
"Tidak akan ada yang datang ini ruangan kakak, tidak akan ada yang bisa masuk tanpa persetujuan dari kakak"
Glek
.
.
.
"Mampus, aku harus cepat-cepat cari jalan keluar" ucap Diana dalam hati
"Kak... Hana pasti lagi nungguin kita, kita keluar ya" Diana mencoba menggunakan nama Hana agar bisa terlepas dari niat nakal suaminya
"Tidak, Hana sudah di antar ke Mansion papa mama" jawab Bryan
Sejak dulu di saat Hana sedang ikut Bryan, asisten Rendy memang selalu mengantarkan Hana ke mansion papa dan mama Bryan jika ada sesuatu yang mendesak.
Jadi saat ini sudah pasti Rendy dan Hana tengah di perjalanan menuju Mansion papa dan mama Bryan.
"Ta..."
"Sayang kamu buat salah jadi harus di hukum" Bryan memotong ucapan istrinya
"Kak jangan di sini ya..." rayu Diana
"Kenapa? Sekali-kali kita harus cari suasana baru" jawab Bryan
"Ta..tapi kalau ada yang dengar gimana?" tanya Diana
"Jangan keras-keras teriaknya" bisik Bryan
"Gak enak kak" Diana tiba-tiba mengatakan kata yang frontal.
"Ha ha ha" Bryan tertawa mendengar ucapan istrinya yang frontal
"Ih kok malah ketawa, kita pulang aja ya.."
"Tidak, pokoknya kamu harus di hukum sekarang" ucap Bryan
"Kakak kok jahat sih" rengek Diana
"Tidak sayang kakak baik kok" jawab Bryan
"Ish ka... Mppttt..." Diana tak dapat melanjutkan ucapannya karena Bryan sudah membungkam bibirnya
Bryan ******* bibir cerewet istrinya, setelah beberapa saat Bryan menjauhkan bibirnya. Bryan menatap wajah istrinya dengan tatapan damba
Berkali-kali Diana menelan salivanya kasar, pria di depannya itu sungguh tidak sabar untuk menghukumnya
Diana menahan napasnya dia bertanya-tanya, kenapa sekarang dia lebih deg-degan seperti anak perawan? apa pesona duda di depannya itu benar-benar semakin kuat? ah tidak sekarang dia sudah bukan duda karena dia sudah menikah dengan dirinya.
Tangan Bryan terulur untuk mengusap pipi mulus Diana, membuat tubuh Diana rasanya merinding. Bryan menatap bibir merah istrinya dengan sangat lekat.
Pesona Bryan tak dapat di pungkiri pria itu terlalu mempesona, bahkan setiap Diana bertatapan mata dengan suaminya itu dia selalu terpesona.
Pria itu mengangkat kepalanya dan keduanya saling bertatapan lama seolah mereka pasangan kekasih yang sudah saling mencintai berabad-abad lamanya.
Bryan kembali meraup bibir istrinya, Diana mengeluarkan suara indahnya dengan segala penyiksaan n*km*t yang akan dia dapatkan setelah ini.
"Kau terlalu sempurna sayang, rasanya kakak tidak percaya siapa yang ada di depan kakak saat ini walaupun kita sudah sering kali berada si situasi seperti ini" bisik Bryan dan bibirnya kembali mencium bibir Diana
Diana berusaha mengimbangi Bryan, suaminya itu terlalu pandai melakukan hal itu.
Kedua tangan Bryan menurun ke punggung Diana merasakan kulit mulus istrinya.
"Izinkan kakak untuk merobek pakaian ini" Mata Diana melotot mendengar ucapan Bryan.
"Kalau kakak robek baju ku, aku pakai apa nanti?" tanya Diana
"Setalah ini kamu kan gak perlu baju sayang" ucap Bryan
"Maksud ku aku pulangnya pakai baju apa?"
"Tenang saja sayang kita kan sedang di mall di sini banyak baju yang kamu mau"
"Tapi.... hmmmpp..."
Bryan membungkam kembali istrinya dan langsung merobek dress berwana lilac yang di kenakan istrinya.
Setelah pakaian itu robek, Bryan langsung membuang dress lilac yang sudah rusak itu. Dia mendorong pelan tubuh istrinya agar terlentang kemudian mengukungnya.
