan malam yang indah bersama.
Tangan Bryan mematikan shower dan dengan perlahan Bryan mengangkat tubuh istrinya Tanpa melepas ciumannya dan membawanya keluar dari guyuran shower menuju ranjang.
Diana mende sah ketika Bryan memperdalam ciumannya, tangannya melingkari leher Bryan Diana benar-benar sudah pasrah dan Bryan sungguh ingin berteriak girang menyadari itu.
Bryan melepas ciumannya sebentar lalu dengan terampil tangannya melepaskan kaitan br a milik Diana, satu - satunya pelindung da da yang di kenakan istrinya itu.
Diana hendak protes dan Bryan yang mengetahui itu segera mencium lagi bibir istrinya agar dia tidak jadi protes.
"Kak... " gumam Diana Saat dia menyadari Bryan mulai agresif mencum bunya
"Kak...Aku.... "
"Tenanglah" bisik Bryan mengecup telinganya
"Kamu akan menyukai ini , Sayang" bisik Bryan
kemudian menciumnya lagi dengan sebelah tangan Bryan bergerak menyentuh da da istrinya sementara tangannya yang lain menopang tubuhnya agar tidak menindih Diana
"Kak Bryan..." desisnya bergetar Karena sentuhan nakal Bryan
"Sayang" desah Bryan melanjutkan aksinya dengan lembut bersamaan dengan gai rah yang meluap-luap
"Aku janji akan melakukannya dengan lembut sayang" Ucap Bryan
"Aku sudah berjanji dan aku harus bisa menahan diri agar tidak terburu-buru sekarang, karena jika tidak aku akan menyakitinya" Ucap Bryan dalam hati
Seutuh Bryan di Setiap inci dari tubuh Diana terasa begitu berbeda lembut dan menggairahkan.
Ini bukan kali pertamanya Bryan berhubungan dengan seorang perempuan, dia sudah melakukannya dengan mantan istrinya dulu tetapi Diana benar-benar berbeda.
Bryan membelai, mencium setiap lekuk tubuh istrinya membuatnya menge rang beberapa kali dan eran gannya itu benar - benar membuat Bryan candu.
Ketika Bryan merasa istrinya sudah cukup siap, Bryan tak bisa lagi menahan diri lebih lama untuk melakukannya Diana nampak tegang ketika Bryan sudah mengambil posisi siap meluncur.
Dan jikalau ternyata Diana tidak menginzinkannya dia akan menghargai keputusan istrinya dan berhenti.
Bryan tahu Diana masih takut untuk melakukan itu, karena itu dia tidak akan memaksanya.
Diana memejamkan matanya ada rasa malu yang ia rasakan saat ini karena dia sudah tidak mengenakan apapun dan ada rasa tidak tega melihat ekspresi suaminya itu.
Dan pada akhirnya Diana hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda memberi izin suaminya untuk meneruskannya
Diana adalah wanita dewasa dan dia mengerti apa yang di rasakan Bryan karena dia juga sudah sangat terang sang dengan sentuhan-sentuhan Bryan.
Bryan tersenyum lebar saat istrinya itu memberi izin.
"Terima kasih sayang ku, cup" Bryan mengecup kening istrinya itu
"Tenanglah Sayang akan sedikit sakit di awal, hanya sebentar setelah itu kamu akan menyukainya" bisik Bryan
Bryan membuka sisa pakaian mereka lalu Bryan melu mat bibir istrinya agar dia teralihkan dari rasa sakit yang nantinya akan di timbulkan oleh penyatuan mereka.
Perlahan Bryan memajukan tubuhnya, di godanya sang istri
"Ahh.. kak Bryan..." de sah diana di sela-sela ciumannya
Dan terdengar jeritan yang teredam oleh bibir Bryan ketika Bryan mulai memasukkanya perlahan.
"Akhhh sakit kak" teriak Diana saat Bryan melepas ciumannya
"Maaf sayang" ucap Bryan lembut
"Hiks hiks sakit... " Diana menangis kesakitan
"Maaf sayang, kita hentikan saja ya" ucap Bryan sambil mengecup kedua mata istinya dia tidak tega melihat istrinya kesakitan
Diana menggelengkan kepalanya "Tidak kak, lakukan saja aku akan tahan"
"Tapi sayang kamu kesakitan begitu, kakak tidak tega"
"Lakukan kak"
"Baiklah, tapi sayang ini baru separuh yang masuk kau yakin?" tanya Bryan
Terlihat sang istri menelan salivanya dengan kasar mendengar ucapannya, lalu Diana menganggukkan kepalanya
"Baiklah, kamu bisa mencengkram punggung kakak jika sakit"
"Iya"
Mau tidak mau walaupun sangat mau Bryan langsung mendorong miliknya dengan cepat, karena jika dilakukan perlahan istrinya itu akan tambah kesakitan.
Jlep
"Akkhhh..!!!" jerit Diana dia menancapkan kuku-kukunya di punggung Bryan
"Maaf, maaf sayang maafkan kakak" Berkali-kali Bryan meminta maaf karena telah membuat istrinya kesakitan
Ini pertama kalinya Bryan memera wani seorang gadis karena dulu mantan istrinya itu ternyata sudah tidak perawan saat mereka melakukannya
Diana terengah begitu juga Bryan yang berusaha menahan diri untuk tidak bergerak.
Bryan pikir Setidaknya Diana harus menyesuaikan diri sesaat dengan miliknya sebelum dirinya bergerak agar tidak terlalu sakit.
"Sayang" bisik Bryan gelisah
"Apakah sangat sakit ?" bisik Bryan sambil menggigiti daun telinga Diana
Diana tidak menjawab dia hanya mengangguk di pelukan Bryan.
.
.
.