Bryan menahan napasnya, wanita di bawahnya ini benar-benar sempurna Bryan merasa sangat beruntung memiliki Diana karena dari banyaknya pria muda lajang yang mengincar istrinya itu Dia justru lebih memilih Bryan yang statusnya saat itu adalah duda beranak satu.
Hanya dengan tatapan tersebut Diana merasa seluruh tubuhnya panas, mereka sudah beberapa kali melakukan ini setelah menikah.
Tapi kenapa sekarang dia merasa malu-malu seperti anak perawan yang baru melakukannya.
Bryan menggerang rendah, tubuh bagian atas istrinya itu bulat namun tidak begitu besar.
Tapi walaupun begitu n*fs* Bryan sudah bangkit hanya dengan melihatnya saja, dia bisa gila hanya dengan menatapnya.
"Kau benar-benar sempurna sayang" puji Bryan mendekat dan m*rem*s bok*ng istrinya.
Diana langsung menganga saat ini dia belum siap dengan apa yang akan suaminya lakukan setelah ini.
Bryan m*nci*mi leher Diana m*ngh*s*p lehernya seperti Dracula yang membuat Diana semakin me*nd*s*h tak karuan.
" AHHHH ! "
Seluruh syarafnya menggila dan Diana yakin apa yang di lakukan suaminya itu akan meninggalkan bekas merah.
Dia tidak peduli dia hanya perlu menutupinya saja agar Hana dan yang lain tidak menanyakannya.
Tubuh Diana kembali berdesir saat Bryan berpindah tempat. Pria itu mengerahkan sekuat tenaga tidak seperti biasanya.
Mungkin karena suasana yang berbeda membuatnya lebih bersemangat, jika suaminya itu terus bersemangat seperti itu bisa-bisa dia langsung hamil kembar tujuh pikir Diana.
Skip skip
Sore hari
Diana mulai membuka matanya
"Hmm, akh tubuh ku sakit semua" keluh Diana, dia menatap wajah suaminya yang tengah tertidur pulas sambil memeluk pinggangnya dengan erat
"Kak Bryan kamu menyebalkan" ucap Diana pelan
Diana bergerak pelan, dia ingin ke kamar mandi sebelum Bryan bangun.
"Hisss" Diana merintih lalu tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya
"Ihhh... kebiasaan deh gak di lepas"
Mau tidak mau Diana harus membangunkan suaminya
"Kak Bryan... kak Bryan bangun..." ucap Diana sambil menepuk pelan lengan Bryan
"Kak Bryan.... bangun dong bambunya di lepas dulu aku mau mandi"
"Kak Bryan"
"Hmmm?"
"Lepas dulu" rengek Diana
"Apanya?" tanya Bryan yang masih memejamkan matanya dengan suara serak
"Itu bambunya di lepas dulu, kakak mah kebiasaan"
"Maaf kakak lupa"
"Dasar pikun, udah tua sih" ejek Diana
"Kakak tidak setua itu sayang" ucap Bryan tidak terima
"Buktinya kakak lupa terus, jangan kebiasaan gak di lepas kak"
"Iya iya maaf, habis kamu enak banget sih" ucap Bryan sambil melepas bambunya
"Hiss...Kakak mulutnya"
"Kenapa sayang? kamu pengen lagi?" ucap Bryan sambil memajukan bibirnya
"Enggak" Diana memukul bibir Bryan
"Aw kok di pukul sih sayang?"
"Udah ah aku mau mandi, ngeladenin kakak gak bakalan selesai" Diana beranjak turun dari ranjang
"Mau mandi bareng?"
"Tidak terima kasih, aku mau mandi sendiri"
Diana melangkah pelan menuju kamar mandi
Blamm..
Diana menutup pintu kamar mandi sedikit keras sebagai bentuk protes pada suaminya
Ceklek
Diana membuka pintu kamar mandi
"Kak"
"Kenapa? mau mandi bareng?" tanya Bryan
"Baju ku"
Blammm.... Diana kembali menutup pintu kamar mandi
Bryan mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang untuk menyiapkan pakaian untuk istrinya sedangkan pakaian untuk dirinya sudah tersedia di sana.
.
.
.